TWINS KESAYANGAN CEO ( Pindah Lapak)

TWINS KESAYANGAN CEO ( Pindah Lapak)
CHAPTER 5 Dilanjut ajalah


__ADS_3

"Desi, ingin Papa, hiks..." ucap Desi dengan mata yang sudah berlinangan air mata.


"Memangnya Papa kamu dimana, hmmm?" tanya Devano kepada Desi dengan lembut. Entah mengapa ketika melihat Desi menangis, ia merasa tidak rela melihat Desi menangis.


"Desi, enggak tau" lirih Desi sambil memeluk Devano dengan erat, Desi merasa nyaman ketika berada di pelukan Devano dan ia juga merasa terlindungi.


"Desi, boleh kok panggil Om Papa"  ucap Devano sambil mencium kening Desi.


"Beneran Om? Berarti Om jadi Papa Desi ya?" tanya Desi dengan mata berbinar-binar melihat Devano.


Devano melihat tatapan Desi ia merasa gemas, lalu ia pun berkata


"Tentu saja, sekarang panggil Om Papa"


"Papa" ucap Desi kepada Devano. Devano mendengar ucapan Desi merasa ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya.


"Dika, sini" panggil Devano kepada Dika yang dari tadi mematung menyaksikan Devano dan Desi.


"Dika, juga boleh panggil Om Papa" ucap Devano kepada Dika dengan lembut. Devano tau sebenarnya dari tadi Dika merasa iri ketika melihat Desi memeluk Devano, karna Dika juga ingin merasakannya.


"Boleh?" tanya Dika dengan penuh harapan.


"Iya boy, sini mendekat" ucap Devano kepada Dika. Dika pun mendekat kepada Devano dengan perasaan canggung.


Setelah di depan Devano, Dika pun lansung Devano gendong bersama Desi yang terlihat masih memeluk Devano dengan erat.


Dika yang digendong oleh Devano, pipinya merah, ia merasa malu jika di gendong.


Devano pun memanggil nama Wil, Wil yang dari tadi melamun memperhatikan kedua keponakannya pun tersadar dari lamunannya.


"Wil, ada yang pengen gue tanyain" ucap Devano.


"Apaan, bro?" tanya  Wilson.


"Ayah keponakan lu kok gak ada sih?" tanya Devano.


"Hmmm, sebenarnya itu gue juga gak bisa jelasin ama lu soalnya itu masalah pribadi adek gue"


Wil merasa tidak enak kepada Devano, karna tidak bisa menjawab pertanyaannya.


"Mmm, gue ama keponakan gue pergi dulu ya, soalnya Desi mau beli peralatan melukis"


"Gimana kalo gue ikut? Gue juga gak ada kerjaan lagi"


Devano merasa tidak rela untuk berpisah dengan kedua bocah kembar ini, oleh karena itu ia ingin ikut.


"Terserah lu aja deh"


"Papa, gak berat apa gendong Desi ama abang?" tanya Desi dengan polos kepada Devano yang menggendong mereka berdua.


"Enggak kok, gini aja Desi sama Papa dan abang sama Uncle gimana mau gak?"


Desi pun memikirkan apa yang dikatakan Devano. Akhirnya Desi pun mengiyakan ucapan Devano, karna itu lebih baik dari pada nanti Papanya kelelahan membawa mereka berduka sekaligus.


"Baiklah, karna itu lebih baik Pa. Dari pada Papa kelelahan menggendong kami, iya gak bang?"


"Ya" Dika hanya berucap iya dengan nada dingin.


"Pa, Desi kan mau habisin uang Uncle. Boleh Desi juga habisin uang Papa?" tanya Desi dengan polos kepada Devano, membuat Devano melongo mendengarnya.


"Sabar bro, gue juga kena" ucap Wilson sambil menepuk bahu Devano.


"Gue sih gak masalah, biarin aja dua bocah ini belanja dengan sesuka hatinya" ucap Devano dengan santai.


"Terserah lu aja deh"


"Beneran lu gak ada kerjaan lagi?" tanya Wilson.


"Enggak, udah beres semua" jawab Devano dengan datar.


"Lah, muncul lagi. Tu muka lu kek dinding aja" ucap Wilson sambil terkekeh.


