
Keesokan harinya setelah mereka berdua melalui malam yg panjang
Lidya pun akhirnya bangun dan langsung mengucek matanya
dan betapa kaget nya saat Lidya melihat
Rivan yang sedang memeluknya nya
Aaaaaaaaa
Mendengar cekikikan Lidya, Rivan pun langsung bangun dan langsung menutup mulut Lidya
"Ekhem Hem"
"Sttttt Lo bisa diam gak sih,
Pagi pagi udah teriak-gak jelas"
Dan langsung melepaskan tangan nya dari mulutnya Lidya
Plak
Lidya pun langsung menampar Rivan
"Apa Lo bilang, tenang
Setelah apa yang Lo perbuat ke gua
Hah pekik nya dengan marah"
Melihat Lidya yang marah Rivan pun langsung
Diam dan bungkam
Ah sialan nih cewek, apa dia gak ingat yah kalau dia yang yosor duluan
Melihat Rivan yang diam saja membuat Lidya pun tambah marah ,dan langsung turun dari ranjang dan memungut pakaian nya yg berserakan di lantai,
Seraya menahan sakit di ************ nya membuah lidya meringis pelan
Au sttt
Lo gak papa ujarnya dengan nada khawatir
Dan langsung menuju ke arah Lidya
Dan memegang tangan nya
"Lepas gak" ujar Lidya,
Tampa mempedulikan Lidya yg memberontak Rivan pun langsung mengangkat tubuh Lidya menuju kamar mandi dan tak lupa Rivan pun memungut pakaian Lidya
Lepasin
Dan langsung memukul dada Rivan dengan keras
Sttt diam gak Lo
Atau gua akan jatuhin Lo ujar nya seraya menatap Lidya
Sampai nya di kamar mandi Rivan pun langsung menurunkan Lidya dan menyerahkan baju nya
Udah sana mandi
Ujar Rivan seraya meninggalkan
Aha berengsek,awas aja lo
Setelah keluar dari kamar mandi Rivan pun langsung menelpon papanya
Tut
Telpon pun terhubung
"Halo pah"
"Iya nak ada apa"
"Hmm gini pah papa pasti udah tau apa yang terjadi sama Rivan semalam kan"
"Terus"
"Jadi gini pah, apakah papa bisa menyelidiki siapa perempuan itu,
Karna jujur saja pa, saya sudah melakukan nya padanya.
Setelah mendengarkan apa yang di katakan putranya pak Budi pun hanya bisa menghela nafas panjang
Hmmm baik lah boy papa akan urus semua itu
Termasuk orang yang menculik perempuan itu
Baik pah
Yaudah papa tutup dulu telpon nya
Iya pah
Huff untung papa gak marah,tapi kalau mama sampai tau semua ini bisa panjang urusannya nanti
Selang beberapa rapa waktu, Lidya pu keluar dari kamar mandi
Dan langsung menuju kearah Rivan
__ADS_1
"Gua mau bicara sama lo"
"Hm baiklah"
"Ayok ikut gua"
Setelah keluar dari bangunan tersebut
Rivan pun mengajak Lidya untuk naik ke atas motornya,
"Gua gak mau"
"Kita bicarakan disini aja"
"Oke kalau itu yang Lo mau"
Seraya turun dari motor nya dan langsung berdiri di hadapan Lidya
Setelah terdiam cukup lama
Akhirnya Rivan pun langsung berbicara
"Perkenalkan nama gua Rivan,
Kalo Lo"
Lidya
"Hmmm nama yang cantik seperti orang nya"
"Apa Lo bilang"
"Hah, gak ada"
Hmm
"Oh iya gua mau Lo lupakan semua yg terjadi pada kita semalam"
Hah, gua kira Lo mau minta gua tanggung jawab,
Eh malah di suruh lupain.
"Baiklah kalau itu yang Lo mau,oh iya, gua mintak nomor telpon Lo boleh kan, nanti kalau terjadi apa apa sama lo,Lo bisa nanti telpon gua.
"Yaudah nih" seraya menyerahkan HP nya kepada Rivan
Dan Rivan pun langsung menyimpan nomor Lidya di hp nya
Dan tak lupa Rivan pun menyimpan nomor hp nya di hp nya Lidya
*Yaudah nih"
Hem
Dan Lidya pun hanya menurut saja
Di dijalan raya Rivan pun langsung bertanya kepada Lidya dimana rumah nya
"Lidya, rumah Lo di mana biar gua antarin sekalian
"Gak usah di depan halte saja gua turun"
"Gak bisa gitu dong kalau Lo diculik lagi gimana,
Kan gua yg susah"
"Yaudah lurus aja nanti, baru belok ke kanan
Nanti disana ada komplek."
