
"Kau ingin merasakan apa yang dirasakan oleh cucuku? Baiklah, bawa dia!" Tuan Abraham memerintahkan kepada para pengawalnya untuk membawa Mamat ke suatu tempat.
Tempat di mana pemuda akan mendapatkan hukuman dari Tuan Abraham karena sudah berani menipu cucunya. Bukan hanya itu, Mamat juga ternyata adalah orang yang sudah membuat kulit Flo menjadi bersisik.
Mamat berharap setelah ia mendapatkan hukuman dari Tuan Abraham. Dirinya bisa diizinkan bertemu dengan istrinya. Karena Mamat mulai merasa jika Flo adalah wanita terakhir untuknya, dan ia berharap bisa hidup selamanya dengan wanita itu.
Mamat dibawa di sebuah tempat yang gelap. Keduanya tangannya diikat. Sementara itu Tuan Abraham terlihat membawa sebuah cambuk di tangannya. Cambuk yang siap menguliti kulit Xander. Tuan Abraham ingin pemuda itu mendapat balasan yang setimpal karena telah membuat kulit cucunya rusak.
Sementara itu di sisi lain di sebuah kamar. Flo melihat sang kakek dari arah jendela dengan membawa cambuk di tangannya. Flo pasti sudah menduga jika kakeknya sedang menghukum suaminya.
Sebagai seorang istri. Flo sebenarnya sangat tidak tega melihat Mamat dihukum cambuk. Meskipun ia masih kecewa dengannya. Tapi dalam relung hati terdalam. Flo tidak ingin Mamat terluka.
Mamat melihat wajah Tuan Abraham penuh amarah. Wajah yang dulu pernah ia tunjukkan kepada seorang pemuda yang berani mencintai putrinya. Kini, Tuan Abraham menghadapi pria yang berani menyakiti cucunya hanya karena ingin menghancurkan dirinya.
Sebelum pria tua itu mencambuk tubuh Xander. Ia bertanya terlebih dahulu tentang siapa saja orang-orang di balik Xander.
"Siapa kamu sebenarnya? Sebenarnya aku bisa saja membunuhmu sekarang juga anak muda. Tapi tidak, terlalu enak jika kamu mati sekarang. Aku ingin melihatmu menderita terlebih dahulu. Sebelum itu katakan padaku! Kenapa kamu ingin sekali menghancurkan perusahaanku dengan mencoba mencemari sumber air dengan cairan kimia itu? Pasti kamu tidak sendiri, kan?" gertak Tuan Abraham.
Xander tidak akan pernah mengatakan kepada Tuan Abraham tentang siapa yang sudah menyuruhnya. Karena ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menyembunyikan siapa itu Mateo. Meskipun sebenarnya Xander sudah keluar dari jaringan organisasi mafia itu. Karena Mateo adalah orang yang berjasa dalam hidupnya.
"Saya minta maaf, Tuan! Saya tidak bisa mengatakannya." jawab Xander dengan tegas.
Mendengar jawaban dari Xander, Tuan Abraham mulai melayangkan cambuk itu ke tubuh Xander.
"Aaarrrgggghhhh!"
Suara cambukan itu terdengar begitu menggema di seluruh mansion milik Tuan Abraham. Tanpa terkecuali, Flo juga mendengar suara cambukan itu.
__ADS_1
Spontan Flo menutup telinganya dan ia bisa bayangkan bagaimana sakitnya sang suami menahan perihnya cambukan itu.
"Taar ... taarr ... taarrr!"
Flo semakin erat menutup telinganya.
"Tidak, tidak."
Sementara itu, Xander berusaha untuk menahan rasa sakit itu. Meskipun kulit tubuhnya mulai memerah dan mengeluarkan sedikit darah. Pasti rasanya sangat perih dan sakit.
Tuan Abraham terus menyabetkan cambuk itu sampai rata ke seluruh tubuh Xander. Tubuh kekar Mamat berubah menjadi kemerahan. Tato lingkaran api yang ada di lengannya menjadi berwarna merah karena terkena darah yang mulai keluar dari pori-pori kulitnya.
