TIKAM SAMURAI :EPISODE 1 (MEMBASUH WAJAH DENGAN DARAH)

TIKAM SAMURAI :EPISODE 1 (MEMBASUH WAJAH DENGAN DARAH)
Tikam Samurai (Episode 8) Kembali nya si Bungsu


__ADS_3

Kampung itu telah ramai sekali. Kehidupan sudah berlangsung seperti biasa. Hari itu hari


Jumat, panasnya bukan main. Lelaki boleh dikatakan semuanya berkumpul di masjid. Mereka


sebahagian besar hampir tertidur tatkala khatib membaca khotbah. Khotbah yang dibacakan


berasal dari penguasa Jepang. Para khatib tidak lagi bebas berkhotbah seperti biasa. Mula-mula


cara berkhotbah begitu terasa menyakitkan hati umat islam. Tidak hanya di kampung itu, tapi juga


di seluruh Minangkabau.


Namun lama-lama hal itu menjadi biasa. Kehendak penguasa memang harus ditaati. Masih


untung yang mereka wajibkan hanya membaca khotbah yang sudah ditentukan. Lagipula khotbah


itu rasanya tak ada yang melanggar ajaran agama. Selain berisi ayat-ayat Al Quran dan hadis


seperti biasa, menyeru berbuat baik dan menjauhi yang mungkar, kini ditambah dengan menyeru


untuk mematuhi perintah yang datang dariJepang sebagai saudara tua.


Mematuhi perintahJepang berarti membantu mengamankan kampung halaman- juga berarti


membangun negeri. Nah, apa beratnya membaca khotbah seperti itu bukan?jemaah sebenarnya


ingin cepat khotbah itu berakhir. Namun tak seorangpun yang berani meninggaikan masjid. Sebab


mereka tahu, kalau mereka pergi berarti tak suka pada khotbah. Dan tak suka pada khotbah di


masjid berarti tak menyukai seruanJepang si saudara tua. Nah, ini bisa mengundang kesusahan.


Daripada susah lebih baik di masjid. Meskipun ngantuk.


Akhirnya sembahyang Jumat yang dua rakaat itupun selesai. orang-orang bersalaman untuk


pulang. Seorang lelaki seporah baya yang duduk di saf paling belakang disalami oleh orang yang


duduk di sebelahnya. Dia menerima salam itu dengan senyum. Namun tatkala dia melihat pada


orang yang menyalaminya itu, senyumnya lenyap tiba-tiba. Tangannya yang tengah bersalaman


itu dia tarik cepat-cepat. Dia seperti orang yang terpandang pada setan di siang hari. Lalu tiba-tiba


dia bangkit. Kemudian bergegas ke pintu. Dua orang lelaki yang akan keluar tertabrak olehnya.


”Hei, bergegas kelihatannya. Akan kemana Datuk?” orang yang ditabrak dipintu mesjid itu


bertanya.


Lelaki seporah baya yang dipanggil dengan sebutan Datuk itu mula-mula akan terus keluar.


Namun dia berbalik dan berbisik pada kedua lelaki yang ditabrak itu. Kedua lelaki itu tak percaya.


Mereka surut kembali ke tengah masjid. Menatap orang yang bersalaman dengan Datuk itu. Yang


kini masih duduk menunduk. Kedua orang ini juga tersurut. Kemudian cepat-cepat berlalu. Sudah


tentu sikap ini menarik perhatian yang lain. Dan beberapa orang, meniru perbuatannya pula.


Berbalik ke tengah masjid dan melihat pada orang yang masih duduk menunduk itu. Kemudian


juga mereka seperti melihat setan. Lalu keluar cepat-cepat.


Dalam waktu yang singkat, hampir semua lelaki di kampung itu, yang datang sembahyang


Jumat ke masjid, mengetahui bahwa si bungsu laknat anak Datuk Berbangsa itu ternyata masih


hidup, Dan kini dia kembali ke kampung ini. Ada perasaan tak sedap dan tak aman di hati hampir


seluruh lelaki kampung atas kehadiran si Bungsu.


