
Setelah penumpang itu menaiki motornya, dia memeluk Syah dan menempelkan bagian atasnya kepada Syah.
"Ingat Syah! Ini adalah pelanggan pertamamu, kamu harus sabar meskipun ini seharusnya tidak boleh!" pikir Syah.
Syah melihat ke lokasi yang sudah diterapkan di aplikasi itu, dia langsung bergegas menarik pedal gasnya dan melajukan motornya.
Wanita itu tiba-tiba berteriak, "Berhenti!" itu membuat Syah terkejut, sebenarnya apa yang telah terjadi?
Syah memberhentikan motornya secara perlahan, wanita itu lanjut berkata, "Sebaiknya kita pergi ke danau saja!"
"Tapi, Nona? Bukankah tadi Kamu akan pergi ke pusat kota?" tanya Syah lagi.
"Tenang saja! Masalah harga tidak perlu dipikirkan!" katanya lagi.
"Maaf Nona! Jika seperti itu, seharusnya Anda membatalkan pesanan ini saja, bagaimana?" tanya Syah kembali.
"Hei! Bukankah sudah aku katakan, Tampan! Aku akan membayarmu lebih dan juga tidak perlu cemas! Atau kita pergi ke hotel dan aku akan membayarmu?" tanya pelanggan wanitanya itu.
"Maaf Nona! Sepertinya aku harus sedikit bertindak kasar!" kata Syah, dia langsung mengambil alih ponsel wanita itu dari tangannya dan dengan segera membatalkan pesanan itu.
"Hei Kau! Hanya seorang tukang ojek online, berlagak suci di depanku!" ketus wanita itu kepada Syah.
"Ini adalah kehidupanku, bagaimana pun juga jalan cerita ini akulah yang memutuskannya dan kau tidak perlu berkomentar lebih!" kata Syah kesal dengan wanita bejat itu.
"Bagaimana jika aku membayarmu lima juta untuk tidur satu malam denganku!" seru wanita itu masih tetap menggoda Syah, dia memeluk Syah sehingga lengan Syah dikepung oleh dua gunung yang empuk.
Hanya saja, "Enyahlah! Bahkan satu dunia ini tidak bisa memerintahku jika aku tidak sukarela melakukannya!" tegas Syah kepada wanita itu.
"Heh benarkah? Hanya tukang ojek online, aku yakin kamu akan tertarik dengan ini, ayo ambillah!" kata wanita itu setelah mengeluarkan sejumlah uang dan ditaruh diatas gunung kembarnya itu.
Uang itu diperkirakan ada lebih dari lima juta dan Syah tidak memandangnya, bagaimana pun juga uang Syah di dalam rekening hanya kurang sedikit dari jumlah sepuluh miliar.
"Dasar tidak waras!" ketus Syah, dia menaiki motornya dan menyalakan motornya.
"Hei! Aku sudah memotretmu! Apakah Kau tahu! Aku adalah kekasih dari salah satu pedang dari ketujuh pedang dari Geng Winter Dust?" kata wanita itu mengancam Syah.
"Winter Dust? Itu lagi, astaga tidak ada habis-habisnya!" pikir Syah.
"Oh seperti itu!" jawab Syah tidak peduli.
__ADS_1
"Tolong! Tolong! Tolong!" teriak wanita itu minta tolong sehingga banyak sekali orang yang mendatangi mereka.
"Ada apa ini?" kata seorang pria yang baru saja menghampiri mereka pada saat wanita itu berteriak.
"Dia! Dia telah melecehkanku!" kata wanita itu memfitnah Syah.
"Aku bahkan tidak menyentuh mu! Jika ku bawa tim forensik, itu akan segera dapat dideteksi!" kata Syah membela dirinya.
"Tapi, tidak apa-apa sebentar lagi pacarku datang kemari dan membawa dia ke penjara!" kata wanita itu lanjutnya.
"Jadi, kita hanya perlu menahannya sesaat disini?" tanya sekelompok orang yang berada disana.
Setelah menunggu beberapa saat, sebuah mobil merah tiba disana.
Keluarlah sosok seorang pria dari mobil itu, "Bos! Itu adalah pria yang memukuli kita waktu itu!" kata salah seorang pria yang juga turun dari mobil.
