
Tok Tok
Sebuah deru mobil yang memasuki pekarangan kediaman Irmansyah membuat semua bingung, di pagi hari sudah mendapatkan seorang tamu.
Mereka semua bingung dan tidak tahu menahu kecuali kakek Zakia yang berdiri dengan segera, dia meninggalkan makannya dan berlalu pergi meninggalkan ruang makan.
"Setelah makan selesai Kalian segera berkumpul di ruang tamu!" kata sang Kakek.
Bergegas keluar dengan jalan yang tertatih-tatih karena usianya sudah benar-benar tidak bisa dikatakan muda lagi.
Setelah membuka pintu, terlihat sebuah mobil Porsche hitam yang berhenti di depan kediamannya.
Kakek itu tersenyum, menyambut kedatangan tamunya itu, "Pak Bedo, apa kabar?" tanya sang Kakek kepada seorang tamu yang ternyata bernama Bedo.
"Halo Kakek Mertua!" sapa seorang pemuda yang cukup tampan yang berada di samping Pak Bedo.
"Alam! Sudah datang, mari kalian masuklah!" kata sang Kakek.
Alam Bedo, dari keluarga Bedo anak satu-satunya dari Roger Bedo.
Bedo merupakan salah satu keluarga kaya di kota B, keluarga Bedo mendapatkan penghasilan dari bisnisnya di bidang restoran.
Sudah ada lima puluh restoran yang berada di kota B, itulah yang membuat keluarga Bedo menjadi salah satu keluarga terkaya di kota itu.
"Kakek! Apa benar Zakia belum pernah disentuh oleh sampah itu?" tanya Alam dengan segera.
"Kenapa hatiku merasa sakit?" batin sang kakek setelah Alam bertanya seperti itu.
"Belum, lagi pula Zakia tidak menyukai suaminya!" jawab sang kakek itu dengan pelan.
Saat sampai di ruang tamu, pelayan kediaman keluarga Irmansyah dengan segera membawakan jamuan seadanya, karena membawakan jamuan adalah adat baik yang biasa dilakukan saat ada seorang tamu datang.
Tidak merugikan sama sekali, jika tuan rumah memberikan sebuah pelayanan yang baik kepada sang tamu maka akan selalu ada timbal baliknya, biasa disebut dengan karma yang baik.
"Silahkan di makan! Hanya ada kue biasa saja dan kopi arabica juga yang tidak terlalu mahal!" kata sang kakek setelah jamuan tiba.
__ADS_1
"Tidak perlu repot-repot sebenarnya, ini sudah lebih dari cukup dan lagi kopi ini cukup mahal seperti yang ku ketahui?" ujar Pak Bedo setelah merasakan rasa dari kopi arabica itu.
"Aku tidak terlalu tahu dengan macam-macam kopi hanya saja, kopi ini memang kopi dengan harga yang mahal, Pih!" kata Alam berterus terang.
"Selamat datang para tamu sekalian!" sapa hormat dari Syah yang tiba-tiba muncul di ruang tamu bersamaan dengan Zakia.
"Untuk apa Kamu kemari? Sudahlah pergi ke kamarmu atau pergi mencari pekerjaan! Akan ada pembahasan keluarga disini!" seru sang kakek.
"Bukankah, aku adalah menantu keluarga Irmansyah, itu artinya aku juga—" kata Syah namun dipotong oleh sang kakek.
"Enyahlah! Aku tidak sudi memiliki menantu sampah sepertimu!" ketus sang kakek sedikit berteriak.
"Kakek sebentar lagi ulang tahun, aku sudah menyiapkan hadiah yang spesial untuk ulang tahun kakek nanti!" kata Alam tersenyum.
"Apakah Kau sudah menyiapkan hadiah untuk kakek? Eh, itu tidak mungkin juga atau jika kamu memberikan hadiah untuk kakek pasti harganya sangat murah ya?" tanya Alam dengan menatap jijik kepada Syah.
Syah hanya tersenyum, "Jika aku memberikan satu satu perusahaan pun aku mampu melakukannya, tapi aku tunggu saja penampilan kakek mertuaku!" kata Syah meremehkan kakek mertuanya, dia beranjak pergi dari sana.
