The Wedding Ring

The Wedding Ring
bunuh diri


__ADS_3

Daniel datang bersama keluarganya. Tanpa membawa apapun. Rombongan keluarga yang dibawa oleh pria itu ternyata sangat banyak. Sepertinya ia sangat serius untuk meminang wanita itu.


Tok


Tok


Sean langsung datang menemui tamu yang mengetuk pintu rumahnya. Ia tahu kalau tamu itu tak lain adalah pria yang telah menghamilinya.


Sean begitu terkejut ketika melihat rombongan orang memenuhi halaman rumahnya. Sean membelalak, memutar bola matanya jengah karena melihat rombongan itu.


Ia menarik lengan Daniel menjauh dari kerumunan. "Lo gila ya bawa semua keluarga kesini," desah Sean sengit.


Daniel hanya tersenyum tipis mencoba menenangkan Sean. "Gue cuma mau tanggungjawab. Mana orang tua lo?"


Sean hanya diam terpaku. Tak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya berjalan diekori oleh Daniel.


Sean hanya masuk ke dalam rumahnya bahkan mengunci diri di dalam kamar. Ia sangat takut jika melihat wajah papanya murka.


Hampir setengah jam Daniel bersama keluarganya menunggu di halaman rumah Sean. Akhirnya Daniel membuat keputusan untuk berteriak.


"Sean!! Aku akan menikahimu! Bertanggungjawab padamu!" teriaknya penuh penekanan.


Hingga berkali-kali ia melontarkan teriakan sehingga terdengar ke gendang telinga Prawira. Pria tua itu menuruni anak tangga dari kamarnya.


"Siapa kalian?" berang Prawira setelah mendengar teriakan yang dilontarkan Daniel.


"Saya ingin menikahi anak bapak," ucap Daniel penuh percaya diri.


"Apa maksudmu?" Prawira termenung tak mengerti maksud ucapan pria remaja yang ada dihadapannya.


"Anak bapak hamil. Saya yang menghamilinya," beber Daniel dengan santainya.


"Kau gila ya! Pergi sana! Pria sampah! Bawa sana keluarga miskinmu," cemooh Prawira membuat Daniel gentar.


Daniel diam tersungut perkataan Prawira. Sialnya, keinginannya tak sesuai harapan. Ia bersama rombongannya pergi dari rumah itu dengan dibaluti rasa kesal.


Beberapa minggu kemudian, Daniel tak henti-henti menghubungi Sean. Ia memberikan janji pada Sean untuk menikah diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya.


Daniel tetap teguh pada keyakinannya kalau orang tua Sean akan luluh jika wanita itu berhasil ia nikahi. Apalagi kekayaannya akan jatuh pada anak semata wayangnya. Oleh karena itu, Daniel mati-matian ingin menikahi Sean.

__ADS_1


Pernikahan sirih digelar secara sederhana. Tanpa dihadiri oleh wali nikah Sean yaitu sang papa karena ia menyetujui pernikahan ini digelar secara diam-diam. Sean hanya diwakilkan oleh wali hakim.


"Saya terima nikah dan kawinnya Sean Prawira dengan mas kawin 2 gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Daniel mengikrarn ijab qobul hanya sekali ucap.


SAH SAH


Semua tamu berteriak dan terharu mendengar pernikahan telah sah. Daniel dan Sean menautkan cincin nikah mereka secara bergantian. Cincin yang berada di jari manis tangan kanan Sean hanya menggunakan cincin mas dengan berat 2 gram sesuai maharnya.


...*******...


Flashback off


Sean terus memikirkan bagaimana bisa terbebas dari suami miskin tak tahu diri seperti Daniel. Kepalanya berdenyut keras. Rasa pusing mulai menerpa.


Oek... Oek...


Suara tangisan bayi membuyarkan lamunan Sean. Ia berjalan setengah berlari menghampiri baby box untuk melihat kondisi bayinya.


Bayi itu mengerang dalam tangisnya. Matanya terbelalak, suara tangisnya pecah, membuat Sean semakin panik.


Baru satu minggu ia menjadi seorang ibu. Namun, rasanya tak kuat lagi mengemban status barunya itu.


Sean hanya dijelaskan secara gamang oleh seorang bidan yang membantunya saat melahirkan kemarin. Cara menyusuii yang benar memasukkan p*ting hingga aerola ke rongga mulut sang bayi dengan jari telunjuk dan tengah membentuk V.