Bukan hanya satu mobil saja yang ternyata, ada tiga mobil yang berhenti disana.
"Jadi dia ya? Kamu segera ikut dengan Kami! Kamu tidak mungkin berani melawan dengan banyaknya jumlah Kami kan?" saran dari pria yang mereka anggap bosnya itu.
"Aku akan mengikuti permainan ini!" batin Syah dan dia langsung setuju untuk ikut dengan mereka.
"Oh iya, aku akan menggunakan motorku, tenang saja aku tidak akan melarikan diri!" kata Syah.
"Salah satu dari kalian, ikut bersama dia menaiki motornya!" kata Noir memerintahkan bawahannya.
Setelah itu, mobil Rey dan kedua mobil iringannya itu segera meninggalkan tempat itu. Semua orang yang menyaksikan tidak berani berkomentar pada saat itu.
"Betapa si*lnya nasib pemuda itu! Rupanya hanya permainan dari Geng Winter Dust!" kata salah seorang pria yang berada disana.
"Lagipula, jika kita membantunya kita akan mendapatkan penyesalan, sudahlah itu salah Pemuda itu karena telah menyinggung Geng Winter Dust!"
"Benar salahnya karena telah menyinggung salah satu pedang di Geng Winter Dust, tadi adalah ketua Noir sepertinya!"
Kerumunan itu segera bubar setelah menyaksikan seorang pemuda yang sudah dipikirkan oleh mereka bahwa nasibnya tidak baik baik saja nanti.
♪~(´ε` )
__ADS_1
Setelah sampai di sebuah gedung, di pinggiran kota. Syah memarkirkan motornya di sembarang tempat karena mobil lainnya juga seperti itu.
"Oh jadi ini markasku? Ternyata gelap dan kecil! Jelek sekali!" kata Syah setelah melihat bangunan yang kumuh itu.
"Hei! Kau masih berani menghina markas ini!" seru Noir kesal, saat dia hendak memulai pertarungan dengan Syah dia menahan pukulannya.
"Ah! Sudahlah! Aku tidak ingin mengotori lenganku! Sebaiknya kamu bersiap-siap dengan penyiksaan yang akan Kamu hadapi nanti karena telah membuat wanitaku tidak senang!" ketusnya mengancam Syah.
"Oh? Kenapa tidak sekarang saja?" tanya Syah kebingungan.
"Si*alan! Semuanya pukuli dia hingga babak belur!" teriak Noir kepada para bawahannya itu.
Dengan segera sepuluh orang langsung menghampiri Syah dan berniat akan mengkroyoknya.
Baru saja sedekat lima puluh sentimeter, satu persatu dari mereka terpental karena tendangan Syah yang begitu cepat.
Dengan cepat Syah memukuli dan menendang para bawahannya yang semakin dekat dan hendak menyerang Syah.
Setelah sepuluh menit berkelahi, ke sepuluh orang yang mengepung Syah telah berbaring kesakitan di tanah.
Noir mengeluarkan senjata apinya yaitu pistol dan menodongkannya kepada Syah.
Saat tombol tembak pistol akan ditekan.
Dooorrr
Sebuah darah muncrat dan ada teriakan kesakitan, "Arghh! Siapa disana yang berani menembakku?" teriak Noir dan langsung mencari tahu darimana asal tembakan itu.
Setelah melihat asal tembakan itu dia menjadi semakin kesal, "Adam! Kau berani sekali menembakku? Akan aku adukan Kau kepada ketua Rey!" ancam Noir kepada Adam, seseorang yang baru saja menembak lengan Noir.
Seorang pria yang bernama Adam itu menghiraukan kata-kata ancaman dari Noir, dia langsung bergegas menghampiri Syah.
Syah tersenyum melihat pria yang kemarin dipukuli olehnya kini menyelamatkan nyawanya.
"Hei! Kau sudah semakin sombong sekarang, Adam!" ketus Noir kesal.
Adam tetap menghiraukan Noir, "Tuan Muda, maaf aku terlambat datang!" hormatnya kepada Syah.
"Tidak apa, lagipula Kamu datang tepat waktu kemari, padahal aku tidak menghubungimu!" kata Syah dan menepak pundak Adam.
__ADS_1
"Tuan Muda?"