TWINS KESAYANGAN CEO ( Pindah Lapak)

TWINS KESAYANGAN CEO ( Pindah Lapak)
CHAPTER 11


__ADS_3

"Halo, Tuan. Apa anda tidak apa-apa?"


tanya Miranda sambil mengibarkan tangannya di depan Devano. Sungguh ia merasa tidak nyaman dengan tatapan Devano.


"Ah, saya tidak apa-apa," ucap Devano setelah tersadar dan dengan cepat mengalihkan pandangan kearah lain. Devano merasa malu karna ketahuan sedang memandang Miranda dengan intes.


"Hmm, Nona. Bisakah anda memanggil saya Devano saja? Karna ini bukan jam kerja kita bisa bicara dengan santai," ucap Devano kepada Miranda sambil tersenyum tipis(eeee setipis ... Ah terserah kalian mau setipis apa yang penting tipis).


"Ah, baiklah. Vano kamu bisa memanggil ku Mira," ucap Miranda sambil tersenyum lagi😊.


Sementara si assisten Devano yaitu Marvel, ia sedang memperhatikan Tuannya yang ... berbeda sekali. Baru kali ini ia melihat Tuannya mau tersenyum pada wanita walaupun tipis.


Setelah mereka menyelesaikan makan siang. Devano pun di ajak Miranda pergi ke Mansion Andela untuk menemui sikembar. Sebelumnya Devano juga meminta izin untuk membawa Sikembar ke Mansion Anggara, awalnya Miranda menolak tetapi Devano segera menjelaskan bahwa Kedua orang tuanya ingin bertemu dengan sikembar.


Miranda pun hanya menghela napas lalu berkata itu terserah sikembar mau atau tidak.


Oh iya sebelumnya Dahlia harus kembali ke kantor untuk mengurus hasil Mithing tadi.


Mereka bertiga pun akhirnya sampai di MansionĀ  Andela yang hampir sma besarnya dengan mansion Anggara hanya saja Mansion Anggara memiliki taman yang lebih luas.


Ketika Miranda turun dari Mobil terdengar teriakan seorang anak memanggil Miranda.


"MAMA ... YEY AKHIRNYA MAMA PULANG!!" Teriak seorang gadis kecil yang ternyata adalah Desi yang keadaannya sudah cukup baik.


"Hei sayang, jangan teriak-teriak. Lihat siapa yang ingin menemui kalian?"


"Siapa, Ma?" tanya Desi dengan mata berbinar-binar.


"Hmm, sebelum Mama kasih tau. Mama mau nanya Abang kamu dimana?" tanya Miranda kepada Desi.


"Abang ada diatas, nyelesain parfum yang terakhir," ucap Desi sambil tersenyum terlihat pipinya yang semakin lebar itu ... Ah menggemaskan sekali.


"Bentar, Mama panggil orangnya dulu," ucap Miranda memanggil Devano bersama Marvel untuk masuk kedalam.


"Vano, ayo masuk. Sekalian ajak asistenmu," panggil Miranda kepada Devano.


Dan Devano bersama Marvel pun mengikuti Miranda masuk kedalam Mansion.


"Desi, Ayo kesini."Ā  Panggil Miranda kepada Desi yang sedang sibuk bermain Boneka.

__ADS_1


"Iya, Ma."


Desi pun menghampiri Mamanya tapi dirinya seketika mematung melihat seseorang laluĀ  berlari kearah Devano lalu memeluknya karna lihat seseorang yang sangat ia rindukan.


"PAPA!!"


"Desi, merindukan Papa," ucap Desi sambil memeluk Devano dengan erat.


"Papa, juga rindu kamu," ucap Devano sambil membalas pelukan Desi.


"Hmm, abang kamu mana?" tanya Devano kepada Desi yang masih asik dalam gendongannya.


"Abang ada dikamar, Pa. Lagi nyelesain buat parfum, Papa mau?" tanya Desi dengan polos.


"Wah, memangnya bisa buat parfumnya?" tanya Devano sambil terkekeh.


"Bisa dong, Pa. Udah jadi beberapa botol lo," ucap Desi.


