
Mateo mengerutkan keningnya. Putranya kini sudah berubah.
"Katakan padaku, kemana saja kamu selama ini? Kenapa kamu harus pergi dari sini? Kau tahu, aku mencarimu ke penjuru kota. Tapi, Daddy susah untuk menemukannya," ucap Mateo sambil menyodorkan segelas wine untuk putranya itu.
"Maaf, Dadd! Aku tidak meminum itu lagi!" ucap Xander menolak pemberian wine putih itu.
"Xander putraku, apa yang terjadi padamu, Nak? Beberapa bulan saja aku tidak bertemu denganmu. Kamu sudah berubah seperti ini!" ucap Mateo dengan penuh curiga.
"Seharusnya aku yang bertanya kepada Daddy. Kenapa Daddy tega sekali. Tahukah Dadd! Hampir saja aku membuat kehidupan seorang wanita menjadi hancur. Dia wanita yang tidak berdosa. Tapi karena keegoisan Daddy. Dia menjadi korban," terang Xander yang tentunya membuat Mateo menyipitkan matanya.
"Apa maksudmu?" tanya pria itu sambil duduk di atas sofa dengan menaikkan kakinya di atas meja.
Sepertinya Xander harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Jika ada nyawa seorang wanita yang sedang dalam bahaya dan itu adalah istrinya sendiri yang tak lain adalah cucu Tuan Abraham, musuh besar Mateo.
__ADS_1
"Flower Esperanza, dia wanita yang tidak berdosa. Dia mengalami cacat kulit karena cairan kimia yang pernah aku kirimkan kepada Tuan Abraham atas perintah Daddy dan itu benar-benar membuat Xander sangat bersalah, dia wanita yang baik dan dia juga adalah cucu Tuan Abraham, kenapa Dadd? Kenapa Daddy harus menyuruh Xander datang kepada Tuan Abraham??" sesal Xander yang nyatanya ia begitu menyesali perbuatannya terhadap Flower.
Sontak Mateo terkejut dengan pengakuan Xander. "Apa? Tuan Abraham memiliki cucu?" tanya Mateo dengan mata yang membola.
Sejenak Mateo teringat jika Edelweiss tidak pernah menikah, mereka memang berpisah tapi sampai saat ini yang Mateo tahu adalah Edelweiss sudah meninggal tanpa ia tahu jika wanita itu sudah melahirkan buah cinta mereka.
"Tuan Abraham punya seorang cucu, anak siapa? Apa anak Edelweiss? Tidak mungkin, Edelweiss tidak mungkin menikah dengan pria lain. Aku tahu betul bagaimana dia, lalu siapa anak itu?" batin Mateo.
"Iya, dia adalah Flo, cucu satu-satunya Tuan Abraham. Flo menderita sejak tubuhnya terkena efek cairan itu. Dia menjadi tertutup dengan lingkungannya karena banyak yang membully dirinya bahkan dunia tidak mau melihatnya karena kulitnya yang terlihat sangat menjijikkan. Tahukah Daddy, jika saat ini wanita itu sedang menahan rasa sakit karena kulit-kulitnya mulai pecah dan mengeluarkan darah, karena dia sedang mengandung anak kami!!" ungkap Xander yang tentunya membuat Mateo bertanya-tanya.
"Iya Daddy, itulah kenapa aku datang ke sini untuk meminta Daddy memberikan obat penawar itu, aku mohon Dadd! Tolonglah Flo!" rengek Xander dengan mengatupkan kedua tangannya pada Mateo.
Mateo pun mulai berpikir, antara dendam dan keraguan. Ia masih teringat jelas akan perlakuan Tuan Abraham padanya. Pria itu sudah tega memisahkan dirinya dengan Edelweiss dengan cara yang licik. Jikalau pun sekarang Mateo mendengar juga Tuan Abraham memilih cucu. Mungkin itu adalah cucu angkat bukan cucu kandungnya. Pikir Mateo.
__ADS_1
"Apa katamu? Kamu minta aku untuk memberikan penawar itu kepada cucu Tuan Abraham?" seru Mateo sambil tersenyum miring.
"Aku mohon Dadd, berikan penawar itu? Xander akan melakukan apapun untuk Daddy asalkan Daddy mau memberikan obat itu secepatnya," rengek Xander memohon.
Mateo tersenyum jahat dan akan memanfaatkan Xander kali ini untuk membalaskan langsung dendamnya kepada Tuan Alexander.
"Baiklah, aku akan memberikan obat itu asalkan kamu bersedia melakukan apapun yang aku minta, bagaimana?" tawar Mateo.
Demi keselamatan sang istri. Xander pun bersedia untuk melakukan apapun agar Mateo bisa segera memberikan obat penawar itu untuknya.
"Baiklah jika itu yang Daddy inginkan, apa yang harus Xander lakukan?"
"Bunuh Tuan Abraham, maka penawar itu akan aku berikan padamu secepatnya," seru Mateo sambil menunjukkan botol berisi obat penyembuh untuk Flo.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...