
Dia tertegak diam melihat pada perempuan sembahyang yang tadi dia sangka istri Datuk Penghulu itu. Perempuan itu nampaknya baru selesai sembahyang. Kini dia tengah menampungkan tangannya membaca doa. Dan ketika dia benar benar melesai sembahyang, dia menoleh pada si Bungsu. Si Bungsu benar-benar terkesima. Dia ingin bicara, namun lidahnya terasa kelu.
“Koko ..” akhirnya perempuan itulah yang bicara perlahan.
Masih dalam keadaan terpukau, si Bungsu melangkah kembali ke ruang tengah. Perlahan dia duduk di depan perempuan itu. Perempuan yang baru saja selesai sembahyang itu tak lain daripada Mei-mei.
“Koko .. sebentar ini aku berdoa untuk arwah ibu dan ayahku. Dan aku berdoa untukmu. Untuk kesembuhanmu. Untuk keselamatanmu ..”
“Mei-mei kau ..?” hanya itu kalimat yang terucap si Bungsu.
__ADS_1
Ada perasaan yang amat luar biasa menyelusup ke hatinya melihat gadis itu sembahyang Lohor.
“Ya, koko. Telah saya pikirkan. Dan saya memilih islam sebagai agama saya ..”
“Tapi …”
“Saya merasa tentram dan damai setelah sholat. Bukankah koko yang mengatakan itu dipenginapan dulu?” si Bungsu masih tak kuasa bicara.
Tanpa dapat ditahan, mata si Bungsi jadi basah. Mei-mei menatap matanya yang basah. Dan pelan pelan, mata gadis itu ikut basah. Dan tiba tiba mereka berpelukan.
__ADS_1
“Koko, engkau sedih aku masuk Islam ?”
“Tidak Moy-moy. Tidak. Aku hanya akan sedih kalau kau masuk Islam hanya karena ing in menyenangkan hatiku. Percayalah, tanpa masuk Islam pun engkau, aku tetap kusayang padamu. Engkau tetap adikku ..”
“Tidak koko. Aku masuk Islam bukan karena engkau. Aku masuk Islam karena takdir Tuhan. Bukankah takdir manusia di tangan Tuhan Yang Satu? Tuhan mentakdirkan aku bertemu denganmu. Tuhan pula yang mentakdirkan aku masuk Islam. Aku bahagia menerima takdir itu koko. Sama seperti aku juga bahagia berada di dekatmu…”
“Terima kasih Moy-moy. Terima kasih adikku ..”
Peristiwa itu dilihat oleh Datuk Penghulu yang baru pulang. juga dilihat dan didengar oleh Mak Ani, ibu si Upik yang tegak di ruang tengah. Karenanya mereka pada mengusap matanya yang basah. Terharu melihat persaudaraan kedua anak muda yang berlainan bangsa ini. Yang satu kehilangan seluruh familinya di tangan Jepang. Yang satu kehilangan kehormatannya di tangan Jepang. Nasib mempertemukan mereka. Persis seperti diucapkan oleh Mei-mei sebentar ini. Bahwa mereka dipertemukan oleh Takdir yang telah diatur oleh Yang Satu.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....