TIKAM SAMURAI :EPISODE 1 (MEMBASUH WAJAH DENGAN DARAH)

TIKAM SAMURAI :EPISODE 1 (MEMBASUH WAJAH DENGAN DARAH)
TIKAM SAMURAI (EPISODE 58) keganadan dua harimau


__ADS_3

Akan halnya si Bungsu, sejak tadi menonton saja dari persembunyiannya bagaimana Datuk itu membantai ketiga Jepang tersebut. Dia kagum pada gerakan silat Datuk Penghulu itu. Dan kini dia mendengar Datuk itu meminta dia bertindak. Ketiga Kempetai itu mundur terus. Selangkah, dua, tiga, empat, lima. Tak terlihat ada gerakan dari si Bungsu. Datuk Penghulu menatap terus. Dia yakin anak muda itu akan bertindak. Kempetai itu makin jauh.


“Siap-siaplah untuk lari. Kampung ini kampung setan,”


Bisik si sersan mayor pada kedua temannya. Teman-temannya dengan mata sipit yang dibesar-besarkan coba menembus kegelapan malam untuk melihat kalau-kalau kedua orang yang bersembunyi itu muncul.


“Nah sekarang lariii…!” sersan mayor itu berseru.


Kedua temannya segera balik kanan dan mulai melangkah lebar. Namun saat itu pula sedepa di depan mereka pohon-pohon bambu pada bertumbangan kejalan yang bakal mereka lalui. Tidak hanya dua tiga batang. Pohon bambu itu tumbang dalam jumlah puluhan batang. Kempetai itu jadi kalang kabut. Ada yang tertelungkup kesandung, ada yang takapere mencoba mengelak dari bambu yang rubuh seperti hujan lebat dalam gelap itu. Datuk penghulu membocorkan kejadian itu dengan tersenyum tipis. Si Bungsu mulai beraksi.


Ternyata dia yang membabat rumpun bambu di pinggir jalan yang akan dilalui sebagai tempat lari oleh para Kempetai.

__ADS_1


“Bager. Bageroo. Bageroo. Ute Utee Utee (tembak)”


Sersan mayor itu menghardik, memerintah dan bercarut bungkang memerintahkan agar kedua anak buahnya menembak, mengarahkan mana saja dan apa saja. Assalamu'alaikum. tiga bedil menyalak. Tapi tembakan mereka tak menentu. Ada yang menghadap ke atas. Ada yang ke tanah. Sebab pada waktu menembak mereka juga harus menghindarkan diri agar tak tertimpa pohon-pohon bambu yang runtuh seperti hujan. Lalu tiba-tiba sepi. Pohon bambu tak ada lagi yang runtuh.


Ketiga Jepang itu tegak terengah-engah. Mereka tegak dalam pohon bambu. Yang terlihat kini sebatas leher ke atas. Sebatas leher ke bawah ditimbuni oleh pohon bambu. Suatu saat mereka melihat sesosok tubuh di arah pangkal pohon bambu itu, tapi karena gelap tak jelas wajahnya.


“Siapa di sana!!” si sersan berusaha mengangkat bedilnya yang terhalang oleh pohon bambu. Kedua menoleh pula ke sana.


Nama yang dia cinta tadi adalah nama pimpinan regu yang senja memperkosa Mei-Mei, si Upik dan Tek Ani.


“Hei Bungsu Lebih baik kau menyerah. Kalau tidak. kau bisa ditembak..,” sersan mayor itu kembali menggertak.

__ADS_1


“Jawab pertanyaanku. Ada diantara kalian yang bernama Atto?”


Suara si Bungsu terdengar dingin, bulu roma yang mendengarnya. Jepang-Jepang ini tak mengetahui siapa si Bungsu. Tak ada cerita mengenai diri anak muda itu yang tersedia hanya bersenjatakan sebuah tongkat itu.


Si sersan mayor itu berusaha mencampakkan bambu yang menahannya. Kemudian mengajukan ke arah si Bungsu untuk menantangnya dengan jurus karate. Namun si Bungsu sudah sampai di puncak sabarnya. Dia melangkah dua langkah di atas pohon bambu yang rubuh setinggi pinggang itu. Kemudian membabat bambu yang menahan sersan mayor tersebut. Kini sersan mayor itu bebas. Dia mengangkat bedilnya. Namun saat itulah samurai ditangan si Bungsu bekerja. Tangan Kempetai yang memegang badil itu potong keduanya. Dia meraung-raung.


“Jawab pertanyaanku. Dimana Atto!!”


Namun sersan itu bukan menjawab, dia memaki dan memerintah anak buahnya untuk menembak.


“Bageroo uteeee (tembak)” pekiknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2