Tuan Muda Syah

Tuan Muda Syah
Bab 19


__ADS_3

"Di Negeri ini! Tidak ada siapapun yang bisa mengancam ku!" lanjut Syah.


Rey memanggil beberapa anak buahnya yang lain untuk segera memasuki ruangannya.


Terlihat seorang pria berkulit hitam dengan tubuhnya yang sangat kekar, memiliki sebuah mata dengan tatapan tajam.


"Jika Kamu tidak melunasi 5 Miliar, taruhan kita! Maka Kamu sendiri akan merasakan akibatnya!" ancam Syah.


"Ada apa ini? Syah adalah seorang Tuan Muda dari Tuan Rey? Hei jangan bercanda? Dia adalah Tuan Rey! Bahkan orang terkaya di kota ini pun berada di bawah kekuatan Tuan Rey! Satu-satunya jalan hanya ada Tuan Zeno! Tapi, siapa dia? Bagaimana aku bisa berhubungan dengan dia?" pikir Alam sangat stres.


"Oh iya! Aku punya nomor Tuan Zeno! Apakah Aku meminta bantuannya saja?" batin Alam, dia mendapatkan sebuah cahaya harapan.


"Se-sebentar!" ujar Alam dengan gugup dan ketakutan.


Alam mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya, setelah dikeluarkannya dia langsung mencari catatan dari nomor telepon orang-orang yang memiliki relasi dengannya.


Alam terkejut senang karena dia menemukan nomor ponsel milik Zeno di dalam ponselnya, dia langsung tidak tinggal lama untuk menghubungi Zeno.


Triing


"Hm? Iya Halo?" tanya seorang Zeno dari ujung telepon.


"Ini Aku Tuan Zeno, hehe.. Aku Alam dari Bedo Group, apakah Tuan bisa membantuku?" tanya Alam dengan rendah hati.


"Oh! Zeno, rupanya!" batin Syah yang mendengar Alam menyebutkan nama Zeno di depannya.


Syah langsung mengirimkan pesan teks kepada Zeno dengan segera.


"Oh! Baiklah, ada dimana Kamu sekarang?" tanya Zeno kepada Alam.


"A-Aku ada di pusat kebugaran di tengah kota, Tuan!" seru Alam bahagia.


"Baiklah! Milik Rey kan? Aku akan segera kesana!" seru Zeno dan panggilan itu pun langsung terputus.


Rey yang hendak memberitahu kebenaran segera di tahan oleh gelengan kepala Syah.


"Lihat! Setelah Tuan Zeno membantuku, dia akan menghancurkan Kalian! Hahaha!" ancam Alam, namun Syah dan Rey tidak menanggapi Alam dengan serius.


Acuh tak acuh mereka terhadap Alam, dua pengawal berkulit hitam lebih suka memainkan sebuah permainan di depan Alam.


Keduanya adu suit, yang menang mereka bisa menampar pergelangan tangan Alam. Alam hanya sedih, di dalam hatinya dia sedikit bahagia setelah akan kedatangan Tuan Zeno.

__ADS_1


Satu-satunya orang yang bisa dia harapkan itu, tiba-tiba saja seorang pria tua memasuki ruangan ini.


Melihat sosok seorang pemuda yang asik dengan ponselnya, dia sangat mengenali Syah. Seorang menantu sampah yang dia tidak senangi.


"Hei! Sialan, kenapa Kamu menangis Alam?" tanya Tuan Bedo yang langsung menghampiri anaknya itu.


Bedo bingung, kenapa Ayahnya datang kesana dan dimana Tuan Zeno?


"Kau berani melakukan ini kepada Anakku! Lihat saja setelah Kau dan putri dari Tuan Irmansyah bercerai! Aku akan menikahkan putraku dan dia!" ancam Tuan Bedo.


"Oh? Kenapa Kalian sangat percaya diri untuk bisa menikah dengan Zakia?" tanya Syah, dia penasaran.


"Karena Kita adalah orang yang tidak bisa disinggung oleh keluarga mereka! Hahaha!" teriak Tuan Bedo bahagia.


"Bahkan Tuan Zeno berada dipihakku! Di kota ini, tidak ada siapapun yang bisa mengancam ku!" seru Tuan Bedo, dia sombong.


"Keluarga Kaya bukan? Ya sudah, tadi putramu bertaruh denganku 5 miliar, aku akan melepaskan kalian setelah Kalian membayarnya!" kata Syah dengan datar.


"Hei! Bahkan ada Tuan Zeno yang menjadi pendukungku dan Kau masih berani meminta uang itu kepadaku!?" tanya kesal Alam.


"Oh tidak mau membayar?" tanya Syah, "Tampar kedua pipi orang itu!" ketus Syah dengan nada dinginnya.


