Tuan Muda Syah

Tuan Muda Syah
Bab 16


__ADS_3

"Tuan Muda?" batin Noir kebingungan.


Adam langsung menendang Noir begitu saja, Noir tidak bisa melawan Adam karena saat ini tangannya baru saja tertembak dan merasakan sakit yang belum pernah dia rasakan.


"Kau bahkan berani menyinggung Tuan Muda?" teriak Adam bertanya, dia dengan segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ketua Rey.


"Ketua?" tanya Adam sedikit gemetar.


"Ada apalagi? Jangan-jangan Kamu membuat ulah lagi seperti kemarin?" tanya Rey kesal.


"Tuan Muda ada di luar saat ini, apa—" kata Adam dengan perlahan, hanya saja sebelum selesai berbicara sambungan telepon itu terputus.


Rey berlari kencang dari ruangan markasnya disana, untuk segera keluar menghampiri Tuan Mudanya.


"Tuan Muda!" sapa Rey dari jauh dan berlari kencang.


"Apa maksudnya ini? Apanya Tuan Muda? Seorang tukang ojek online adalah seorang tuan muda?" pikir Noir kebingungan.


Setelah sampai disana, dia melihat lengan Noir bercucuran darah dan Rey sedikit terkejut.


"Tuan Muda? Sebenarnya apa yang baru saja terjadi?" tanya Rey khawatir.


"Sebenarnya tadi aku sedang berolahraga dengan sepuluh bawahanmu, saat aku lengah aku hampir ditembak olehnya, untung saja Adam menembaknya dengan tepat waktu!" kata Syah.


"Maafkan bawahan Tuan Muda! Bawahan tidak mendidiknya dengan benar!" ucap Rey yang langsung memohon pengampunan.


"Tidak apa! Sudahlah aku ingin melihat-lihat kedalam saja!" kata Syah.


"Tuan Muda! Maafkan bawahan! Bawahan tidak mengenal Tuan Muda! Bawahan—"kata Noir yang langsung dipotong oleh Syah.


"Tidak apa! Kalian belum mengenalku, itu saja! Untuk saat ini, aku akan memaafkan semuanya!" ujar Syah dan berlalu masuk ke dalam markas itu.


Syah memaafkan bawahannya itu dengan lapang dada, sebelum memasuki markas dia berhenti sejenak dan memberikan sebuah saran kepada Noir, "Putuskan wanita murahanmu itu! Dia menggodaku dan ingin membayarku, setelah tidak mendapatkanku dia menggunakan namamu untuk berlagak di luar sana!" Syah pun lanjut memasuki markas Geng Winter Dust.

__ADS_1


Winter Dust ( ̄ヘ ̄;)


Sebuah Geng dengan pimpinannya bernama Rey, meskipun mereka adalah sebuah Geng terkenal di kota B karena kekuatannya, tapi mereka tidak bisa melawan Zeno, direktur dari hotel Aquila.


Karena hotel Aquila merupakan salah satu bisnis dari keluarga terkaya di kota A, tidak bisa dibandingkan orang kaya di kota A dan dikota B karena akan seperti bumi dan langit perbedaannya.


Itulah yang menyebabkan Rey tunduk terhadap Zeno, seorang pelayan dari keluarga terkaya itu.


"Ternyata setelah masuk ke dalam suasananya cukup bagus, berbeda dengan saat diluar terlihat suram sekali!" ujar Syah berterus terang.


"Apakah Tuan Muda tidak suka dengan desain ini? Jika seperti itu aku bisa mengubahnya kapanpun saja!" kata Rey yang berada tidak jauh dari Syah.


"Em... Tidak perlu, oh ya. Sebenarnya darimana Geng Winter Dust mendapatkan penghasilan?" kata Syah penasaran.


Bagaimana pun juga, tempat ini terlihat tidak baik dan dengan kata kekuatan dunia bawah menjadi Syah memiliki pikiran negatif dengan kelayakan Gang Winter Dust.


"Tuan Muda tenang saja! Aku memiliki banyak sekali bar di kota ini dan ada satu buah restoran milikku juga, yang paling terkenal adalah pusat kebugaran seperti Gym, hanya saja aku tidak membuatnya seperti Gym, lebih seperti ke olahraga dengan banyak pilihannya." kata Rey yang memaparkan bisnisnya.


"Aku kira Kalian menjual ginjal dan mata seperti di film-film!" ucap Syah.


Motor Syah ditinggalkan di markas, mereka pergi menaiki mobil milik Rey.


