
"Nggak tahu om ... nanti coba saya searching dulu di om goggle," tutur Dika memicingkan mata.
Dika dan Ryan langsung mengambil ponsel mereka masing-masing yang ada di dalam saku. Berseluncur di goggle untuk mencari tempat wisata puncak yang seru dan asik.
"Ah ... kebanyakan wisata keluarga om," keluh Dika setelah bolak-balik swipe layar ponselnya.
"Loh ... kita juga kan keluarga!" tegas Prawira.
*******
2022
Oek ... Oeek...
Suara tangisan bayi membangunkan Daniel dari tidur nyenyaknya. Ia tak bisa tidur tenang lantaran bayi itu terlalu rewel. Setiap dua jam sekali terbangun menangis. Isak tangisnya begitu menggelegar.
Membuat Daniel terpaksa harus ikut-ikut terbangun. Kali ini, ia tak memberikan air tajin untuk mengenyangkan perut sang bayi. Namun, ia memberikan air putih begitu saja. Sontak saja, tangisan bayi itu mengencang.
Isak tangisnya memenuhi ruangan. Daniel pun semakin geram pada bayinya. Namun, ia tak boleh kalut dengan suara tangisan itu. Ia mencoba lebih tenang mengurus bayinya seorang diri.
Merasakan kesulitan yang sempat Sean alami disaat-saat awal kehamilan. "Nggak ibunya, nggak anaknya, semuanya bikin susah," gerutu Daniel seraya mengacak-acak rambut merasa frustasi.
*******
2012
Semua orang di meja makan sudah berpisah. Masing-masing kembali ke kamar untuk mandi sebelum rencana kegiatan berlibur mereka berlanjut.
Sean langsung mandi di kamar mandinya. Dika dan Ryan bergantian untuk mandi, lebih dulu Dika yang masuk ke kamar mandi. Sedangkan Ryan masih menatap ponsel mencari destinasi liburan di area puncak.
Saat ini, pikirannya terhenti pada satu wisata yang dapat menguji nyali mereka. Paralayang Puncak! Itulah yang akan dia usulkan untuk mengisi hari terakhir liburan ini.
*****
"Pa, mau lagi nggak?" goda Sherin saat melihat suaminya yang kembali berbaring di atas ranjang.
Sementara, Prawira melongos merasa muak setelah tiga kali berturut-turut melakukan hubungan suami istri. Pagi-pagi begini, ia rasa masih enak untuk tidur dihangatkan oleh selimut. Cuaca yang dingin di area itu membuat semakin malas untuk melakukan apapun.
"Nggak ah! Papa capek," kilah pria paruh baya itu.
"Yah! Segitu doang kok capek sih pa, mumpung cuaca lagi dingin. Enak buat saling menghangatkan!" sosor Sherin mengerling.
__ADS_1
"Mandi gih ma, kita mau liburan loh!" tampik Prawira, rasa tubuhnya sangat berat untuk melakukan hubungan intim.
Tiga kali dipaksa untuk mengeluarkan benih-benih berlian membuat tubuhnya sangat remuk. Semasa pernikahan, dengan usia yang sudah termakan oleh waktu, hubungan intim bagi Prawira dan Sherin bukan lagi hal prioritas.
Dalam setahun, bahkan bisa dihitung jari berapa kali mereka melakukan itu. Tapi untuk hari ini, Sherin dan Prawira seolah-olah ketagihan seperti masa mudanya dulu.
*****
Mang Ujang dan koki terpaksa tidur di pendopo belakang rumah lantaran tak ada kamar kosong. Meski ruangan itu tak ada kipas maupun AC, Mang Ujang kembali lagi menikmati hidup melarat untuk satu malam. Sedangkan sang koki sudah terbiasa. Ia malah sering bermalam di dapur hotel saat shift malam.
Pagi ini, mereka sudah bangun lebih dulu dari majikannya. Namun, setelah para majikan itu menyantap sarapan, Mang Ujang kembali lagi ke pendopo untuk melanjutkan tidur.
******
Semuanya berkumpul setelah menyelesaikan ritual mandi pagi. Mereka sudah duduk ramai-ramai di ruang tamu. Barang-barang bawaan pun telah dikemasi untuk dibawa pulang.
