
2022
Daniel tampak menunggu kedatangan istrinya yang sudah kabur sejak beberapa jam yang lalu. Ia berusaha menenangkan bayinya dalam dekapan.
Tak ada asi, air tajin pun jadi. Itu atas saran dari Siti—ibunya Daniel. Padahal, air tajin tidak diperbolehkan diberikan pada bayi yang baru berumur seminggu itu.
"Sean mana sih!" gerutu Daniel di dunianya.
Ternyata dunia 2022 yang telah dijalani oleh Sean tidak menghilang. Dunia itu tetap ada meski Sean sudah pulang ke masa lampaunya setahun yang lalu. Selama Sean menyimpan cincin kawinnya, maka dunia ini tidak akan menghilang.
Kecuali, jika Sean menghancurkan cincin kawinnya, otomatis Daniel serta bayinya bahkan seluruh kehidupannya ditahun 2022 akan melenyap.
Sayangnya, peraturan ini belum diketahui oleh Sean. Kakek tua itu tak menyebutkan peraturan apapun pada Sean. Ia menghilang begitu saja tanpa menjelaskan apa saja yang harus dilakukan oleh Sean.
Sean pun tak tahu dimana ia harus menjumpai kakek tua itu. Menanyakan tentang pemusnahan kehidupannya yang kelam bak neraka itu.
oek ... oek ...
Daniel terus mendekap bayinya seraya menggoyangkan-goyangkan tubuhnya untuk menenangkan sang bayi. Bayi itu histeris kelaparan. Tak ada air asi. Daniel bahkan tak mampu untuk membeli susu formula agar bisa diberikan untuk bayinya.
Wajahnya semakin pias kala mendengar tangisan-tangisan yang tak henti-henti. Ia bahkan berpikiran buruk untuk membunuh bayinya sendiri. Membungkam mulutnya dengan erat agar tak mengelurkan suara yang begitu memekik ditelinganya.
...******...
2021
Sean dan kedua sahabatnya sudah mulai teler. Beberapa botol mereka habiskan dalam sekejap. Sedangkan Prawira menuntun kedua pria sahabat anaknya masuk ke dalam kamar.
Ia melempar tubuh kedua pria itu dengan keras sehingga mereka memekik kesakitan.
"Aww!" pekik Ryan.
"Dasar pria tua," racau Dika, sahabat Sean yang satu ini memang tak pernah takut untuk ceplas-ceplos. Bahkan saat mabuk saja, ia tak takut dimarahi oleh papanya Sean.
Dika bahkan menunjuk-nunjuk wajah Prawira bahkan meracaukan hal yang tak jelas. Ucapannya samar-samar. Oleh karena itu, Prawira pun pergi meninggalkan dua pria yang terbaring lemas diatas ranjang seraya meracau bak burung beo.
Dengan rasa kesalnya, Prawira masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Sherin sedang membaringkan tubuh Sean diatas ranjang. Ia melihat wajah polos itu memerah lantaran menghabiskan banyak minuman beralkohol. Bahkan, Sean sudah tak sadarkan diri.
Sherin menyeka rambut Sean yang tampak berantakan. Lalu meninggalkan anak gadis itu dengan tenang yang lelap dalam tidurnya.
Sherin berjalan gontai menuju kamar utama. Disana, suaminya sudah merebahkan dirinya, mencoba memejamkan matanya untuk rehat sejenak.
Namun, pria itu kembali terusik sesaat setelah istrinya datang. Sherin berjalan, setelah masuk ke dalam kamar, ia melepaskan jaket, baju dan celana panjangnya.
Mengganti baju itu dengan lingerie yang sengaja ia bawa dari rumah. Prawira pun mulai merasa kepanasan. Tubuhnya berkeringat ketika melihat ibu dari anaknya itu hanya membaluti tubuhnya dengan lingerie yang begitu seksi dan menggoda.
__ADS_1
Glek
Prawira menelan shaliva saat memelototi istrinya yang melenggang mendekati.
"Serangan apalagi ini," gumam Prawira melihat jam ditangannya. Saat itu sudah tengah malam, tepatnya hampir memasuki jam 12 malam.
Apa dia tidak puas sudah dua kali tadi? Lelah saya!
Prawira terus bergumam seorang diri larut dalam pikirannya. Sherin membaringkan tubuhnya di samping Prawira.
Tubuhnya sangat seksi, padahal cuaca sedang dingin-dinginnya. Tapi ia malah berpakaian seperti itu.
"Pa ..." panggil Sherin mengenyampingkan tubuhnya menatap lekat suaminya yang pura-pura terpejam.
"Hmmm," gumam Prawira yang masih mendengar wanita itu berbicara.
*****
2022
"Kemana perempuan sialan itu! Sudah jam 12 malam tidak muncul juga dia," gerutu Daniel setelah menidurkan bayinya di baby box yang tak jauh dari ranjangnya.
Daniel merasa gelisah setelah kehilangan istrinya. Seluruh tempat sudah ia datangi sampai-sampai ia menitipkan buah hati mereka kepada sang ibu. Namun, tak ada jejak Sean.
