
Sean memegang cincin emas yang berada dilingkaran jari manis tangan kanannya. Ia ingin melepaskan cincin itu. Membuktikan perkataan seorang kakek tua tadi.
Apa benar yang dibilang kakek tua tadi? Kalau aku lepaskan cincin ini? Akankah aku mengubah takdirku?
Sean menatap lekat cincin itu. Pandangannya hanya tertuju pada benda bulat yang melingkar di jarinya.
Ia segera berdiri menghadap jembatan dan sungai. Lalu bersiap untuk mencabut cincin mas kawinnya.
Apa salahnya mencoba dulu? Lagipula cincin ini pemberian laki-laki yang sangat aku benci! Yang membuat hidupku menjadi semenderita ini!
Sean terus saja berucap dalam batinnya. Saat itu jalanan di belakangnya sangat sepi. Tak ada satupun kendaraan yang melintas. Ia mengedarkan pandangannya. Semuanya masih tampak kosong. Tidak ada orang maupun kendaraan berlalu lalang.
Sean bersiap menarik cincin kawinnya. Setelah ia lepaskan cincin itu, lalu menggenggamnya dengan erat tanpa dibuang. Seketika waktu terhenti. Bahkan sungai tak bergerak mengikuti aliran air.
Lampu jalanan mengedip-ngedip tanpa henti. Sean memejamkan matanya, membukanya lagi. Kemudian ia mengedarkan pandangannya. Sepertinya tidak ada yang berbeda. Jalanan masih kosong, tidak ada orang yang melintas.
Bedanya, lampu yang tadi sempat berkedip-kedip selama satu menit sudah menyala normal. Air sungai mulai mengalir sesuai arusnya.
Kenapa tidak ada yang terjadi? Kenapa aku masih tetap di tempat ini?
Sean masih kebingungan. Ucapan kakek tua itu belum terbukti. Tapi ia masih penasaran apakah benar terjadi sesuatu. Sean berjalan pelan sembari terus menggenggam cincin kawinnya.
Ia tak mau membuang cincin kawin tersebut. Jika tidak ada yang terjadi, nantinya cincin itu bisa ia jual demi bertahan hidup.
Sean melangkah meninggalkan jembatan tempat percobaan bunuh dirinya. Tak jauh dari jembatan itu ada sebuah warung kecil. Tempat pemberhentian para supir angkot untuk membeli minuman dan rokok.
Sean berjalan terus melewati warung itu. Namun, langkah kakinya terhenti setelah mengingat kilas balik banner yang terpajang di warung kecil itu.
Ia berjalan mundur kembali lagi ke depan warung tersebut. Memastikan kalau penglihatannya tidak salah.
Benarkah itu tahun 2021?
Ia berjalan mendekati banner yang terpajang. Sebuah iklan, kontes perlombaan sepeda dimana pengumumannya adalah tepat saat hari perayaan kelulusannya.
25 Mei 2021? Benarkah tanggal itu?
__ADS_1
Sean mengucek-kucek matanya, memastikan iklan itu memang benar ditujukan pada tahun 2021.
"Ada apa mbak?" ucap pemilik warung itu.
"Sekarang tahun berapa?" Sean hanya berdiri mematung menunggu jawaban dari pemilik warung.
"Sesuai dengan kontes iklan ini mbak. Sekarang tanggal 25 Mei 2021!" Pemilik warung itu merasa aneh dengan pertanyaan Sean.
Bahkan ia juga kebingungan dengan penampilan Sean hari itu. Bajunya lusuh tetapi wajahnya sangat cantik.
Tubuhnya kembali ramping tetapi karena dibalut dengan daster yang lebar, kerampingan tubuhnya tak terlihat.
"Jadi lomba sepeda ini, berlangsung hari ini?" tanya Sean masih tak percaya dengan apa yang didengarkannya saat ini.
Pemilik warung itu mengangguk seraya tersenyum. Ia juga membuka ponselnya, menunjukkan layar ponsel itu pada Sean. Disana tertulis tanggal, hari dan tahun saat ini.
Setelah memastikan, kalau Sean benar kembali lagi saat hari dimana perayaan kelulusannya. Ia menjadi terharu. Kakek tua itu telah menyelamatkannya.
Tak terasa tetesan bulir bening terus membasahi pipinya. Ia menangis sekaligus tertawa bahagia bak orang gila.
Hikss ... Hiks ... Hahahahahha ... Hahahaha
"Mbak! teriak pemilik warung itu menyadarkan.
"Saya nggak apa-apa bu. hahahahah! Saya hanya bingung dan takjub," ungkap Sean tetapi malah membuat pemilik warung itu semakin bingung.
