
Sebuah hotel yang sangat besar, Hotel Aquila namanya, hotel bintang lima di kota B. Hotel satu-satunya ya g memiliki rating bintang lima di kota ini dan merupakan hotel terbaik.
Syah sedang duduk di sebuah ruangan seorang diri. Ruangan direktur Hotel Aquila. Direktur dari hotel ini sendiri adalah Zeno. Dia dipercaya untuk mengelola hotel ini oleh kakeknya Syah.
"Tuan Muda mau makan apa?" tanya Zeno dengan tetap menjaga kesopanannya terhadap tuan mudanya, meskipun Syah memiliki umur jauh dibawah dirinya.
"Tidak perlu! Tadi aku sudah makan di warteg!" jawab Syah dan langsung mengamati ponselnya.
"Tuan Muda! Anda sangat hebat! Anda bisa bertahan selama ini dan tetap tegar! Aku, aku—" batin Zeno dan langsung membalikkan badannya karena dia sekarang sedang meneteskan air matanya.
"Saya pamit keluar dulu Tuan Muda!"
"Ya"
Baru sampai di depan pintu, Zeno langsung menyeka air matanya yang tidak bisa berhenti itu.
"Bos? Ada apa?" tanya salah seorang pelayannya yang ada di luar pintu.
"Tidak apa! Hanya mataku terkena debu sepertinya, oh iya, perlakukan Tuan Muda dengan baik-baik ya? Saya mau ke bawah sebentar!" ujar Zeno masih menyeka air matanya.
Baru saja turun hingga di lantai bawah, tepatnya di beranda hotel. Zeno mendengar suara deru mobil ya g mendekat.
Dia bergegas pergi ke luar dengan membopongkan dadanya, membuat dirinya menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan.
Membuat kearoganannya terbentuk, berjalan begitu membuat mata orang-orang memandangnya dengan penuh hormat dan waspada.
Berdiri diluar dengan memasukkan kedua tangannya disaku celananya dengan sambil merokok.
Saat mobil mendekat, mobil itu dengan segera berhenti dan turunlah seorang pria gagah lainnya dan berlari dengan cepat menghampiri Zeno.
Dia datang dengan senyumannya meskipun di dalam hatinya dia sangat ketakutan.
"Tu—Tuan Zeno!" sapanya hormat kepada Zeno dengan juga sembari membungkukkan tubuhnya.
__ADS_1
"Baik! Rey, Sekarang ikuti aku untuk menemui Tuan Mudaku, dia lah yang menentukan akankah dirimu dimaafkan olehnya atau tidak!" ujarnya langsung pergi berlalu dengan diikuti oleh Rey seorang pria barusan, bos dari Geng Winter Dust.
Setelah menaiki lift dan sampai di lantai teratas hotel Aquila, pintu pun terbuka memperlihatkan sosok seorang pemuda di depannya yang tengah duduk dengan sembari memainkan ponselnya.
Karena takut mengganggu tuan mudanya, Zeno dan Rey hanya diam menunggu tuan mudanya selesai sibuk dari ponselnya.
Karena merasa seperti ada yang mengawasi, Syah membelokkan pandangannya dan dia melihat ada seorang yang dia kenal dan satu orang asing disebelah Zeno berada.
"Hm? Kenapa kalian tidak katakan jika kalian sudah menungguku?" tanya Syah berdiri.
"Tuan Muda! Kami tidak berani mengganggumu!" ujar Rey langsung memberi hormat.
"Hm, begini! Kedepannya, aku ingin kalian tidak memberiku hormat seperti itu lagi! Karena bagaimanapun, disini aku yang lebih muda daripada kalian!" kata Syah karena dia menyadari bahwa saat kedua orang yang lebih tua darinya itu memberi hormat, Syah merasa seperti sangat tidak sopan.
"Baiklah Tuan Muda!"
"Oh iya, tadi kenapa bilang mencariku? Kenapa?" tanya Syah kepada Zeno.
"Sebenarnya, tadi saat akan pergi ke kediaman Irmansyah saya akan memberikan hadiah pernikahan Tuan Muda! Hanya saja, belum.sempat sampai sana aku melihat Tuan Muda!" papar dari Zeno menjelaskan.
"Begini, keluarga Irmansyah tidak mengetahui identitasku dan sebaiknya kalian juga merahasiakan ini dari semua orang!" pinta Syah kepada Zeno maupun Rey karena hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu.
"Aku masih bingung kenapa kedua orang tuaku meninggal, padahal keamanan keluarga Kami seharusnya yang terbaik!" ujar Syah dengan matanya yang mulai memerah karena menahan air matanya.
