
"Ma ... mama?" Sean berlari menuju kamar sang mama. Ia mencari dimana keberadaan mamanya setelah menyimpan cincin kawinnya di dalam nakas.
Sherin yang mendengar teriakan putrinya langsung keluar mencari sumber suara. "Ada apa sih sayang?" ucap Sherin setelah melihat putrinya itu turun dari anak tangga.
Sherin dan Sean sebenarnya tidak akrab. Meski menyandang status ibu dan anak, keduanya tak pernah akur. Namun, Sherin merasa aneh pada putrinya hari ini. Tak pernah Sean berteriak-teriak hanya untuk mencarinya.
Biasanya Sean cuek saja dimanapun mamanya berada. Kenapa hari ini berbeda sekali?
"Mama dari mana aja sih? Sean nyariin loh dari tadi," keluh Sean menatap haru sekaligus bahagia wajah sang mama. Ia tak menyangka bisa bertemu lagi dengan ibu kandung yang melahirkannya 18 tahun silam.
"Ada apa emang? Mama dari tadi di kamar kok. Tumben kamu cari-cari mama?" Sherin menatap Sean penuh selidik.
Baru kali ini ia melihat putrinya mencari dirinya. Ia sampai kebingungan sendiri. Namun, entah mengapa ia merasa bahagia saat Sean terus saja memanggilnya.
Sean berlari menghampiri mamanya. Tiba-tiba.
Bugh!
Sean memeluk erat tubuh sang mama, tubuh yang ia tatap dari anak tangga tadi, kini sudah berada dipelukannya.
"Tumben sih kamu kaya begini? Biasanya kalau ketemu mama melongos gitu aja!" sindir Sherin karena tingkah putrinya berbeda hingga 360 derajat.
Ketika Sherin ingin menatap wajah putrinya, mengendurkan pelukan itu dari Sean, justru tubuhnya tetap tertahan. Ia tak bisa melonggarkan pelukan itu, malah semakin erat. Sean sengaja menahan pelukannya. Seakan-akan mamanya tak boleh lepas dari jeratan pelukannya.
Namun, Sherin hanya tersenyum manis melihat tingkah anaknya yang menggemaskan. Inilah sebenarnya sifat yang ingin sekali ia dapatkan dari putri semata wayangnya itu.
"Kamu kenapa sih? Kaya setahun nggak ketemu mama deh," Sherin terus saja melontarkan kata-katanya karena tak kunjung dijawab oleh Sean.
__ADS_1
Akhirnya, Sean mengendurkan pelukannya. Namun ia masih melingkarkan tangannya di pinggul sang mama. Mendongakkan kepalanya menatap wajah wanita paruh baya itu penuh haru.
Tak terasa, bulir bening dari sudut matanya bahkan terjatuh membasahi pipinya yang sudah kembali tirus. "Ma ... please ... janji sam- Sean kalau mama nggak akan pernah meninggalkan Sean!" Mata Sean berbinar menatap wajah perempuan paruh baya itu.
Sherin kebingungan mengapa tiba-tiba anaknya berucap seperti itu. Tak pernah ia sangka sebelumnya, kalau putrinya itu memiliki rasa sayang yang begitu besar padanya meski selama ini terlihat sangat cuek.
"Iya ... mama janji Sean. Lepasin dulu deh tangannya. Mama gerah nih. Emang ada apa kok kamu tiba-tiba bilang gitu? Kapan mama pergi dari rumah ini?" cecar Sherin penuh dengan tatapan menyelidik.
Sean menyeka air matanya yang terus mengalir dengan derasnya. Ia masih tak menyangka bisa menemui mamanya di rumah lama mereka. Rumah yang baginya telah ditinggalkan selama satu tahun terakhir. Bahkan wajah mamanya yang terakhir ia lihat setelah pulang dari kejadian tak mengenakkan sehari setelah perayaan kelulusannya.
"Pokoknya mama jangan pernah pergi dari rumah ini! Apapun yang terjadi! Sekalipun papa bentak-bentak mama tapi ingat ada Sean yang selalu ada untuk mama disini," tegas Sean menatap tajam wanita itu.
Sherin mengangguk patuh karena permintaan putri semata wayangnya. Ia bahkan mengelus rambut pirang milik Sean dengan lembut.
