TIKAM SAMURAI :EPISODE 1 (MEMBASUH WAJAH DENGAN DARAH)

TIKAM SAMURAI :EPISODE 1 (MEMBASUH WAJAH DENGAN DARAH)
Tikam samurai (Episode 37) pembalasan


__ADS_3

Si Bungsu terdiam. Kemudian mereka masuk kekamar karena hari sudah larut malam. Karena semua kamar penuh, maka dia terpaksa satu kamar dengan Mei-mei. Untung dalam kamar itu ada dua tempat tidur.


“Tidurlah Moy- moy. Besok kita cari famili ibumu yang di Kampung cina..” katanya perlahan


“Koko tidak tidur ?”


“Ya. Saya juga akan tidur. Tapi saya akan sembahyang dulu”


Dia lalu berganti pakain dengan kain sarung. Kemudian ke kamar mandi berudhuk. Mei-mei belum tertidur. Dia melihat anak muda itu sembahyang. Dia melihat tubuh anak muda yang semampai itu. Bermuka lembut atau lebih tepat dikatakan murung. Sinar matanya sayu. Ketika si Bungsu selesai sembahyang Isa, ketika dia menoleh mengucapkan salam dia melihat Mei-mei belum juga tidur. Masih menatap padanya. Dia tersenyum pada gadis itu.


“Belum tidur Moy-moy ?”


Mei-mei menggeleng. Kemudian duduk di sisi tempat tidur. Si Bungsu masih duduk di lantai yang beralas tikar. Mei-mei pindah duduk ke bawah, duduk tak jauh dari si Bungsu.


“Koko sembahyang apa ?”


“Isa ..”


“Kenapa orang Islam harus sembahyang lima kali sehari semalam ?”


“Karena begitu suruhan Tuhan ..”


“Tidak melelahkan ?”

__ADS_1


Bungsu menatap Mei-mei. Dia tersenyum. Pertanyaan begitu pernah memenuhi tengkoraknya dulu. Ketika ayahnya selalu menyuruhnya sembahyang. Waktu itu dia bukan hanya sekedar bertanya, tapi malah membangkangi suruhan ayahnya. Tak mau sembahyang. Bikin apa sembahyang, pikirnya. Kesempatan untuk


bersuka ria adalah waktu muda. Kelak kalau sudah tua, barulah sembahyang. Lagi pula, sembahyang lima kali sehari semalam, alangkah seringnya. Kenapa sembahyang itu tidak hanya sekali seminggu, atau paling tidak sekali dua hari misalnya. Itu mungkin lebih ringan.


Namun ketika sendirian di Gunung Sago, ketika dia bersujud menyembah Allah di tengah belantara, dia merasakan betapa tentram hatinya sat dan setelah sembahyang. Dia merasakan betapa Tuhan melindunginya. Dia merasakan suatu kedamaian setiap selesai sembahyang. Dia merasakan seperti mendapat tenaga dan semangat baru selesai sholat. Ya, itulah intinya. Menemukan kedamaian dan ketentraman, menemukan semangat dan tenaga baru, setelah mengerjakan suruhan Tuhan. Perlahan dia menjawab pertanyaan Mei-mei,


“Tidak ada pekerjaan yang melelahkan, bila pekerjaan itu dikerjakan dengan ihlas. Apalagi kalau kita mencintai pekerjaan itu Moy-moy”


Mei-mei menatapnya.


“Engkau pernah sembahyang Moy-moy ?”


Mei-mei menggeleng.


“Waktu kecil bersama ibu saya pernah sembahyang. Tapi semenjak ibu meninggal, saya tak lagi pernah melakukannya ..” ujar Gadis itu sembari menunduk.


Namun mereka belum sempat membaringkan dirinya di tempat tidur, ketika terdengar suara heboh. Suara heboh itu diikuti oleh suara menggedor pintu kamar mereka.


“Hei beruk yang ada di dalam. Buka pintu ini cepat”


Suara berat terdengar memerintah. Dari suara yang berbahasa Minang itu, si Bungsu segera tahu bahwa orang di luar adalah lelaki asal daerah ini. Dia menatap pada Mei-mei yang tertunduk di tepi pembaringan. Kemudian mengambil samurainya. Kemudian melangkah kepintu.


“Tenang saja di dalam Moy- moy. Jangan buka pintukalau saya yang menyuruhnya..”

__ADS_1


“Koko ..” gadis itu berlari memeluknya.


“Tenanglah ..”


“Jangan tinggalkan saya koko ..”


“Tidak. Saya akan kembali ..”


“Saya akan bunuh diri kalau koko meninggalkan saya..”


“Tenanglah. Nah kunci pintu ..”


Dia muncul di gang di luar kamarnya. Di depan pintu, orang lelaki berjambang kasar tegak berkacak pinggang. Begitu dia muncul, lelaki itu mencekal lengannya. Kemudian menariknya keruang tengah. Mendorongnya hingga si Bungsu terjajar.


“Ini beruk yang waang katakan itu Pudin ?” orang bertubuh kasar itu berkata.


Si Bungsu menatap pada orang itu. Dan dia segera kembali mengenali kelima lelaki yang mencoba merampoknya tadi. Di sana juga ada sopir bus.


“Benar. Dialah orangnya Datuk ..” jawab si Kurus.


Orang bertubuh besar itu menggerendeng. Sementara penghuni penginapan yang lain tak berani menampakkan muka. Mereka lebih merasa aman berada rapat rapat di bawah selimut daripada mencampuri urusan orang yang satu ini.


“Waang telah melukai anak buah saya buyung. Itu hanya bisa dibayar dengan dua hal. Pertama dengan seluruh isi bungkusan yang waang bawa. Atau kalau waang keberatan, maka harus waang bayar dengan nyawa waang dan tubuh bini waang …” dan si Tinggi besar itu meludah.

__ADS_1


Hampir saja dahaknya mengenai kepala si Bungsu. Si Bungsu tegak dengan diam. Muaknya muncul melihat lelaki ini. Dia teringat lagi akan cerita kedua perempuan yang sama sama satu bus dengannya tadi. cerita tentang perampokan yang dilakukan oleh orang Minang terhadap orang orang yang bepergian dengan bus. Dia lihat, selain si Besar tinggi ini, masih ada temannya yang lain. Jumlah mereka kini sembilan orang. Hanya yang menjadi heran di hatinya adalah keberanian penyamun penyamun ini muncul di tengah kota. Nampaknya mereka tak merasa gentar sedikitpun pada Kempetai Jepang.


BERSAMBUNG...


__ADS_2