
Sekolah adalah hal yang menyenangkan, ntah itu tentang percintaan, teman, persahbatan, kekeluargaan, atau pun masalah hobi yang sama. Seprti murid 1-3 A yang mulai merasa mereka adalah keluarga. Sudah lebih dari setengah tahun mereka belajar bersama dan hal itu pula yang mambuat mereka semakin akrab.
Seperti saat ini, di saat matahari masih terbit secara malu-malu dua orang lelaki sudah berada di sekolahnya.
"Auuhh, astaga. Apa salah dan dosaku sayang, pantatku kini sakit sekali," suara berat khas laki-laki yang sedang dalam masa pertumbuhan terdengar di sepanjang koridor.
"Suara lu pelanin, kek, nyet! Kentut fales aja belagak nyanyi lu," ejek Ghanni yang berada di sebelah Akbar.
"Suki-suki gua dong," balas Akbar tak kalah sengit.
Ia malah melanjutkan nyanyian absurd yang membuat mereka dua menjadi bahan tontonan di sepanjang jalan.
"Gan, Pr lu dah siap belum?" tanya akbar sambil memasukkan jari kelingking ke dalam salah satu lubang hidungnya.
"Anjir, jorok banget lo bege." Ghanni memukul bagian belakang kepala Akbar gemas.
"Tobat napa lu, Bar. Kalau kayak gini kapan takennya lu."
Ghanni lantas meninggalkan Akbar yang masih berdiri bingung dengan perkataan Ghanni barusan.
"Lah, hubungannya ngupil sama taken apaan?" tanya akbar sambil menggelengkan kepalanya. "Ghanni, ghanni. Kadang belagak sok pinter tapi ujung-ujungnya goblok juga, wkwkwk." Akbar terkekeh pelan. Ia lalu melanjutkan perjalanan menuju kelas
"Heheh, ada senior cantik. Godaiin ahhh."
Ia berjalan menghampiri salah satu senior wanita yang terkenal seantero sekolah. Paras cantik dengan rambut magenta sebahu membuatnya seperti ratu, dengan polesan lip minim membuat wajahnya berkilau seperti iklan shampo.
"Senpai!" sapa Akbar sambil berjalan di sampingnya.
"Waduh senpai, lip nya hari ini mantep banget, meronaaaahhhh," puji Akbar.
Sesil hanya melirik sinis. Namun, di dalam hati ia merasa senang. Bagaimana tidak, salah satu murid dari kelas yang lumayan terkenal menggodanya hari ini. Wajar saja ia senang, hampir semua murid laki-laki dari kelas tersebut mempunyai paras seperti dewa.
"Senpai!"
Panggilan dari sebelahnya membuat Sesil terlonjak kaget. Sadar bahwa makhluk tampan masih berada di sampingnya. Ia melihat Akbar menjulurkan tangan ke arahnya. "Lo ngapain?" tanya Sesil penasaran.
"Salaman senpai. Itung-itung ini kenalan pertama kita," jawab Akbar dengan senyum manis
"Astaga. Lo kenapa ganteng banget sih anjir, kan gua suka," teriak Sesil dalam hati
"Kalau gua gamau gimana?" Sesil melipat tangannya di dada. Menyembunyikan rasa senang karena diajak kenalan salah satu incaran yang selama ini ia tunggu-tunggu.
"Alah senpai sok jual mahal," ucap Akbar sambil menarik tangan paksa tangan Sesil.
"Ehhhhhhh!"
Sambil menjabat tangan Sesil, Akbar berkata," Bilang aja, kalau senpai itu sebenernya seneng saya ajak salaman, ya, kan?" ucapnya sambil menaik-naikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
KKRIIINGGG!
"Eh, udah masuk. Dadah senpai, jumpee lagi." Akbar dengan santai melepaskan tangan Sesil lalu melenggang pergi menuju kelasnya
"Anjir, mimpi apa gua kemarin salaman sama diaa," jerit Sesil tertahan.
"Tapi, kenapa gua ngerasa ada sesuatu di tangan gua?"
Sesil membalik perlahan telapak tangan yang dijabat oleh Akbar tadi.
"AAAAAAA, SYALAAAAAAAAN. AWAS LOYA ANAK 1-3A." Suara jeritan Sesil terdengar di seluruh penjuru sekolah.
"Wkwkwk, rasain lu. Sok cantik sih, tapi emang cantik deng." Akbar terkikik di sepanjang jalan. Paginya terasa lebih menyenangkan hari ini. Ia tidak perlu repot-repot menyuruh Ghanni jungkir balik buat ngubah moodnya. Mengerjai salah satu senior cantik saja sudah membuatnya bahagia bukan main.
"DUGOOOONGGGG!"
Teriakan membahana dari dalam kelas menyambut kehadiran Akbar. Suara khas dengan cempreng yang selalu naik bebebrapa oktaf ketika berbicara seakan membuatnya paham, kalau ia benar-benar sedang ditunggu-tunggu oleh si pelaku peneriakan.
"Nungguin gue lu, ya?" tanya akbar setelah menginjakkan kaki di dalam kelas.
Semua mata memandangnya. Tanpa terkecuali. Menatap seakan Akbar adalah samsat.
"Aaaaaa, dasar dugong sialaaaann," teriak Mentari saat melihat Akbar di depan pintu sesaat setelah ia masuk.
Tari lantas maju, mengajar Akbar habis-habis an dengan menjambak rambutnya marah.
Akbar terkejut bukan main mendapat serangan mendadak dari Tari. Ia bahkan tidak sampai mengelak dari amukan singa betina yang selama ini ia jauhi karena amukannya yang mengerihkan.