"Oke."
Rivan pun tancap gas menuju tempat yang Lidya sampaikan.
Setelah sampai dirumah Lidya
Rivan pun langsung pamit dan pergi
Menuju rumah nya.
Di kediaman keluarga sanjaya tepatnya di ruang tengah
Melisa pun langsung memeriksa tubuh anak nya dari ujung kaki sampai kepala,
"Mah aku gak papa kok,cuman memar doang"
"Apa kumu bilang,cuman memar doang
Tunggu disini mama akan ambilkan obat untukmu"
"Iya mah"
Akhirnya Rivan pun hanya pasrah saja
Dan menunggu mama nya datang mengobatinya
Keg ginikah rasayanya diperhatikan oleh ibu,
Dan keluarga yg lengkap.
Satu tetes air mata pun berhasil jatuh ke baju nya
__ADS_1
Darap, darap
Mendengar langkah kaki ibunya yg kian mendekat,Rivan pun langsung menghapus air matanya,dan langsung tersenyum ke arah ibu nya. Dan langsung di balas senyuman oleh Melisa
"Sini syg biar ibuk obatin"
Rivan pun Langsung mendekat ke mama nya dan langsung memeluk sang ibu,
Dan berkata , "makasih ya mah"
"Iya sayang"
Dan membalas pelukan sang putra dengan hangat.
Setelah Melisa mengobati Rivan, Melisa pun langsung menaruh kotak p3k nya di atas meja,
Dan berbincang-bincang dengan anak nya
"Mah besok Rivan jadi kan sekolah nya"
"Iya nak,dan kamu harus janji ke mama kalau ada yang mengganggu mu bilang aja ke mama ya nak,nanti mama akan langsung memberikan pelajaran padanya."
Mendengar apa yang dikatakan oleh mama nya membuat Rivan pun tertawa
"Hahahaha mama bisa aja hahaha"
"Lah kok ketawa sih mama lagi serius Lo ini"
"Iya mah iya seraya cekikikan kecil"
"Is kamu mah mamanya ngomong serius malah diketawain."
"Lagian mama sih"
"Hem terserah kamu aja deh"
Seraya meranjak dari kursinya
"Mah tunggu mah"
"Ada apa lagi"
"Itu mah Rivan lapar
Heheheh
"Astaga,mama Sampek lupa bahwa anak mama yang paling ganteng ini belum makan"
"Yaudah tunggu sini ya biar mama masak dulu ya"
"Kamu mau makan apa"
"Terserah mama aja deh yang penting mama yang buat pasti enak"
"Hem kamu bisa aja"
Setelah selesai sai makan Rivan pun langsung menuju kamar nya dan seraya merebahkan tubuh nya.
Sedangkan di sebuah gedung tinggi
Nampak seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi kebesarannya
"Hem jadi perempuan yang di selamatkan oleh Rivan itu adalah anak dari pak Kartono sekaligus saingan bisnis saya"
Hem menarik
"Tok tok tok"
"Yah silahkan masuk"
Heri pun langsung masuk ke dalam ruangan bos nya
"Selamat siang bos"
Hem
"Ada perlu apa kamu kesini ucapannya dengan sinis"
Mendengar ucapan bos nya membuat bulu kuduk Heri berdiri
"Anu pak bapak nanti pukul dua, ada jadwal meating bersama client dari perusahaan C.M.F pak."
"Hem, yaudah kalau tidak ada yang anda sampaikan lagi silahkan keluar dari ruangan saya"
"Baik pak."
Setelah Heri keluar dari ruangan nya
Pak Budi pun langsung menelpon. Orang kepercayaan nya
Tut
Telpon pun tersambung
"Hallo pak ada yg bisa saya bantu"
"Iya,saya mau minta tolong padamu tolong
Awasi sekretaris saya yang bernama Heri itu
Kalau perlu kamu harus menyuruh bawahanmu untuk memata-matai nya"
"Siap pak saya akan laksanakan"
__ADS_1
"Yaudah nanti saya tunggu kabar darimu"
Dan langsung mematikan telponnya