
'' ZYEDANNNN. "
Berisik sekali ya Tuhan! Nyaringnya melebihi bunyi alarm. Nyaris saja Zyedan mengira itu gempa bumi. Teriakan Bianca menggemparkan seisi rumah cowok itu. Masih dengan mata setengah terpejam Zyedan berjalan membuka pintu.
Ini kan hari minggu?! Tidak bisakah Bianca membiarkan dirinya beristirahat?
Zyedan mengacak rambut jengkel melihat Bianca telah berdiri rapi dengan semerbak harum bunga-bunga artifisial. Cewek itu tersenyum lebar sambil mengangkat rantang di tangannya.
“Taraaa... gue bawain makanan buat lo.” Bianca mendorong Zyedan dan masuk ke dalam rumahnya.
Sebenarnya yang tuan rumah siapa?
Spontan Bianca terkejut bukan main begitu melihat keadaan rumah Zyedan yang seperti habis dilanda gempa.
“Dasar cowok! Rumah berantakan kayak kapal pecah gini malah males-malesan.”
Zyedan berjalan malas mendengar kicauan Bianca. Ia mencuci mukanya sembarangan.
Sembari menunggu Zyedan, cewek itu membereskan rumah dan menyiapkan makanan. Setelah semuanya rapi dan Zyedan sudah sepenuhnya sadar akhirnya dengan terpaksa cowok itu mencicipi satu persatu masakan Bianca.
Dengan wajah yang teramat biasa, tanpa ekspresi cowok itu menelan suapan demi suapan. Tidak seperti yang di harapkan Bianca. Ternyata Zyedan tidak memuji masakannya ataupun berterima kasih dengan kebaikannya.
Cewek itu memperhatikan Zyedan sambil menopang dagu. “Oya Zye, gue penasaran, kemaren kok lo bisa temuin gue di taman?”
Uhuk. Segala sesuatu yang memenuhi mulut Zyedan langsung menyembur keluar. Ya, cowok itu tersedak. Dan Bianca tak kalah terkejut. Cewek itu menepuk-nepuk heboh pundak Zyedan.
“Zye, astaga minum buru! Jangan sampe napas lo berhenti di sini.” Bianca memberikan segelas air putih dengan wajah cemas.
Setelah semuanya kembali netral, Zyedan perlahan menatap Bianca dengan sorot mata yang membingungkan. Sebenarnya ia secara sengaja melihat Fauzan membawa Bianca. Kalau bukan karena semburan Pak Sam yang terus terngiang-ngiang agar ia menjaga putrinya, Zyedan tak akan mungkin melakukan tindakan bodoh dengan mengikuti gadis itu. Sampai pada satu titik ia paham Bianca dalam situasi sulit. Dengan berat hati ia ikut campur dalam permasalahan dua manusia itu. Jujur saja Zyedan paling tidak suka dengan cowok yang jelas-jelas sudah menyakiti lalu dengan mudahnya meminta kembali. Betapa manusia yang tidak memiliki urat malu.
__ADS_1
“Saya hanya tidak suka melihat gadis bodoh seperti kamu semakin diperbodoh oleh pria tak punya muka seperti dia, dan saya yakin kamu bukan gadis segampang itu untuk bisa menerima orang yang sudah memutuskan untuk pergi.”
Damn! Mendengar jawaban Zyedan rasanya sesak sekali. Entah kenapa ia merasa bingung dengan sikap Zyedan. Bianca yakin bahwa sebenarnya Zyedan tidak sedingin itu, ia tahu Zyedan peduli dengan hidupnya. Dari awal harusnya ia sadar bahwa Zyedan tidak seburuk yang Bianca bayangkan. Zyedan adalah cowok yang mudah mengerti perasaan wanita.
Jujur saja Bianca merasa senang dan nyaman, ia seperti diberi sebuah harapan besar. Dengan senyum hangat Bianca memegangi tangan Zyedan, “Lo tenang aja, gue gak senista itu. Lo bener, gak mudah buat menerima orang yang pernah mengkhianati gue. Makasih karena lo udah nyelametin gue dari situasi kemarin.” Bianca tersenyum lalu bangkit dan berlalu pergi.