"Uncle, Papa, ayo kita pergi belanja" ucap Desi dengan cemberut. Sudah dari tadi ia menunggu tapi kapan selesainya percakapan Uncle dan Devano yang dia anggap Papa.


"Aduh, keponakan Uncle yang cantik jangan marah ya, Maaf Uncle lupa. Yaudah, sekarang kita pergi belanja" bujuk Wilson kepada Desi.


"Yuk bro, iya gendong Desi, gue gendong Dika"


"Hmmm" Devano hanya berdehem saja.


"Marvel, kamu ikut saya" ucap Devano kepada sang asisten yang dari tadi hanya diam di tempatnya.


"Sekarang bos?" tanya Marvel.


"Tahun depan, ya sekarang Vel" ucap Devano  dengan geram.


"Hehe, iya bos. Saya ikut bos sekarang" ucap Marvel sambil menyengir.


Sedangkan Dika hanya diam dari tadi di gendongan sang Uncle.


Mereka pun pergi ke toko yang menyediakan alat melukis.


"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya seorang pelayan toko.


"Ambilkan saya satu set alat melukis" ucap Devano dengan dingin.


"Baik tuan akan saya siapkan" ucap pelayan itu berlalu pergi.


"Desi, kamu suka melukis ya?" tanya Devano kepada Desi.


"Iya Pa, melukis sangat menyenangkan. Papa mau lihat lukisan Desi gak?"


"Wah, benarkah? Boleh juga tapi tunggu Papa ada waktu pasti Papa kerumah Desi"


Marvel melongo Mendengar ucapan Devano yang begitu lembut. Karna selama ini Devano selalu berbicara datar kecuali kepada kedua orang tuanya.


"Ok Pa, nanti Desi juga mau liatin Piala lomba melukis milik Desi"


"Wah, kamu punya piala Desi?" Tanya Wilson kepada Desi.


"Iya dong, Uncle. Banyak lo piala Desi,  satu lemari penuh" ucap Desi dengan bangga.


"Wow, tapi kenapa Uncle tidak melihatnya?"


"Karna masih belum sampe ke rumah Opa pengirimannya agak lama" bukan Desi yang menjawab melainkan Dika.


"Ooo gitu ya" ucap Wilson.


"Abang juga punya banyak Piala Uncle" ucap Desi.


"Benarkah Dika?" tanya Wilson kepada Dika


"Ya, itu hasil dari Dika ikut lomba anak jenius" ucap Dika dengan datar


Tapi di dalam hati ia berkata.


(Bukan hasil lomba anak genius aja sih, Cuma di tambah dengan piala lomba dari pembuatan Robot pintar). begitulah kira-kira perkataan Dika dalam hati.


Setelah membeli peralatan melukis untuk desi, mereka pergi ke toko boneka karna Desi ingin membeli boneka yang besar begitulah katanya.


"Desi ingin mana?" tanya Devano kepada Desi dengan lembut.


"Desi mau yang itu" tunjuk Desi kearah boneka beruang berwarna pink yang besarnya melebihi Desi.


"Emangnya kamu bisa bawa?" tanya Dika kepada adeknya sambil memandang boneka yang beruang yang sangat besar itu.


"Kan ada Uncle yang bawa, iya kan Uncle?" ucap Desi sambil mengedipkan mata sebelahnya kepada sang Uncle.


"Tentu saja, serahkan kepada Uncle" ucap Wilson dengan senyum lebar kepada keponakannya.


"Ya sudah, ayo bayar kita bayar" ucap Devano kepada mereka.


"Ayo, Pa. Desi setelah ini mau ke tempat bermain" ucap Desi dengan penuh semangat.


Mereka pun telah selesai membayar boneka yang di telah dipilih oleh Desi tadi, setelah itu mereka pergi ketempat yang di penuhi permainan. Dengan Gembira Desi bermain tapi tidak dengan Dika ia memilih duduk bersama Unclenya dan Devano sambil memainkan hp barunya.


"Dika, kau tidak ingin bermain?"


"Tidak, Uncle. Lebih baik main hp dari pada bermain yang gak ada gunanya" jawab Dika kepada Unclenya dengan datar.


"Ha, kau berbeda sekali dengan Desi yang terlihat ceria" ucap Devano.


