
Pagi telah datang. Cahaya matahari mulai menyusup ke dalam kamar pengantin. Flo membuka kedua matanya. Badannya terasa begitu lelah seolah dirinya baru saja lari maraton sejauh puluhan kilometer.
Flo meringis kesakitan. Namun, ada perasaan bahagia pada diri wanita itu. Ia masih teringat dengan jelas bagaimana Mamat si tukang sate itu begitu luar biasa. Bukan hanya tusukan sate-satenya yang nikmat. Tapi, tusukan cintanya juga tak kalah nikmatnya.
Mamat tidak perduli dengan kondisi istrinya yang cacat. Pria itu tetap menggaulinya dengan baik. Dan Flo berharap jika Mamat bisa segera memberinya seorang anak.
Tapi, ada yang lain pagi ini. Flo tidak mendapati sang suami berada di sampingnya. Ia hanya sendiri di kamar itu dengan seluruh tubuhnya yang tertutup selimut.
"Kemana dia? Apa dia pergi meninggalkanku setelah dia merasakan tidur dengan wanita cacat?" pikir Flo yang masih takut jika Mamat meninggalkan dirinya.
Flo memperhatikan sekeliling, memang tidak ada batang hidung Mamat berada di kamar itu. Yang ada hanya pakaian dan jas pengantin Mamat yang teronggok di atas lantai.
Flo beranjak turun dari tempat tidurnya. Dengan sedikit tertatih ia mulai berjalan menuju ke arah kamar mandi. Pagi ini ia ingin menyegarkan tubuhnya setelah semalam dibuat terbakar oleh si tukang sate. Bukan panas karena sate-sate yang terbakar. Tapi, Mamat sudah membakar gairah cinta Flo yang sudah lama membeku.
"Awwww ... ssshhh! Apa yang sudah Mamat lakukan semalam benar-benar membuat badanku sakit semua astaga! Dia ternyata kuat sekali dan tusukannya sangat dalam dan tajam." Flo berceloteh sendiri. Masih teringat jelas bagaimana Mamat begitu dalam membawa Flo melintasi gugusan bintang di langit dan terbang bersamanya.
Karena Flo yang masih dalam kondisi lemah dan sempoyongan. Tanpa sengaja, kakinya tersandung oleh karpet. Tentu saja Flo tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia pun sempat akan terjatuh. Namun, tiba-tiba saja tubuhnya ditangkap oleh seseorang dengan menahan tubuh Flo dari depan.
"Hati-hati!"
__ADS_1
Ada aroma semerbak dari tubuh orang itu. Flo begitu menyukainya. Dan ternyata itu adalah Mamat, suami sekaligus tukang sate idaman para wanita.
"Mamat, dari mana saja kamu?" tanya Flo dengan malu-malu.
"Aku baru saja mandi. Rasanya badan lengket semua karena keringat kita yang menyatu semalam. Kamu mau kemana?" Mamat balik bertanya.
"Aku mau mandi juga, aku pikir tadi kamu pergi dan meninggalkan aku setelah ...."
"Setelah apa?" Mamat mengerutkan keningnya.
"Setelah kamu tahu semuanya tentang aku."
"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Aku bukanlah pria yang habis manis sepah dibuang. Jika aku sudah berkomitmen, maka aku akan menepati janjiku."
"Terima kasih banyak atas semuanya!"
Mamat mengerutkan keningnya dan berbisik. "Terima kasih untuk apa?"
"Karena kamu tidak jijik melihat tubuhku yang tidak sempurna ini, aku sendiri yang merasa malu."
__ADS_1
Mamat menatap kedua bola mata wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
"Bagiku, kau tetaplah wanita yang sempurna. Baru kali ini aku merasakan percintaan yang luar biasa. Sebuah sensasi rasa yang sebelumnya belum pernah aku rasakan. Padahal aku sudah puas menjelajahi setiap wan ...."
Mamat tidak melanjutkan kata-katanya karena ia hampir saja keceplosan mengatakan bahwa dirinya adalah seorang pria dengan banyak wanita.
"Menjelajahi apa, Mat?"
Mamat bingung dan harus mencari alasan yang tepat untuk pertanyaan Flo.
"Ohhh ... iya, itu menjelajahi hutan rimba yang berliku-liku maksudnya." Mamat terlihat garuk-garuk kepalanya dan berharap Flo tidak bertanya terlalu berlebihan.
"Hutan rimba? Sedang apa kamu masuk ke hutan rimba? Mencari kayu untuk membuat tusukan sate?" Flo bertanya sambil berpikir.
"Ah ... iya, aku ke sana sedang berkunjung ke rumah Tarzan ...!"
Mendengar jawaban dari suaminya yang konyol. Spontan Flo tertawa lepas penuh kebahagiaan.
Ada rasa senang dan puas saat Mamat melihat kebahagiaan pada Flo.
__ADS_1
"Aku berharap kamu akan tetap tersenyum padaku selamanya, Flo!"
...BERSAMBUNG ...