Penjelasan itu memang mudah dicerna. Namun, dalam pengaplikasiannya sangatlah sulit. Bahkan sang bayi terus melepaskan eratan p*ting dalam rongga mulutnya.


Sean bahkan sangat frustasi. Baginya sangatlah sulit menjadi seorang ibu. Harus melahirkan, menyusui bahkan mengurus rumah tangga. Terlebih lagi suaminya tak dapat diandalkan bahkan tak mau membantunya dalam urusan pekerjaan rumah tangga.


Boro-boro membantu mengurus rumah ataupun menjaga anak mereka. Mencari nafkah saja ia tak becus.


Sean terus mencoba memasukkan pu*ting itu ke dalam rongga mulut bayinya. Bayinya malah menangis sangat rewel. Satu-satunya cara adalah memerass asi itu agar bisa disuapi ke mulut bayi.


Terpaksa Sean mulai memompa *********** dengan kedua tangannya secara manual. Ia tak mampu membeli pompa asi untuk anaknya. Jangankan pompa asi, beli untuk makan saja sangat sulit.


Setelah dia mempompa asinya, lalu ia menyuapi sang bayi menggunakan sendok. Dia sangat khawatir karena bayi itu tampak menguning dampak dari kekurangan cairan.


"Sean! Sean!" teriak Daniel dari dalam dapur. Daniel tetap memakan mie instant buatan Sean serta nasi yang dihidangkan. Sebab, di dalam rumah itu tak ada lagi pilihan makanan lain.


Setelah Sean memberikan susu* itu kepada bayinya. Ia menghampiri suaminya sambil mendekap bayi itu dalam gendongannya.

__ADS_1


"Ada apalagi?" sungut Sean karena pertengkaran mereka tadi belum usai.


"Gue minta duit! Mau beli rokok," celetuk pria itu tak tahu malu.


"Ck," decak Sean sembari memelototkan matanya karena jengah dengan sikap suaminya.


Memberikan uang saja tak pernah, ini malah mau meminta uang padanya.


"Kenapa nggak nyari sendiri?" tantang Sean menatap tajam pria itu.


"Lo ngajak berantam lagi ya?" bentak Daniel.


"Gue serius! Sudah satu tahun ini gue membiarkan lo menikmati uang gue dari hasil tabungan bahkan hasil dari keringat gue. Sekarang saatnya lo yang kasih uang buat gue."


Daniel semakin murka mendengar perkataan Sean. Baru saja ia mengisi perutnya, tidak ada tenaga untuk berdebat lagi karena kekenyangan. Namun, Sean terus saja membuatnya marah.


"Perempuan sinting! Banyak omong lo! Sini mana duit lo," cecar Daniel merogoh seluruh saku Sean tetapi tak ditemukan selembar uang pun.


Daniel semakin murka karena keinginannya tak tercapai. "Dimana lo sembunyiin hah?" erangnya menatap tajam wanita yang tengah menggendong anaknya.


"Gue nggak ada uang!" decit Sean seraya tersenyum miris.


"Nggak mungkin! Gue nggak percaya!" desak Daniel.


"Dimana?" bentaknya lagi.


Sean hanya pasrah mendengar teriakan itu. Nyatanya, memang ia tak memegang uang sepersen pun untuk saat ini.


Plak Plak


Daniel Menampar pipi Sean hingga dua kali. Sean sampai terkulai lemas terduduk di lantai. Namun dekapannya terus ia eratkan agar bayinya tak terjatuh.


"Heh perempuan tolol! Gue begini juga karena lo. Gue hidup susah karena lo! Sudah sepantasnya lo berjuang demi gue! Memenuhi semua kebutuhan gue," dengus Daniel seraya menunjuk-nunjuk wajah Sean yang terduduk di lantai.


Sean hanya terdiam tak melawan. Ia sudah tak memiliki tenaga lagi. Namun, ia mencoba bangkit berdiri. Pikirannya mengawang-awang. Dia meletakkan bayi itu di lantai.


"Lo urus itu anak lo! Gue mau pergi selamanya! Jangan cari gue!" ringis Sean mengancam.


Daniel hanya diam terpaku. Ia belum mencerna perkataan istrinya. Namun, setelah diingat-ingatnya lagi, kata-kata itu menjurus ke sesuatu hal yaitu bunuh diri.

__ADS_1


Sean berlari meninggalkan Daniel serta anaknya. Pikirannya tak lagi ada di sana. Satu hal yang ia ingin lakukan adalah pergi dari dunia ini agar tak merasakan kesakitan serta kekecewaan mendalam.


__ADS_2