"Karna aku laki-laki, jadi tidak perlu bermain. Aku hanya akan mencari uang untuk Mama" ucap Dika dengan datar.


"Hei, kamu ini masih kecil boy. Uang Uncle mu kan banyak, jadi tidak perlu lagi mencari uang" ucap Devano di akhiri kata-kata yang membuatnya terkekeh.


"Tidak, Dika bisa mencari uang sendiri. Dan Dika tidak memerlukan uang Uncle" ucap Dika.


"Abang!" teriak Desi yang baru selesai bermain, ia terlihat berkeringat setelah bermain.


"Desi, sini minum dulu"


"Iya,Pa. Pas sekali Desi sangat haus" ucap Desi sambil menyengir.


"Setelah ini, bagaimana kalo kita berfoto? Anggap saja sebagai kenang-kenangan" ucap Devano kepada Dika dan Desi.


"Wah, Desi mau dong foto sama Papa" ucap Desi dengan senang. Sedangkan Dika hanya menjawab dengan singkat.


"Hmmm, boleh deh" begitulah kira-kira perkataan Dika.


Mereka pun berfoto bersama di sebuah tempat khusus untuk berfoto di mall itu. Mereka seperti ayah dan anak, apalagi wajah Dika yang terlihat mirip dengan Devano. posisi mereka saat berfoto adalah Desi berada di pangkuan Devano sedangkan Dika Duduk di sebelah Devano dengan wajah dingin terlihat sangat cool. Setelah itu giliran Wilson bersama Dika dan Desi. ( oh iya ngomong-ngomong mereka pake hp mereka masing-masing ya, agar fotonya bisa tersimpan di hp dan bisa dicetak jadi klo pake kamera yang ada lansung di cetak gak tersimpan lagi di hp, oh iya yang memfoto mereka Si Marvel😁).


Setelah selesai dengan sesi foto, tiba-tiba Desi mengeluh kepada Devano kalau dia merasa pusing.


"Papa, kepala Desi pusing" lirih Desi sambil memeluk Devano dengan erat, ya saat ini Desi tengah di gendong oleh Devano.


"Desi kamu kenapa?" ucap Devano dengan cemas ketika melihat wajah Desi yang terlihat pucat.


Dika yang melihat adiknya pucat pun menjadi panik, dia lupa bahwa Desi itu memiliki tubuh yang lemah dan tidak boleh terlalu lelah. Ini pasti karna Desi terlalu lama berjalan-jalan.


"Astaga! Dika lupa kalo Desi gak boleh terlalu lelah"


"Apa! Kanapa Dika baru kasih tau sekarang?"


"Namanya juga lupa, Uncle"


"Hei! Hentikan perdebatan kalian, sebaiknya kita segera membawa Desi ke rumah sakit" ucapan Devano seketika membuat Wilson dan Dika berhenti berdebat.


"Hehe, sorry bro." ucap Wilson, sedangkan Dika hanya berekspresi datar(kek lantai keramik😂 biar beda dikit).


Mereka pun bergegas pergi kerumah sakit untuk memeriksa keadaan Desi yang terlihat pucat basi(kasian banget😦 semoga cepat sembuh ya, ingin selalu melihat Desi yang ceria dan polos).


Saat ini Desi sedang di periksa oleh dokter, sedangkan Dika, Wil dan Devano, eh jangan lupakan Asisten Devano yaitu Marvel sedang menunggu di luar ruang.


Tak lama kemudian dokter pun keluar dari ruang tersebut.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Devano dengan cemas.


"Keadaan anak bapak, saat ini sudah mulai stabil. Dan satu hal lagi pak di mohon untuk mengurangi kegiatan anak bapak, agar anak bapak tidak terlalu lelah, saya lihat anak bapak sepertinya memiliki tubuh yang mudah sekali lelah dan mudah jatuh sakit" ucap Dokter tersebut menjelaskan keadaan Desi.


"Baik, Dok"


"Apakah keponakan saya sudah boleh pulang?" tanya Wilson kepada Dokter itu.


"Karna keadaannya sudah stabil, keponakan bapak sudah bisa pulang"


"Baiklah kalau begitu, saya pamit ke ruang pasien yang lainnya dulu"


"Baiklah dokter,"


Dika, Devano, Wilson dan Marvel memasuki ruangan tempat Desi tadi di periksa. Terlihat Desi berbaring di rajang pasien dengan tangan yang di infus.