Ketika Zakia akan mengikuti Syah bersamanya, sang kakek berkata, "Zakia! Mau kemana Kau? Duduk cepat kesini!" perintah sang kakek tidak bisa dibantah oleh Zakia karena kedua orang tuanya juga meminta hal yang sama.
Syah keluar dari sana, pergi ke parkiran tempat dimana dia menyimpan motornya.
Disisi lain, di ruang tamu tempat keluarga Zakia berkumpul disana sang kakek tertawa, "Haha! Benar, aku memang menjodohkan kalian!" kata sang kakek.
"Ayah, Zakia kan sudah bersuami, mana bisa?" tanya Hani, ibunda dari Zakia.
"Huh! Itu hanya sebuah kebohongan dari Zakia, dia mengatakannya pada saat itu karena ingin menghindari perjodohan ini!" ketus sang kakek.
"Jadi begitu ya? Awas saja Kamu Zakia, setelah ku menikah denganmu aku akan membuatmu menjadi seorang istri yang sangat patuh kepada suamimu, aku!" batin Alam memikirkan sebuah rencana kecilnya.
"Tapi Kakek!" kata Zakia agak berteriak.
"Tidak ada tapi-tapi, setelah kalian bercerai maka di saat itu aku akan menikahkan Kalian berdua! Lihatlah Alam, dia tampan dan berpendidikan siapa wanita yang tidak mau dengannya?" tanya sang kakek memaparkan kualifikasi dari Alam.
"Huh! Tampan? Lebih tampan suamiku! Eh, maksudnya lebih tampan Syah sih sebenarnya!" pikir Zakia, dia terkejut karena dirinya sendiri mengakui ketampanan dari seorang suaminya itu.
"Sudah diputuskan, nanti kalian bantu urus perceraian mereka berdua!" perintah sang kakek kepada anaknya dan menantunya, yaitu Sulaiman Hakim dan Hani.
__ADS_1
Obrolan terus berlanjut, sampai mereka mengganti topik tentang bisnis dan terus berlanjut entah sampai kapan.
♪~(´ε` )
Syah sudah berada di atas motornya, dengan mengenakan jaket ojek onlinenya.
Baru saja mengemudi beberapa saat, sebuah getaran ponselnya membuat dia menghentikan perjalanannya.
Melihat sebuah notifikasi ponsel, dia senang sekali. Karena notifikasi itu merupakan sebuah pesanan ojek pertamanya.
Segera melihat lokasi yang telah ditetapkan di aplikasi, Syah bergegas menuju ke lokasi si pelanggannya.
Tidak lama Syah sampai, dia melihat sebuah rumah yang agak besar yang merupakan sebuah lokasi dimana pemesan itu ada.
Menekan ponselnya untuk menghubi si pemesan, akhirnya panggilan itu diterima, "Halo! Ojek Online sudah tiba di lokasi!" kata Syah.
"Seperti suara seorang pria tampan?" batin si pelanggan.
"Sebentar Mas! Masih dandan untuk sebentar saja!" kata pelanggannya itu dengan gugup.
Sebenarnya, tadi dia sudah bersiap-siap untuk berangkat, pelanggan itu memastikan sosok pengemudi ojeknya dari lantai atas.
Mengintip di antara lain gordeng kaca rumahnya dan dia terkejut karena pengemudi ojeknya bukan hanya sekedar tampan suaranya.
Ternyata pengemudi ojeknya itu sangatlah tampan, dia bergegas mengambil make up nya dan langsung merapikan dandanannya serta mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang sedikit terbuka.
Setelah dua puluh menit berdandan, dia pun keluar dari kediamannya.
Memang cantik, hanya saja itu tidak bisa membuat hati Syah tergerak sedikit pun.
"Ini helmnya!" kata Syah yang menyodorkan sebuah helm kepada pelanggannya.
"Baiklah!" jawabnya dan mengambil helm itu, ketika mengambil helm itu dia juga sedikit lama menatap Syah dan menyentuh lengannya Syah.
Membopongkan dadanya dan berpose sedikit seksi dengan pakaian di bagian dadanya terbuka dan memperlihatkan sebuah belahan.
Syah tidak memperhatikan itu, dia, "Uhuk! Ini helmnya!" kata Syah kembali menyadarkan pelanggannya itu.
__ADS_1
"Ingat Syah! Ini pelanggan pertamamu!" serunya di dalam hati.