Tuan Muda Syah

Tuan Muda Syah
Bab 7


__ADS_3

Di dalam kamar, Syah sedang mengenakan pakaian kemejanya dengan rapih.


"Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Zakia kepada Syah.


"Oh! Aku mendapatkan pekerjaan menjadi seorang petugas keamanan di mall pusat kota!" seru Syah bangga karena dia mendapatkan pekerjaannya.


"Bukankah sudah kukatakan, jangan mengambil pekerjaan rendahan? Itu akan membuat harga diri keluarga Irmansyah jatuh " ketus Zakia marah karena Syah tidak mau mendengarnya.


"Aku sebagai seorang suami memiliki tanggung jawab untuk menghidupimu, sedangkan uang hasil jerih payahmu adalah milikmu, tidak perlu kamu membaginya untukku!" jawab Syah dengan langsung mengambil sebuah tas.


"Kamu akan berangkat sekarang? Kenapa tidak makan terlebih dahulu?" tanya Zakia.


"Tidak sempat, nanti aku akan membeli nasi kuning di perjalanan saat pergi ke sana!" jawab Syah tersenyum kepada Zakia.


Syah langsung pamit, sebelum pamit dia memikirkan untuk dapat bersalaman dengan Zakia, hanya saja Zakia belum bisa menerima Syah apa adanya.


"Andaikan Kamu tidak dikelabui olehku, mungkin istrimu nanti akan bahagia mendapatkan suami sepertimu?" tanya Zakia di dalam pikirannya.


Zakia merasa bersalah kepada Syah, dia langsung bersiap untuk pergi ke perusahaan Incode untuk membahas soal kerja sama proyek besarnya di kemudian hari.


⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐


Hari ini adalah tanggal merah, hari libur untuk anak sekolahan.


Yaya sudah membuat janji bersama teman-temannya untuk jalan-jalan di hari ini.


Sebuah mobil hitam berhenti di depan kediaman keluarga Irmansyah, setelah mendengar deru mobil itu, Yaya langsung beranjak pergi dari atas kasurnya untuk segera menghampiri mobil itu.


Baru saja keluar dari kediamannya, Yaya begitu bahagia karena melihat sosok temannya yang berada di dalam mobil itu.


"Loti! April! Memey! Kalian sudah sampai!" seru Yaya bergembira, setelahnya Yaya bergegas masuk ke dalam mobilnya.


"Memey! Dimana supirmu?" tanya Yaya penasaran.


"Bukankah aku sudah delapan belas tahun? Aku sudah memiliki surat izin mengemudi, Ya!" jawab Memey dengan bangga.


"Hilih! Aku juga sudah bisa mengendarai mobil, hanya tinggal membuat surat izin mengemudi saja, tidak perlu dibanggakan!" ketus Loti menyombongkan dirinya sendiri karena dia juga bisa mengendarai mobil.


"Sudahlah! Ayo kita berangkat!"


Perdebatan itu segera terhentikan oleh kata-kata dari Yaya, Memey pun dengan segera menginjak gas mobil dan laju mobil perlahan pergi menjauh dari kediaman keluarga Irmansyah.


Mobilnya melaju dengan kencang, menyalip mobil-mobil lainnya.

__ADS_1


Sebuah mobil berwarna merah yang dirinya disalip oleh mobil Memey merasa kesal, melihat ada empat orang gadis cantik, dia menjadi bersemangat.


"Teman-teman, apa kalian melihatnya?" tanya si supir mobil merah kepada tiga temannya yang berada di dalam mobil merah.


"Maksudmu empat orang gadis cantik itu?" tanya salah seorang temannya heran.


"Benar! Mari kita bermain bersama mereka nanti!" seru si supir dengan tawa licik.


Mobil merah pun melaju kencang, di tengah kota. Mobil merah itu dengan ganasnya membalap mobil hitam milik Memey.


Banyak para pejalan kaki dan pengendara mobil ataupun motor yang kesal dengan aksi yang dilakukan oleh kedua orang itu.


Tapi, apa yang mereka bisa lakukan? Kedua mobil itu merupakan mobil mewah, mereka tidak berani menyinggungnya.


Memey terkejut melihat satu mobil merah sedang menyusulnya di belakang.


"Hei cantik? Mau balapan?" tanya si supir mobil merah yang sudah menyamai mobil hitam kepunyaan Memey dengan tepat berada di sampingnya.