"Jadi kemana kita nih, Dik, Yan?" desak Prawira dengan tegas.
"Paralayang aja om. Dekat sini kok!" balas Ryan dengan cepat.
"Wong udah tua gini, kamu suruh naik paralayang!" sungut Prawira menolak usulan Ryan.
Dika pun langsung memukul kaki Ryan. Mengingatkan pria itu kalau yang diajak berbicara adalah orang tua.
"Ada ide lain?" cecar Prawira.
"Ma, pa, kalau ke kebun raya Bogor gimana? Ya, sekalian berkeliling kita di Bogor," usul Sean.
"Boleh juga tuh, jaraknya dekat apa jauh dari sini?" sambung Prawira.
"Lumayan, satu jam perjalanan," timpal Sean.
"Ada yang lebih dekat?" Pria tua ini terus saja beralasan setelah diberikan usulan.
"Kebun Raya Cibodas juga ada om. Sekitar sini malahan, arah Cianjur! Paling setengah jam," seru Dika.
Sebelumya, Dika sempat melihat info untuk Kebun Raya Cibodas. Wisata itu cukup menarik, tak beda jauh dengan isi di Kebun Raya Bogor. Bahkan lebih menarik karena cuacanya sangat dingin dan adem.
"Yaudah, kita ke Cibodas aja!"
"Mang Ujang!" teriak Prawira hendak berpamitan dengan penjaga vila.
__ADS_1
"Mang! Mang Ujang," teriaknya lagi menghampiri ke arah pendopo.
"Iya, tuan, ada apa?" jawab Mang Ujang menghampiri berjalan tertatih-tatih.
"Kami mau pamit pulang. Jaga vilanya yang baik. Ini untuk kamu! Dan berikan ini untuk koki langganan saya." Prawira memberikan segepok uang lembaran merah.
Mata Mang Ujang seketika hijau, pikirannya ingin sekali menilap uang si pemilik koki. Namun, hal itu tidak bisa dia lakukan lantaran sang koki sudah memiliki tarif tersendiri untuk biaya pelayanan serta bahan makanan yang dibawa.
"Pak kokinya mana?" cecar Prawira.
Mendengar pertanyaan Prawira, Koki itu datang menghampiri. "Saya dari tadi di dapur pak!" jawabnya lugas.
"Pak koki, ini ya, sudah sama Mang Ujang!" tandas Prawira, jarinya menunjuk pada segepok uang di tangan Mang Ujang.
"Siap pak, terimakasih banyak. Hati-hati di jalan," kata koki berpamitan.
Semuanya langsung masuk ke dalam mobil. Ryan kembali memegang kendali stir. Ia memasang GPS untuk mengarah ke Cibodas.
Mang Ujang pun melambaikan tangan setelah melihat kepergian tuannya.
Bahkan, setelah Prawira serta rombongan tak terlihat, Mang Ujang langsung membagikan pada koki, uang yang tadi diberikan tuannya.
******
2022
Daniel mencoba peruntungan sebagai kuli bangunan. Surat lamaran pekerjaan tidak ada yang tembus satupun. Demi mencukupi kebutuhannya dan sang anak, ia terpaksa harus banting tulang.
Selama ini, Sean sangat murah hati pada pria pemalas itu. Ia bahkan menghabiskan tabungan serta harus banting tulang sebagai pembantu dan tukang cuci baju demi mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun, sekarang mesin uang Daniel itu sudah tak tampak lagi. Daniel harus mencoba bekerja demi menghidupi sang bayi. Bayi laki-laki yang belum mereka berikan nama itu dititipkan pada sang ibu.
"Daniel, cepat kerjanya! Jangan malas-malasan lo! Nanti nggak gue gaji," cetus seorang mandor.
"Iya, pak!" jawab Daniel seraya menunduk.
Namun, baru sebentar saja ia bekerja mengangkat bata, semen dan kerikil, tubuhnya serasa remuk. Selama masa bekerja, ia terus saja menggerutu.
"Sial! Gara-gara perempuan sialan itu gue harus capek-capek bekerja! Awas lo, ya, Sean!" batin Daniel.
Ia bolak-balik mengangkat bahan bangunan yang diperlukan. Terkadang, adukan semen pun membuat tangannya gatal dan memerah.
__ADS_1