Anak muda itu masih duduk di tengah masjid. Duduk dengan kepala menunduk. Dia tahu tadi


orang memperhatikannya. Dia tahu orang berbisik membencinya. Dan itulah kini yang dia


renungkan. Dia menyangka dengan masuknya rumah Allah ini perasaannya akan tentram. Dia


menyangka bahwa di rumah Allah ini semua insan sama. Bukankah setiap kaum muslim itu


bersaudara? Dan bukankah masjid ini adalah lambang dari persaudaraan orang Islam? Mengapa


kebencian di luar sana harus dibawa ke rumah suci ini? Atau di rumah Allah inipun manusia


sebenarnya tak bisa melepaskan dirinya dari sikap manusia yang hewani. Saling membenci, saling

__ADS_1


dengki, saling atas mengatasi, saling himpit menghimpit? Atau barangkali dia tak dianggap sebagai


seorang Muslim?


”Engkau itu Bungsu?”


Tiba-tiba suara lembut menyapa. Menyadarkan dirinya dari lamunan- Dia mengangkat kepala.


Dan matanya tertatappada imam yang barusan menyapa. Imam itu masih duduk di depan, di


dekat mihrab.


”Benar. Saya inilah pak Haji…” dia berkata sambil kembali menunduk.


”Sudah lama kau tiba di kampung ini?”


Aneh. Suara imam itu tetap lembut. Tak ada nada permusuhan sedikitpun.


”Saya tiba malam tadi pak….” katanya masih tetap menunduk.


„Angkat kepalamu Bungsu. ini rumah Allah. Di sini setiap manusia sama nilainya. Mereka hanya


berbeda amalnya di sisi Allah.”


Imam itu seperti bisa membaca yang tersirat di hatinya. Dia mengangkat kepala.


Menatap imam itu dengan heran.


”Disenangi. Dibenci. Dipuja. Disanjung. Dilupakan. Dicaci maki, atau tak diacuhkan. Itulah yang


dinamakan kehidupan Bungsu. Manusia harus berjuang di antara kemungkinan-kemungkinan itu.


orang takkan mulia karena pujian. Sebaliknya orang juga takkan mati karena caci maki.”


Si bungsu termenung. Dalam masjid itu tak ada orang lain. Hanya dia dan imam itu saja.


”Dimana engkau malam tadi?” Imam itu bertanya lagi.


”Di surau lama di hilir kampung ini pak Haji….”


”Hmm. Masih senang main koa atau dadu?“


Dia menggeleng, kepalanya kembali menunduk.


”Kenapa tak terus ke rumahmu?”


”Saya sudah sampai di sana pak Haji. Tapi saya lihat ada orang yang menunggu. Saya tak


berani membangunkan mereka. Saya tak tahu siapa yang telah menghuni…”


”Yang menghuni adalah Sutan Lembang. Menantu mamakmu Datuk Sati. Semua orang di


kampung ini menyangka engkau telah mati.Jadi seluruh pusaka keluargamu menurut adat jatuh pada kakak lelaki ibumu. Dia punya rumah banyak. Karena itu rumah ibumu disuruh tunggunya


pada anak perempuannya. Isteri Sultan Lembang.”


”Ada yang ingin saya tanyakan pada pak Imam…”


”Tentang kuburan ayah, ibu dan kakakmu yang di tengah laman rumah itu?”


Si bungsu kaget. Alangkah tajamnya firasat Imam ini. Dia memang akan menanyakan kuburan


itu. Malam tadi dalam cahaya rembulan, kuburan itu tak dia lihat lagi di tengah halaman itu.


Padahal dulu di sanalah dia menguburkan ayah, ibu dan kakaknya. Benar. Saya ingin tahu dimana


kini kuburan mereka akhirnya dia berkata juga.


”Dahulu mereka kau kuburkan di tengah halaman bukan? Dan kakakmu dekat jenjang. Benar


begitu?.”


Kembali dia terkejut mendengar ketepatan terkaan Haji ini. ”Benar pak Haji…”


”Dan seorang anak yang kau kubur dekat pohon gajus di sebelah sekolah. Dua orang


perempuan di bawah batang manggis. Tiga orang lelaki dekat kandang kerbau. Begitu bukan


Bungsu?”


”Apakah pak Haji ada waktu saya menguburkan mereka?”


Si bungsu bertanya di antara rasa kaget dan herannya. Haji itu menarik nafas panjang.


