The Wedding Ring

The Wedding Ring
lenyap


__ADS_3

Kemudian, Sean merogoh saku celana, mengambil lima lembaran merah yang sempat ia simpan sebelum menjelajahi waktu 2022. Ia baru benar-benar bisa menikmati waktunya sebagai traveller time dengan kondisi yang cukup persiapan.


"Hmm ... kok bisa, ya? Aku berpindah waktu dengan tampilan baju yang masih sama. Bahkan uang inipun tetap sama? Apa ini salah satu cara aku bisa berpindah-pindah tempat semauku?" gumam Sean saat menatap lembaran merah yang ia kibaskan.


Lembaran merah itupun ia masukkan melalui celah di bawah pintu. Ia mendorong lembaran merah itu sampai tidak bisa ditarik kembali. Setelah merasa aman, Sean pun pergi meninggalkan rumah kecil dengan lebar 3x3 meter itu.


Sean melepaskan cincin nikah di depan rumah suaminya tapi tidak ada yang terjadi. Anehnya, cincin itu tidak berguna dan tak berpengaruh. Sean pun menyematkan cincin itu di jari manis lalu pergi meninggalkan rumah kecil milik Daniel.


Tibalah ia tepat di jembatan tempat ia berganti waktu. Namun, tiba-tiba kakek tua itu muncul di samping dirinya.


"Kek, kakek dari mana saja? Sudah lama saya mencari kakek!" ujar Sean menggenggam tangan kakek tua itu penuh haru.


Kakek itu hanya terdiam memandang Sean. Sampai Sean akhirnya kembali membuka suara. "Kek, terimakasih banyak. Berkat kakek, aku bisa kembali ke masa laluku." Sean tersenyum menepuk punggung tangan sang kakek.


"Kenapa kau kembali kesini?" Kakek itu menatap tajam Sean, terlihat wajahnya penuh amarah melihat kedatangan Sean yang bolak-balik ke dunia ini.


"Aku rindu anakku, kek, makanya aku datang untuk melihat kondisinya. Tapi dia tidak ada di rumah. Aku berniat membantu agar anak itu terus tumbuh!" jawab Sean menatap lekat mata elang sang kakek yang seakan-akan ingin menerkam.


"Jangan! Jangan lakukan itu lagi. Sekali lagi kau balik kesini, dunia lamamu akan hancur. Selama-lamanya kau akan tetap hidup di dunia ini! Kau tidak akan bisa kembali merubah takdirmu!" ujar Kakek itu bernada tinggi.


"Yang benar kek?" Sean masih tak percaya dengan ucapan kakek tua itu.


"Ya! Sudah dua kali kau kesini, ketiga kalinya tidak akan ada harapan lagi untukmu. Kau akan menetap di sini selamanya. Hidup menderita bersama suamimu," tandas Kakek Tua itu.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan agar dunia ini tiada?" tanya Sean terus saja tak melepas pandangan pada wajah kakek tua yang sangat lusuh dan dekil itu.


"Hancurkan cincin kawinmu di duniamu! Setelah kau kembali, cepat lenyapkan, dunia ini akan hancur seketika! Tidak akan bisa lagi kau kembali kesini. Laki-laki itu dan anakmu pun ikut sirna," pungkasnya, kemudian kakek tua itu menghilang tepat di hadapan wajah Sean.


Sean termenung di atas jembatan. Pandangannya sekarang ada pada cincin yang tersemat di jari manis. Padahal, niatnya ingin membantu sang bayi agar tetap tumbuh sehat. Disisi lain, Sean tak ingin menikmati hidup kelam lagi.


******


Daniel terkejut melihat sosok Sean yang berdiri di atas jembatan sambil menatap jari jemari. Ia yang berada di dalam angkutan umum pun segera meneriaki sang supir.

__ADS_1


"Stop ... stop ... pak!" teriaknya seraya menggedor-gedor pintu angkot.


Ia duduk di pinggir tepat didepan pintu angkot tersebut agar lebih mudah turun. Supir pun langsung memberhentikan angkot tersebut. Daniel segera turun, ia ingin menghentikan aksi Sean yang dikiranya akan melompat ke sungai di bawah jembatan tersebut.


"Sean, Sean!! Tunggu! Jangan lompat!" teriak Daniel dari kejauhan.


Sean yang melihat sosok pria itu langsung ketakutan. Tubuhnya gemetar saat pria itu mencoba mendekati. Tinggal 1 meter lagi, Daniel akan berhasil menarik tangan Sean.


Namun, Sean segera melepaskan cincin dari jari manis, lalu tiba-tiba menghilang tepat di depan mata Daniel.


