
"Tidak! Agar lebih menarik lagi, aku ingin bertaruh denganmu! Bagaimana?" tanya Alam dengan wajah sombongnya.
"Baiklah! Ayo bertaruh!" jawab Syah bersemangat.
"Jika Kau kalah! Kau harus segera menceraikan Zakia!" seru Alam.
"Jika aku kalah, Aku akan memberikanmu lima miliar! Huh! Lagipula itu hanya kata jika! Hahaha!" ujar Alam.
"Bagaimana denganmu?"tanya Alam memastikan Syah.
"Tenang saja! Aku cukup percaya diri dengan kemampuan bermain tennis mejaku!" ujar Syah dengan rasa percaya dirinya.
"Heh! Dia tidak mengenalku! Aku adalah seorang atlet tennis meja terbaik di kota ini! Aku pernah mendapatkan medali emas!" pikir Alam juga yang percaya diri.
Karena Alam merupakan member emas, jadi ada sebuah meja khusus untuk member emas dengan kualitas meja dan peralatan bermain tennis meja yang berkualitas.
Tapi, setelah Syah melihat kualitas yang biasa saja, dia menunjuk salah satu meja dengan set perlengkapan yang lebih baik di salah satu lapangan yang cukup luas.
"Kenapa kita tidak bermain disana?" tanya Syah.
"Aku, Aku hanya seorang member emas! Tidak bisa bermain disana dan harga sekali main disana mencapai seratus juta!" seru Alam memperjelas bahwa lapangan yang diinginkan Syah itu memiliki harga yang mahal.
"Hah? Bukankah Kamu adalah orang kaya?" tanya Syah dengan ekspresi ketidakpercayaan kepada Alam.
"Aku... Aku... Baiklah! Tuan! Aku akan menggunakan lapangan disana!" setuju Alam dan langsung meminta salah satu pelayan disana untuk segera menyetujuinya.
"Karena Tuan Alam adalah member emas, jadi Tuan memang bisa menggunakan lapangan itu, hanya saja pembayaran di setiap satu jamnya ada lima puluh juta, apa Tuan Alam bersedia?" tanya seorang pelayan itu.
"Aku tidak kekurangan uang!" ketus Alam sedikit marah.
"Baiklah, sebentar Tuan! Aku akan menghubungi atasan!"
Setelah menghubungi atasannya, Rey turun ke bawah untuk menemui tuan mudanya.
Baru saja menemui tuan mudanya, "Tuan Rey! Anda perhatian sekali datang menyambutku!" seru Alam.
Syah memberikan sebuah isyarat dengan kedipan matanya dan tentu juga dengan gerakan tangannya.
Syah meminta agar Rey melayani mereka dengan baik dan untuk mengikuti alur.
"Bos! Tuan Alam ingin menggunakan lapangan i—" perkataan pelayan itu dipotong oleh Rey, "Gunakan saja! Aku juga ingin menonton pertandingan!" kata Rey.
__ADS_1
"Lihat itu! Bahkan Tuan Rey saja memperlakukanku sedemikian ini! Kau Sampah yang tidak berguna pasti terkejut melihat kejadian ini bukan?" tanya Alam yang meledek Syah.
"Apa-apaan ini? Dia bukankah temannya Tuan Muda?" batin Rey kesal melihat tuan mudanya dipermalukan seperti itu.
Hanya saja, Syah terus berisyarat untuk tetap tenang dan terus mengikuti alurnya. Jadi, Rey hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yang tuan mudanya inginkan.
"Hebat sekali Tuan Muda Alam! Bisa mendapatkan perlakuan hebat dari Tuan Rey!" kata orang-orang yang ramai sedang berada disana.
"Sebenarnya siapa pria yang diajak bertanding oleh Tuan Muda Alam itu?" tanya salah seorang pengunjung juga.
"Aku tahu! Itu adalah menantu sampah yang bernama Syah! Dia beruntung sekali menikah dengan seorang putri dari keluarga Irmansyah!" seru pengunjung lainnya.
Para pengunjung itu menantikan aksi dari Alam, berbeda dengan Rey yang menantikan aksi apa yang akan dilakukan oleh Tuan Mudanya itu.
Babak pertama dimulai, Alam dengan percaya diri memberikan servis biasa dengan raket tenis mejanya itu.
Syah menangkis serangan Alam dengan tergesa-gesa dan seperti terlihat kaku.