"Ma ... seharian Sean ingin sama mama. Boleh nggak?" pinta Sean menatap lekat wanita itu bahkan dengan tatapan memelas.
"Ma ... kok nggak dijawab?" sambung Sean.
"Loh, jawabannya kan sudah jelas. Ini kita mau kemana coba?" Sherin membentuk lengkungan disudut bibirnya.
"Oh jadi kita ke kamar Sean ya mah? Yaudah mama kelonin Sean ya disana! Mama kan ga pernah mau kelonin Sean," sesal Sean terus menoleh pada wajah mamanya.
"Lihat jalannya ke depan dong Sean! Kamu kok jadi kaya anak kecil gini sih? Bukan mama nggak mau kelonin kamu tapi kamunya yang nggak pernah minta. Kamu aja cuek terus sama mama! Setelah memasuki masa remaja kan kamu yang jauhi mama," protes Sherin terus saja melemparkan senyum yang tak pernah ia tunjukkan pada Sean.
"Maaf ma ... mulai sekarang Sean mau bermanja-manja sama mama! Sean mau jadi anak kecil lagi. Diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Sean juga nggak mau mama dan papa berantem terus!" desis Sean seraya tertunduk.
"Mama dan papah sering berantem tuh karena siapa? Karena kamu yang suka begajulan. Gaulnya sama anak-anak aneh. Nggak pernah nurut apa kata orang tua!" cibir Sherin.
__ADS_1
Sherin dan Sean akhirnya duduk di atas ranjang. Mereka mengobrolkan hal-hal yang penting sampai hal tidak penting. Tiba-tiba Sean semakin terbuka dengan mamanya. Siang itu, ia benar-benar mulai membuka diri terutama untuk keluarganya.
"Ma ... Sean ingin kita bisa kumpul terus. Apapun yang terjadi mama nggak boleh pergi dari rumah ini ya!" pinta Sean menatap haru wajah sang mama.
"Iya sayang ... udah berapa kali kamu mengulang kata-kata itu sih! Ada apa emangnya? Walaupun mama dan papa sering berantem tapi nggak pernah tuh mama sampai minggat dari rumah ini," hardik Sherin menatap lekat putrinya.
Ceklek
Suara tarikan daun pintu terdengar. Sherin dan Sean menoleh secara kompak. Melihat siapa yang datang dari balik daun pintu.
Ternyata, wajah Prawira baru saja muncul dari balik pintu. "Tumben mama disini? Nggak biasanya ada di kamar Sean?" lontar Prawira yang baru saja pulang dari kantornya.
"Ini loh pah, anakmu. Tiba-tiba minta ditemenin seharian. Mama juga bingung. Tumben banget nih anak. Dah gitu meracau terus dari tadi. Bilang mama nggak boleh pergi dari rumah ini," jelas Sherin panjang lebar pada suaminya.
Sherin pun beranjak dari atas ranjang, ia mendekati Prawira, mengambil alih tas kerja serta membuka dasi yang terpasang melingkar dilehernya.
"Ma ... mau kemana ih?" rengek Sean seperti anak kecil. Ia tak mau ditinggal oleh mamanya. Apalagi ketika papanya sudah pulang kerja, pasti ada saja yang mereka ributkan nanti.
"Mama mau beresin barang papah dulu. Kamu nggak mandi? Katanya ada acara perayaan kelulusan sekolah?" ucap Sherin mengingatkan Sean akan kejadian seperti de javu, kejadian yang ia rasakan setahun sebelumnya di masa depan dulu.
"Nggak ah! Sean nggak mau ke acara nggak mutu kaya gitu." Sean berlari mengejar mama dan papanya, memeluk kedua orang tuanya dengan erat.
"Sean udah besar peluk-peluk papa sih?! Malu udah gede loh," cibir Prawira.
"Anak papa ini masih kecil! Papa juga jangan suka cuek sama anak! Perhatiin dong anaknya. Masih kurang kasih sayang nih!" Sean menggelitiki pinggang papanya.
Pria tua itu kesal, mencebikkan bibirnya lantaran jengah melihat tingkah putrinya. "Kamu apa-apaan sih!" bentak Prawira karena jengkel putrinya terlihat berbeda hari ini. Padahal Sean tidak pernah bersikap kekanakan. Bahkan Sean sangat menyegani papanya selama ini.
__ADS_1