"Desi, bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Devano.


"Desi, udah gak papa kok Pa," ucap Desi dengan diiringi senyum manisnya, tak lama kemudian Desi pun tertidur, mungkin ini karna Desi baru saja selesai minum obat.


"Desi, mengingatkan Papa pada masa kecil Papa. Waktu kecil, Papa juga memiliki tubuh yang sangat rentan untuk sakit" ucap Devano sambil mengusap kepala Desi.


Tak lama kemudian, terdengar suara hp dan ternyata itu berasal dari hp Wilson.


"Siapa, Wil?" Tanya Devano kepada Wil.


"Mama sikembar nelpon" ucap Wil ketika melihat nama yang tertera di hpnya.


Wil pun, mengangkat panggilan dari Miranda. Terdengar suara seorang wanita yang berbicara dengan cemas.


"........"


"Desi saat ini di rumah sakit"


"......."


"Tadi setelah selesai bermain tiba-tiba dia merasa pusing, jadi kami segera membawanya kerumah sakit"


"........"


"Hehe, maaf lagian kakak juga gak tau"


"........"


"Baiklah, kami berada di rumah sakit ****** ruangan viip no 3"


"........"


"Ya, Wa'alaikumsalam"


Panggilan pun terputus, sedangkan yang lainnya hanya diam mendengarkan pembicaraan Wilson dan Miranda.


"Mendengar suara itu rasa tidak asing" gumam Devano, Ketika ia mendengar suara gadis yang keluar dari hp Wil.


"Tuan, nyonya besar menelfon. Nyonya ingin ada segera pulang" ucap Marvel tiba-tiba yang membuat Devano tersadar dari lamunannya.


"Tunggu sebentar"


"Wil, gue pulang dulu"


"Cepet amat, tunggu sebentar lagi lah, soalnya Mama sikembar mau kesini"


"Lah, emangnya kenapa?"


"Hehe, sekalian lu kenalan ama adek gue" ucap Wil sambil terkekeh.


"Gak bisa ni bro, soalnya di suruh kanjeng Ratu untuk pulang"


"Yaudah deh, hati-hati di jalan bro"


"Ya, gue titip salam aja ke Mamanya sikembar  dan bilangin ke Desi gue kalo ada waktu pasti ketemuan lagi ama Desi" ucap Devano.


"Wah, tumben amat tu omongan panjang" ucap Wilson sambil terkekeh.


"Ck, gue pulang dulu" ucap Devano dengan malas kepada Wilson.


"Dika, Papa pulang dulu ya" ucap Devano ke pada Dika dengan lembut.


"Ya, Pa." ucap Dika dengan datar.


...................


Saat ini, Miranda berada di parkiran rumah sakit, ia baru saja sampai ke rumah sakit untuk pergi menemui Desi. Betapa terkejutnya ketika ia mendengar keadaan Desi dari kakaknya.


*Flasback*


Miranda merasa cemas karna saat ini, kedua anaknya dan kakaknya belum juga pulang dari Mall. Ia pun mencoba menelpon kakaknya.


"Hallo kak, kakak sama anak-anak kok belum pulang? Ini udah mau malam lo"


"Desi saat ini di rumah sakit" ucap Wil dari telpon.


"Apaa! Kok bisa?" tanya Miranda dengan cemas.


"Tadi setelah selesai bermain tiba-tiba dia merasa pusing, jadi kami segera membawanya kerumah sakit"


"Is, kakak sih. Kok gak di batasin waktu bermain Desi, Desi kan memiliki tubuh yang lemah jadi gak bisa terlalu lama bermain"


"Hehe, maaf lagian kakak juga gak tau"


"Baiklah, kami berada di rumah sakit ****** ruangan viip no 3"


"Ok, Mira otw ni, Assalamualaikum"


"Ya, Wa'alaikumsalam"


Setelah percakapan dalam hp pun berakhir, Mira segera berkemas untuk pergi ke rumah sakit.


*Flasback Of*


.........


"Yaudah, bro. Gue pulang dulu"


"Ya, sampai jumpa lagi"😁 (ekspresi Wil seperti emoji itu)


Devano dan Marvel pun keluar dari ruang Desi.


