TWINS KESAYANGAN CEO ( Pindah Lapak)

TWINS KESAYANGAN CEO ( Pindah Lapak)
CHAPTER 4


__ADS_3

"Ih, Kok garuk kepala? Abang punya kutu ya?" Ucap Desi sambil memandang rambut abangnya dengan jijik.


..............


"Desi, kamu bikin abang pusing deh" ucap Dika.


"Tadikan abang bobol perusahan, dan perusahaan itu milik orang yang sangat berpengaruh di negara Ini dan abang berhasil membobolnya, itulah yang membuat abang senang. Bukan senang dapat hadiah😩" ucap Dika lagi dengan panjang kali lebar.😂


"Ooo, cuma gitu doang?" tanya Desi.


"Hmmm" ucap Dika dengan malas.


"Yaudah, Desi mau tidur. Good night bang" ucap Desi dengan santai mengabaikan abangnya yang kesal karnanya.


"Too" Hanya itu jawaban Dika.


Karna Dika juga merasa lelah ia pun juga ikut tidur, tidak lupa ia mematikan komputernya.



Disisi lain, Devano tidak bisa tidur karna memikirkan orang yang telah mencoba membobol data perusahaannya.


Jika bisa bertemu orang itu, Devano akan meminta orang itu berkerja sama dengannya.



Tak lama kemudian, Devano akhirnya bisa memejamkan matanya.


.................


\*Keesokan harinya\*



Keluarga Andela saat ini sedang sarapan, semuanya terlihat sangat tenang. Setelah selesai sarapan mereka pun berkumpul di ruang tamu, karna ada sesuatu yang ingin Mahendra katakan.



"Mira, abangmu telah menerukan perusahaan  utama milik keluarga kita di Amerika, jadi maukah kamu menjadi salah satu pemilik perusahaan milik keluarga kita yang ada di Indonesia?" Tanya Mahendra kepada Miranda.



"Tapi, papakan bisa" ucap Miranda dengan bingung.



"Papa, sudah tua Miranda. Papa ingin menikmati hari tua Papa" ucap Mahendra kepada Mira.



"Baiklah Pa," ucap Miranda.



"Ma" panggil Desi kepada Miranda.



"Iya sayang, ada apa?'' tanya Miranda kepada anaknya.



"Desi dan abang kapan sekolah?" tanya Desi.



"Kalian tenang saja, Opa sudah mendaftarkan kalian di sekolah milik sahabat Opa" ucap Mahendra.



"Wah, serius Opa?" Ucap Desi dengan antusias.



"Iya, mulai besok kalian sudah mulai sekolah  keperluan sekolah sudah Opa siapkan" ucap Mahendra.



"Opa, Dika minta beliin hp" ucap Dika dengan santai meminta kepada Opanya.



"Dika, hp kamu kan sudah ada, beli hp lagi buat apa?" tanya Miranda kepada sang anak.



"Hp yang lama udh bosan, Dika mau hp baru dan hp itu mau Dika modifikasi" ucap Dika dengan santai.



"Pake aja punya kamu yang lama, kan masih bisa" ucap Miranda.



"Sudahlah, biar nanti Papa belikan buat cucu papa" ucap Mahendra.



"Gak usah Pa, biar Wil aja yang temenin si kembar beli hp" ucap Wil



"Wah, asik pergi sama Uncle tampan" ucap Desi dengan senang.



"Uncle, boleh nanti Desi habisin uang yang ada di dompet Uncle?" tanya Desi dengan polos, membuat Wilson melongo mendengarnya.



"Bolehkan, Uncle?" tanya Desi dengan mata berbinar-binar.


__ADS_1


Wilson yang melihat itu pun pasrah, ia tidak menyangka bahwa ia mendapatkan keponakan yang sangat suka menguras isi dompet orang😂



"Tentu saja boleh, apasih yang enggak buat keponakan Uncle yang cantik ini" ucap Wilson sambil menghitung uang yang akan habis oleh si kembar.


(Perhitungan banget sih, Will🤣)



"Maaf, kak. Desi emang suka begitu" ucap Miranda tidak enak kepada sang kakak.



Miranda sudah tidak heran lagi dengan Desi yang suka berbelanja, sudah banyak teman Miranda yang jadi korban Desi🤣



"Gapapa kok, Mir. Yang penting itu mereka senang" ucap Wil.



Mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke mall, Sayang sekali Miranda tidak bisa ikut bersama kakaknya dan sikembar, ada suatu hal yang harus Miranda selesaikan.


...............


Sesampainya Wil dan si twins di mall, mereka pun pergi ke sebuah toko Hp terbesar di mall itu.



"Ada bisa saya bantu tuan?" Tanya seorang pelayan kepada Wil.



"Tolong keluarkan semua ponsel keluaran terbaru" ucap Wil dengan dingin.



"Baiklah, tuan. Silakan ikuti saya" ucap pelayan tersebut sambil membimbing mereka ketempat ponsel yang di pinta Wil.



