
Di Padang, Presiden Republik Indonesia Soekarno baru saja tiba dari pengasingannya di
Bengkulu. Dia sedang dalam pembuangan di Bengkulu oleh Pemerintah Belanda tatkala jepang masuk ke sana. Ketika jepang sudah sampai di Bangka jepang memberitahu Belanda melalui telpon ke Bengkulu. Tentara di Bengkulu menyerah. Tapi Presiden Soekarno mereka bawa ke Padang. Sebab Belanda menyangka Minangkabau masih belum jatuh ke tangan jepang. Ternyata Kota Padang sudah diduduki jepang.
Pimpinan bala tentara jepang di Sumatera yang berkedudukan di Pasenggrahan Panorama
Bukit Tinggi di bawah pimpinan Tei Sha (Kolonel) Fujiyama, mengirim seorang chu Sha (Letkol) untuk menemui Soekarno di Padang. Kepada Soekarno bala tentara jepang sangat berlaku hormat. Fujiyama mengharapkan agar meny ampaikan pad a pemuka-pemuka dan pimpinan masyarakat untuk tetap tenang. Menjaga ketertiban. jepang datang untuk membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan.
Dalam suatu pertemuan dengan pimpinan dan pemuka masyarakat Minang, Soekarno meny
__ADS_1
ampaikan pesan Fujiyama tersebut. Karena tak ada jalan lain, maka pemimpin-pemimpin
Indonesia menerima anjuran Fujiyama tersebut. Sebagai salah satu bukti bahwa jepang
bermaksud baik pada Indonesia, maka seluruh balatentara Belanda yang berasal dari bangsa Indonesia, yaitu yang berada dalam KNIL, dibebaskan oleh jepang. Sementara tentara Belanda asli dipenjarakan.
Di Padang tahanan tentara Belanda itu ditempatkan di Asrama Militer Ganting. Di Padang Panjang, diBukittinggi di Payakumbuh juga ditahan di asrama-asrama militer dengan
Jepang mulai mendirikan kubu-kubu pertahanan di sepanjang pantai Padang dan di berbagai tempat strategis di seluruh kota di Minang. Kubu pertahanan mereka sangat tangguh. Dibuat dengan beton masif yang tak mempan di bom ataupun dinamit. Lalu jepang membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR).
__ADS_1
Sementara rakyat yang dijadikan tentara dipersenjatai. Mereka dilatih dalam kemiliteran dengan disiplin baja. Di Padang, untuk menyusun BKR ini ditugaskan pada Syo sha (Mayor) Akiyama. Di Pariaman, Bukittinggi, Padangpanjang dan Payakumbuh juga dibentuk BKR yang diambil dari pemuda-pemuda Indonesia asli. Semuanya ini, kubu-kubu dan benteng pertahanan, serta BKR diadakan untuk menghadapi serangan Sekutu yang diduga akan menyerang jepang di Indonesia. –
–odowo—
Malam itu udara kelihatan cerah. Beberapa orang perempuan kelihatan duduk di atas bangkubangku yang dibuat berjejer di bawah pohon cery ditepiBatang Agam. Di tempat-tempat yang remang, beberapa serdadu dan opsir jepang duduk mengelilingi meja bersama perempuan tersebut. Mereka minum kopi dan teh serta makan kue-kue dan bercerita hilir mudik. Di luar keadaan kelihatan sopan- Namun di dalam rumah-rumah papan yang bercat putih di tepi Batang Agam itu beberapa serdadu tengah bersimbah peluh dalam bilik-bilik mesum.
Tertawa cekikikan terdengar di antara pekik-pekik manja. Itulah kampung kecil Lundang.
Kampung kecil di mana kaum lelaki jepang memuaskan nafsunya bersama perempuan-perempuan malam. Setiap hari yang datang kemari adalah serdadu atau opsir jepang. orang Indonesia hampir tak pernah terlihat. Kalaupun ada, maka mereka segera saja bisa ditebak berasal dari dua golongan. Pertama, mata-mata pihak jepang. Kedua, kaumparewa yang suka berjudi dan pemabuk yang tak lagi menghiraukan nilai-nilai masyarakat. Sesuai predikat mereka yang parewa, mereka umumnya kasar-kasar dan menakutkan.
__ADS_1
BERSAMBUNG......