Tusukan Cinta Tukang Sate

Tusukan Cinta Tukang Sate
Aku minta maaf


__ADS_3

Kedua mata Mamat terpejam. Flo berteriak dan menangisi suaminya. Ia peluk Mamat yang saat itu tidur di atas pangkuannya. Sedangkan Tuan Abraham melihat kesedihan cucunya yang teramat dalam. Pria itu sangat menyesal telah melakukan itu kepada Flower. Seharusnya ia tidak memberikan hukuman cambuk kepada Mamat jika pada akhirnya akan membuat Flo semakin menderita.


"Jangan tinggalkan aku, suamiku! Aku tidak mau kamu pergi. Jika kamu mati aku mau ikut saja, untuk apa aku hidup di dunia ini jika tanpa dirimu. Aku mati saja sekarang!!" seru Flo sembari terus memeluk Mamat.


Tiba-tiba saja Flo dikejutkan dengan suara Mamat yang berkata. "Ngapain kamu mati, Flo! Kalau kamu mati siapa lagi yang aku tusuk? Tusukanku hanya bisa tajam dengan dirimu ...!"


"Mamat, kamu masih hidup?" sahut Flo yang begitu bahagia melihat suaminya masih hidup.


"Aku masih hidup, Sayang! Aku sangat haus."


Flo segera meminta pengawal untuk mengambilkan air minum dan membawa suaminya ke kamar untuk ia rawat. Hari ini Ia sedikit marah dengan sang kakek. Karena cambukan itu hampir saja membuat nyawa Mamat melayang. Setelah pengawal membawa tubuh lemah Xander ke kamar Flo. Kemudian Flo pun langsung mengikuti suaminya dari belakang tanpa bicara apapun kepada Tuan Abraham. Sehingga membuat Tuan Abraham memperhatikan Flo yang sedang merajuk kepadanya.


"Flo cucuku, kamu marah pada Kakek?" tanya Tuan Abraham.


Flo berhenti sejenak dan menoleh ke arah samping. "Hari ini Flo sedang tidak ingin bicara dengan Kakek. Flo ingin merawat suami dulu. Dia sangat membutuhkan Flo. Kami berdua saling mencintai. Flo mohon jangan pisahkan kami!"


Setelah mengatakan hal itu, Flo segera pergi ke kamarnya. Tuan Abraham hanya terpaku melihat kepergian sang cucu.


Tuan Abraham menoleh ke sebuah foto seorang gadis cantik yang terpajang di dinding. Gadis itu adalah anak satu-satunya Tuan Abraham yang meninggal dunia setelah melahirkan Flo, Edelweiss.


Pria tua itu berjalan menghampiri foto almarhum putrinya. "Kau lihat, Nak! Flo sama keras kepalanya dengan dirimu. Kalian mencintai pria yang aku benci. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dulu kamu selalu membela Mateo, kamu bahkan pergi meninggalkan rumah berhari-hari hanya demi pergi dengan laki-laki itu. Dan sekarang menurun kepada putrimu. Aku tidak tahu pasti siapa yang menyuruh Mamat untuk mencelakai Flo. Tapi yang jelas aku tahu jika orang itu memiliki sebuah dendam padaku. Dan hanya Mateo yang bisa melakukannya. Aku sangat yakin jika Mamat ada hubungannya dengan Mateo," ucap Tuan Abraham menduga.


*


*


*

__ADS_1


Sementara itu, Mamat sudah berada di kamar. Flo segera memerintahkan pelayan untuk mengambilkan obat dan air hangat untuk sang suami. Flo ingin memberikan obat untuk luka cambukan pada tubuh suaminya.


Setelah pelayan mengambilkan obat untuk majikannya. Flo segera mengusapkan obat sekaligus mengompres luka pada kulit Mamat.


Hampir semua tubuh Xander terkena cambukan. Flo mengusapnya pelan agar sang suami tidak kesakitan.


"Awwww ...!" pekik Xander saat Flo sedikit menekan lukanya.


"Maaf, masih sakit?" Flo menjauhkan tangannya dari luka suaminya.


"Tidak lagi, melihat senyummu saja aku sudah sembuh sendiri," jawab Xander yang seketika membuat Flo tersipu malu.


"Sekarang kamu harus makan. Kamu pasti butuh makan banyak untuk memulihkan tenagamu. Aku minta maaf jika kemarin aku sudah marah padamu," ungkap Flo sambil mengambil keputusan sepiring makanan untuk suaminya.


