The Wedding Ring

The Wedding Ring
makan seadanya


__ADS_3

"Siapa yang datang Bi?" ucap Sherin setelah menelan makanannya.


Bi Tuti pun langsung mendekatinya. "Ada aden Ryan dan aden Dika, nyonya. Katanya nunggu non Sherin," jawab Bi Tuti.


"Hah? Apa? Mereka kesini?" Sean pun langsung beranjak tanpa menyelesaikan makan malamnya.


"Ma, Pa, Sean ke ruang tamu dulu ya. Tadi Sean udah peringati Ryan supaya nggak usah kesini!


Flasback


Ryan dan Dika lagi asik mencicipi wine yang dibawa oleh waiters wara-wiri disekitar mereka. Namun, mata Rya berkedip, meminta agar Dika ikut keluar.


Pikiran Ryan tak tenang jika satu dari antara mereka bertiga tidak hadir dalam acara tersebut.


"Ayo kita jemput Sean," kata Ryan setelah mereka kembali ke luar Bar.


"Loh, katanya Sean nggak mau datang. Kok malah jemput?" balas Dika kebingungan.


"Gue nggak enak, rasanya ada yang kurang!" Ryan ini memang menyimpan sedikit perasaan pada sahabatnya. Ia terkadang sedikit terbawa perasaan pada Sean, jika Sean memberikan perhatian-perhatian kecil.


Tak heran, jika sampai saat ini Ryan masih menjomblo. Alasannya adalah karena ingin terus bersama Sean tanpa ada orang yang melarang-larangnya.


Jika ia memiliki kekasih, tentu saja kekasihnya akan cemburu pada Sean. Sebab, Ryan tak segan-segan memberikan perhatian pada sahabatnya bahkan secara terang-terangan.


"Yaudahlah, gue ngikut aja apa yang lo mau." Dika pun mengekori Ryan menuju perparkiran. Mereka akhirnya berinisiatif untuk menjemput Sean malam itu.


Flashback Off!


Dika dan Ryan masih terduduk di sofa, keduanya saling diam larut dalam pikirannya masing-masing.


"Ngapain lo berdua ke sini? Gue kan udah bilang, lo berdua nikmati saja acara!" seloroh Sean.


"Nggak asik nggak ada lo Sean, sumpah!" Ryan agak mendramatisir ucapannya. Membuat Dira terkekeh sedikit.


"Nah ... gitu dong senyum!" celetuk Dika yang melihat Sean akhirnya mengeluarkan tawanya.


Ini dia makhluk apa gue usir aja? Kemana mereka berdua waktu gue mabuk berat pas beres acara, sampai akhirnya gue terjebak sama si Daniel syalan itu?


Ingin sekali rasanya Sean melontarkan pertanyaan itu pada kedua sahabatnya. Namun, lagi-lagi Sean mengurungkan niatnya. Lebih baik ia diam daripada harus dianggap sebagai perempuan gila.

__ADS_1


"Udah lo berdua balik lagi ke Bar! Intinya gue nggak akan ikut sama lo berdua ya!" tegas Sean memperingatkan.


"Ssst, gimana nih?" bisik Dika menatap wajah Ryan.


"Yaudah ayo balik aja," balas Ryan semakin malas basa-basi.


Flashback!


Saat kejadian, sebelum Sean bertemu dengan Daniel. Kedua sahabatnya itu sudah teler berat. Mereka berdua malah tidur di Bar Hotel. Bahkan mereka tak tahu jika Sean sudah pergi dari Bar.


"Mas ... bangun! Sudah pagi," ucap salah satu waiters yang melihat Ryan dan Daniel tertidur diatas sofa.


Dengan mata yang cukup berat, Ryan mencoba membuka kedua matanya. Bola matanya membulat ketika melihat keadaan sekitar.


"Ini dimana ya?" tanya Ryan setengah sadar.


"Mas, mas berdua ketiduran di bar sampai pagi. Sudah dibangunkan malah meracau yang tidak-tidak!" keluh waiters itu sekilas tampak memberikan senyum pada Ryan.


Ryan pun melebarkan matanya, ia mengedarkan pandangan sekitar. Dika yang dari tadi ada di sampingnya justru tak terusik dengan kehadiran seorang waiters tersebut.


"Heh! Bangun lo," teriak Ryan seraya mencubit lengan Dika cukup keras agar pria itu terbangun.