"Hah? Ke mana dia?" Daniel kelimpungan, mengedarkan pandangan mencari sosok perempuan itu. Tapi, hanya ada siuran angin yang terdengar serta suara mesin kendaraan yang lalu lalang.


"Kenapa dia menghilang? Apa yang terjadi?" Daniel masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Ia mengucek bola mata, memastikan kalau penglihatannya tidak salah. Dan, ternyata penghilatannya memang tidak ada yang salah. Daniel pun berjalan kaki menuju rumah.


******


Sean sudah berada di dalam kamar. Ia langsung ke halaman rumah, mencari cara untuk menghancurkan cincin itu. Sebelum ke halaman rumah, Sean mampir ke kamar sang mama.


"Apa nak?" jawab Sherin muncul dari balik pintu.


"Cara melebur cincin emas gimana?" tanya Sean menatap wajah sang mama dengan sendu.


"Ada apa rupanya? Cincin siapa yang mau kamu lebur?" Sherin pun tampak khawatir melihat wajah putrinya.


"Cincinku mah, harus dihancurkan. Satu-satunya cara harus di lebur kan? Terus di mana tempatnya?" Sean menghentak-hentakkan kaki, merasa tidak sabaran. Dunia suaminya harus segera dileyapkan. Apalagi tadi ia sempat kepergok.


"Yaudah, ayo! mama antarkan ke toko mas langganan." Sherin masuk ke dalam kamar, mengganti baju dengan cepat.


Keduanya keluar rumah, saat itu Prawira pun sedang tidak ada di rumah. Ia sedang pergi ke kantor utama Prawira Grup.


Sean dan Sherin akhirnya tiba di toko mas 22 di pusat Jakarta. Langsung saja Sean meminta agar cincin itu segera di lebur. "Pak, tolong lebur sekarang cincin ini."

__ADS_1


Pemilik toko mas langsung mengambilnya. Dan, mengajak Sean ke bengkel di belakang toko. Sean menyaksikan sendiri mas itu di lebur hingga tak memiliki bentuk. Lalu memberikan kembali pada Sean.


Sherin memberikan biaya upah peleburan cincin Sean. Namun, ia sangat penasaran mengapa Sean bisa memiliki cincin seperti itu.


"Nak, darimana kamu dapatkan cincin itu? Terus, kenapa harus di lebur?" tanya Sherin setelah mereka berdua masuk lagi ke dalam mobil.


"Cincin ini hidupku ma! Hidup yang membuat aku kembali ke sini. Bersama mama dan papa," cerita Sean.


"Ma, antar aku ke jembatan yang ada di Jalan Pattimura," kata Sean kemudian.


"Kenapa harus ke sana? Ada apa di sana?" Sherin pun semakin bingung dengan sikap anaknya.


"Udah mama ikut aja!" titah Sean, saat itu dia duduk di samping sang mama sembari termenung.


Sherin mengantarkan Sean ke tempat yang diinginkan, setelah tiba, Sean pun segera melempar cincin tersebut ke dalam sungai dari atas jembatan. Seketika, dunia Daniel pun menghilang. Daniel beserta anaknya lenyap begitu saja.


Meski saat ini, Sean berada di dunianya, ia tetap tidak tahu kalau dunia sang anak telah melenyap.


"Ayo, ma, kita pulang!"


"Oke!" Sherin berjalan meski masih terlihat membingungkan.


"Eh, bentar dulu ma!" Sean kemudian berlari ke warung yang tak jauh dari jembatan. Disana, ia bertemu si pemilik warung.


"Eh, mbak, ada apa kemari?" kata pemilik warung itu.


"Ibu, saya sarankan ibu periksakan diri ke dokter. Lebih baik ditangani sekarang daripada meninggalkan luka dan kenangan pada anak ibu!" Sean kemudian langsung berlari mendekati sang mama.


Sedangkan si pemilik warung penuh dengan kebingungan. Ia sebenarnya tahu akan penyakitnya. Penyakit jantung yang diderita sejak lama.


"Apa dia tahu kalau aku memiliki penyakit? Kalau begitu, aku harus berusaha mengobatinya," gumam si pemilik warung.


"Ma, Sean sekarang mengerti arti kehidupan. Dulu, Sean pernah terjebak di dunia yang bikin hidup Sean menderita. Tapi, alhamdulillah, Sean berhasil mengubahnya. Sekarang Sean bahagia bersama mama dan papa. Kita harus jadi keluarga yang harmonis," tandas Sean menatap wajah sang mama yang sibuk menyetir penuh haru.

__ADS_1


...THE END/TAMAT...


Terimakasih sudah mengikuti mini series novel ini. Mohon maaf apabila banyak kesalahan dan typo. Terimakasih sudah menjadi pembaca setia!!!


__ADS_2