Syah, Rey dan dua orang pengawal lainnya ikut bersamanya pergi ke pusat kebugaran.


"Oh iya, Tuan Muda! Apakah tadi Tuan Muda yang menjatuhkan ke sepuluh anak buahku?" tanya Rey penasaran.


"Menurutmu bagaimana?" tanya Syah kembali.


"Menurutku memang Tuan Muda lah penyebabnya, kenapa Tuan Muda bisa memiliki kemampuan bela diri yang menakjubkan itu?" tanya Rey penasaran.


"Sejak kecil, dari mulai usiaku lima tahun. Didikan keluarga sangatlah keras, setiap hari harus berolahraga dan berlatih beladiri. Setiap sedang berlatih juga harus sambil belajar menghafal ini dan itu! Selain bela diri, bidang lainnya juga harus kukuasai segalanya. Kakek menginginkanku menjadi sosok yang mampu melakukan segalanya! Ambisinya adalah untuk menjadi orang terkaya di dunia, dia menciptakan cucu sepertiku menjadi seperti ini! Karena dirinya juga, saat kedua orang tuaku meminta untuk memberikan liburan padaku hanya untuk satu tahun, kakek menolaknya." ujar Syah.


"Setelah itu, keesokan harinya tiba-tiba saja kedua orang tuaku kecelakaan entah mengapa, aku hanya bisa menyalahkan kakekku! Jadi, aku pergi melarikan diri dari keluarga besar ke kota ini seorang diri dengan membawa semua berkas ku!"

__ADS_1


"Meskipun pengawal keluarga besar sekalipun, mereka tidak ada yang berani melawanku untuk menangkapku dan membawaku pulang, aku tahu mereka setiap hari terus mengawasi ku!" ujarnya dan memalingkan wajahnya.


Matanya kini hampir meneteskan air mata, Syah terus menahannya. Mengingat kedua orang tuanya kecelakaan itu dia menjadi sedih.


Bukannya apa, kecelakaan itu adalah kecelakaan karena kendaraannya yang bermasalah, sudah jelas Syah paham betul bahwa setiap hari sebelum berangkat bekerja menggunakan mobilnya, orang tuanya selalu memperhatikan kestabilan mobil.


Jika mobilnya bermasalah, mereka akan menggunakan mobil lainnya untuk pergi bekerja dan sedangkan ini, mereka bisa mengalami kecelakaan tentu Syah menyalahkan kepala keluarga, yakni kakeknya sendiri karena hanya dia yang memiliki kendali penuh atas keluarganya.


Sampailah sudah di pusat kebugaran, "Tuan! Ada sedikit masalah di kantor, apakah Tuan—" ujar Rey.


"Kamu sibuklah dulu, aku akan melihat-lihat terlebih dahulu!" kata Syah sehabis memotong ucapan Rey.


Setelah mendapatkan izin dari tuan mudanya, Rey bergegas pergi ke kantornya sedangkan Syah jalan-jalan untuk melihat banyak sekali jenis olahraga yang tersedia disana.


"Yo! Ada orang miskin di R'Sport rupanya!" sapa salah seorang pria menepak pundak Syah.


Syah berbalik dan melihat sosok seorang pemuda yang tentu dia kenali, "Oh Tuan Alam ada disini juga?" ujar Syah.


"Setelah bermesraan di rumahmu dengan Zakia aku merasa tubuhku menjadi sangat berstamina! Jadi, aku ingin berolahraga sebentar!" kata Alam.


"Bermesraan? Heh! Aku tidak bisa dibodohi olehmu!" batin Syah.


Karena melihat Syah terdiam, Alam dengan segera memberikan satu buah raket tenis meja kepada Syah, "Beranikah Kamu bermain tenis meja denganku?" tanya Alam lagi.


"Oh? Apa hanya bermain?" tanya Syah.


"Tidak! Agar lebih menarik lagi, aku ingin bertaruh denganmu! Bagaimana?" tanya Alam dengan wajah sombongnya.


"Baiklah! Ayo bertaruh!" jawab Syah bersemangat.


"Jika Kau kalah! Kau harus segera menceraikan Zakia!" seru Alam.


"Apakah benar untuk mempertaruhkan istriku? Ini sepertinya salah! Tapi—" batin Syah memikirkan perasaan istrinya jika dipertaruhkan seperti ini.

__ADS_1


"Jika kau kalah?" tanya Syah yang berani menerima tantangan Alam.


__ADS_2