
"Kenapa nak?" tutur Sherin tanpa keluar dari pintu itu.
"Mama ngapain sih! Kok nggak buka pintunya?" desak Sean hendak mendorong pintu itu tetapi dicegah oleh Sherin lantaran suaminya masih telanjang diatas ranjang.
"Sssttt ... jangan di dorong. Mama abis bikin adik untukmu. Kamu sih ganggu orang tua aja!" lontar Sherin mengerutkan keningnya.
"Hehe mana Sean tahu, kalau gitu Sean nggak bakal kesini," canda Sean menyengir.
"Ada apa?" Sherin menganggukkan kepalanya, mendesak agar Sean langsung menjawab pertanyaannya.
"Sean boleh ini nggak?" Sean menyodorkan botol minuman keras ke depan wajah mamanya.
"Tumben minta izin! Bisanya kamu mabuk-mabukkan nggak jelas, nggak pernah tuh minta izin mama," cemooh Sherin dengan tatapan penuh selidik.
"Ck! Biar nggak lepas kendali ma," decak Sean seraya mencebikkan bibirnya lantaran kesal pada penuturan sang mama.
"Iya ... iya ... boleh! Asal jangan kelewat batas ya nak. Oh ya, ajak teman-temanmu ke halaman. Kita makan-makan disana," pinta Sherin langsung menarik daun pintu, menutupnya dengan rapat meski anaknya belum menjawab.
Jarak antara Sherin dan Sean sudah terkikis, mereka ibu dan anak yang sangat akur meski baru setengah hari keakurannya. Misi pertama Sean adalah esok hari. Menghilangkan momen kepergian sang mama.
Karena ia berhasil mengubah lokasinya, Sean sangat optimis kalau kejadian masa lampaunya tak akan menimpanya lagi kali ini. Terlebih, mamanya sudah membuat pengakuan kalau tadi sudah memproses untuk membuat adiknya lahir kedunia ini.
"Pa ... buruan mandi! Kokinya udah datang tuh kayanya," ujar Sherin menoel-noel paha suaminya dengan lembut.
Seketika, sesuatu yang mengapit dikedua sisi paha itu mulai mengerang lagi. Padahal belum terbungkus. "Mama! Kenapa goda-goda lagi sih!" gerutu Prawira.
Entah mengapa kejantanannya seolah terusik. Mungkin karena cuaca yang dingin atau kehangatan dari istrinya itu memang memberikan buaian yang tak biasa.
"Mau lagi?" Sherin memicingkan matanya, menggoda Prawira dengan genit. Ia langsung menghempaskan dress yang sempat tadi terpakai lagi saat menemui Sean.
Meski sudah berumur, tubuh Sherin masih semok dan ramping. Ia selalu menjaga kondisi tubuhnya agar tetap seperti gadis remaja. Tak hanya itu, Sherin terbiasa berolahraga untuk mendapatkan kebugaran diusia yang tak muda lagi.
__ADS_1
"Ah mama! Sudah jam berapa ini," pekik Prawira menggerutu. Tubuhnya kembali menegang mendapatkan godaan yang bertubi-tubi.
Ia mulai menarik lengan Sherin agar terhempas diatas tubuhnya. Pria itu mulai menikmati buaian istrinya perlahan-lahan. Sherin menciumi tubuh Prawira dengan lembut.
Bahkan ia memainkan burung perkutut suaminya agar lebih menggairahkan lagi. "Ahhh!" Prawira sangat menikmati buaian istrinya. Cumbuan demi cumbuan membuat bulunya meremang.
Begitu juga dengan Sherin, ia menikmati sentuhan dari suaminya. Ronde kedua pun terjadi. Dalam waktu yang singkat, keduanya mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Suatu penyatuan yang singkat tetapi terkesan mendalam dan istimewa.
"Ahh ... Ahhh," pekik Prawira dan Sherin disaat bersamaan mendapati puncak kenikmatan itu. Dua-duanya saling berpelukan meski dibawah mereka terasa begitu lengket menempel.
"Udah ya mah!! Cukuplah dua ronde! Udah kebanyakan benihnya tuh! Nanti malah nggak ada yang jadi," ledek Prawira.
"Sssttt! Jangan ngomong gitu dong pa!" Sherin meletakkan telunjuknya dibibir suaminya agar pria itu bungkam tak mengucap kata-kata jelek. Ia tak mau ucapan itu jadi doa nantinya. Serta berakibat fatal berujung gagalnya Sean memiliki adik.