Hampir 5 menit suara cambukan itu terus saja terdengar. Flo pun tidak tahan lagi. Ia memilih untuk pergi menemui kakeknya dan memohon kepada sang kakek untuk menghentikan hukuman itu.
Flo berlari menuju ke tempat di mana suaminya di hukum. Wanita itu berlari tanpa lelah. Tapi sayangnya di luar penjagaan sangat ketat. Flo tidak bisa masuk ke dalam tempat Xander dicambuk.
"Mamaaatttt!" teriakan Flo kian kuat. Hingga terdengar di telinga Xander yang saat itu sedang menahan perih dan sakitnya cambukan Tuan Abraham.
"Flo!!"
Seolah dirinya mendapatkan kekuatan cadangan. Mamat pun berusaha untuk melawan Tuan Abraham. Suara Flo membuat Xander memiliki kekuatan untuk menarik tali yang mengikat kedua tangannya.
Dengan kekuatan penuh, Xander tidak perduli jika Tuan Abraham terus mencambuk tubuhnya. Demi rasa cintanya, Xander menarik tali itu sekuat-kuatnya.
"Hiaaaaaaaaaaa!!"
Xander mengerang, tampak depan jelas gurat otot-otot tangan dan punggungnya keluar. Ajaib, tali tambang yang mengikat kedua tangan Xander mampu menarik tiang di mana tali itu diikatkan pada tangan Xander.
__ADS_1
Tuan Abraham menghentikan cambukan nya dan melihat tiang pengikat itu mulai ambruk dan terjatuh. Tuan Abraham menghindari runtuhan tiang itu. Sementara Xander dengan mudah melepaskan ikatan talinya dan segera berlari keluar untuk menemui istrinya.
"Flo!!"
Xander berlari dengan menyebut nama sang istri. Dengan kondisi terluka karena bekas cambukan itu masih baru. Membuat Xander sedikit meringis kesakitan.
Flo melihat suaminya yang sedang berlari menuju ke arahnya. Wanita itu menepis tangan para pengawal yang sedang menahannya. Tuan Abraham melihat bagaimana sang cucu begitu mencintai Mamat. Begitu juga dengan Mamat, akhirnya kali ini Tuan Abraham memilih mengalah. Pria itu menyuruh pengawalnya untuk melepaskan sang cucu.
"Mamat!"
Panggil Flo saat ia melihat Mamat berada di depannya dengan wajah sayu dan tidak berdaya. Dengan suara yang melemah, Xander berusaha untuk menyapa istrinya.
"Nona Flower! Kenapa kamu ke sini? Apa kamu merindukan tusukanku?"
Masih dalam mode bercanda, meskipun tubuhnya mulai melemah. Xander masih bisa menggoda istrinya yang saat itu sudah berderai air mata melihat sang suami tercinta terluka parah
"Bodoh! Jika kau tahu aku merindukan tusukanmu. Kenapa kamu tidak lari dari tempat ini. Kenapa kamu harus menerima hukuman ini?" Flo spontan memeluk suaminya dengan erat.
"Aaarrrgggghhhh!" pekik Xander saat Flo menyentuh kulitnya yang terluka.
"Aww sakit ya? Aku minta maaf! Ya Tuhan, lukamu sangat banyak, Sayang! Ini pasti sakit sekali." Flo melihat bekas luka cambukan itu begitu banyak pada punggung, dada dan lengan Mamat.
"Melihat wajahmu semua rasa sakit ini hilang begitu saja. Apalagi jika kamu tersenyum untukku, tersenyumlah Flo! Tersenyumlah untukku!" ucap Xander sambil mengusap wajah istrinya.
Flo mencoba untuk tersenyum meskipun sebenarnya ia sedang menangisi keadaan Xander. Dengan sangat terpaksa, Flo pun akhirnya tersenyum untuk suaminya. Dan pada akhirnya Xander ambruk dalam pelukan Flo.
"Mamat! Kamu kenapa? Mamat!!"
__ADS_1
...BERSAMBUNG...