"Maaf mas, tolong segera keluar ya. Bar akan ditutup untuk pagi ini," jelas waiters itu mengingatkan.


Ryan mencoba bangkit, sedangkan Dika masih mengumpulkan nyawanya. Ia mencoba menyadarkan diri agar benar-benar bisa berjalan.


"Buruan lo!" titah Ryan tak sabaran. Ia pun segera beranjak, ingin segera keluar dari Bar itu. Apalagi mereka sudah diusir oleh waiters Bar.


"Astaga! Kita dimana ini?" celetuk Dika sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan penglihatannya tak salah, ia pun mengucek-kucek matanya.


"Di Bar tolol! Kenapa lo nggak nyuruh gue pulang," kata Ryan dengan ketusnya. Ia pun masih bertanya-tanya dimana keberadaan Sean.


"Lo lihat Sean?" lanjut Ryan lagi.


Dika menggeleng, menyipitkan matanya mencari sosok perempuan galak itu. "Dimana ya dia? Tadi malam kita kenapa sih? Awww gue nggak ingat apa-apa setelah mabok berat," tutur Dika seraya meremas kepalanya mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.


"Dahlah! Cepat bangun! Kita udah diusir sama waitersnya," sungut Ryan. Ia mulai berjalan keluar, setelahnya Dika langsung mengekorinya.


Flashback off!

__ADS_1


"Lo serius Sean? Nggak mau ikut sama kita?" tanya Dika menyakinkan sahabatnya. Ia masih ragu dengan keputusan sahabat perempuannya itu.


"Yakinlah! Malas gue kumpul-kumpul acara nggak jelas gitu!" lirih Sean.


"Yaudah ... kita pamit dulu ya. Salam buat nyokap, bokap lo!" pesan Ryan.


"Atau lo berdua mending disini saja sama gue. Daripada mabuk-mabuk nggak jelas." Tawaran Sean menghentikan langkah kaki Ryan. Sedangkan Dika belum saja beranjak setelah diusir sahabatnya.


"Eh serius lo? Bokap, nyokap lo marah nggak?" tutur Ryan bersemangat bila disekitarnya ada Sean.


"Ngaklah! Masa marah kalau temen gue main kesini! Justru mereka senang, gue nggak aneh-aneh di luar sana," sahut Sean.


"Lo mau nggak? Kita nongkrong disini aja?" Ryan pun tak mau ambil keputusan sepihak, ia menanyakan langsung pada Dika. Butuh persetujuan Dika juga kalau mereka tak ingin kembali ke Bar.


"Gue sih mana aja oke. Ada minuman nggak?" ringis Dika memberi kode pada sahabatnya itu.


"Minuman apa dulu nih? Minuman mah banyak, ada air mineral, jus, teh, kopi. Lo maunya yang mana?" desak Sean pura-pura tak mengerti maksud Dika.


"Elah, sok polos banget deh teman kita ini," canda Dika.


"Miras Sean! Miras! Lo siapin dong," tandas Ryan to the point.


"Nggak usahlah minum-minum kaya gitu. Haram coy! Udah minuman sehat aja, jus misalnya," tawar Sean mengerlingkan matanya.


"Yaudah bolehlah." Dika dan Ryan akhirnya pasrah dengan permintaan Sean.


"Udah makan belum lo berdua," sambung Sean menatap bergantian kedua sahabatnya.


Mereka berdua menggeleng penuh semangat. Tandanya, Sean akan mengajak mereka berdua makan bersama.


"Yaudah ayo ke dapur. Makan aja seadanya ya! Lumayan buat ngisi perut lo berdua," beber Sean.


Mereka bertiga pun menuju meja makan. Masih setia Sherin dan Prawira menunggu kedatangan putrinya. Walaupun makanan di depan mereka sudah habis.


"Sean lanjutin makannya," titah mama Sherin.


"Iya ma, teman Sean juga belum pada makan. Boleh gabung?" tanya Sean seraya menggulum senyum dibibirnya.


"Boleh dong sayang. Seadanya ya? Yuk pah, istirahat dulu." Sherin memberi ruang untuk Sean dan sahabatnya agar makan bersama tanpa rasa canggung.

__ADS_1


"Tante, om!" Ryan dan Dika bergantian mencium punggung tangan kedua pasangan itu.


__ADS_2