UNCOMPLICATED

UNCOMPLICATED
TAK TERDUGA


__ADS_3

“Hello guys lama tidak jumpa.”


benar kan? Setelah dijenguk oleh Zyedan semangat hidup Bianca utuh lagi. Bahkan ia terlihat sangat sehat. Sohib-sohibnya tentu rindu dong dengan cewek ngangenin satu ini. Sehari tak ada wujudnya saja kelas garing kayak ikan asin. Saking senang dan lebaynya mereka berpelukan kayak teletubies. Setelah habis masa-masa nostalgia yang tak seharusnya, mereka pun mengobrol-ngobrol ria. Tapi dari dasarnya Bianca tidak suka rumpi. So, dia menjauh dari keramaian. Ia butuh obat ketenangan dengan menonton drama Korea. Tapi sebelumnya Bianca sempat lirik kanan-kiri mencari sosok Zyedan yang belum datang. Tak pikir panjang Bianca langsung menyalakan laptopnya dan mulai menonton drama favoritnya.


Aigoo! Lagi seru-serunya tiba-tiba ada makhluk sialan yang memotong dan merusak kebahagiaan Bianca. Bianca ngedumel saat seseorang menepuk-nepuk pundaknya. Ngeselin ya Tuhan, bel jam pelajaran aja belum bunyi. Kenapa ngenganggu sih!


Orang itu naik tingkat dengan menarik pelan rambut Bianca.


Walau pelan kalau sakit ya tetap saja sakit. Dengan tampang murka Bianca menoleh, tapi sedetik kemudian wajah itu sirna dan bermetamorfosis dengan tampang paling indah. Bianca tersenyum menjijikkan.


“Bisa minggir dari bangku saya?”


Bianca memang beranjak, tapi bukan berarti pergi. Cewek itu beralih tempat ke bangku sebelahnya. Tiba-tiba Bianca teringat ide Difa kemarin sore.


“Zye!” Bianca menoel-noel tangan Zyedan.


“Apa?” Zyedan menoleh dengan muka cuek.


“Besok kan libur, gue pinjem waktu lo bentar bisa gak? Harus mau ya!”


Cewek aneh! Untuk apa nanya kalau ujungnya membuat keputusan sendiri.


Tanpa mendengar jawaban Zyedan Bianca beranjak dari kursinya.


“Oke thanks pangeran tembok!” Bianca tersenyum lebar dan menarik pipi kiri Zyedan. Ia ingin melihat ekspresi lain dari cowok itu lebih sering.


-000-000-


“Woohhhh...” Bianca berteriak di balik terpaan angin. Dari atas bukit ini Bianca bisa melihat semua yang di bawah dengan jelas. Terkadang ia bahagia hanya dengan mengawasi dari jauh.


Bianca merentangkan tangan kemudian berputar-putar membawa dunia ke dalam pelukannya. Tapi tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh Zyedan.


Cowok itu berlutut di bawah kaki Bianca. Bianca ikut menunduk melihat Zyedan yang ternyata sedang memasangkan tali sepatunya.


“Lain kali kalau mau dalam bahaya jangan ngajak-ngajak saya. Saya benci direpotkan. Dan satu lagi, apa alasan kuat kamu membawa saya ke tempat seperti ini?”


Tiba-tiba Bianca berubah kalem. Ia menjadi terlihat sangat menenangkan. “Ayah pernah bilang, dulu Ibu suka pergi ke tempat ini. Dan setiap gue melakukan adventure gue selalu merasa bahwa Ibu bersama gue. Sorry, bukan maksud gue untuk melibatkan lo keurusan pribadi, tapi gak tau kenapa gue merasa nyaman ada di sisi lo,”


Melihat Bianca melow kayak gini, Zyedan jadi iba. Dia juga kan manusia, punya hati punya rasa.


“Gue kesepian, kenapa gue gak pernah merasakan dengan apa yang dinamakan kasih sayang seorang Ibu.” air mata Bianca mengalir. Selalu saja, bila mengingat itu Bianca langsung berubah cengeng.

__ADS_1


Spontan Zyedan memeluk Bianca. “Kamu tidak akan pernah kesepian.”


Sebenarnya nasib mereka sama, terhempas dalam sebuah kesakitan akan sebuah kehilangan. Siapa yang tidak sesak bila mengingat hal itu? Seolah-olah kita tak lagi mengenal arti hidup. Seseorang yang berharga telah pergi, menyisakan orang yang ditinggalkan dengan kemalangan yang berujung.