Saat di pertengahan jalan tampa sengaja seorang wanita yang terlihat tergesa-gesa menabrak Devano, wanita itu hampir saja jatuh, tapi dengan cepat tangan Devano memegang pinggan wanita itu agar tidak jatuh.


Terjadilah adegan tatap-tatapan😳.


"Sungguh sempurna" batin wanita itu ketika melihat wajah Devano.


"Cantik" batin Devano, tapi tatapan mata itu rasanya tidak asing.


Sedangkan Marvel dari tadi tercengang melihat adegan itu, sungguh mereka terlihat cocok yang satu tampan yang satu cantik.


Wanita itu pun akhirnya tersadar dari lamunannya. Lalu berkata pada Devano....


"Tuan, bisa lepaskan saya?" tanya wanita itu membuat Devano tersadar dari lamunannya.


"Hah, Maaf nona. Apa nona tidak apa-apa?" tanya Devano kepada wanita itu.


"Saya, tidak apa-apa tuan. Maaf, saya tidak sengaja menabrak tuan tadi"


"Ooo, itu tidak apa-apa" ucap Devano.


Marvel lagi lagi dibuat tercengang, melihat tuannya yang tidak berkata dingin pada wanita itu. Biasanya tuannya akan terlihat dingin dan menetap seorang wanita dengan jijik, tapi kenapa ini terlihat berbeda🙈.


"Permisi, tuan. Saya harus pergi, sekali lagi saya minta maaf" ucap wanita itu.


"Ah, iya nona. Silakan" ucap Devano.


Wanita itu pun pergi dengan wajah yang sangat merah karna malu.


"Ini sangat memalukan" gumam wanita itu, dan berlalu pergi meninggalkan Devano dan Marvel.


...........


"Ayo, Vel. Kita harus segera pulang, sebelum Mami marah padaku" ucap Devano dengan datar.


"Baik,tuan."


..........


Sementara itu Miranda baru saja masuk ke ruangan Desi, terlihat Miranda sangat cemas terhadap keadaan Desi.


"Sayang, kamu gak papa kan? Dimana yang sakit?" tanya Miranda berturut-turut.


"Mama, Desi gak papa kok. Mama jangan khawatir" ucap Desi yang baru bangun dengan senyum manis kepada sang Mama.


"Bagaimana Mama tidak khawatir Desi? Kamu sudah beberapa kali begini, Mama kan sudah bilang jangan terlalu lama kalo bermain" ucap Miranda dengan tegas.


"Maaf, Ma. Desi janji tidak akan melakukan hal yang membuat Desi mudah lelah" ucap Desi dengan lirih.


"Sudahlah, yang penting saat ini Desi tidak kenapa-kenapa" ucap Wilson menyela percakapan Miranda dan Desi.


"Huh, kakak benar. Desi maafin Mama ya sayang? Karna Mama marahin Desi tadi." ucap Miranda dengan menyesal.


"Gak papa kok, Ma. Desi tau Mama sangat khawatir sama Desi" ucap Desi kepada Miranda.


"Mama, kok lama baru sampe" ucap Dika kepada Miranda.


"Oh, itu Mama ... anu"


"Anu apa Ma?"


"Itu ... anu ada sedikit kendala di perjalanan" ucap Miranda gugup dengan wajah yang merah.


Hah, kejadian yang sempat tadi dia alami sungguh itu sangat memalukan.


Membayangkannya saja sudah membuat wajah Miranda memerah.


"Mama" panggil Dika membuyarkan lamunan Miranda.


"Hah, ada apa Sayang?"


"Mama, kenapa melamun? Terus kenapa wajah Mama merah?" tanya Dika kepada Miranda.


"Itu, Mama, cuma kepanasan"


"Oh" ucap Dika dengan cuek(lah tu sifat kok kembali lagi😂 pengen banget rasanya buang tu sifat ke laut😂)


Miranda yang mendengar ucapan Dika yang cuek hanya bisa menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Uncle, Papa dimana?" tanya Desi kepada Wilson, karna ketika dia bangun dia sudah tidak melihat keberadaan Papa angkatnya itu.


"Oh, Papa Desi udah pulang, katanya dia lagi ada urusan, terus nanti kalo ada waktu senggang pasti Papanya Desi datang ke rumah" jelas Wilson kepada sang keponakan.