"Mampos lu. Mampoos lu dugooongg. Aaaaaaa, Akbar sialan," balas Mentari tak kalah kalap.
"Ck. Gue tau kalo ujung-ujungnya bakalan kayak gini," ucap Sarah sambil menyaksikan dua makhluk di depan yang tak ada habisnya.
"Maksud lo? Lo udah tau kalau si Tari suka sama Akbar?" tanya Rio penasaran.
Sarah lantas melirik sinis. Merasa terganggu dengan pertanyaan Rio barusan. "Maksud lo apaan nanya begituan? Ngejek gua lo?"
Sarah yang terpancing emosi akibat pertanyaan Rio maju beberapa langkah. Mengikis jarak antara ia dan Rio yang semakin lama semakin mundur.
"G-g-gue gak maksud apa-apa kok, Sar. Iyah, gua gak maksud apa-apa," jawab Rio dengan kedua tangan dia jadikan tameng dari amukan Sarah.
"Maksud lo APAAAAAA?"
Sarah yang sudah kalap menghajar Rio tak kalah bringas dari Mentari. Sasaran empuk rambut Rio membuat Rio mau tak mau mengaduh kesakitan akbat jambakan Sarah di rambutnya.
Kelas 1-3A seakan tak pernah hening. Selalu ada saja kegiatan yang memancing lirikan maut dari kelas sebelah. Masyarakat unik yang selalu jadi bahan perhatian seantero sekolahan.
"Ahhhhh, dorama apa lagi ini Tuhan? Hayati lelah melihat mereka," desahan lelah terdengar dari mulut Mega. Ia yang enggan menyaksikan pertengkaran mereka pun memilih duduk membaca novel keluaran terbaru yang ia dapat dari giveaway.
__ADS_1
"Meg, lu udah dengar beritanya belum?" tanya Shalyan yang sedari tadi diam memperhatikan teman-temannya.
"Berita?" tanya Mega yang penasaran lantas menghada ke arah Shalyan. Meletakan novel yang barusan ia buka, mengabaikan rasa penasaran isi novel yang beberapa hari ini menarik perhatiannya. Bagi Mega, berita kali ini lebih menarik dari pada novelnya.
"Iyah, berita kalau Nataela dekat sama ketua yayasan."
Mega melotot horor. Pasalnya, ia sudah memprediksi ini dari hari sebelum-sebelumnya.
"Lu beneran, Yan? Gak salah denger," tanya Mega memastikan ucapan Shalyan. "Mungkin bukan Ale anak 1-3A yang di maksud."
"Sumpah! Gua udah mastiin sendiri kalau emang Ale dekat sama ketua yayasan, Meg," jawab Shalyan meyakinkan Mega.
"gua liat sendiri, kalau mereka kemarin makan berdua. Gua yakin kalau itu Ale. Dari yang gua liat, mereka nampak dekat banget, ketua yayasan keliatan nyanjung si Ale."
Mega yang sudah tau akan begini hanya mendesah pasrah. Mau bagaimana lagi, satu per satu hal bobrok dari dalam kelasnya akan ketahuan.
"Gua juga sering memrhatiin mereka," ucap Niysa yang ntah dari mana langsung duduk di depan Shalyan sambil menyedot boble teanya.
"Bukan cuma gue, tapi hampir semua ank kelas udah tau gimana Nataela. Jadi, gausah kaget kalau liat dia dekat sama ketua yayasan," jelasnya panjang lebar.
Kompak. Shalyan dan Mega mendesah lelah. Mereka bertiga sama paniknya, namun tak ada yang mau manunjukkannya. Bahkan, tanpa mereka ketahui, satu kelas sama resahnya dengan mereka bertiga tapi seakan menganggap itu hanya angin belakang, mereka lantas melupakannya.
"Pantesan gue ngerasa selama ini kalau kelas kita punya mata-mata," keuh Shalyan sambil menyenderkan badannya di badan kursi.
"Gue dari pertama kali liat Ale emang udah ngerasa janggal." Mega kembali mengangkat novel yang sempat ia letakkan.
"Maksud, lu?" Niysa mengernyit heran sambil menyedot minuman coklatnya.
"Gue bukan orang yang bisa baca pikran orang lain , tapi ntah kenapa gue suka nilai seseorang dari pertama ketemu," jawab Mega tanpa mengalihkan padangannya dari novel yang ia baca.
"Jadi, secara gak langsung lu itu bisa tau karakter seseorang dari pertama kenal?" tanya Niysa yang mulai menyukai topik pembicaraan kali ini.
"Yup, Betul banget."
Mega kembali terpekur dengan novelnya sedangkan Shalyan dan Niysa masih terdiam dengan pikirannya.
"Gaiiiisssss!"
Teriakan dari arah pintu membuat semua yang berada di dalam kelas kaget. Pelakunya bukan lain adalah satu-satunya murid yang berpacaran.
"Hari ini kita freee," ucapnya sambil tertawa girang.
Pemberitahuan tersebut disambut girang oleh penduduk lokal. Mereka berjoget riang dan bernyanyi layaknya seseorang yang baru mendapatakan harta karun.
"WOY!"
Suara teriakan membuat kesenangan mereka berhenti tiba-tiba. "Siapa di sini yang namanya Akbar?" tanya seorang wanita dengan tubuh tinggi dengan rambut yang dikepang satu.
__ADS_1
"LU NGAPAIN LAGI SIH DUGOOONG?" teriakan Tari membahana seantero sekolah.
"mati gua," batin Akbar berteriak keras melihat masalah yang akan ia hadapi di depannya.