
"Sean ... bangun! Sudah jam 5 sore. Apa kamu nggak mau datang ke acara perayaan kelulusanmu?" Sherin menggoyang-goyangkan tubuh Sean dengan lembut.
Sejak lima menit yang lalu ia sengaja masuk ke kamarnya untuk membangunkan putrinya itu. "Sean ... ayo bangun! Mau maghrib loh! Nggak baik tidur saat petang," tutur Sherin lagi-lagi mencoba membangunkan putrinya.
Dibawah alam sadarnya, Sean masih bermimpi. Mimpi itu mengingatkannya pada buah hatinya yang hanya berumur satu minggu.
Kepalanya menggoyang ke kanan dan ke kiri karena mimpi itu dirasanya sangat buruk. Mimpi dimana ia diingatkan kembali akan perlakuan suaminya yang buruk.
Ia masih dihantui rasa penasaran terhadap bagaimana kondisi kelanjutan anaknya tanpa dirinya. "Jangan ... jangan ..." rintih Sean mengerang dalam mimpinya.
Dalam mimpi tersebut, ia melihat kalau anaknya itu tengah diterlantarkan oleh suaminya. Ia yang hanya melihat dari jauh pun tak bisa berbuat apa-apa.
"Tolong dia ... jangan biarkan dia sendiri ..." rintih Sean yang akhirnya membuat Sherin bertindak.
Sherin menggoyangkan tubuh Sean dengan keras agar terbangun dari mimpi buruknya. "Sean! Bangun!" titah Sherin berteriak. Ia melihat kekhawatiran di raut wajah anaknya. Keringatnya pun bercucuran karena ketakutan dalam mimpi tersebut.
Haaaaah!
Sean membuang nafas kasarnya. Badannya terengkuh langsung terduduk. Ia masih dalam keadaan bengong tak berdaya. Tatapannya kosong. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Sean ... kamu mimpi apa nak? Sampai minta tolong segala?" ucap Sherin dengan tenang ketika melihat putrinya akhirnya sadarkan diri.
Sean mengedarkan pandangannya. Ia meneliti setiap sudut ruangan, memastikan kalau sebelum ia tidur tadi adalah sebuah kenyataan. Tempat dimana ia memilih tidur, ya itu dia kamar kedua orang tuanya.
Setelah mengamati dengan cukup tenang, Sean akhirnya menyadarkan dirinya. Ternyata tentang kehidupan kelamnya lah yang masuk ke dalam mimpinya.
"Ma ... mama," ucap Sean dengan suara paraunya. Sean langsung menarik tubuh mamanya, memeluknya begitu erat.
"Kamu kenapa nak?" tanya Sherin kebingungan sekaligus penasaran pada putrinya. Memang hari ini, putrinya terlihat sangat berbeda. Mulai dari sikap, kata-kata yang diucapkan, tingkah manjanya. Bahkan semuanya!
Membuat Sherin merasa aneh dan bingung. Entah dia harus senang, sedih atau malah penasaran apa yang sudah dilalui oleh putrinya hingga bisa berbuat demikian.
__ADS_1
"Ma ... jangan kemana-mana ya! Tetap selalu ada buat Sean." Sean masih memeluk mamanya dengan erat. Wanita paruh baya itu sudah mencoba mengendurkan pelukan Sean, sayang usahanya sia-sia.
Sherin pun akhirnya memilih untuk mengelus pucuk kepala Sean. Menenangkan anaknya dari mimpi buruk yang telah dilaluinya.
"Iya sayang! Mama ada disini kok. Kamu mimpi apa?" cecar Sherin diselimuti rasa penasaran.
"Mimpi buruk ma." Sean mengendurkan pelukannya, pelukan itupun terlepas setelah ia merasa nyaman dan aman.
"Iya! Mama tahu kamu mimpi buruk tapi tentang apa?" sambung Sherin masih sangat penasaran.
"Sudahlah ma, lupakan. Lagipula aku tak mau mengingatnya." Sean beranjak dari kasur, ia berdiri keluar dari kamar kedua orang tuanya tetapi diekori oleh Sherin.
"Kamu mau kemana?" tanya Sherin karena anaknya itu masih tampak seperti orang linglung.
"Mau ke kamar aku ma. Oh ya, tadi kenapa mama bangunin aku?" ucap Sean menatap lekat wajah mamahnya.
