Tusukan Cinta Tukang Sate

Tusukan Cinta Tukang Sate
Tusukan Cinta


__ADS_3

"Ahhhh ... plis jangan teruskan!" Flo semakin mengigit bibir bawahnya hingga akhirnya ia mengangkat kepalanya dan melihat Mamat yang sedang memegang kedua pahanya dengan serius.


"Mamat! Apa yang kamu lakukan?"


"Oh ya ampun maaf sakit, ya! Saya tidak sengaja."


Rupanya sisik-sisik yang tumbuh di kedua paha itu menggoda Mamat untuk mengelupas kulit arinya, dan ternyata Flo merasa kesakitan. Mamat segera meminta maaf karena Flo sepertinya tidak nyaman.


"Kamu apain?"


"Cuma ingin mengelupasnya."


"Kamu gila, sakit tahu nggak. Kamu sengaja ya ingin menyakitiku. Ternyata semua pria sama saja. Kamu juga!" Flo terlihat kesal dan ia pun kembali mengenakan jubahnya kembali. Setelah itu ia pun segera pergi ke luar kamar.


"Loh Non Flo mau kemana?" tanya Mamat sambil memperhatikan Flo yang terlihat sedang merajuk.


"Aku mau keluar, kalau kamu mau tidur, tidurlah!" jawaban ketus Flo rupanya membuat Mamat merasa sangat bersalah.


"Astaga! Dia pasti merasa kesakitan. Nih tangan kenapa juga nggak bisa diam," pikir Mamat sambil melihat tangannya sendiri. Tapi, ada senyum terukir dari bibir pemuda itu.


"Aku rasa, dia bukan kesal karena kulit sisiknya terkelupas. Tapi, karena dia tidak mau mengakui jika dia sebenarnya menikmati sentuhan itu. Mungkin ini saatnya aku harus membayar semuanya. Flo, malam ini aku akan mengabulkan permintaanmu. Aku akan melakukan apapun untuk membahagiakanmu, sebagai ganti penderitaanmu karena sisik-sisik itu."


Mamat mengikuti kepergian istrinya. Ternyata Flo sedang menuju ke bar mini di rumahnya. Ia tampak sedang mengambil segelas minuman soda dan duduk di sebuah kursi. Flo sesekali menenggak minuman di tangannya, tanpa sadar Flo menitikkan air matanya.


"Aku memang wanita yang tidak berguna, aku tidak pantas untuk dicintai. Kenapa nasibku seburuk ini ya Tuhan. Kenapa Engkau harus memberikan aku cobaan seberat ini. Siapapun orang yang sudah sengaja melakukan ini padaku, aku tidak akan pernah memaafkannya. Aku sangat membencinya!"


Rupanya, ucapan wanita itu terdengar di telinga Mamat yang sedang berdiri di balik pintu bar. Mamat menghela nafasnya, mendengar ucapan dari Flo, sungguh membuatnya merasa semakin bersalah. Bagaimana jika nanti Flo tahu jika dirinya lah yang menyebabkan Flo seperti itu.


"Flo, rasa bencimu itu tidak akan membuatku menyerah. Aku akan tetap membuatmu tersenyum sebelum kau tahu jika pria yang sangat kau benci itu adalah diriku."

__ADS_1


Perlahan, Mamat mulai membuka pintu bar itu. Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke arah sang istri. Sementara itu Flo masih terpaku pada gelas minuman yang sedang dipegangnya.


"Kenapa Anda menangis? Apa saya sudah menyakiti, Anda!" pertanyaan Mamat seketika membuat Flo menoleh ke arah pria itu. Ia pun cepat-cepat menghapus air matanya agar Mamat tidak curiga jika dia sedang menangis.


"Sedang apa kamu ke sini? Pergilah! Aku ingin sendirian!" seru Flo yang tidak memperdulikan kehadiran suaminya.


Mamat pun ikut duduk dan mengambil minuman untuk menemani istrinya. "Tidak baik seorang wanita sendirian malam-malam, apalagi dia sudah punya suami. Seharusnya dia menemani suaminya bukannya pergi!" sahut Mamat sambil meminum minumannya.


"Aku nggak pergi kok, aku cuma sedang minum di sini, apa tidak boleh?" sahut Flo yang masih kesal.


Mamat menoleh ke arah sang istri dan melihat wajah sembabnya. "Non Flo menangis?" tanya Mamat.


"Enggak, aku nggak nangis. Tadi cuma kelilipan!" jawab Flo asal.


"Kelilipan?" Mamat bertanya lagi.


"Iya kelilipan. Tadi ada debu yang masuk mata. Jadinya ya mataku merah dan perih!" jawab Flo sambil tersenyum paksa.