Bahkan kabar wanita bunuh diri pun juga tak terdengar di gendang telinganya. Daniel penasaran kemana wanita itu pergi sampai tengah malam tak kunjung kembali, dengan tega meninggalkan buah hati mereka.
"Perempuan tolol! Lihat saja lo nanti! Kemana pun lo pergi akan gue cari! Hidup lo nggak akan tenang." Daniel mengepalkan tangannya begitu kencang karena rasa kesalnya terus memuncak.
******
2021
Suara kicauan burung di vila itu begitu berisik. Matahari mulai meninggi. Suara berisik dari kendaraan di jalanan depan yang tak jauh dari Vila telah menusuk ke gendang telinga Sean.
Pagi itu, Sean memekik kesakitan. Kepalanya masih terasa berat. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya lantaran masih tersisa rasa mabuk tadi malam.
"Awww!" pekik Sean setelah rasa pusing masih menyerangnya. Matanya membulat, mengedar ke seluruh isi ruangan. Senyum sumringah pun ia sematkan pada bibirnya.
Hari ini, ia berhasil melewatinya tanpa masalah. Sean pun beranjak dari ranjangnya. Ia menyapa semua orang yang sudah duduk santai di meja makan. Masakan koki itu masih mengisi meja makan.
Penyewaan jasa sang koki rupanya sampai hari ini. Sebab, Prawira tak ingin merepotkan istrinya harus memasak di dapur.
"Hai semuanya!" ujar Sean dengan riangnya meski rasa-rasa pusing masih menyelimuti kepalanya.
"Pagi sayang!" jawab Prawira dan Sherin kompak.
__ADS_1
"Pagi Sean." Dika dan Ryan pun menjawab dengan kompak.
"Sarapan apa kita?" tanya Sean belum melihat sajian di meja makan.
"Ada sop tuh buat yang puyeng karena mabuk! Kalau mama sama papa sih makan nasi goreng," balas Sherin mengulas senyum tipisnya.
Sean menarik kursi makannya, ia pun duduk. Lalu menyendoki sop yang ada di dalam mangkok besar ke dalam mangkok kecilnya di atas meja makan.
Sop itu langsung diseruput meski masih panas. Rasa pusing dan mual di perutnya juga mulai menghilang. Sementara Dika dan Ryan juga sudah memakan sop itu sejak tadi. Sean terlalu lama bangun, sehingga Dika dan Ryan sudah tak kuat menahan rasa pusingnya.
"Mau kemana kita hari ini?" lontar Sean setelah menuntaskan sarapannya.
"Wisata puncak enaknya kemana?" cecar Prawira karena ia hanya tahu vila ini saja. Kalau wisata-wisata tak terlalu penting baginya.
Sherin menatap tajam suaminya seraya tersenyum-senyum kecil jika mengingat keganasan Prawira tadi malam.
Tadi malam pukul 12
"Pa ... pelan-pelan dong!" pinta Sherin ketika melihat keganasan pria itu.
Prawira bahkan tak menghentikan aksinya. Ia begitu bernafsu ketika melihat istrinya berpakaian sangat seksi.
Ia mencumbu tubuh itu, menciuminya dengan lembut. Bibir mereka saling beradu, berluma*t sangat dalam. Pagutan itu terus menyatu hingga 10 menit berlalu.
Bahkan, Prawira menciumi leher istrinya hingga meninggalkan jejak cinta khas memerah di sana.
"Ahh!" Bulu kuduk Sherin meremang ketika mendapatkan sentuhan-sentuhan ganas suaminya.
Padahal pria itu awalnya menolak saat diajak untuk melanjutkan aktivitas intim mereka untuk ketiga kalinya. Namun, ia malah lebih ganas dari Sherin.
Prawira mengendalikan tubuhnya. Ia mendominasi diatas tubuh Sherin. Erangan demi erangan terus terlontar dari mulut keduanya.
Ia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Hentakan demi hentakan terus saja ia layangkan. Tubuhnya bergelayut manja diatas tubuh istrinya dengan goyangan yang dahsyat. Malam ituu terasa begitu hangat dan nikmat, menyatu dalam ruangan yang meremang karena hanya satu lampu tidur yang menyala.
***
"Mama kenapa sih kok senyum-senyum sendiri dari tadi?" tegur Prawira karena tak ada yang menjawab pertayaannya tentang wisata puncak.
"Ah papa! Jadi malu." Sherin mengepalkan tangannya lalu menepuk dada Prawira dengan gemas.
"Iya mama kenapa sih? Penasaran Sean," geram Sean yang melihat tingkah sang mama sering senyum-senyum bak orang gila.
"Mau tahu aja anak kecil!" sindir Sherin.
"Eh jadi mau kemana?" lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Apa di rumah aja?" tanya Sherin mengerling pada suaminya. Menggoda pria yang sangat mengganas tadi malam.
"Bosan papa di vila terus. Jalan aja, kemana Dik, Yan?" seloroh Prawira menatap penuh selidik.