
Keluarga Sean baru saja tiba di rumah 30 menit yang lalu. Mereka terasa lelah setelah menikmati liburan dua hari yang terasa panjang.
Saat ini, Sean masih masa-masa libur sekolah. Menantikan diterima masuk ke salah satu universitas yang sudah mengikuti ujian SNMPTN pada pekan lalu. Ujian yang diadakan sebelum acara perpisahan kelulusan mereka.
Dika dan Ryan pun langsung pulang ke rumah masing-masing, mereka tak lagi mampir di rumah Sean. Keduanya, turun di tengah jalan saat menuju rumah besar nan megah milik pria terkaya yakni Prawira.
Sean berdiri di depan cermin, menatap wajah cantik miliknya. Ia terlihat anggun, bertubuh ramping, berkulit putih, dengan tinggi semampai. Kondisi ini sangat berbeda saat ia telah menjadi seorang istri di tahun 2022 yang menurutnya sudah menjadi masa lalu bagi dirinya.
Saat ia bercermin, ia semakin penasaran pada sosok tubuhnya ditahun yang mencekam baginya. Ia langsung menuju nakas, dimana tempat penyimpanan cincin kawinnya dan Daniel.
Cincin itu coba ia sematkan, misi Sean kali ini, ia harus melihat kondisi sang bayi baik-baik saja. Dengan rasa takut-takut, Sean mencoba mengantongi lima lembaran merah dari dunianya yang ada ditahun 2021.
Ia ingin mencoba peruntungan, apakah uang itu tetap ada saat ia memasuki dunia di tahun 2022? Sebab, mata uang tak berparuh jika hanya berbeda satu tahun saja.
Sean merogoh kantong kosong di baju, lalu memasukkan lima lembaran merah itu. Ia berpikir lagi, jika ia mengenakan baju yang sekarang, baju modis ala remaja, apakah baju itu akan tetap sama saat ia tiba di sana?
Ia kembali mengingat-ingat saat pertama kali menyematkan cincin kawin yang pernah sekali ia coba setelah memasuki dunia yang sekarang. Aneh, baju di dunia yang sekarang tetap dipakai oleh Sean meski ia sudah berbeda dunia. Hanya saja, postur tubuh yang berubah, kembali seperti ibu-ibu yang baru melahirkan.
Sean semakin yakin ingin membantu bayinya bertumbuh kembang di dunianya sendiri. Cincin yang sekarang ia genggam mulai ditatap dengan rasa haru.
Kala, ia mendekatkan cincin itu ke jari manis kanan. Menyodorkan semakin ke depan jari manisnya, mulai menyematkan secara perlahan. Dan ... jleb! Sean sudah berpindah tempat.
Ia sekarang berada di depan jembatan saat ingin mencoba bunuh diri ditahun 2022. Ia melihat baju yang dikenakan, ternyata tidak berubah. Masih menggunakan pakaian modis di tahun 2021. Namun, baju itu terlihat begitu ketat lantaran tubuh Sean sangat melebar.
Ia menatap pergelangan tangan, perut yang membuncit, bahkan meraba pipi yang sangat berisi. Wajah Sean tampak sedih, matanya cekung lantaran kurang tidur, persis saat ia dulu ingin mencoba bunuh diri. Tubuhnya benar-benar sempurna memperlihatkan seorang wanita yang baru melahirkan.
__ADS_1
Sean mengedarkan pandangan, menatap sekeliling. Tak jauh dari posisinya, warung itu masih tetap ada di tahun 2022. Ia jadi teringat setelah berpindah waktu ke tahun 2021, warung itu tampak sepi. Sang pemilik juga menjawab pertanyaan Sean.
Kali ini, Sean berjalan mendekati warung itu. Sean masih tak memakai alas kaki karena dari rumah yang lama ia pun tak memakainya.
"Permisi, bu?" ujar Sean mencari sosok sang pemilik.
Namun, yang keluar adalah orang yang berbeda. Gadis belia yang cantik sebagai pengganti pemilik warung itu. "Maaf, mbak, apa mbak pemilik warung ini?"
"Iya, ada apa, ya, mbak?" jawab perempuan itu datar.