"Papa?" Miranda bingung ketika mendengar Desi menyebut Papa.


"Itu dek, tadi salah satu teman kakak, Desi anggap Papanya." ucap Wilson.


Miranda mendengar itu merasa sangat bersalah kepada anaknya, selama tujuh tahun ini pasti anaknya sangat menginginkan sosok ayah. Selama hidup di Amerika Miranda memiliki teman yang selalu menemani dan membantu Miranda. Miranda memiliki teman cowo yang bernama Aris munandar. Dan memiliki sahabat perempuan(Namanya di rahasiakan ya)


Sudah dari smp Miranda bersahabat dengan perempuan itu dan saat kuliah sahabatnya pindah ke Amerika karna ayah sahabatnya memiliki urusan dalam pekerjaan.


Selama di Amerika yang menanggung kebutuhan Miranda dan anaknya adalah sahabat Miranda,(teman dan sahabat bedanya, karna Aris itu teman baru Miranda).


(Pokoknya gitu lah Author nya susah mau jelasin) Desi dan Dika lahir saat musim semi, sekarang Dika dan Desi berumur 7 tahun. Musim semi sebentar lagi, Dika dan Desi tak lama lagi berumur 8 tahun.


Miranda malam itu sungguh tidak mengetahui siapa yang telah menidurinya. Karna pria asing itu membelakanginya jadi Miranda hanya bisa Melihat punggung pria itu. Setelah itu  Miranda segera pergi dari tempat itu sebelum pria itu bangun. Awalnya Miranda mengira ia tidak akan hamil karna hanya melakukannya sekali, tapi kecebongnya jadi kok😂. Ingin rasanya Miranda meminta pertanggung jawaban Pria itu, tapi dia tidak tau siapa orangnya, jadi ia hanya bisa pasrah.


"Ma" panggil Desi kepada Miranda membuat Miranda tersadar dari lamunannya.


"Iya, sayang. Ada apa?" tanya Miranda kepada Desi.


"Papa Desi dan abang sebenarnya ada dimana?" tanya Desi kepada Miranda dengan mata berkaca-kaca.


"Hmmm, Papa kalian itu ... emmm, mungkin diculik" jawab Miranda berbohong dengan wajah yang terlihat bingung, ia bingung dengan jawabannya sendiri.(kasih jawaban yang masuk akal kek, masak iya di culik🤣).


"Hah, diculik?" Desi dan Dika terlihat sangat bingung mendengar ucapan Miranda.


"Iya, karna Papa kalian gak pulang-pulang, jadi Mama pikir-pikir mungkin saja Papa kalian di culik" ucap Miranda asal, iya saja bingung dengan ucapannya, semoga aja si kembar percaya🤣.


"Bang, sini bentar deh" panggil Desi kepada Dika.


"Ada apa?" tanya Dika sambil mendekat ke ranjang Desi.


Desi pun mendekatkan bibirnya ke telinga Dika untuk membisikkan sesuatu.


"Bang, jangan-jangan ... Papa diculik tante ondel-ondel" bisik Desi kepada Dika, Dika yang mendengar itu pun memikirkan ucapan Desi.


Mungkin saja Papanya terpikat pada wanita lain dan pergi meninggalkan Mamanya, pikir Dika.


Sementara itu Wilson yang tidak jauh dari si Twins D, tampa sengaja mendengar bisikan Desi kepada Dika. Rasanya ia ingin tertawa dengan keras tapi ia berusaha untuk menahannya😂, sungguh keponakannya terlihat percaya dengan ucapan Miranda yang tidak masuk akal.


"Uncle, kenapa muka Uncle Merah? Uncle lagi nahan kentut ya," ucap Desi dengan curiga memandang wajah Wilson yang memerah karna menahan tawa (Jangan mendekat Guys soalnya Wil mau kentut🤣).


"Hah, enggak kok. Uncle cuma kepanasan kayak Mama kalian"


"Kan ada Ac, emangnya kurang dingin ya Uncle?" tanya Desi dengan raut wajah bingung.


"Eee, itu ----"


"Sayang, sekarang Mama bantu kamu siap-siap untuk pulang" ucap Miranda memotong ucapan Wilson, dia tau  pasti kakaknya tidak bisa menjawab pertanyaan Desi.


