TIKAM SAMURAI :EPISODE 1 (MEMBASUH WAJAH DENGAN DARAH)

TIKAM SAMURAI :EPISODE 1 (MEMBASUH WAJAH DENGAN DARAH)
TIKAM SAMURAI (EPISODE 33)Adik angkat si bungsu


__ADS_3

Si Bungsu mengikuti gadis itu, yang membawa lampu dinding dan berjalan ke sebuah gang. Lobang di bawah tanah ini cukup besar. Mereka sampai ke


sebuah kamar lain yang lebih besar dari kamar pertama. Di dalam kamar itu dindingnya dilapis kain merah. Di tengah, di depan sebuah meja, ada sebuah gambar cina dalam ukuran besar. Di bawahnya ada bendera merah dengan sebuah gambar kuning di tengahnya.


“Itu gambar pimpinan komunis cina. Mao Tse Tung. Dan flag dengan gambar palu arit itu adalah lambang komunis …” Mei-mei menjelaskan.


Si Bungsu hanya membocorkan dengan melongo. Menatap bendera besar dengan gambar palu arit itu. Dia benar-benar tidak mengerti. mei-mei tersenyum melihat kebingungannya. Dia duduk disebuah kursi, si Bungsu duduk di tempat duduk. Si Bungsu masih dikuasai perasaan takjubnya. Mengapa gadis ini membantunya, padahal bapaknya dia yang membunuh. Didepan matanya pula.


“Tentang Babah yang membunuh, dia memang pantas mendapat hukuman seperti itu. Dia telah meracuni ayahku. Kemudian mengawini ibu. mama waktu itu hamil. Enam bu lan setelah mereka kawin, akupun lahir. Dia memerlukan uang untuk membiayai Partai Komunis di negeri ini. Dan dia juga memerlukan pengaruh serta pangkat untuk berkuasa. Untuk kedua tujuan itu dia mengalahkan. Aku tak berdaya melawan. Dia seorang ayah tiri yang berhati bengis. Yang suka menyiksa dan menyiksa orang. Ibuku meninggal dunia karena dia dikurung selama enam hari tanpa diberi makan. Peristiwa itu terjadi ketika aku berumur delapan tahun. ibu dikurung dan mati dalam kamar ini…”

__ADS_1


Gadis cina itu kemudian menanggis isak mengingat jalan hidupnya yang teramat pahit. Si Bungsu hanya bisa mengucap perlahan. Lama gadis itu menangis, sampai akhirnya si Bungsu memegang bahunya.


“Tenanglah Mei-mei. Kurasa arwah ibumu sudah tenang di akhirat. Dendamnya telah kubalaskan”


“Ya, dendam ibu dan dendamku telah Koko balaskan. Terima kasih. Itulah sebabnya mengapa saya harus menyelamatkan Koko dari tangan Kempetai dua hari yang lalu…”


“Tenanglah Moy-moy. Aku akan melindungimu dari orang yang mengganggumu”


Mei-mei memang terdiam. Gadis cina yang cant ik ini, berwajah bundar berhidung mancung dengan mata yang hitam berkilat, hampir tak percaya bahwa anak muda yang dipanggilnya dengan Koko itu membalas memanggilnya dengan sebutan Moy-moy. Dan ketika dia yakin bahwa memang anak muda itu berkata demikian, dia lalu tegak dan tiba-tiba mereka berpelukan.

__ADS_1


“Terima kasih Koko, terima kasih…” isaknya.


Si Bungsu memang mendapatkan seperti seorang adik. Dia pernah merasakan kasih sayang seorang kakak yang kemudian mati diperkosa Saburo. Kini dia seperti mendapatkan kembali tempat menumpahkan sayang yang telah hilang itu. Seperti halnya Mei-mei, gadis Tionghoa malang yang berusia tujuh belas tahun itu adalah anak tunggal yang hidupnya selalu teraniaya. Lelaki yang diharapkannya menjadi pelindungnya adalah ayah tirinya. Tetapi lelaki itu, si Babah gemuk komunis itu, ternyata telah menjualnya dari satu lelaki ke lelaki yang lain. Gadis yang tidak pernah mendapatkan perlindungan dan kasih sayang itu kini ada dalam pelukan seorang pemuda Melayu yang membalaskan dendamnya, dan pemuda itu memanggilnya dengan sebutan, langkah terlindungnya dia teras.


“Apakah Koko akan pergi ke Batusangkar mencari Saburo ?” Mei-mei bertanya ketika mereka kembali ke ruangan pertama.


Si Bungsu. “Kalau aku pergi, dengan siapa engkau tinggal di sini, Moy-moy?”


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2