
Pistol atau bedil menimbulkan suara bila membunuh orang. Dia lebih suka memakai samurai. Dengan samurai dia bisa bertindak diam diam. Karena lelah dia berbaring di tempat tidur. Dia tak tahu sudah berapa lama dia tertidur ketika tiba tiba terbangun lagi. Ada seseorang dirasakan hadir di kamar berdinding beton di bawah tanah itu. Dia membuka mata dan berusaha untuk bangkit.
Namun sebuah tangan halus menahannya. Dalam cahaya lampu dinding yang telah dipasang, dia lihat gadis cina yang telah menyelamatkannya itu. Gadis itu duduk di tepi pembaringan. Menatap padanya dengan pandangan lembut.
“Berbaringlah .. lukamu belum sembuh ..” suaranya terdengar lembut.
Bahasa Melayunya terdengar bersih. Si Bungsu tetap duduk. Gadis itu menatap pada matanya.
“Terima kasih nona, nona telah menyelamatkan nyawaku. Apakah Jepang itu sudah pergi ?”
“Sudah. Tapi rumah ini tetap mereka awasi. Rumah ini sudah ditutup untuk tempat pelacuran. He,.. engkau tentu lapar. Sudah dua hari kau berada dalam lubang ini”
“.. Dua hari …?”
“Ya. Engkau masuk kemari tengah malam yang lalu. Kini hari kedua hampir sore, saya membawa makanan dengan gulai ikan, sambal la do dan petai. Suka sambal lado dan petai?”
Si Bungsu tak banyak bicara. Dia makan dengan lahap. Gadis itu ternyata juga belum makan. Mereka makan bersama.
“Engkau yang memasak makanan ini?” dia bertanya setelah selesai makan dengan bertambah sampai tiga kali.
“Bagaimana, enak ?”
“Hampir menyamai masakan ibuku …”
“Yang memasak etek Munah, pembantu kami …”
Si Bungsu kemudian teringat, bahwa dia harus segera pergi dari rumah ini. Tubuhnya meski belum segar, tapi dia rasa sudah kuat untuk melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
“Siapa namamu ..?”
“Mei-mei…”
“Mei mei ?”
“Ya, dan namamu ?”
“Bungsu …”
“Bungsu ? Engkau anak terkecil dalam keluargamu ?”
“Ya. Mei-mei.. Terima kasih atas bantuanmu. Saya tak bisa membalasnya. Saya harus pergi sekarang.”
“Kemana engkau akan pergi?” Si Bungsu termenung.
“Saya mencari seorang perwira Jepang bernama Saburo. Apakah mengenalinya Mei-mei?”
“Saburo….., Saburo Matsuyama?”
“Ya. Saburo Matsuyama Apakah engkau mengenalnya?”
“Saya mengenal hampir semua perwira yang simpan di Payakumbuh ini”
“Di mana dia sekarang?”
“Seingat saya sudah cukup lama dia tak kemari. Kabarnya dia pindah ke Batusangkar…”
__ADS_1
“Batusangkar…?”
“Ya…engkau akan ke sana, balas dendammu padamu ?”
“Ya. Darimana kau tahu Mei-mei ?”
“Saya melihat semua perkelahianmu dengan Jepang dan dengan Bapak dua hari yang lalu juga mendengar semua pembicaraan saat itu…”
“Bapak?” Si Bungsu heran mendengar kata Bapak yang diucapkan Mei-mei.
“Ya. Babah gemuk itu adalah ayah tiriku …”
Si Bungsu sampai tertegak mendengar pengakuan Mei-mei. Hampir hampir tak dapat dia percaya, bahwa si Babah yang telah dia cencang itu adalah ayah tiri gadis ini. dia melihat bahwa dia telah mencencang si Babah itu ? Lantas mengapa gadis ini membantunya dari cengkeraman Jepang? Mei-mei.
“Ayahmu..?”
Si Bungsu bertanya perlahan “Duduklah Bungsu. Dia ayah tiriku. Aku melihat engkau mencencang tubuhnya seperti di rumah bantai. Tapi jangan perlu menyesal. Dia memang harus mendapat perlakuan yang demikian. Atas apa yang dia perbuat pada bangsamu dan pada diriku sendiri ..”
si Bungsu tidak mengerti apa maksud ucapan Mei-mei.
“Dia menjadi mata mata Belanda. Menjadi mata mata Jepang. Dan lebih dari itu dia adalah seorang Komunis ..”
“Komunis..?” si Bungsu tidak mengerti.
Sebagai anak desa yang memang lugu dia tak pernah mendengar nama komunis. Nama itu terlihat asing bagi telinga anak desa Situjuh Ladang Laweh di pinggang Gunung Sago ini.
“Ya, komunis. Engkau tak tahu..?” Gadis itu lalu bangkit. “Ikutlah saya..”
__ADS_1
BERSAMBUNG....