Zyedan percaya sebuah pelukan dapat meringankan beban pikiran seseorang yang terhanyut dalam masalah. Pelukan adalah salah satu obat penenang yang selalu ampuh.


“Jangan rapuh, karena hal itu bisa membunuh. Cukup percaya bahwa di setiap kesulitan akan ada kemudahan. You are strong women right?” Zyedan mengangkat wajah Bianca dan menghapus sisa-sisa air mata cewek itu.


Jujur Bianca takjub dengan apa yang ia rasakan. Perhatian seorang Zyedan, siapa yang tak bahagia mendapatkannya? Mulai detik ini mereka sadar, ada yang sedikit berbeda dengan apa yang di rasa. Hati Zyedan berdebar saat menatap Bianca, membuat cowok itu jadi salah tingkah. Mereka terlalu bodoh untuk mengetahuinya.


-000-000-


Mungkinkah bila ku bertanya


Pada bintang-bintang


Dan bila ku mulai berharap bahasa kesunyian.


Aku dan semua yang tercipta karena cinta...


Bianca refleks melantunkan lagu lama Peterpan saat melihat langit indah bertabur bintang. Pipinya merona mengingat kenangan bersama Zyedan minggu lalu. Moment di atas bukit itu membuat ia senyum-senyum sipu. Ternyata Zyedan bisa sangat manis dan itu mengejutkan.


Bianca melambai-lambaikan tangan dengan riangnya. Dan Zyedan membalas dengan seulas senyum.


Bianca mengirim pesan singkat ke nomer Zyedan. 'Jalan yuk, suasana bagus kayak gini jangan disia-siain. Ada tempat bagus loh.'


Tring. Dua menit setelahnya terdapat jawaban dari Zyedan. 'Boleh'.


Mereka pun sama-sama turun ke bawah. Anehnya Bianca merasa udara berubah hangat. Jalan berdampingan bareng Zyedan itu kayak ada debar-debarnya. di sepanjang jalan Bianca tiada henti menahan debar jantungnya agar ia bisa bersikap senormal mungkin.


“Di sini kita bisa lihat bintang lebih jelas, mereka serasa dekat.” Bianca menghempaskan badan ke tikar rerumputan dan berhadapan dengan langit. rasanya menakjubkan. Bianca menepuk-nepuk tempat di sebelahnya meminta Zyedan untuk ikut berbaring di sana. Cewek itu menatap dengan wajah meyakinkan.


“Keren kan? Bayangin dan rasakan bahwa mereka sedang bersama kita. Mereka yang kita cinta selalu mengawasi di sana.”


Zyedan mencoba membuktikan dengan mengikuti saran Bianca. Cowok itu memejamkan mata sambil meraba detak jantungnya. Zyedan merasakan sesuatu yang baru. Entah kenapa seperti batas antara dua dunia itu serasa tiada. Zyedan bisa merasakan keberadaan dua orang tuanya.


Zyedan membuka mata dan menatap Bianca. Perasaan ajaib apa ini? Efek saran dari Bianca ternyata mampu membuat Zyedan merasa tenang dan nyaman.


“Tetep jaga selalu doa untuk mereka. Agar mereka tenang dan tahu bahwa kamu baik-baik saja. Kesedihan hanya sebuah penghancur.”


Kata-kata bijak dari mana bisa Bianca dapatkan? Setelah mengenal Bianca ia percaya bahwa belum tentu yang dianggap buruk adalah penghancur. Bolehkan Zyedan melupakan segala kepahitan selama ini? Ia ingin memulai kebahagiaan baru. Semoga.

__ADS_1


-000-000-


Hoaaammm. Para siswa XI IPA2 mulai bosan. Kuap demi kuap mereka tahan. Soalnya di jam pelajaran Pak Sukrimin itu ada peraturan dilarang bergerak. Jadi dari awal belajar sampai akhir mereka harus duduk tegap, pandangan lurus memperhatikan papan tulis. Guru killer emang! Padahal Matematika cuma dua jam pelajaran tapi kok rasanya kayak seabad ya? Saking pusingnya Bianca merasa dunia akan berakhir. Miris sekali bukan?


Tik-tok-tik-tok. Waktu terus berjalan. Dan hingga saat yang dinantikan tiba. Bel pulang sekolah! Sungguh rasanya bahagia sekali. Melebihi bahagianya pacaran sama Justin Bieber.


