TWINS KESAYANGAN CEO ( Pindah Lapak)

TWINS KESAYANGAN CEO ( Pindah Lapak)
CHAPTER 10


__ADS_3

"Huek... Gak enak banget," ucap Ifah.


Pantas saja mereka pada sakit perut ternyata masakan Ifah seperti masakan yang cocok untuk makanan babi🤢.


.....


Setelah drama sakit perut, kini kediaman Andela di buat heboh oleh kelakuan si kembar yang membuat siapa saja pusing. Bagaimana tidak pusing, sikembar melakukan eksperimen yang membuat tanaman bunga Anita dibabat habia oleh si kembar untuk membuat parfum, begitulah katanya.


Anita hanya bisa menatap taman bunganya dengan malang.


"Bungaku," lirih Anita.


"Oma, tenang saja. Nanti parfumnya untuk, Oma," ucap sikembar.


"Hah, biarkan sajalah. Terpenting cucuku bahagia," batin Anita.


"Astaga! Dika, Desi. Apa yang kalian lakukan pada taman Oma kalian?" tanya Miranda yang baru turun dari kamarnya bersiap untuk bertemu klaennya untuk mithing.


"Kami ingin membuat Parfum, Ma." Dengan santainya Twins D berkata seperti itu kepada Miranda.


"Emangnya kalian tau membuatnya?" tanya Miranda.


"Bukan kami yang membuatnya, tapi robot ciptaan abang yang membuatnya. Jadi kami tinggal menunggu saja," ucap Desi dengan senyum lebar kepada Mamanya.


"Apa! Nak sebelumnya apa sudah di uji coba?" tanya Miranda dengan cemas karna ia takut eksperimen itu akan berakibat fatal dan membuat anaknya terluka.


"Sudah kok, Mama. Jadi tenang saja, parfum ini akan menjadi parfum yang terbaik," ucap Dika sambil tersenyum tipis kepada sang Mama.


"Huh, kalian harus mengganti bunga Oma Kalian!" ucap Miranda dengan tegas.


"Mama, Desi dan Dika sudah memesan beberapa jenis bungan. Dan bunganya sama kok dengan yang kami petik di taman," ucap Desi.


"Hah? Dari mana kalian mendapatkan uang?" tanya Miranda dengan terkejut. Miranda mengira anaknya akan mengganti bunga itu dengan cara membantu menanam kembali.


"Hehe, itu hasil dari Dika meretas," ucap Dika sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dika, Mama kan sudah bilang jangan meretas lagi," ucap Miranda dengan gemas kepada Dika.


"Maaf, Ma." Sambil menundukkan kepala Dika berucap seperti itu.


"Hah, jangan ulangi lagi! Mama pergi kekantor dulu," ucap Miranda lalu mengecup kening kedua anaknya.


"Jangan bikin Oma ama Opa repot, ya," ucap Miranda lagi.


"Iya, Ma,"

__ADS_1


Setelah itu Miranda pun masuk kedalam mobil dan pergi menuju tempat Meeting di sebuah restoran.


.........


Sementara itu Devano sedang bersiap-siap untuk pergi Meeting dengan pemilik perusahaan Andela Group.


Devano terlihat bersemangat untuk pergi, entah apa yang membuatnya senang. Sang Asisten pun sudah siap menunggu tuannya untuk mengikuti rapat tersebut.


........


Sesampainya Devano disebuah restoran tempat dia akan meeting bersama Ceo Andela Group.


Ia pun duduk dimeja yang memang sudah dipesan untuk meeting. Tak lama kemudian terdengarlah suara langkah kaki menuju meja tersebut, itu adalah Miranda yang berjalan dengan anggun menuju meja tempat Devano, bersama sang Asisten bernama Dahlia.


Devano yang mendengar langkah kaki pun berbalik bada untuk melihat Ceo baru yang kabarnya menggantikan tuan Mahendra dan juga ceo itu merupakan anaknya.


Seketika Vano terpukau melihat Miranda yang berjalan menujunya. Tunggu, bukankah itu wanita yang ia tabrak di rumah sakit. Apa jangan-jangan....


"Maaf membuat anda menunggu," ucap Miranda yang seketika membuyarkan lamunan Devano.


"Ah, tidak apa-apa, Nona. Saya juga baru sampai" ucap Devano dengan formal.


Jangan tanyakan lagi bagaimana ekspresi wajah Marvel saat ini yang tercengang mendengar perkataan tuannya yang panjang walaupun formal. Biasanya Vano hanya mengucapkan satu atau dua kata saja kepada seorang wanita.


"Tentu saja,"


Mereka pun memulai Meeting tersebut. Meeting tersebut berjalan dengan lancar tapi Miranda marasa risih karna Devano selalu memperhatikannya.


"Bagaimana menurut anda?" tanya Miranda.


"Hmmm, saya menyetujui pendapat anda Nona. Mungkin ini akan meningkatkan penjualan kita," ucap Devano.


"Saya senang anda menyetujuinya," ucap Miranda sambil tersenyum.


"Ini sudah waktunya makan siang, bagaimana kalo kita makan siang bersama?"


tanya Devano kepada Miranda.


"Hmm, baiklah."


Setelah itu mereka pun memesan makanan, sambil menikmati makan siang, Devano pun mulai berbicara.


"Nona, apa anda mengingat saya?"


"Hmm, sebentar biar saya mengingatnya."

__ADS_1


Miranda pun mencoba mengingat apakah dia pernah bertemu dengan Devano tersebut. Ah, akhirnya ia ingat, Devano adalah pria yang waktu itu tidak sengaja ia tabrak di rumah sakit. Seketika wajah Miranda memerah mengingat itu.


"Ah, saya mengingatnya. Tuan adalah orang yang saya tabrak dirumah sakit waktu itu. Soal waktu itu saya sangat minta maaf," ucap Miranda kepada Devano dengan malu.


"Tidak apa-apa, Nona."


"Oh iya, bolehkah saya bertanya?"


"Boleh, silakan tanyakan apa yang ingin anda tanyakan."


"Begini Nona, apakah Nona Mama dari Dika dan Desi?"


"Hah, dari mana anda tau itu Tuan?"


"Saya adalah teman kakak anda Wilson, saat itu saya tidak sengaja bertemu di Mall lalu berkenalan dengan Kedua anak anda, dan juga mengajak anak anda bermain tapi sayang Desi saat itu tiba-tiba merasa tidak enak badan jadi kami membawanya kerumah sakit," jelas Devano kepada Miranda.


"Ooo, begitu.  Saya tidak menyangka orang yang anak saya ceritanya adalah anda," ucap Miranda.


"Iya, Nona, bolehkah saya mampir kerumah anda untuk mengunjungi Dika dan Desi? Karna saya sudah berjanji untuk menemui mereka lagi."


"Tentu saja boleh, Tuan."


"Oh iya, terima kasih sudah mengizinkan saya untuk bertemu Dika dan Desi."


"Iya Tuan, jangan sungkan untuk mampir ke kediaman keluarga saya," ucap Miranda sambil tersenyum manis membuat Devano terkesima melihatnya.


"Ah, cantik sekali," batin Devano sambil menatap Miranda dengan intes.


"Halo, Tuan. Apa anda tidak apa-apa?"


tanya Miranda sambil mengibarkan tangannya di depan Devano. Sungguh ia merasa tidak nyaman dengan tatapan Devano.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak....


Author membutuhkan semangat kalian.....


...


...


....


SEE YOU NEXT CHAPTER 🌼🌷🌼🌷🌼🌷

__ADS_1


__ADS_2