"Mamat! Bisa nggak sih kamu nggak di sini, bikin mood hilang aja. Tidur sana, aku mau di sini sebentar," ucap Flo menyuruh suaminya untuk pergi.


"Aduhhh ... sudah saya bilang sama Non Flo. Saya itu tidak bisa tidur di jam-jam segini. Saya sudah terbiasa membuat tusukan sate. Jadi, saya nggak akan bisa tidur jika belum menusuk eh ... maksud saya membuat tusukan." Balas Mamat sambil tersenyum.


"Memangnya kamu mau jualan sate lagi? Ngapain buat tusukan sate lagi. Aneh-aneh saja, kamu tuh sekarang jadi suamiku. Jadi, nggak usah bikin tusukan sate lagi." sahut Flo.


Mamat pun tersenyum sumringah dan spontan memegang tangan istrinya. "Iya, saya memang tidak akan membuat tusukan sate lagi. Tapi, saya akan membuat tusukan yang lainnya. Apa Nona mau mencobanya?"


"Maksud kamu apa?" Flo tampak mulai gugup ketika Mamat mendekati dirinya.


"Nanti Nona akan tahu!"

__ADS_1


Mamat pun membawa tubuh Flo dengan menggendongnya di pundak. Sedangkan Flo terlihat memberontak sambil memukuli punggung Mamat.


"Mamat lepaskan aku! Kau mau apa?"


Mamat tidak mempedulikan rengekan Flo. Pria itu tetap membawa Flo ke kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar. Flo menampar pipi Mamat. Sambil komat-kamit Flo tampak marah-marah ketika Mamat memaksanya seperti itu.


"Berani sekali kamu memaksaku. Kamu benar-benar membuat kesal. Dasar tukang sate!"


Mamat pun semakin bersemangat untuk mengerjai istrinya. Sebagai seorang pria yang sudah sangat berpengalaman di atas ranjang. Tentu saja begitu mudah baginya membuat Flo tidak bisa berkutik.


Kini, bukan sosok Mamat yang lugu dan penuh keluguan. Tapi kali ini ada sosok Xander sang anak mafia yang sedang mencoba meluluhkan hati Istrinya. Flo yang semula berdiri. Kini, wanita itu terhempas di atas ranjang sambil merremas sprei tempat tidur.


"Mamat, apa yang ka-kamu ... la-ku ... kan ... ssshhh!!" Kini, tangan Flo berpindah merremas rambut Mamat. Entah apa yang Mamat lakukan kepada Flo, sehingga membuat wanita itu tidak berhenti meracau.


Entah sejak kapan, jubah Flo yang semula menutupi tubuh bersisik nya. Kini jubah itu terhempas di atas lantai beserta underwear milk wanita itu. Begitu juga dengan Mamat. Pria yang memiliki tubuh sempurna itu terlihat begitu gagah ketika sedang mendekap istrinya.


Apapun yang terjadi di dalam kamar pengantin itu. Tentu saja hanya ada suara Flo yang sedang mendeesah, di iringi suara bisikan Mamat yang seketika membuat Flo membulatkan matanya.


"Sepertinya kamu sudah siap kutusuk, Sayang. Tahan, aku tahu ini yang pertama untukmu!" ucap Mamat disela-sela dirinya mengarahkan sesuatu pada tempatnya, dan dalam hitungan ketiga. Mamat melesatkan sebuah tusukan ke dalam sana. Seolah sisik-sisik itu tidak ada gunanya bagi Mamat. Dengan lancar benda sepanjang 14 cm itu masuk ke tempat yang seharusnya dan bergerak liar di sana.


"Aaaahhh ...!" teriak Flo sambil mendongak menahan sensasi perih yang mulai terasa.


"Rileks! Jangan ditahan, lemaskan! Aku tidak akan menyakitimu, karena aku akan memberikanmu tusukan paling enak melebihi tusukan sate-sate ku!"


Flo pun mengikuti perintah sang suami. Ia pun mencoba untuk rileks dan tetap santai, sedangkan Mamat perlahan mulai bergerak lembut. Akhirnya, Flo mulai merasakan sensasi rasa yang sebenarnya. Benar-benar nikmat. Karena sejatinya, Mamat sangat lihai dalam memuaskan wanita.


"Ssshhh ... tu-sukan apa ini? Kenapa rasanya seperti ini?" seru Flo sembari memejamkan matanya menikmati sensasi rasa yang belum pernah ia rasakan.

__ADS_1


"Tusukan Cinta, ini adalah tusukan cinta untukmu!!"


...BERSAMBUNG...


__ADS_2