"Tuan Muda tenang saja! Aku pasti akan membantumu mencari tahu penyebabnya!" kata Zeno percaya diri.
"Aku juga akan membantu dengan kekuatan bawah tanahku semampunya, Tuan Muda!" kata Rey yang langsung dipelototi oleh Syah.
Punggung Rey langsung berkeringat dingin, dia takut salah berbicara ataupun akan mendapatkan hukuman karena kelakuan anak buahnya yang telah menyinggung Syah.
"Baiklah aku mengandalkan kalian! Dan siapa namamu?" tanya Syah kepada Rey.
"Namaku Rey, Tuan Muda!" jawab Rey dengan tanpa menunda meskipun hanya tiga detik.
"Tidak perlu seperti ini, santai saja! Dan untuk kalian, kedepannya jika bertemu denganku di tempat umum panggil namaku saja!" kata Syah, dia langsung pamit pergi meninggalkan ruangan.
Meskipun Syah sudah ditawari tumpangan mobil oleh Zeno ataupun Rey, dia menolaknya.
__ADS_1
Bagaimana pun, dia membawa motornya bersamanya, jadi dia tidak bisa meninggalkan motornya. Terlebih lagi, menurut Syah menaiki motor lebih hemat dan cepat karena bisa melewati gang gang perumahan dengan mudahnya.
Syah bergegas pulang, setelah sampai di kediaman Irmansyah. Syah ditunggu kehadirannya oleh Sang Istri disana.
"Hei! Apakah Kamu tidak berniat bercerai denganku?" tanya Zakia.
"Bagaimana bisa? Buka kah sudah kukatakan! Aku tidak akan menceraikanmu!" kata Syah dengan senyum kemenangannya.
"Bukan seperti itu, kenapa Kamu tidak mau cerai? Padahal aku hanya memanfaatkanmu saja!" ujar Zakia merasa bahwa dirinya lah yang memang bersalah kepada Syah.
"Aku katakan sekali lagi, aku tidak akan cerai!" tegas Syah, dia pun berlalu pergi melewati Zakia.
"Hei! Cucuku sudah memintamu menceraikannya! Segera cerai saja! Kamu tidak pantas bersama dengan cucuku!" ketus kakeknya Zakia kesal.
Nenek Zakia berlari mengejar Syah dan berkata, "Jangan pedulikan Kakekmu! Dia hanya mementingkan dirinya sendiri, sudahlah istirahat saja! Ingat, nenek minta kamu tidak boleh menceraikan Zakia ya?" pinta neneknya agar Syah tidak menceraikan cucunya itu.
Mendengar ucapan neneknya Zakia, Syah tersenyum ramah dan sopan terhadapnya. Menyalam neneknya dan pergi untuk ke kamarnya.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
"Zakia! Kamu mau menceraikannya?" tanya sang kakek.
"Kakek! Sebenarnya, aku tidak benar-benar hamil! Aku hanya tidak ingin dijodohkan dengan Alam itu!" ucap Zakia yang langsung berterus terang kepada kakeknya.
"Jadi, Kamu telah membohongi semua orang? Kamu! Apa yang kurang dari Alam? Dia tampan, juga seorang pengusaha! Kenapa Kamu tidak menginginkannya? Kakek sudah susah payah menjodohkanmu dengannya! Baiklah Kakek akan menghubunginya lagi!" kata sang kakek yang dengan tergesa mengeluarkan ponselnya.
Setelah memijit salah satu kontaknya, panggilan telepon pun sesaat kemudian terhubung.
"Begini Pak! Sebenarnya, Kia tidak benar-benar hamil! Dia hanya ketakutan dan mengakui seorang pemuda miskin agar menikahinya untuk sementara, dia pun belum tersentuh, apakah?" tanya sang kakek yang langsung dijawab oleh telepon disisi lain.
"Benarkah? Itu bagus! Kalo begitu, segera urus perceraian mereka dan dengan begitu Alam dan Zakia bisa kembali kita jodohkan!" katanya.
"Benarkah? Baiklah, aku akan segera mengurus perceraian itu pak Bedo!" ujar sang kakek.
Panggilan telepon pun telah diputuskan, Pak Bedo yang berada disisi lain sedang duduk dengan seorang wanita seksi yang sedang menyuapinya makan.
"Sayang! Setelah pernikahan Alam dengannya selesai, kita bisa mengambil alih perusahaan Irmansyah dengan sangat mudah!" ucapnya.
__ADS_1
"Aku mengerti Sayang!" jawab wanita seksi itu yang langsung memeluk Pak Bedo.