Kemudian berkata perlahan :

__ADS_1


”Allah Maha Besar. Hari ini Allah membuktikan apa yang kuduga selama ini. Terima kasih


Bungsu. Engkau telah menyelenggarakan mayat-mayat itu dengan baik. Salah satu lelaki yang kau


kubur itu adalah adikku. Dan anak itu adalah ponakanku. Terima kasih. Saya sudah menduga


sejak semula. Bahwa kaulah yang menguburkan mereka. Sebab saat itu semua kami sudah


melarikan diri. Kami lihat kau kena hantam samurai. Ketika kami kembali sebulan kemudian,


kuburan itu kami gali kembali. Kami pindahkan ke pekuburan kaum. Ternyata mayatmu tak


kamijumpai. Semua orang menyangka mayatmu diseret binatang ke kaki gunung dan


memamahnya di sana. Namun aku menduga, engkau pasti selamat. Dan engkaulah yang


menguburkan mereka. Aku tak tahu bagaimana caramu menguburkan mayat sebanyak itu dalam


keadaan luka. Dan aku juga tak tahu berapa lama waktu kau perlukan untuk mengubur mereka.


Namun aku yakin, pekerjaan itu pastilah pekerjaan yang tak mudah bagimu, mengingat lukamu


yang parah itu. Sekali lagi terima kasih nak. Atas bantuanmu mengubur mayat ponakanku, mayat


adikku, dan mayat seluruh penduduk yang terbunuh. Kau selenggarakan mayat mereka, meskipun


semasa hidupnya mereka selalu membencimu. Tuhan akan membalas budimu nak…”


Air mata imam itu merembes d i pipinya. Betapa tidak. dia yakin anak muda inilah yang telah


menolong mayat-mayat itu. Namun alangkah malangnya dia. Dia tak mampu menjelaskan pada


orang kampung tentang keyakinannya itu. Dia takut orang kampung akan membencinya. Dia jadi


malu pada kelemahan dirinya itu. Seorang imam yang tak berani mengatakan yang benar hanya


karena dia takut dilucilkan orang kampung. Padahal dia tahu benar ada ayat yang berbunyi


Katakanlah yang benar, meskipun sang at pahit. Dia menangis menyesali kelemahannya .


”Jadi kuburan ibu, ayah dan kakak saya sudah dipindahkan ke makam kaum di hilir sana pak


Haji?”


”Ya, mereka sudah dipindahkan ke sana nak….”


”Terima kasih pak….” dia lalu bangkit.


”Akan kemana kau Bungsu?”


”Saya akan ke kuburan itu pak…. Setelah itu? Belum saya pikirkan…”


”Kalau engkau masih lama di kampung ini. Singgahlah ke rumah saya. Masih di tempat yang


lama. Dekat pohon kuini besar yang sering kau lempari buahnya dahulu. Singgahlah….”


”Terima kasih pak. Insyaallah. Saya permisi. Assalamualaikum….”


”Waalaikum salam….”


Dia turun dari masjid. Imam itu menatap punggungnya. Aneh kalau lelaki yang turun dari


mesjid tadi merasa suatu yang tak sedap dan suatu ketegangan yang mencengkam mereka atas.


kehadiran anak muda ini, pak Haji ini justru sebaliknya. Ketika menatap punggung anak muda itu.


menatap bayang-bayangnya melangkah keluar, ada semacam perasaan bangga dan aman


menjalari hati tuanya.


Ya, si Bungsu telah kembali setelah dianggap mati sejak peristiwa berdarah yang


memusnahkan keluarganya belasan purnama yang lalu. Orang kampungnya tak melihat satu perubahanpun pada diri anak muda itu. Kesan mereka terhadapnya tetap sama seperti dahulu.


Seorang penjudi dengan muka murung dan mata sayu seperti orang yang tak punya semangat.


Dan lebih daripada itu, mereka tetap menganggapnya sebagai seorang laknat yang telah


membuka rahasia tentang penyusunan kegiatan di kampung ini dalam melawan Jepang. Itulah


sebabnya dia tetap tak disukai kembali ke kampungnya. Perasaan tak suka itu segera saja


diperlihatkan di hari pertama dia berada di kampung kelahirannya itu. Saat tengah berjalan


menuju ke rumahnya setelah kembali dari kuburan, lewat sedikit dari masjid dia dihadang oleh

__ADS_1


enam lelaki yang rata-rata mempunyai tubuh kekar.


BERSAMBUNG....


__ADS_2