The Wedding Ring

The Wedding Ring
mencari jejak


__ADS_3

Hari ini terasa begitu lambat bagi Daniel. Baru mencoba peruntungan tapi nasibnya sangat sial. Bahkan Daniel hampir ketimpa kerangka baja ringan saat pemasangan.


Tak ada keahlian dari pria itu. Dia baru belajar mengikuti kinerja tukang bangunan. Dipikirannya hanya ada Sean, Sean dan Sean.


Meski sedang bekerja, ia memutar otak bagaimana caranya bisa mencari jejak istrinya. Tapi sayang, tidak ada tanda-tanda kemana langkah Sean pergi.


Daniel pun berniat akan mendatangi rumah orang tua sang istri untuk mencari tahu keberadaan Sean.


******


2021


Disini senang


Disana senang


Dimana-mana hatiku senang


Sean bernyanyi disepanjang perjalanan sembari bertepuk tangan. Ia merasa bahagia dikehidupan yang sekarang. Momen kepergian sang mama pun sudah terlewat. Ajaib, takdirnya benar-benar berubah.


Harusnya, pagi ini adalah saat-saat Sherin angkat kaki dari rumah Prawira. Pertengkaran besar karena Sean pulang pagi. Saat ini, Sherin justru tengah berbunga-bunga berharap kehadiran seorang bayi untuk menambah anggota keluarga mereka.

__ADS_1


Sherin duduk di samping Prawira, dari tadi ia tersenyum malu-malu. Bahkan, ia juga menggenggam tangan Prawira begitu erat semasa perjalanan. Anehnya, Prawira tidak memberikan penolakan. Ia justru senang dengan perubahan sikap Sherin yang membaik.


Tak ada amukan, marahan, teriakan diantara Prawira dan Sherin. Hubungan suami istri mereka menghangat kembali.


"Pa, sering-sering ajak kita jalan-jalan begini ya! Betul nggak Sean?" cecar Sherin menatap lekat suaminya.


"Iyah pa, kalau bisa sekali seminggu sih wajar." Sean tersenyum penuh semangat.


"Ajak kita juga dong om." Ryan menimpali.


"Dika juga mau om, anggap aja anak ketemu gede!" kekeh Dika.


"Hush, kamu berdua ini orang luar! Nggak perlu ikut-ikutan," dengus Prawira menatap Ryan dan Dika bergantian.


"Iya, memang kamu cocoknya jadi supir," sanggah Prawira tersenyum tipis.


"Papa, jangan gitu dong. Dika dan Ryan itu sahabat anak kita loh." Sherin akhirnya menengahi.


"Iya om! Jangan galak-galak dong sama kita! Ih ... atut." Dika bergidik ngeri setiap kali Prawira berkata dengan nada ketus dan sinis.


****

__ADS_1


Mereka sekeluarga akhirnya tiba di Kebun Raya Cibodas. Sean langsung berselfie-selfie ria. Sementara, Prawira mencoba mengedarkan pandangan, yang dilihat hanyalah sekelebat pohon-pohon yang menjulang tinggi.


Menurutnya, Kebun Raya Cibodas itu tepatnya seperti hutan yang terawat. Tak ada yang menarik baginya.


"Apa-apaan ini! Nggak ada yang menarik," sesal Prawira membulatkan mata, menatap sekeliling penuh rasa kesal.


"Papa, ngomongnya terlalu kasar begitu. Anak-anak jadi takut nanti!" Sherin memperingatkan dengan baik-baik. Baru kali ini, Sherin berlagak lembut. Padahal, dulu lebih sering berteriak-teriak membalas ucapan suaminya.


"Udah paling lembut itu ma!" balas Prawira. Akhirnya ia mengekori Dika yang sudah jalan lebih dulu bersama Ryan dan Sean.


Ketiga remaja itu sibuk berfoto-foto ria. Di sepanjang jalan, di tempat foto yang menurut mereka estetik.


"Sean, fotoin kita dua dong," pinta Dika menyodorkan ponsel pada Sean.


Sean langsung mengambil beberapa foto tanpa aba-aba. Ia terus saja memotret secara candid apapun yang dilakukan dua lelaki itu.


"Udah belum sih Sean? Nggak ada aba-aba sama sekali. Bilang dong kalau mau foto," tegur Ryan karena dari tadi seperti orang bodoh, senyum-senyum sendiri mengarah ke kamera.


"Udah banyak noh, lihat aja sampai memorinya penuh," ketus Sean menyerahkan ponsel pada pemilik sesungguhnya.


"Coba lihat, Dik, bagus nggak pose gue?" Ryan merampas ponsel itu bahkan hampir terjatuh.

__ADS_1


"Pelan-pelan dong lo SAT! Kalau jatuh bisa pecah LCDnya," keluh Dika penuh penekanan, beraut wajah kesal.


"Santai bro!" balas Ryan memicingkan mata.


__ADS_2