"Aku bisa mengerti. Kamu pasti sangat terkejut saat tahu aku lah orang yang sudah membuatmu seperti ini. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini. Jika perlu, kamu bisa melampiaskan kekesalanmu padaku. Aku ikhlas menerimanya, jika kamu ingin membunuhku sekarang juga. Aku siap!" Xander berkata dengan menatap serius wajah Flo.


"Kamu ini ngomong apa sih! Siapa yang ingin membunuhmu?" sahut Flo sambil menyuapi suaminya.


"Aku pikir seperti itu, jika hari ini memang aku ditakdirkan mati di tanganmu. Tidak apa-apa, aku rela."


"Plis jangan bicara itu lagi! Kamu mau aku marah lagi karena kamu paksa aku untuk membunuhmu. Jika aku benar-benar melakukannya, apa kamu sudah siap berpisah denganku?" sahut Flo dengan tatapan matanya yang sendu.


"Karena kesalahan yang aku lakukan padamu sangat fatal, Flo. Kamu menjadi seperti ini gara-gara aku. Kamu dikucilkan orang-orang juga karena aku. Dan kamu berpisah dengan tunanganmu juga karena aku. Lantas, apakah aku masih mendapatkan pengampunan darimu? Karena aku adalah Xander, putra dari Mateo, musuh terbesar kakekmu," balas Xander.


Flo terkejut saat Mamat menyatakan tentang jati dirinya kepada sang istri. Sebenarnya Mamat adalah seorang mafia.


"Kau bagian dari mereka?" tanya Flo semakin penasaran.

__ADS_1


"Iya, bukan hanya bagian dari mereka. Saat ini Daddy Mateo mencari keberadaan diriku untuk dijadikan penggantinya. Dan kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pak Mahmud? Anak buah Daddy sudah mengancamnya untuk mengatakan di mana aku berada," ungkap Xander apa adanya.


"Jadi, kamu bukan anak Pak Mahmud? Kamu seorang mafia?" Flo menatap wajah sang suami dengan begitu terkejut. Xander tersenyum dan mengangguk pelan.


"Itu dulu. Tapi sekarang aku sudah tobat. Aku memilih menjadi orang biasa dan memutuskan untuk menjadi tukang sate. Supaya Daddy tidak bisa membawaku kembali ke markas utama. Aku sudah bosan hidup seperti itu. Terlalu bebas dan sangat identik dengan kekejaman," ungkap Xander.


Flo menghela nafasnya dan Ia tidak menyangka jika Xander adalah mantan mafia yang pastinya sering didampingi oleh gadis-gadis cantik.


"Bosan? Apa kamu bosan dengan wanita-wanita cantik yang dulu mengelilingimu? Dunia mafia tidak jauh-jauh dari kata wanita dan ranjang. Benar, bukan?"


Ucapan Flo seketika membuat Xander panik dan salah tingkah. Nyatanya apa yang dikatakan oleh Flo memang benar adanya.


"I-iya, seperti itulah ...." jawab Xander pelan. Flo segera beranjak untuk pergi dan tidur di tempat lain. Namun, dengan cepat Xander menarik tangan Flo agar istrinya tidak pergi dari tempat tidur mereka.


"Mau kemana?" tanya Xander.


"Tidur di kamar sebelah," jawab Flo datar.


"Lalu, siapa yang akan menemani aku di sini?" ucap Xander sambil terus menahan tangan istrinya.


"Tidur sendiri!" Flo tidak menatap wajah sang suami karena ia sedang membayangkan bagaimana kehidupan suaminya dulu bersama banyak wanita. Pantas saja Xander sangat piawai dalam ranjang dan sangat memuaskan Flo.


"Ayolah, Flo! Jangan marah lagi dong! Baru saja kita baikan, masa kita harus berantem lagi gara-gara itu," ungkap Xander yang terlihat sedang duduk dengan bertelanjang dada, dan luka memar di tubuhnya terlihat masih membiru.


"Semua itu masa laluku dan aku sudah melupakannya. Sekarang hanya ada satu wanita dalam hidupku, yaitu kamu!" ucap Xander dengan tulus sambil beranjak menghampiri istrinya. Meskipun tubuhnya masih sakit. Ia paksakan berdiri untuk membuat Flo mengerti.


"Aku dulu memang laki-laki brengsek! Dulu aku terjebak dalam dunia hitam. Daddy Mateo sudah menerapkan sifat seorang ini padaku agar aku tidak cengeng dan menjadi pria kuat yang tidak mudah ditindas. Aku besar dari didikan Daddy Mateo yang kejam. Dan apakah sekarang kamu bisa memaafkan aku, Flo?" seru Xander sambil menyilangkan kedua tangannya pada pinggang sang istri.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...



__ADS_2