"Mama mau ingetin acara perayaan kelulusanmu nak. Lagipula apa kamu tidak mau berpamitan pada teman-temanmu? Kalian kan akan terpisah-pisah," jelas Sherin.
"Oh ... aku malas ma. Biarkan saja mereka yang merayakannya." Sean memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Hal yang pertama ia lakukan adalah memastikan cincin kawinnya masih berada di tempat yang aman yaitu laci nakasnya.
Kembali ke Tahun 2022
Sean berdiri mematung dengan kondisi sama di jembatan saat ia hendak bunuh diri. Namun, Sean tak ingin berlama-lama berada di tahun yang kelam itu. Dunia dimana ia sangat merasakan perasaan tersiksa.
Dengan cepat Sean melepaskan cincin kawin itu dari jemarinya, ia kembali lagi berada di kamarnya. Sontak karena merasa sangat terkejut atas kejadian tadi, Sean melemparkan cincin kawin itu dengan tidak sengaja.
Cincin itu menggelinding entah kemana. Sean akhirnya tersadar, mencoba mencari kembali keberadaan cincin itu. Ternyata cincin kawin itu merupakan jalan untu dia bolak-balik kembali ke dunia yang ia inginkan.
Dunia sebelum ia terjebak rumah tangga yang sengsara ditahun 2021 atau dunia saat ia merasakan perasaan yang begitu menyakitman yakni ditahun 2022.
Mumpung aku berada di tahun 2021! Aku akan merubah semuanya! Agar kejadian itu tak terulang pada hidupku setelag satu tahun berikutnya.
__ADS_1
Sean larut dalam pikirannya sembari mencari-cari benda bulat yang bisa mengantarkannya kedua dunia.
Dari tempatnya, Sean melihat sesuatu yang bersinar. Ternyata dari permata yang ada di cincinnya memantulkan sinarnya. Sean mengambil cincin yang ternyata ada dibawah kolong tempat tidurnya.
Ia memegang cincin itu mendekatkan ke wajahnya. Sebenarnya ia penasaran ingin melihat kondisi anaknya. Tapi ia sangat takut tidak bisa kembali ke tahun 2021 untuk merubah takdirnya secara nyata.
Cincin itupun akhirnya ia simpan kembali ke dalam laci nakas. Sean sengaja menutupi cincin dengan tumpukan buku agar tidak ada yang menyentuhnya.
*****
Di tempat yang berbeda. Daniel Prasetyo sedang asik mengobrol dengan teman-teman seangkatannya di dalam kamar hotel.
Mereka bahkan menyalakan tv dengan tontonan yang tidak biasa. Ya, tontonan khusus pria dewasa. Karena mereka telah diumumkan lulus dari tingkat SMA, akhirnya Daniel bersama teman-temannya memutuskan untuk menonton blue film sebelum perayaan mereka dimulai.
*****
Tok .. Tok ...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Sean yang masih bermalas-malasan diatas ranjangnya.
"Kenapa ma?" tanya Sean setelah melihat sosok wanita paruh baya itu muncul dari balik daun pintu.
"Bentar lagi maghrib. Mau shalat bareng?" ajak Sherin yang melihat anaknya sedang bermalas-malasan sore itu. Bukannya mandi, Sean malah melanjutkan posisi rebahannya dengan tempat yang berbeda.
"Mau ma," sahut Sean antusias. Ia langsung berlari ke kamar mandi. Di dalam sana, ia memilih mandi dengan air hangat sebelum suara adzan mahgrib terlantun begitu kerasnya.
Setelah memakai seluruh pakaiannya, ia datang ke kamar Sherin membawa mukena. Di dalam kamar itu sudah ada Prawira dan Sherin. Prawira di posisi paling depan sebagai imam. Sherin dan Sean berdiri dibelakang Prawira sebagai makmumnya.
Mereka bertiga dengan khusuk melaksanakan shalat maghrib. Hingga penutupannya diakhir dengan salam-menyalam dengan takzimnya.
"Sean mau papa antar ke perayaan kelulusan?" usul Prawira menawarkan.
__ADS_1
Sean menggelengkan kepalanya. Tak ada niatannya sama sekali untuk datang ke perayaan itu.
"Nggak perlu pa... Sean mau di rumah aja! Malas kumpul-kumpul nggak jelas!"