Selesai mengemas buku dan memberi salam hormat Bianca melangkah keluar. Tapi, Door! Jantung Bianca mendadak seperti habis ditembak. Lihat siapa yang tengah berdiri di depan kelas. Cowok itu menatap Bianca dan kemudian tersenyum. Ia perlahan menghampiri Bianca. Dan pastinya sekarang Bianca lagi gugup-gugup menjijikkan. Jantung Bianca berdetak hebat saat Fauzan tiba-tiba merangkulnya.


“Kamu kok kusut sekali? Habis di belenggu sama Matematika pasti?” Tiba-tiba Fauzan bersikap sok akrab. Tentunya membuat Bianca terheran.


“I-iya.” jawab Bianca gelagapan. Diperlakukan kayak gini bikin Bianca flash back.


“Jalan yuk?”


Jleb! Meleleh sudah. Bianca menampar pipinya memastikan apakah ini adalah mimpi? Sakit ternyata. Oh tidak! Kenapa Fauzan bersikap seperti mereka saat masih pacaran?


“Pipinya kenapa ditampar? Kan jadi memar.” Fauzan mengangkat wajah Bianca dan mengusap-usap pipi cewek itu kemudian meniupnya. Astaga! Cowok ini sangat lihai membuat cewek baper. Pipi Bianca tambah merah tapi bukan karena sakit bekas tamparan melainkan karena sikap Fauzan yang tiba-tiba berubah mesra.


Sekarang rangkulan Fauzan berubah jadi genggaman. Oh My God! Runtuh sudah benteng yang dengan susah payah Bianca bangun.


“Ayo naik!” Fauzan meminta Bianca untuk segera bersamanya. Tapi tiba-tiba Bianca teringat Dwi, apakah cowok itu tidak takut kena semburan api jahanam?


“Kamu gak ngajak Dwi? Kok malah ngajak Aku?” Bianca bertanya sampai keringatan saking gugupnya.


“Sorry, untuk sekarang gak usah ngomongin dia dulu bisa? Aku lagi kangen sama kamu.” cowok itu mengacak rambut hitam Bianca. Ahh lagi-lagi ia membuat jantung Bianca berdebar. Masih sedikit kaku cewek itu pun naik ke motor Ninja putih Fauzan. Kalau boleh jujur betapa Bianca merindukan suasana ini.


-000-000-


Di taman penuh bunga-bunga mereka bagai sepasang kekasih yang sedang membagi asmara. Bianca mengedarkan pandangan memperhatikan setiap sudut tempat itu. Di taman inilah ia memulai dan mengakhiri kisahnya bersama Fauzan. Rasanya hari ini seperti


warna merah jambu yang sedang mengisi relung hatinya. Berbunga-bunga dan pastinya Bianca bahagia. Ia tak pernah menyangka akan mengulang moment bersama lelaki yang pernah mengisi kekosongan hatinya.


Fauzan meraih dua tangan Bianca. Mengecupnya sekejap kemudian menggenggam. Cowok itu menatapnya, menembus hingga ke pagar-pagar pertahanan hati. Wajahnya kini berubah serius. Seperti ingin mengatakan suatu hal serius. “Bie, Maafin si brengsek yang tega bikin cewek baik hati seperti kamu hancur. Jujur, gak pernah seorang pun yang berhasil menggantikan posisi kamu. Maaf, karena aku terlalu bodoh.” Bianca langsung menegang ketika Fauzan membahas suatu hal sensitif.


Sebenarnya Bianca tidak suka mengungkit masa lalu.


“Jangan khawatirin Dwi, aku nggak cinta sama dia. Aku cuma berharap kita bisa kembali.”


Boom! Bianca belum siap mental untuk mendengarnya. Walau terlalu rindu cewek itu tidak mungkin dengan mudah menerima. Dan di saat situasi rumit ini Zyedan muncul bagai penolong. Entah dari mana Zyedan bisa tahu keberadaan Bianca bersama Fauzan. Dan apa yang menariknya untuk melakukan ini? yang pasti Bianca merasa terselamatkan. Dengan sangat tiba-tiba dan tidak sopan Zyedan menarik Bianca.


“Merepotkan sekali! Apakah kamu diciptakan hanya untuk membuat hidup saya berantakan? Bahkan saya tidak bisa menikmati tidur siang karena ayahmu yang terus saja menelepon dan meminta saya untuk mencari keberadaan putrinya,” Zyedan membuang napas dengan kasar. Ia melirik Fauzan sekilas kemudian, “Lain kali kalau kamu mau membawa gadis purba ini keluar, harap kamu hubungi saya. Karena saya nggak suka direpotkan seperti ini.” ucap Zyedan. Ia menatap Fauzan dengan tatapan tidak suka dan membawa Bianca pergi dari tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2