Memey langsung menginjak gas, menaikkan gigi supaya akselarasi mobil meningkat.


Mobil menjadi lebih cepat, mobil merah itu tertinggal, tapi tiba-tiba mobil merah itu dengan melesat lebih cepat langsung menyusul mobilnya Memey.


Memey terkejut, setelah mobil merah berada di depan mobil Memey, lajunya diperlambat.


Seorang pria keluar dari mobil merah itu, dia berjalan menuju mobil hitam Memey.


Mengetuk kaca mobil dan berkata, "Hei cantik! Ayo kita bersenang-senang ke tempatku?" ajak dari pria asing itu kepada semua gadis yang ada di mobil Memey.


"Tidak mau! Kita tidak saling kenal!" seru Memey kesal.


"Oh? Menolak permintaanku? Apa kalian tahu aku ini dari Geng Winter Dust!" ancam dari pria itu kepada para gadis yang berada di dalam mobil.


Geng Winter Dust, siapa yang tidak tahu dengan keberadaan kelompok itu di kota B. Geng Winter Dust merupakan sebuah kelompok yang menguasai dunia bawah di kota B.


Dengan pemimpinnya bernama Jun, memiliki tujuh pedang kegelapan dan dua ribu lebih jumlah para anggota gengnya.


"Aku adalah anak buah langsung dari ketua Rey!" serunya tetap mengancam.


Di kejauhan, Syah melihat ada yang tidak beres dari mobil hitam yang sedang dihadang oleh mobil merah. Melihat seorang pria keluar dari mobil merah dan sewaktu mobil hitam terbuka, nampaklah sosok gadis.


"Ada yang tidak beres!" batin Syah mendapatkan sebuah intuisi yang buruk.


"Senior! Aku mau memeriksa disana!" kata Syah kepada seniornya yang langsung diangguki olehnya karena memang seperti ada sebuah masalah.

__ADS_1


"Eh! Aku ikut juga!" seru seniornya yang langsung mengejar Syah.


"Masalah seperti apa ya disana?" tanya Syah.


"Mungkin hanya sebuah masalah kecil!" jawab seniornya.


Sampailah Syah dan seniornya berada di belakang pria yang sedari tadi terus berdiri di depan kaca pintu mobil merah.


"Kakak Ipar!" teriak Yaya dan langsung keluar dari mobil Memey.


Teman-teman Yaya terkejut, Yaya mengatakan kata Kakak Ipar setelah melihat dua orang petugas keamanan.


Setelah menghampiri kakak iparnya, Yaya langsung menuju ke belakangnya.


"Hei! Kamu garis yang tercantik disini! Ayo! Ikut bermain bersamaku!" ujarnya yang menghiraukan kehadiran dua orang petugas keamanan.


"Untuk apa kamu mengajak adikku bermain? Memangnya Kau mengenali adikku?" tanya Syah dengan nada dinginnya.


"Hei! Sebuah kehormatan bisa bermain dengan kami Geng Winter Dust!" seru pria tadi yang mengancam dengan nama gengnya.


"Hee? Winter Dust? Apa-apaan itu? Memang nama yang keren, tapi ada apa dengannya?" tanya Syah meremehkan nama geng Winter Dust.


"Syah! Sebaiknya kamu serahkan adikmu, kita tidak bisa menyinggung geng itu! Geng Winter Dust merupakan kekuatan dunia bawah di kota ini!" bisik Jun kepada juniornya.


"Maaf saja! Silahkan pergi, tidak ada yang bisa mendapatkan Adikku tanpa persetujuan dariku!" kata Syah yang langsung mengusir pria di depannya dan menghiraukan seniornya.


Seniornya langsung menangkap Yaya, mendorong Syah dan memberikannya kepada pria dari Geng Winter Dust.


"Ck!" tawa Syah kecil.


Buuukk Bukkk


Buukk


Tiga pukulan dilemparkan oleh Syah kepada Seniornya.


"Hei! Kau berani memukul seniormu?" teriak seniornya itu.


"Berisik dasar sampah!" jawab Syah dingin dan langsung dengan cepatnya bergerak dan menendang kepala pria dari Geng Winter Dust.


Melihat keributan dari dalam mobil merah, tiga pria temannya keluar dari sana dengan memamerkan otot-ototnya dan berlagak kuat.


Syah menangkap Yaya dan mengiringnya supaya berada di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2