"Maksudnya apa mbak?" cecar Pemilik warung itu.
"Nggak apa-apa bu. Saya izin pamit dulu. Terimakasih." Sean membungkuk dan menunduk sebagai ucapan terimakasihnya.
Sean tak menyangka ia kembali ke satu tahun sebelum kejadian panas itu terjadi. Untungnya, hari itu masih siang. Sean ingin menghindari satu tempat yang menjadi awal pertemuannya dengan Daniel Prasetya.
Tak hanya itu, Sean terus berpikir untuk mengubah semuanya. Mencegah mamanya pergi dari rumah seperti keputusannya pada waktu itu.
Sean terus berlari-lari dengan kencang. Ingin sekali rasanya tiba di rumah besar milik papanya.
__ADS_1
Ia menaiki kendaraan umum untuk menuju rumahnya yang masih jauh. "Pak, saya minta maaf. Apa boleh saya menumpang sekali saja? Saya tidak punya uang," jelas Sean pada supir bus yang melintas dan berhasil diberhentikan oleh Sean.
Supir bus itu mengangguk. Ia juga kasihan melihat Sean yang berjalan tanpa alas kaki serta bajunya yang lusuh.
Fania duduk di kursi paling depan. Tepatnya dibelakang sang supir. "Pak tolong berhenti didepan ya. Terimakasih banyak sudah memberikan saya tumpangan. Mudah-mudahan rejeki bapak semakin banyak!" harap Sean.
Kemudian ia turun dari bus itu. Pemberhentiannya tepat sekali di halte dekat rumahnya. Wanita itu cukup berjalan kaki selama 10 menit untuk sampai ke rumahnya.
Tibalah Sean tepat di depan rumah. Gerbangnya terbentang sangat tinggi dan panjang. Menutupi seluruh bagian muka rumah itu.
Sean memencet bel rumah agar ada pembantu yang membukakan pagar itu. Salah satu pembantunya langsung membuka gerbang yang besar itu. Ia melihat sosok yang berbeda ada didepan pagar.
"Non darimana? Kenapa berpakaian seperti ini." Bi Tuti menarik baju lusuh Sean. Diikuti oleh gerakan manik mata Sean. Ia jadi terpaku melihat penampilannya siang ini.
Tapi ada hal yang lebih penting yang harus ia urus. "Bi, mama mana?" sanggah Sean ke inti pertanyaannya.
"Ada di kamar non. Ayo masuk! Ganti bajunya dulu non," titah Bi Tuti, ia langsung menutup gerbang itu setelah Sean masuk ke halaman rumah.
Sean langsung menuju kamarnya. Ia harus mandi dulu sebelum bertemu mama tercintanya.
Sean memekik kaget ketika melihat pantulan gambaran tubuhnya yang ada di cermin kamarnya.
"Hah." Tubuh Sean tergeletak di lantai karena merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ia mencubit lengannya untuk membuktikan kalau sekarang yang terjadi adalah hal nyata.
"Awwwww," pekik Sean kesakitan merasakan cubitannya sendiri.
Ia berdiri lalu mengaca lagi di depan cermin. Wajah cantiknya sudah kembali. Lalu ia menarik dasternya ke belakang, tubuhnya pun menjadi ramping kembali.
Kakek tua itu, dimana aku harus mencarinya? Dia sudah menolong hidupku! Merubah takdirku! Aku harus berterimakasih padanya.
Sean terus saja bergumam seorang diri di hadapan cerminnya. Wanita itu ingin sekali berjumpa lagi dengan kakek tua yang menolongnya.
Tunggu ... tunggu ... sebelum ketemu lagi dengan kakek tua itu. Aku harus benar-benar merubah takdirku. Merubah semua hal yang pernah terjadi sebelumnya. Aku harus membujuk mama agar tidak pergi dari rumah ini. Aku tak boleh menghadiri acara kelulusan itu. Kalau itu sudah berhasil aku gagalkan, baru aku akan mencari kakek tua itu!
Sean berdiri dengan percaya diri. Kini, ia menatap lekat sebuah cincin yang ada digenggamannya. Cincin itu ia simpan di laci nakas di samping ranjangnya. Yang terpenting, adalah cincin itu tersimpan dengan aman karena itu satu-satunya alat yang bisa merubah takdirnya.
__ADS_1
Kalau aku memakai cincin itu lagi, apakah aku akan kembali ke kejadian tadi? Mengembalikan statusku sebagai seorang ibu dan istri yang tersiksa?
Ia terus menatap cincin itu, sebelum akhirnya memutuskan untuk menutup laci nakasnya dengan rapat.