TWINS KESAYANGAN CEO ( Pindah Lapak)

TWINS KESAYANGAN CEO ( Pindah Lapak)
CHAPTER 3


__ADS_3

Pa, Wil. Lihat, siapa yang mama bawa?" ucap Anita dengan antusias.


"Siapa Ma?" tanya Mahendra kepada Anita.


"Iya siapa?" tanya Wil juga kepada sang mama.


"Bentar, mama mau panggil dulu." ucap Anita.


...........


Tak lama kemudian, Anita datang membawa 3 orang ke ruang tamu. Melihat orang yang dibawa Anita, Mehedra dan Wil terkejut. Orang yang selama ini mereka cari ada di depan mereka, mata Mahendra dan Wil berkaca-kaca melihat orang itu yang ternyata Miranda.


"Mira, ini kamu kan?" ucap Mahendra dengan lirih sambil memandang Miranda dengan mata berkaca-kaca.


"Hiks ... iya pa, ini Mira anak papa" ucap ucap Mira dengan air mata yang sudah berlinang.


Mahendra lansung memeluk Miranda dengan erat, Mahendra sangat senang orang yang selama ini ia Rindukan akhirnya kembali pulang.


Miranda yang melihat kakaknya hanya diam pun bergegas menuju kakaknya.


"Kakak, apa kakak tidak merindukan Mira?" ucap Miranda sambil memeluk sang kakak.


Wil, yang tadinya diam pun akhirnya membuka suara.


"Mira, kakak sangat merindukanmu. Selama ini kamu kemana saja? Kakak dan papa sudah mencarimu kemana-mana," ucap Wil dengan air mata yang sudah keluar.


"Maaf, kak. Mira selam ini tinggal di sebuah apartemen milik sahabat Mira," ucap Mira dengan lirih.


"Khemm," terdengar suara anak kecil. Membuat semua orang melihat ke arahnya.


Ternyata itu adalah Dika, yang dari tadi merasa kesal karna tidak dipedulikan.


"Ma, apakah sudah selesai?" ucap Dika  dengan datar.


"Tega banget sih, cuekin Desi yang cantik Ini," ucap Desi dengan cemberut membuat semua orang gemas dengannya.


"Yaampun, maafin Mama sayang. Mama lupa sama kalian," ucap Miranda.


"Sini, salim dulu sama Opa dan Uncle." ucap Miranda kepada anaknya.


Dika dan Desi pun salam kepada Opa dan Uncle mereka, setelah itu mereka memperkenalkan diri masing-masing.


"Halo Opa, Uncle. Namaku Dika." ucap Dika dengan datar.


Berbeda dengan Desi yang terlihat sangat antusias.


"Halo Opa, Uncle tampan. Perkenalkan nama aku Desi, anak yang cantik serta imut." ucap Desi sambil mengedipkan mata sebelahnya kepada sang Uncle.


"Yaampun, kau sungguh menggemaskan." ucap Wil sambil mencubit bibi cubby milik Desi dengan gemas.


"Ih, pipinya jangan dicubit. Nanti pipinya Desi tambah lebar" ucap Desi dengan mengerucutkan bibirnya membuatnya semakin imut.


"Mira, apa mereka anakmu?" tanya Wil kepada Miranda.


"Iya kak, mereka anakku" ucap Miranda.


"Wah, berarti ini cucu Papa" ucap Mahendra dengan antusias, lalu menggendong Dika yang ada di sebelahnya.


"Opa, turunin Dika. Dika gak suka digendong" ucap Dika dengan datar.


"Loh, kenapa?" tanya Mahendra kepada cucunya.


"Gak suka aja, kek anak kecil" ucap Dika dengan dingin.

__ADS_1


"Bukannya kamu emang masih kecil?"


"Enggak, Dika itu sudah besar. Dan sudah bisa membangun sebuah perusahaan" Dengan angkuhnya Dika berkata seperti itu.


"Mir, dapat anak dari mana?" tanya Wil kepada Miranda.


"Enak aja, Mira sendiri yang mengandungnya, bukan dapat" ucap Miranda dengan kesal.


"Habisnya tu anak beda banget" ucap Wil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lebih baik segara antar Miranda dan anaknya kekamar" ucap Mahendra.


"Biar Mira sendiri Pa" ucap Miranda.


Miranda mengantar anaknya kekamar yang sudah di siapkan oleh pembantu untuk anaknya, lalu ia pun pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.


.............


~Dikamar Twins~


"Bang, cerita dong siapa yang abang tabrak tadi pas di Resto?" tanya Desi dengan penasaran.


"Gini dek, tadi itu abang gak sengaja nabrak orang yang mirip ama abang, tapi dia sudah besar sedangkan abang versi kecilnya" ucap Dika dengan serius.


"Gimana kalo abang itu cari informasi tentang dia" ucap Desi memberi saran.


"Tapi, abang. Tau namanya gak?" tanya Desi.


"Tau dong, tadi abang sempat kenalan ama dia" ucap Dika dengan senyum misterius yang membuat orang pasti tau ada maksud dibalik senyumnya itu.


