TIKAM SAMURAI :EPISODE 1 (MEMBASUH WAJAH DENGAN DARAH)

TIKAM SAMURAI :EPISODE 1 (MEMBASUH WAJAH DENGAN DARAH)
TIKAM SAMURAI (EPISODE 60 )SALING CEPAT


__ADS_3

Dan chu-I itu berangkat ke Tarok menaiki sebuah truk. Truk berisi dua belas orang Kempetai itu melaju mengoyak udara pagi dengan suara menggeram-geram. Di atasnya tegak dengan kukuh kedua belas Kempetai itu. Di tangan mereka tergenggam senjata yang lengkap dengan sangkur terhunus. Truk itu mula-mula menuju ke arah stasiun keret a api. Kemudian berbelok ke arah tangsi militer. Lalu berbelok lagi kejembatan besi. Meluncur terus ke arah Tarok.


Para pedagang yang sudah keluar pagi itu, pada menepi cepat-cepat begitu melihat truk dengan lampu yang dihidupkan itu lewat. Truk dengan kap terbuka dan Serdadu Jepang tegak dengan wajah keras. Tak lama kemudian mereka sampai ke daerah kampung Tarok. Mereka membelok ke sebuah jalan kecil di antara pohon bambu yang rimbun menuju ke Padang Gamuak. Sekitar dua puluh meter masuk kepalunan bambu itu, tiba-tiba di depan sebuah gerobak yang dipenuhi batang ubi kelihatan tegak. Truk tak bisa terus. Sopirnya menyumpah-nyumpah.


Letnan yang ada di depan memerintahkan seorang anak buahnya turun untuk mencampakkan gerobak sial itu ke dalam semak. Tapi sebelum dia turun, saat itulah dua bayangan tiba-tiba melesat dari balik pohon bambu ke atas truk yang terbuka itu. Kedua bayang-bayang itu adalah si Bungsu dan Datuk Penghulu. Mereka sudah menduga, bahwa Jepang pasti akan mengirimkan bantuan untuk mencari regunya malam tadi. Datuk Penghulu lalu menyusun siasat. Merekalah yang meletakkan gerobak yang dipenuhi batang ubi untuk menghalang jalan truk. Kini mereka berada diatas truk itu. Diantara sebelas serdadu Jepang yang memegang senjata dengan sangkur terhunus.


“Penjajah jahanam kalian terima pembalasan kami..”

__ADS_1


Berkata begini, Datuk Penghulu yang baru menghambur ke atas truk itu menghantam kekiri dan ke kanan. Kempetai-kempetai yang ada di truk itu kaget melihat kehadiran kedua orang itu di atas truk mereka. Tendangan Datuk itu yang pertama mendarat di perut seorang prajurit. Tubuh prajurit itu terlipat. Matanya mendelik, mulutnya berbuih. Bukan main melinukkannya cuek itu. Teman yang di sebelahnya masih terheranheran, ketika pukulan tangan Datuk itu mendarat di hulu hatinya. Tubuhnya terhumbalang. Temannya yang berada di sisi lain dari truk itu menghunjamkan bayonetnya ke punggung Datuk Penghulu. Tapi samurai di tangan si Bungsu memutus kedua tangannya. Dia meraung.


Saat berikutnya samurai si Bungsu bekerja. Terlalu cepat untuk diikuti mata. Terlalu cepat untuk disadari oleh Kempetai-kempetai yang ada di atas truk itu. Dan pagi itu, terjadilah sebuah pembantaian yang tak mengenal ampun, sebelas orang Kempetai yang berdiri tegak diatas truk terbuka itu, tak sempat sekalipun menembakkan bedil mereka. Truk yang hanya muat untuk tempat tegak itu, tak bisa memberi keleluasaan pada para kempetai itu untuk mempergunakan bedil.


Delapan orang telah mati terbantai samurai atau kena pukulan tangan dan kaki Datuk Penghulu. Sersan yang tegak di depan sekali melompat ke atas kap truk. Dari atas dia mengangkat bedilnya. Dia bermaksud menembak si Bungsu. Tapi gerakannya dilihat oleh Datuk Penghulu yang tengah menghantam seorang kopral dengan siku tepat di tenggorokan.


Pukulan tangan kanannya mendarat di perut Kempetai yang tengah membidikkan bedilnya itu. Kedua tubuh mereka terjatuh ke atas kap depan. Kempetai itu duluan tegak. Tapi kaki Datuk Penghulu menghajar pusarnya dari bawah. Dia terlambung ke tanah persis di depan truk. Ketika akan bangkit, saat itu pula tubuh Datuk Penghulu terjun. Kakinya mendarat di tengkuk si Jepang. Terdengar tulang patah. Dan Kempetai itu mati Pada saat yang sama, si Bungsu menyelesaikan tugasnya di belakang. Kempetai kesepuluh mati dengan leher putus. Demikian cepatnya keadaan itu berlangsung.

__ADS_1


Sehingga, dari saat truk itu berhenti, sampai pada Kempetai yang kesepuluh orang itu mati, waktunya barangkali hanya tiga menit. Memang terlalu fantastis. Namun begitulah yang terjadi. Si Bungsu pembenci Jepang nomor satu. Dalam usahanya mencari Kapten Saburo Matsuyama untuk membalaskan dendam keluarganya, dia menyapu habis set iap Jepang yang menghalanginya. Dan pagi ini, kembali samurainya bekerja terlalu cepat bagi Jepang-Jepang tersebut. Sedangkan Datuk penghulu, yang selama ini terlalu sabar dengan menyimpan-nyimpan ilmunya, kini setelah anak dan istrinya mati ternista di tangan Jepang, membalaskan dendamnya dengan segenap kebencian.


Empat orang Kempetai mati kena makan tangan dan kakinya pagi itu. Dan saat itulah chu-I (Letnan satu) yang memimpin regu penyergapan itu menyadari bahaya yang mengancamnya. Sejak tadi dia duduk di sebelah sopir. Dia hanya mendengar suara hingar bingar di belakangnya. Dan tiba-tiba di kap di depannya ada tubuh yang jatuh. Tubuh itu tak lain tubuh Datuk Penghulu dengan seorang prajurit. Ketika prajurit itu mati, dia baru menyadari bahaya mengancam. Segera saja dia mengeluarkan pistolnya. Kemudian dari tempat duduknya dia membidik ke arah kepala Datuk Penghulu di luar sana. Dia bermaksud menembak Datuk itu melalui kaca depan.


Namun subuh itu memang merupakan subuh berlumur darah bagi balatentara Jepang di kota Bukittinggi. Sebab, melalui kaca yang membatasi ruangan sopir dengan bahagian belakang truk si Bungsu yang tegak di bahagian belakang sekali dari truk itu, melihat pistol yang sedang dibidikkan kearah Datuk Penghulu di depan sana.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2