Setelah bola dipantulkan, Alam memberikan smash pada bolanya ke arah meja Syah dan alhasil Syah tidak mampu untuk memantulkan bolanya kembali.
Skor pertama pun dimenangkan oleh Alam, dia sangat percaya diri setelah melihat aksi dari Syah yang terlihat kaku begitu.
Alam senang, "Sebaiknya Kamu menyerah saja agar tidak mempermalukan dirimu sendiri!" ujar Alam.
"Tch! Sudah jelas Kau pasti akan kalah!" ketus Alam.
"Hn? Aku merasa bahwa kaulah yang akan kalah di permainan ini! Apa Kau berani menambahkan jumlah taruhanmu?" tanya Syah meremehkan Alam.
"Apa Kau Bod*h ? Baik, baiklah! Aku hanya ingin Kau menceraikan istrimu! Jika aku kalah, Aku akan memberikanmu sebuah mobil kepadamu!" serunya menjawab Syah.
"Itu berarti, selain lima miliar yang Kau janjikan, masih ada satu buah mobil yang kau bawa itu bukan? Hahaha! Aku sungguh beruntung!" kata Syah dan tertawa.
"Dasar Bod*oh!"
Permainan dilanjutkan, kali ini Syah mengeluarkan kemampuan bermain tennis mejanya yang sesungguhnya.
Dengan setiap servis yang diberikan oleh Alam, pantulan yang diberikan oleh Syah juga sangat istimewa. Bola yang dihasilkan dari pantulannya berputar sehingga saat menuju meja, entah bola itu seperti bisa bergerak dengan sendirinya.
Alam terkejut, karena teknik yang Syah lakukan itu sangat sulit untuk dilakukan bahkan untuk seorang pro sekalipun.
"Aku tadi berpura-pura tidak bisa bermain?" kata Alam kesal.
__ADS_1
"Berpura-pura? Apakah Kau mau mengakui kekalahan sekarang?" tanya Syah bingung.
"Ini tidak benar! Tuan Rey! Dia bermain curang!" kata Alam dengan menyebut Rey di dalam perkataannya.
"Aku tidak melihat satupun kecurangan? Apa kalian semua melihat adanya kecurangan?" kata Rey yang lanjut bertanya kepada para penonton.
Semua penonton mengenal siapa Rey, mereka tidak berani menyinggung Rey. Jadi, mereka hanya bisa mengikuti apa kata yang dikeluarkan oleh mulut Rey.
"Lihat? Semua orang bahkan tidak melihat satupun kecurangan!" seru Rey kesal.
"Tapi—"
"Jika ingin mengaku kalah segeralah! Atau mau melanjutkan pertandingan ini, Aku tergantung padamu!" kata Syah.
"Baiklah!"
"Si*alan! Kenapa Tuan Rey tidak memberikan muka padaku seperti tadi?" tanya Alam kesal di dalam batinnya.
Pertandingan dilanjutkan, dengan kemampuan pantulan yang Syah berikan sudah tentu Alam sangat kewalahan mengejar bola yang jatuhnya sulit sekali diprediksi.
Hingga sampai setelah dua jam pertandingan, dia mengakui kekalahannya.
"Baiklah Aku kalah! Ini kunci mobilku!" kata Alam dengan memberikan kunci mobilnya pada Syah.
"Hanya ini? Apa Kau tidak melupakan sesuatu?" tanya Syah.
"Memangnya apa lagi?" teriak kesal Alam.
"Tuan Rey! Tolong usir orang miskin itu dari sini! Dia bahkan hanya melihat-lihat di dalam dan bukanlah seorang member disini!" seru Alam yang meminta agar Syah segera diusir.
"Tch! Setelah Kau memberikanku 5 miliar itu! Aku akan—" kata Syah yang langsung dipotong oleh Alam.
Alam yang baru saja memotong pembicaraan Syah itu juga sedang memegang kerah baju pakaian Syah.
Karena kesal, salah satu pukulanmu langsung diluncurkan.
Buuuggh
Tubuhnya terjatuh dan kesakitan, "Argh! Sakit sekali! Siapa yang berani memukulku! Aku adalah member emas di tempat ini!" teriak Alam.
"Aku! Memangnya kenapa?" tanya Rey yang sedang mengelap tangan kanannya yang baru saja memberikan satu pukulan kepada Alam.
__ADS_1
Alam terkejut karena ternyata Rey lah orang yang telah memukulnya, dia tentu tidak berani melawan. Alam terpaku, diam lemas terduduk dilantai.