"Apa mungkin dia ayah kami?" batin Dika dan Desi.


"Lebih baik kita segera istirahat" ucap Dika.


"Hmmm" Dika hanya berdehem saja.


"Ih, dasar kulkas berjalan" ucap Desi lalu pergi ketempat tidurnya dan lalu tidur siang.


Dika hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Desi, lalu ia pun ikut istirahat.


............


~Malam hari~


Semua anggota keluarga termasuk Miranda dan kedua anaknya, sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam.


Mereka makan dengan tenang tampa ada suara yang hanya terdengar adalah detingan sendok dan garpu.


Setelah semuanya selesai makan, mereka berkumpul diruang tamu.


"Ma, Dika ama Desi kekamar dulu ya" ucap Dika dengan lembut kepada sang Mama.


"Apa perlu, Mama antar?" tanya Miranda kepada anaknya.


"Ga usah Ma, kita sendiri aja, good night Ma" ucap Desi.


"Good night juga sayang" ucap Miranda lalu mencium kening Dika dan Desi.


............


Setelah sampai di kamarnya, Dika lalu membuka komputernya yang sudah di siapkan oleh Mamanya. Dika pun mencari informasi tentang pria yang ia tabrak tadi, Dika pun mengetik nama Devano Anggara. Tak lama kemudian muncullah sebuah data tentang Devano Anggara, Dika pun membacanya dengan serius.


"Wow, ternyata dia pria terkaya di Indonesia" Ucap Desi yang dari tadi memperhatikan abangnya.

__ADS_1


"Dia belum menikah, apa mungkin dia papa kita?" ucap Dika sambil berpikir.


"Baiklah, kita coba liat seberapa kuat perlindungan data mereka di perusahaan" ucap Dika tersenyum tipis.


Dika pun mencoba membobol data perusahaan Anggara, terlihat banyak kata-kata dan kode rumit yang sangat susah dipahami.


~sementara itu di sebuah perusahaan telah terjadi kekacauan~


"Bos, gawat ada yang mencoba membobol data perusahaan" ucap seorang pria yang ternyata seorang Asisten pria itu adalah Marvel. (hehe ada yang masih ingatkan)


"Biarkan saya yang melihatnya" ucap Pria itu yang ternyata Devano Anggara.


"Baiklah kita lihat sampai mana kemampuan dia dalam membobol data perusahaan saya" ucap Devano dengan senyum licik.


.........


"Wow, lumayan juga tapi ini sangat mudah bagiku" ucap Dika dengan angkuh.


"Kena kau" ucap Dika dengan senang karna ia sudah membuka lapisan pertama perlindungan tersebut.


......... 


"Wah, akhirnya aku mendapatkan lawan yang seimbang" ucap Devano ketika melihat lapisan pertamanya telah di bobol.


"Tapi sayang sekali, tak lama lagi kamu akan menyerah" ucap Devano lalu memperkuat perlindungan data perusahaanya.


''Apaa! Kenapa dia bisa dengan mudah membobolnya, Padahal aku sudah memperkuatnya" ucap Devano dengan terkejut ketika melihat lapisan kedua sudah terbuka dan kini sedikit lagi lapisan terakhir akan terbuka.


Devano berusaha mempertahankan data perusahaanya, dengan berbagai cara. Devano mencoba mengirimkan virus, tapi sayang tidak mempan. Oh tidak data perusahaan Devano telah berhasil di bobol.


"Kenapa bisa seperti ini?" Ucap Devano dengan frustasi, Devano berusaha mempertahankan data perusahaanya.


Tak lama kemudian ada pesan masuk ke ponsel Devano.


"Apa ini?" tanya Devano lalu membuka pesan tersebut terlihat sebuah foto orang tertawa dan sebuah pesan berupa ejekan.


Di pesan tersebut tertulis....


"Data perusahaan anda sangat lemah, senang bermain-main sama anda😌"


"Hah, siapa orang ini?" Devano dengan penasaran apa lagi mendengar kata bermain, membuatnya tidak menyangkal bahwa ia sangat terkejut.


Setelah itu data perusahaan Devano kembali lagi, membuat Devano merasa lega.


............


Sementara itu Dika tersenyum dengan lebar, membuat Desi melihatnya dengan heran.


"Kenapa bang? Dapat hadiah ya?" tanya Desi kepada sang abang.


Membuat Dika menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Desi, bukankah dia dari tadi sudah melihat apa yang di lakukan Abangnya. Tapi kenapa Desi masih bertanya lagi?😂


"Kenapa bang? Sakit kepala ya? Sini biar Desi kasih obat" ucap Desi dengan polosnya.


"Astaga Desi, kamu itu tadi liat abang ngapain?" tanya Dika dengan datar.


"Membobol data perusahaan" ucap Desi dengan polos.


"Jadi kamu taukan?" Tanya Dika


"Enggak" jawab Desi dengan wajah tampa dosa. Membuat Dika menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kepolosan Desi selalu saja membuatnya pusing.


"Ih, Kok garuk kepala? Abang punya kutu ya?" Ucap Desi sambil memandang rambut abangnya dengan jijik.

__ADS_1


__ADS_2