"Yaudah nanti Papa coba satu, emangnya pake apa buatnya?" tanya Devano lagi(astaga ni orang tanya terus cape jawabannya tauk).


"Pake robot, Pa. Papa, mau ikut kamar AbangĀ  gak? Liat abang buat parfum terakhir," ucap Desi kepada Devano.


"Hmm, boleh deh."


Devano sangat penasaran bagai mana cara Dika membuat parfum menggunakan robot. Dan satu lagi iya masih bingung ketika mendengar kata robot. Devano tidak pernah mendengar ada orang yang menjual robot khusus pembuat parfum. Apa jangan jangan Dika sendiri yang membuatnya. Ah, sudahlah nanti dia akan meminta penjelasan dengan Dika.


Sementara itu, Miranda yang tadi memperhatikan keakrapan Devano dan Desi hanya bisa menatap dengan sendu. Sepertinya Desi sangat senang dengan kehadiran Devano yang membuat Desi merasa bersama dengan Papanya.


Lalu miranda pun pergi ke dapur untuk menyiapkan camilan dan Minuman untuk Devano dan Marvel.


.........


Devano pun menaiki tangga sambil menggendong Desi. Desi pun tak lupa menunjukan arah dimana kamar sang abang berada.


Sementara itu Marvel hanya bisa mengikuti atasannya dari belakang.


Tak lama kemudian meraka sampai dikamar Dika.


Desi pun lansung mengetuk pintu kamar abangnya.

__ADS_1


"Abang, ooo Abang," panggil Desi kepada sang abang yang ada di dalam kamar.


"Masuk aja Dek, gak di kunci kok," sahut Dika dalam kamar.


"Ayo, Pa. Kamar abang keren lo," ucap Desi kepada Devano dengan semangat.


"Baiklah, ayo kita masuk," ucap Devano kepada Desi.


Desi, Devano dan juga Marvel pun masuk ke kamar Dika. Ketika mereka pintu kamar terbuka, terlihatlah sebuah kamar yang berwarna biru gelab dangan hiasan bintang di langit langit. Kamar itu jugaĀ  penuh dengan piala dan penghargaan terbaik serta banyaknya robot dari kecil hingga besar, sehingga Devano dan Marvel tercengang ketika melihat kamar Dika yang tidak terlihat seperti kamar anak-anak pada umumnya.


"Kerenkan, Pa? Ayo kita masuk ke ruangan yang itu Pa," ucap Desi sambil menunjukan ruangan yang ada dikamar Dika. Ruangan itu adalah ruang yang di khususkan untuk Dika membuat sesuatu seperti saat ini Dika membuat parfumnya disana.


Mereka pun memasuki ruang tersebut, lagi-lagi Devano dan Marvel terpukau dengan ruangan yang penuh dengan alat canggih dan terlihat Dika duduk di meja yang penuh dengan bungan dan di tengah-tengah meja itu terdapat robot yang lumayan besar.


Dika hanya mengetahui Desi yang datang, ia sama sekali tidak tau jika ada Devano dan Marvel. Dika masih terlihat sibuk mengekstrak sari bunga untuk menjadi Parfum.


"Dek, kamu duduklah dulu. Abang harus menyelesaikan parfum terakhir ini," ucap Dika tampa melihat kearah Desi sambil memasukan satu-persatu bunga kedalam robot yang di di meja itu.


"Tapi, Bang. Ada yang pengen Desi tunjukin," ucap Desi dengan wajah cemberut.


"Bentar lagi," ucap Dika sambil memperhatikan robotnya yang mengekstrak bunga-bunga yang akan menjadi parfum.


Tak lama kemudian terlihat ada yang menetes di selang robot parfum tersebut.


"Yes, berhasil!!" ucap Dika dengan senang.


"Udahkan, Bang?" tanya Desi.


"Udah," ucap Dika lalu kembalikan badan.


"Apa ya---" ucapan Dika seketika terhenti ketika melihat Devano yang sedang menggendong sang Adek.


Bersambung......


Lanjut gak ni?....


Jangan lupa tinggalkan jejak....


Author butuh semangat dari kalian😊

__ADS_1


Terima kasih buat yang sudah mampir....


See you Next Chapter😘😘😘


__ADS_2