"Ok, Ma" ucap Desi.


..............


Sementara itu, Devano saat ini diperjalanan untuk pulang kerumah Maminya. Marvel yang  dari tadi menyetir pun membuka suara, ia ingin menanyakan sesuatu kepada tuan mudanya itu.


"Tuan" panggil Marvel kepada Devano.


"Hmmm"


"Tuan, yakin tidak punya hubungan dengan kedua anak kembar tadi?" tanya Marvel dengan serius kepada Devano.


"Hmmm, entahlah. aku saja baru kenal dengan mereka"


"Apa tuan tidak ingat peristiwa tujuh tahun yang lalu?"


"Tujuh tahun yang lalu?" Devano pun seketika mengingat sebuah kejadian yang membuatnya terus merasa bersalah.


Ya tujuh tahun yang lalu, Devano di jebak oleh rekan bisnisnya dengan cara memasukan obat per*s*ng di minuman Devano.


Hingga malam itu terjadilah peristiwa yang tidak diinginkan, karna pada malam itu, tampa sengaja Devano mengambil keperawanan seorang gadis.


Tapi sayang sekali wajah gadis itu tidak terlihat dengan jelas karna ruangan itu sangatlah gelap, ia hanya bisa melihat pancaran sinar dari mata gadis itu. Bayangan gadis itu selalu hadir dalam benaknya, membuat Devano selalu berusaha mencari gadis itu, tapi anehnya data tentang gadis itu tidak bisa di temukan. Data diri gadis itu sepertinya di lindungi oleh seseorang yang cukup berpengaruh.


.........


"Tuan" panggil Marvel, membuyarkan lamunan Devano.


"Hmmm, ada apa?" tanya Devano dengan dingin.


"Kita sebentar lagi akan sampai di kediaman utama tuan" ucap Marvel.


"Oh, Vel. Selidiki tentang kedua anak kembar itu" Perintah Devano kepada sang Assisten.


"Baik, Tuan"


Tak lama kemudian, Mereka pun sampai di kediaman utama keluarga Anggara. Marvel pun membukakan pintu mobil untuk Devano, dan Devano segera turun setelah sang Assisten membuka pintu mobil.


Devano pun masuk kedalam rumah yang bak istana itu(eh namanya Masion kalo gak salah😂).


Terlihat seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik mendatangi Devano. Wanita itu adalah Marisa Anggara, ibu dari Devano serta istri seorang Rian Anggara.


....


"Vano, akhirnya kamu pulang. Mami sangat merindukanmu"


"Kenapa akhir-akhir ini kamu jarang sekali mendangi Mami?" tanya Marisa kepada putra Pertamanya itu.


"Maaf, Mi. Vano sangat sibuk akhir-akhir ini, banyak tugas kantor yang harus vano selesaikan" ucap Devano dengan lembut sambil tersenyum kepada sang Mami.


Begitulah sifat Devano ketika bersama keluarganya, ia akan terlihat humoris dan tidak sama sekali terlihat sikap dinginnya.


"Vano, lihatlah umurmu yang sudah kepala tiga. Kenapa kamu belum membawa satu pun gadis rumah ini? Mami juga ingin punya menantu dan juga cucu seperti teman arisan Mami" ucap Marisa, sementara itu Devano hanya Diam ketika mendengar ucapan sang Mami.


"Vano ... belum dapat yang cocok Mi"


"Sampai kapan Vano?" tanya  Marisa lalu menghela napas panjang.


"Mi, dimana Papi" ucap Devano mengalihkan pembicaraan.


Marisa hanya menghela napas, ketika Devano mengalihkan pembicaraan.


"Papi, ada di ruang kerjanya" ucap Marisa.


"Yaudah, kalo begitu. Vano mau nemuin Papi dulu"


Devano pun berlalu pergi meninggalkan sang Mami untuk menemui sang Papi diruang kerjanya.


Tok ... tok ... tok


Ketuk Devano kepada pintu ruang kerja sang Papi.


"Masuk" ucap seseorang di dalam ruangan itu.


"Pi" panggil Devano.


"Oh, ternyata kau Vano. Ada apa?"


"Vano, boleh minta tolong?" tanya Devano dengan wajah yang terlihat gugup.