"Iya ... iya ... papa mau mandi dulu." Meski sekujur tubuhnya melemas, Prawira beranjak ke kamar mandi. Ia langsung bermandikan air hangat. Tubuhnya seketika bersih. Tak membutuhkan waktu yang lama, ia segera keluar dari kamar itu.
Sherin pun langsung menuju kamar mandi setelah melihat suaminya keluar. Ia langsung mengguyur tubuhnya dengan percikan air hangat dari bawah shower yang mengalir.
"Heh! Kalian berdua, ayo ikut gue! Bawa semua minumannya," titah Sean berjalan gontai keluar dari vila menuju halaman depan vila.
Disana tampak sibuk seorang koki tengah membakar bahan-bahan masakannya. "Halo pak, apa kabar?" sapa Sean setelah duduk tak jauh dari pemanggangan dimana koki berada.
Ia duduk di kursi dan meja makan yang panjang, yang dipersiapkan oleh mang ujang setelah kedatangan kokinya. Settingan halaman itu sangat berbeda saat mereka tiba tadi. Suasananya tampak hangat, karena tak jauh dari meja makan ada api unggun yang menyala.
"Alhamdulillah baik non. Gimana kabar non Sean?"
"Seperti yang bapak lihat! Biasa saja," jawab Sean lugas.
"Silahkan dinikmati non," ucap pria itu sembari fokus memanggang masakannya.
Beberapa makanan hangat telah tersaji di meja makan itu. Lagi-lagi Dika dan Ryan sangat heboh. Ini kali pertama mereka liburan bersama Sean. Sewaktu sekolah, Sean tak pernah mau mengajak Dika dan Ryan ke rumahnya lantaran Sean tak akur dengan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Apalagi, kedua orangtuanya itu kerap bertengkar mempersoalkan kelakuannya sendiri. Oleh karena itu, Sean selalu menyembunyikan kehidupannya dari kedua sahabatnya.
Tapi kini, karena Sean memilih untuk mengubah hidupnya. Ia pun merubah kebiasaannya yang sudah terlewat. Sekarang, ia akan mengganti kebisaan-kebiasaan hingga 360 derajat.
Ia ingin kehidupannya sesuai dengan kehendaknya. Memanfaatkan kekayaan orangtuanya demi meraih kesuksesan. Sehingga Sean tak perlu hidup dalam kesusahan.
"Iya pak! Terimakasih," lontar Sean tersenyum ramah.
Dika dan Ryan dari tadi sudah sibuk mulai menyantap makanan yang ada di piring mereka. Sajian steak, seafood bakar, sosis bakar dan jagung bakar, nasi hangat, dan french fries membuat mereka seketika lapar. Padahal sang tuan rumah belum muncul, mereka sudah heboh untuk menghabiskan makanannya.
"Tunggu bonyok gue lah!" deham Sean yang melihat kedua orang itu tampak rakus. Sean pun menengguk minumannya dengan pelan. Menyeruputnya lalu menikmatinya. Tubuhnya menghangat seketika saat menikmati minuman haram itu.
"Inilah enaknya kalau di puncak. Cuaca dingin cocok sama minuman dingin ini!" gurau Sean memicingkan matanya.
"Iya dong! Ayo bersulang! Chearrsss!" teriak Ryan mengangkat botolnya tinggi-tinggi. Sean pun menabrakkan botol miliknya dengan Ryan.
Tiba-tiba Dika juga menyerobot ikut bersulang. Ketiganya menikmati malam dingin dengan minuman yang menghangatkan tubuh mereka.
"Wah kalian sudah makan duluan ya," sambar Sherin saat datang menggandeng lengan suaminya sangat lembut.
"Duhh ... mama dan papa mesra banget!" puji Sean melihat keakraban pasutri itu. Mereka berdua sudah mengganti bajunya dengan pakaian yang sangat tertutup karena cuaca yang sangat dingin.
"Iyah dong sayang," seru Sherin mengerling.
"Halo pak koki. Apa kabar?" lontar Prawira membuat semuanya terdiam kecuali koki tersebut.
"Alhamdulillah baik pak.. Selamat menikmati jamuannya," balas koki itu seraya menggulum senyum lebar di wajahnya.
"Tentu dong! Masakan pak koki nomor wahid!" puji Prawira sembari mengacungkan dua jempolnya.
Semuanya menikmati sajian malam itu. Suara piring dan sendok terus beradu saling memekik dengan nyaring. Rasa lapar mulai menghilang setelah makanan berpindah ke dalam perut mereka masing-masing.
__ADS_1