
Tapi sebelum itu ia harus menyelidiki tentang Devano. Karna apa yang dia alami Mamanya sma persis dengan yang di alami Devano.
.........
Sebenarnya Dika hanya mengetahui bahwa tempat Devano dan Mamanya di jebak itu sama, tapi ia tidak tau di kamar berapa Devano dijebak.
...
Keesokan harinya....
Di kediaman Anggara******
Keluarga Anggara saat ini sedang sarapan bersama, oh iya jangan lupakan tamu tak di undang pun ikut sarapan ya itu adalah Marvel sang Asisten Devano.
Rencananya hari ini Marvel ingin mengantarkan foto yang di minta Bosnya untuk di cetak, eh pas datang malah lihat Bosnya lagi sarapan. Tentu saja Mami Marisa yang mengajak Marvel untuk sarapan bersama dan dengan senang hati Marvel menerima ajakan Marisa.
Sedangkan Devano tampak kesal dengan sang Asisten yang datang tak diundang.
"Vel, tumben sekali kamu datang pagi pagi begini. Apa ada sesuatu?" tanya Papi Rian
"Itu Tuan besar, saya hanya ingin memberikan pesan Tuan muda."
"Vano, Memangnya kamu pesan apa?" tanya Marisa kepada sang anak.
"Nanti Vano kasih tau Ma, sebaiknya kita selesaikan dulu sarapannya," ucap Devano.
"Baiklah, kita selesaikan dulu sarapannya. Nanti baru kita lanjut pembicaraannya," ucap Marisa.
.....
Setelah selesai sarapan, mereka pun berkumpul di ruang tamu.
Marvel pun memberikan sebuah foto yang telah di cetak dan dibingkai, sesuai dengan keinginan tuannya.
"Tuan, ini foto yang anda minta. Apa sudah sesuai dengan keinginan anda? Jika ada yang kurang akan saya perbaiki," ucap Marvel sambil memberikan foto cetak yang masih terbungkus dalam kardus busa agar foto yang berbingkai tersebut tidak pecah.
Devano pun mengambil kardus busa tersebut, lalu membukanya dengan teliti(supaya gak rusak katanya😂).
Terlihat sebuah foto dengan ukuran yang lumayan besar dan bingkai yang sangat indah, sesuai dengan keinginan Devano.
(Oh iya didalam kardus itu terdapat 3 foto, yaitu foto Desi dan Devano berdua, lalu foto Dika dan Devano dan yang terakhir foto mereka bertiga).
Sedangkan Mami dan Papi Devano terlihat sangat bingung. Itu foto Devano bersama siapa? Dan kenapa wajah anak lelaki itu Mirip Devano?
Begitulah yang di pikirkan oleh kedua orangtua Devano.
"Lumayan, sesuai keinginan saya. Nanti suruh para pelayan memajangnya di kamar saya," ucap Devano kepada sang Asisten.
"Baik, Tuan muda."
"Vano, itu anak siapa?" tanya Rian.
"Apa itu anak kamu?" tanya Marisa juga kepada Devano.
"Ini, keponakan teman aku Mi," ucap Devano.
__ADS_1
"Tapi, wajah anak cowo Itu sangat mirip dengan mu waktu kecil," lirih Marisa sambil menatap anaknya itu dengan curiga.
"Vano... awalnya juga heran kenapa wajah anak itu Mirip dengan Vano," ucap Vano sambil meyakinkan Maminya.
"Benarkah? Mami ingin bertemu anak itu, bolehkan kalo mereka diajak kesini?" tanya Marisa kepada Vano dengan Mata berbinar.
Sebenarnya Marisa sangat menginginkan seorang cucu, tapi apa boleh buat anaknya sama sekali tidak ingin menikah. Sudah beberapa kali Marisa mencoba menjodohkan Vano dengan anak teman arisannya, dengan cara melakukan kencan buta. Tapi semua itu percuma, karna setiap akan melakukan kencan buta, wanita yang akan di jodohkan dengan Devano pasti akan tertidur setelah meminum minuman yang telah di siapkan oleh para pelayan. Sejak itu Marisa kapok untuk menjodohkan Devano, biarlah anaknya mencari jodoh sendiri.
....
"Hmmm, nanti Devano coba tanya. Yang cowo sih mungkin bisa tapi yang cewe gak tau," ucap Devano kepada sang Mami.
"Memangnya kenapa?" tanya Rian kepada sang anak.
"Yang satunya keadaannya kurang baik, dia mudah sekali lelah. Kayak Devano waktu kecil Pi," ucap Devano.