"Oh, ibu yang punya warung sebelumnya kemana?" tanya Sean kebingungan.
"Oh ibu saya itu, loh mbaknya, kenal ibu saya? Ibu saya sudah meninggal setahun yang lalu." Perempuan itu mulai merasa takut saat melihat tubuh Sean yang tak cocok dengan setelan penampilannya.
Sean larut dalam pikiran, bagaimana mungkin wanita paruh bayah yang sehat walafiat ternyata di dunia ini sudah meninggal bahkan setahun yang lalu? Artinya jarak waktu mereka terpaut cukup jauh sampai Sean masih bisa melihat sosok wanita yang sudah menjadi almarhumah.
"Saya kenal, ibu kamu yang bantu saya dulu. Maaf, saya nggak tahu kalau beliau sudah meninggal. Kalau boleh tahu, meninggal karena apa?" Sean menatap haru wanita itu, tak terasa bulir bening pun jatuh dari pelupuk mata.
"Penyakit jantung mbak. Saya juga heran, saat itu ibu saya tampak baik-baik saja. Tapi tiba-tiba jatuh dan meninggal," ceritanya panjang lebar.
"Baiklah mbak, terimakasih infonya. Saya pamit dulu." Sean akhirnya pergi meninggalkan anak ibu pemilik warung. Pikirannya menjadi kalut, satu hal yang pasti, ia ingin menyelamatkan si pemilik warung asli.
Apakah itu akan bisa terwujud? Apakah Sean benar-benar bisa membantu orang untuk merubah takdirnya sendiri? Itu terus saja dipikirkan oleh Sean saat ia berjalan menapak hingga di rumah Daniel.
Sore itu, tak ada satupun yang terlihat di dalam rumah. Tidak ada tangisan bayi, hanya kesunyian tampak dari depan rumah.
__ADS_1
Beberapa tetangga bahkan saling berbisik melihat penampilan Sean yang begitu aneh. Baju modis itu tidak seperti seleranya di tahun 2022 ini. Biasanya, Sean hanya memakai baju daster murahan yang telah usang.
Namun, kali ini ia mengenakan setelan yang tampak mahal. Meski perutnya condong keluar, memperlihatkan postur perut yang membuncit. Baju itu sangat tak cocok padanya.
"Eh ... lihat deh, itu, Sean kan? Yang ninggalin anaknya itu loh bu," bisik salah satu tetangga. Tepatnya bukan berbisik, melainkan berbicara tepat di samping orangnya langsung.
"Iya, benar! Tapi penampilannya berbeda. Aneh, apa baju yang dia pakai itu hasil pengungutan? Lagian kan dia kabarnya kabur dari rumah," celetuk tetangganya yang lain.
"Coba gih samperin, tanya aja langsung sama orangnya. Nggak kasian apa dia, masa anaknya nangis terus, rewel malah bapaknya ngasih air tajin pula!" keluh tetangganya yang julid.
"Maaf bu, anak saya kenapa tadi?" Sean mendekati kerumunan ibu-ibu yang tak jauh dari posisinya.
"Eh mbak Sean," kata tetangga itu dengan malu-malu karena Sean berani langsung mendatanginya.
"Anak mbak loh kasihan! Baru umur satu minggu kok dikasih air tajin sih! Kasian loh," celetuk ibu tetangga yang lain.
"Hah? Apa? Air tajin?" beo Sean masih tak terpacaya dengan pikiran suaminya.
"Iya loh, mbak, anak mbak ada di rumah mertua. Dititipin! Suami mbak udah mulai kerja tuh, mungkin biar bisa beli susu!" cibir tetangga yang lain lagi.
Sean merasa sedikit bisa bernafas lega ketika mendapatkan gosip tentang suaminya. Pria pemalas itu sudah mulai bekerja? Apa memang benar kenyataannya seperti itu?
"Yasudah ibu-ibu, terimakasih infonya. Saya pamit dulu," ucap Sean setelah itu ia menuju rumah Daniel.
Di depan pintu, ia terdiam cukup lama, hampir lima menit. Ditatapnya pintu berbahan triplek itu semakin dalam. Pintunya tertutup sangat rapat.
__ADS_1