Pelayan itu pun menunjukkan beberapa ponsel keluaran terbaru.



"Pilihlah yang kamu suka" ucap Will kepada Dika.



"Dika pilih yang itu Uncle" Tunjuk Dika kearah ponsel yang berwarna putih tipis yang bisa dilipat menjadi sebuah jam tangan.(halu Authornya sangat tinggi, setinggi langit 😂)



"Baiklah" ucap Wil lalu memberikan black card ( bener gak sih?) Kepada pelayan itu untuk pembayaran. Setelah pembayaran itu mereka pun keluar dari toko itu.




"Desi, mau beli peralatan untuk melukis, terus baju, mainan, sepatu, tas, dan masih banyak lagi" ucap Desi dengan senang.



Lagi-lagi Wil menelan ludah mendengar permintaan Desi. Tapi itu tidak mengapa, yang penting keponakannya senang.



"Yaudah, sekarang kita pergi makan siang dulu. Hari sudah mulai siang dan sudah waktunya makan siang." ucap Wilson.



"Baik Uncle" ucap si Twins.


Mereka pun pergi ke sebuah restoran untuk makan siang.



Sesampainya mereka disebuah restoran.


Mereka pun memesan makanan yang mereka mau.



Ketika Dika hendak menghabiskan makanannya, ia melihat seseorang yang tidak asing. Ah, ternyata itu pria yang dia anggap papanya.



"Desi, coba sini kamu lihat" ucap Dika ke Desi.



"Apa, bang?" tanya Desi.



"Lihat orang itu" ucap Dika sambil menunjuk kearah orang yang tadi ia lihat.



"Wah, sangat mirip dengan abang" ucap Desi dengan mata berbinar-binar.



"Apa dia ayah kita?" Tanya Desi kepada sang abang.



"Entahlah, mari kita bermain-main" ucap Dika dengan senyum licik.



"Hei, kalian udah selesaikan" tanya Wilson yang baru aja selesai dari toilet.

__ADS_1



"Uncle, mau bantuin Desi gak?" Tanya Desi dengan tersenyum manis kepada Unclenya.



"Mau minta bantuin apa?" Tanya Wilson.



"Coba Uncle lihat orang itu" tunjuk Dika, membuat Wil melihat kearah yang di tunjuk Dika. Betapa terkejutnya, ketika siapa yang Dika tunjuk.



"Astaga, itu orang yang sangat berpengaruh di negara ini. Memangnya ada apa dengannya?" tanya Wilson dengan penasaran.



"Apa Uncle tidak menyadari bahwa wajah Dika dan orang itu mirip?" Ucap Dika dengan santai.



"Apa! Oh iya Uncle baru menyadarinya, apa dia ayahmu Dika" tanya Wil setelah memperhatikan dengan seksama wajah Dika dan Devano.



"Mana Dika tau" ucap Dika dengan datar.



"Lagian Mama gak pernah kasih tau kita tentang Papa" lirih Desi dengan mata berkaca-kaca.



"Huh, jadi apa yang harus Uncle lakukan?" tanya Wil kepada mereka.



" Uncle, aku ingin bermain sebentar dengannya. Bisakah kita kesana?" tanya Dika.



"Baiklah, kebetulan dia teman dekat Uncle" ucap Wil menyetujui permintaan si kembar.



Mereka pun menghampiri meja Devano dan asistennya yang baru saja selesai bertemu klaen(bener gak sih tulisannya).



"Hallo Bro" ucap Wilson sambil menepuk bahu Devano



"Wah, Wil. Sudah lama tidak bertemu, apa kabar?" tanya Devano ketika melihat teman baiknya.



"Kabar gue, baik. Apa gue mengganggu?" tanya Wil kepada Devano.



"Enggak kok, gue baru selesai Mithing" ucap Devano.



"Oh iya, kenali ini keponakan gue" ucap Wilson sambil memperkenalkan Dika dan Desi.



"Oh, bukankah kamu anak yang waktu itu? Kalo gak salah namamu Dika ya?" tanya Devano ketika melihat Dika.



"Iya, Om" ucap Dika dengan datar.



"Kalo anak manis ini siapa namanya?" tanya Devano kepada Desi sambil jongkok di depan Desi.



"Hallo Om tampan, kenalin nama aku Desi anak cantik dan imut" ucap Desi dengan gaya centilnya.



"Kau sangat menggemaskan" ucap Devano sambil mengusap kepala Desi.



Cup~


Desi mencium pipi Devano, membuat Devano terkejut. Tapi ada perasaan hangat dihatinya ketika di cium oleh Desi.



"Ciuman untuk perkenalan Desi untuk Om" ucap Desi dengan mata berkaca-kaca.



"Hey, kenapa Desi terlihat sedih" ucap ucap Devano lalu menggendong Desi.



"Desi...."



Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak....


See you...

__ADS_1


__ADS_2