"Yaudah, besok kamu ada Mithing dengan perusahaan Andela Group."
"Iya, Pi. Pas sekali anak kecil tadi adalah cucu dari keluarga Andela," ucap Devano dengan senang.
"Wah, benarkah? Kalo begitu sekalian saja setelah mithing kamu bisa mengajak kedua anak kembar itu kesini," ucap Marisa dengan antusias.
"Ya, Mi. Tenang saja," ucap Devano sambil tersenyum kepada sang Mami. Ia tau Mami nya sangat menyukai anak kecil dan ingin sekali memiliki cucu, tapi mau bagaimana lagi Devano hanya ingin menikahi wanita yang pernah ia tiduri.
...................
Sementara itu di kediaman Andela, sedang rusuh karna Ifah. Rusuh gimana? Begini Dapur kediaman Andela saat ini sangatlah berantakan dikarenakan Ifah yang memasak dengan bar-bar😂(gimana masak dengan bar-bar, ya asal potong dan masukin apa aja kedalam masakannya). Hal itu membuat para pelayan pusing, gimana nasib yang memakan masakan Ifah.
Setelah membuat dapur hancur, dengan santainya Ifah menyajikan masakannya.
"Tante, ini semua Ifah lo yang masak," ucap Ifah dengan percaya diri.
"Apa!! Kenapa repot sih Fah, kan ada pelayan," ucap Miranda dengan wajah masam.
"Gak papa, ayo coba masakan Ifah." Dengan ceria ia menyajikan masakannya ke dalam piring mereka masing masing.
"Dika, cuma mau makan roti aja," ucap Dika dengan datar.
"Desi, juga pengen roti aja," ucap Desi juga.
(Sepertinya mereka sudah tau kalo masakan Aunty mereka serasa.... apa ya😂).
"Ya, sayang sekali kalian tidak mencoba masakan Aunty," ucap Afifah.
"Yasudah, ayo coba masakan Ifah."
Dengan terpaksa Miranda dan keluarganya memakan masakan Ifah, terlihat wajah mereka masing-masing berusaha menelannya. Kalo mereka menuntaskannya pasti Ifah akan merasa sedih, setidaknya mereka makan sesuap saja.
"Aku sudah kenyang," ucap Wilson
"Ya,kami juga sudah kenyang," ucap Miranda dan kedua orang tuanya.
"Yah, kok dikit makannya?" tanya Ifah dengan cemberut.
"Hehe, kita udah pada kenyang ni," ucap Miranda.
__ADS_1
Tak lama kemudian....
Druuuttt....
Terdengar suara kentut berurutan🤣
Siapa yang kentut😂
Tentu saja seluruh anggota keluarga kecuali Dika dan Desi. Terlihat wajah mereka memerah karna malu, lalu berlari menuju toilet. Sepertinya mereka sakit perut karna masakan Ifah.
Yaampun mereka saat ini memperebutkan satu toilet, padahal toiletkan banyak😂.
"Minggir, Wil duluan. Udah gak tahan ni," teriak Wil.
"Ih, Mira dulu."
"Tidak!! Mama dulu,"
"Tidak ... tidak ... biarkan Papa duluan,"
Terlihat mereka berteriak sambil dorong-dorongan. (Membuat Author jadi pusing, percuma Author kasih toilet banyak. Kok malah memperebutkan satu toilet😩)
"STOOPP!!!"
Desi yang sudah sangat pusing melihatnya pun berteriak.
"Mama, Uncle, Oma, Opa. Please deh, jangan ribut, kan masih banyak toilet, kok malah memperebutkan satu toilet," ucap Desi dengan kesal.
Semua pun berhenti, lalu mereka berlari mencari toilet lain.
Sementara itu Ifah terlihat bingung melihat mereka semua.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Ifah kepada kedua keponakannya.
"Itu karna masakan Aunty," ucap Dika dengan santai.
"Iya itu karna masakan Aunty, coba deh masakan Aunty," ucap Desi.
Ifah yang penasaran pun mencoba masakannya, apa ada yang salah dengan masakannya sehingga mereka pada sakit perut.
"Huek... Gak enak banget," ucap Ifah.
Pantas saja mereka pada sakit perut ternyata masakan Ifah seperti masakan yang cocok untuk makanan babi🤢.
Bersambung .....
Sampai jumpa di chapter selanjutnya ..
Jangan lupa tinggalkan jejak....
Author membutuhkan semangat dari kalian...
Tinggal kan like atau pun komen....
Karna itu tidak di pungut biaya😊
__ADS_1
See you😘😘....