Plakk


"Kenapa Tuan Zeno tidak kemari? Bukankah dia ingin melindungi kami?" gumam Alam, disahuti dengan ayahnya, "Sabar! Tadi Tuan Zeno mau ke toilet katanya!"


"Cepat bayar atau Kalian akan segera menjadi badut!" seru Syah mendesak pasangan anak dan ayah itu.


"Hei!" kesal Tuan Bedo.


"Sudah beristri masih bermain dengan wanita lain? Sudah mau bangkrut berniat menikah dengan putri keluarga Zakia? Hmph! Pasti Kamu hanya mengincar hartanya?" tanya Syah dengan memaparkan apa yang diketahui olehnya.


Syah mengetahui itu semua dari pesan teks yang diberikan oleh Zeno kepada dirinya.


"Hah? Rupanya informasimu cukup akurat! Hanya saja, setelah ini hidupmu akan tamat!" ancam Alam dan disahuti oleh ayahnya, "Itu benar!"


Zeno memasuki ruangan, Alam dan Ayahnya langsung berdiri dan berdiri ke samping Zeno.


Tuan Zeno merasa muak, hanya saja dia tetap mengikuti arahan dari Syah dari pesan teks yang dikirimkan oleh Syah kepadanya.


Isi pesan teks tersebut ialah.

__ADS_1


Nanti, Kamu terima untuk apa yang Alam katakan, setelah itu Kamu bawalah Ayahnya kemari, dan segera cari informasi tentang keluarga ini!


Baru saja Zeno akan memberikan salam hormat kepada tuan tuan mudanya, "Ayo Tuan Zeno! Lenyapkan sampah itu!" seru Alam dengan gembira.


Buuggh


Satu tonjokan mendarat tepat di wajah Alam, hidungnya langsung mengeluarkan darah, biasanya di sebut mimisan.


"Ahh! Tu-Tuan Zeno, apa yang Kau lakukan?" tanya bingung Alam, dia mengusap hidungnya yang kesakitan dan mengelap darah yang keluar dari hidungnya.


"Kenapa semua orang memukulku hari ini?" tanya Alam yang berteriak sedih di dalam hatinya.


Zeno melanjutkan langkahnya, "Tuan Muda! Saya sudah membawa Ayahnya! Maaf terlambat, bawahan baru saja ke toilet karena tidak kuat menahan air kecilnya!" sapa Zeno dan dilanjutkan dengan alasan dia terlambat.


"Oh iya! Ya sudah, tagih hutang mereka yang 5 miliar itu!" seru perintah dari Syah kepada Zeno.


Zeno membalikkan badannya, "Segera kirimkan uangnya!" seru Zeno tegas.


"Dari mana Kami mempunyai uang sebanyak itu?" tanya Tuan Bedo ketakutan.


"Tuan Zeno bahkan memanggil Syah tuan muda? Sebenarnya siapa itu Syah? Bukankah Tuan Zeno adalah yang terkuat di kota ini? Kenapa dia memanggil menantu sampah itu sebagai Tuan Muda?" batin Alam kebingungan.


Alam menjatuhkan dirinya, meskipun lututnya terbanting ke bawah lantai, Alam tidak merasakannya karena saat ini yang ada di dalam pemikirannya hanyalah sosok seorang tuan muda dari seorang penguasa di kota ini.


Alam menangis, "Aku tidak menyangka! Bahkan seorang pemilik hotel Aquila saja memiliki seorang majikan? Ha ha!" kata Alam, semua harapannya sirna.


Terus menerus berbicara sendiri seperti sudah kehilangan akal sehatnya, Syah jadi kasihan kepada mereka.


"Perusahaanmu sepertinya bernilai sepuluh miliar?" tanya Syah kepada Tuan Bedo.


"I-itu benar Tuan Muda! Ta-tapi!" kata Tuan Bedo yang gugup.


"Aku akan mengambil alih perusahaanmu itu!" seru Syah.


"Ba-baiklah, aku tidak berani menentangnya!" jawab Tuan Bedo. Meskipun dia menerimanya, hanya saja dia sudah menyinggung Syah. Dia tahu, jika dia tidak menerimanya kemungkinan terbesar bukan hanya kehilangan perusahaannya saja. Bahkan, dia bisa kehilangan nyawanya karena Tuan Rey adalah seorang penguasa dunia bawah tanah.


Hancur semua harapannya, putranya bahkan sudah terlihat seperti seorang idi*ot yang terus menerus berkata seorang diri.


Setelah sebuah surat pengalihan kepemilikan perusahaan, Tuan Bedo pamit kepada Syah dengan membawa putranya yang masih menggila.


"Tunggu!" seru Syah memanggil sebelum Tuan Bedo mencapai pintu keluar ruangan milik Rey.

__ADS_1


Keringat dingin bercucuran kembali, Tuan Bedo menjadi kebingungan.


"Sebenarnya ada apalagi?" batin Tuan Medo ketakutan.


__ADS_2