"Tidak salah kau meminta bantuan Papi, sepertinya cukup seruis" ucap Rian sambil mengerutkan keningnya dan dengan heran memandang sang putra.


"Sebenarnya itu ... "  Devano pun menceritakan semua peristiwa yang pernah dia alami tujuh tahun yang lalu. Mendengar cerita Devano, Rian sangat terkejut dan marah kepada Devano. Rian tidak menyangka anaknya bisa menyembunyikan masalah ini dengan rapat tampa ada yang mengetahui kecuali asisten anaknya.


"Kenapa baru sekarang kamu memberi tau Papi" ucap Rian dengan dingin.


"Maaf, Pi. Vano takut Papi akan kecewa sama vano" lirih Devano sambil menundukkan kepalanya.


"Hah, Papi dan anak buah Papi akan membantu mu mencari wanita itu"


"Terima kasih, Pi" ucap Devano dengan senang.


"Kalo begitu, Vano ke kamar dulu ya"


Tampa menunggu ucapan sang Papi, Devano lansung pergi dari ruang kerja Sang Papi.


Sedangkan Rian, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Rian sangat pusing dengan kelakuan anaknya yang satu ini, hah mungkin ini katanya dimasa lalu(wah sepertinya ada cerita yang menarik di masa muda Papi Rian😮).


.....


Tampa Devano dan Rian sadari ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka.


Orang itu adalah Dika. Dika? Ya apakah kalian ingat di Chapter yang lalu ketika Dika berkata ingin bermain dengan Devano yaitu bermain menguping pembicaraan🤣. Dan caranya adalah, ketika Devano menggendong Dika, tampa Devano sadari Dika menempelkan sebuah kamera kecil di saku Devano.yang bisa menyesuaikan warna dengan warna jas Vano.


.......


Dika tersenyum lebar ketika mendengar suara yang keluar dari hpnya.


Oh iya, Desi sudah pulang dari rumah sakit daan saat ini sedang bersama Miranda di kamarnya.


Setelah pulang dari Rumah sakit, Dika segera mengaktifkan robot kamera pintarnya lewat hpnya . Hah, robot? Ternyata kamera yang yang Dika tempelkan itu bukan sekedar kamera, melainkan Robot pintar yang berbentuk kamera tapi bisa berubah bentuk menjadi serangga kecil(Wow😯 mulut Author  ternganga hingga di masukin nyamuk ketika membayangkan Robot yang sangat canggih itu yang merupakan salah satu ciptaan Dika😂).


"A21, aktif." ucap Dika mengaktifkan Robot tersebut yang ia sebut A21


Setelah itu, robot Dika mulai merekam apa pun yang ia dengar mau pun lihat. Setelah mendengar semua perkataan Devano dan Rian. Dika yakin bahwa Devano pasti Papanya karna ia tau bahwa dia dan Desi hadir karna sebuah kesalahan(😢).


"Mungkin Papa Vano beneran papa kandung kami" gumam Dika. Kejadian yang di alami oleh Vano sama persis seperti kejadian yang Mamanya alami yang membuat Dika dan Desi hadir.


"A21, kembali" ucap Dika, iya akan segera menyalin semua perkataan yang terekam oleh robotnya kedalam sebuah memori atau chips(Author gak tau namanya😭)


.......


Disisi lain Robot yang tertempel di jas Devano berubah menjadi robot berbentuk nyamuk. Lalu Robot itu pun terbang meninggalkan kediaman Anggara dan pergi menuju kediaman Andela.


.........


Devano saat ini sedang berbaring di ranjangnya sambil melihat foto dirinya bersama Dika dan Desi. "Apa mungkin mereka anakku bersama wanita itu" batin Devano sambil memandang foto Dika dan Desi.


Lalu Devano pun mengirim foto itu ke pada Marvel dan menyuruh Marvel mencetak foto-foto dirinya bersama si kembar, ia akan memajang foto itu di kamarnya.


Tok ... tok ... tok


Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Devano.


"Vano, ayo turun untuk makan malam"


Ternyata yang mengetuk pintu kamar Devano adalah Marisa.


"Iya Mi, sebentar lagi Vano turun"


Vano pun segera turun untuk makan malam bersama keluarganya.


Ok lah chapter panjang sepanjang massa🤣

__ADS_1


__ADS_2