-000-000-
“Jika nanti kamu kembali hanya membuat hari-hariku patah, lebih baik tidak usah singgah, karena tak mudah bagiku bangkit dari lubang yang sama. Mengertilah, melupakan dan jatuh cinta bukanlah hal yang mudah.”
Selintas curahan hati tercoret dalam sebuah lembaran putih, bagi Bianca jatuh cinta dan patah hati itu layaknya tempe dan kedelai, mereka saling berkaitan. Adanya rasa sakit tercipta karena ada sebuah rasa sayang. Bagi Bianca kembali bersama Fauzan adalah ketidakmungkinan. Meski rasa yang pernah ada itu belum hilang sepenuhnya.
Damn! Situasi ini sungguh menyulitkan. Membuat otak-otaknya memisahkan diri dan enggan memberi solusi.
Satu hal yang dilakukan Bianca bila sedang pusing begini, yaitu makan! Ya, dengannya Bianca merasa tenang. Dengan langkah lebar cewek itu pun keluar kamar. Dunia sempit sekali!
-000-000-
Lagi asyik-asyiknya melahap, satu malaikat tiba-tiba muncul di hadapannya, siapa lagi jika bukan Zyedan? Bahkan makanan bulat itu pun ikut terkejut. Ia mengeluarkan diri dari mulut Bianca.
“Sekarang kok gue ngerasa elo yang jadi penguntit?” ungkap Bianca begitu melihat Zyedan tiba-tiba duduk di hadapannya.
Zyedan menatap datar dan memesan satu mangkuk bakso.
“Ngaku aja sih, lo ngikutin gue, kan?” Bianca memaksa meminta penjelasan.
Zyedan melakukan gerakan tiba-tiba. Cowok itu mengambil alih garpu Bianca dan menyumpal mulut cewek itu dengan bakso hingga membuat Bianca tak berkutik. Begini lebih baik!
Zyedan melahap santai satu-persatu bakso yang ada di dalam mangkuknya. Sedangkan Bianca? Ia menunggu jawaban Zyedan yang lama sekali muncul. Jika dihitung mungkin ia masih sempat catokan sampai cowok itu angkat bicara.
__ADS_1
Bruh... Dicuekin itu menyakitkan. Kacang sih gurih, tapi kalo dikacangin perih.
Bianca ngambek, dia membiarkan mangkuknya yang masih terisi lalu bangkit berdiri
“Tunggu! Duduk di sini.”
Nurut? Tentu saja, Bianca ngikutin perintah Zyedan. Ini udah sepuluh menit, cowok itu mau apa? Nyuruh Bianca jadi pengamat bagaimana ia mengunyah kah?
Si bodoh ini, terlalu berharap hingga ia lupa bahwa dirinya dipermainkan.
"Lo mau apa? Yang jelas!” sepertinya Bianca lagi sensitif.
Sstt! Zyedan mencubit bibir Bianca dan membawa cewek itu pergi saat acara mengisi perut selesai.
Kepalsuan harapan apa lagi yang akan Zyedan berikan dengan membawa Bianca ke taman?
“Dengar baik-baik, sekarang kamu telepon Fauzan.”
Seriously? Mau apa dia? kenapa Bianca sedang merasa dijajah ya?
“Kamu ingin solusi bukan? Jika kamu ingin berhenti mencintai dia, maka lakukan apa yang saya katakan!”
"Gak!" Bianca menepis pegangan Zyedan.
Bianca kesal, ia tidak suka dikasihani. Bukan bantuan seperti ini yang ia inginkan. Tidak semudah itu menolak begitu pun menerima. Harus ada pengorbanan rasa diantara keduanya. Sayang yang di lebih-lebihkan memang menyakitkan. Bianca menyesal pernah melakukannya. Kini ia hanya bisa menanggung dunia yang rumit ini. Ya, cinta memang sememilukan itu.
“Tidak usah merasa jadi orang paling berharga. Saya tidak sebaik itu untuk ikut campur.” Selalu saja nada datar itu membuat Bianca tergeming. Kata-kata Zyedan terlalu penuh makna.
“Lakukan, jika kamu merasa itu baik.” itu kata terakhir Zyedan sebelum ia berhenti peduli.
__ADS_1