
Ahhh... Shit! Hidup Bianca serasa di penjara. Penuh sesak! Berapa lama lagi dia harus terus-terusan begini? Bersembunyi dari sosok Fauzan itu lelah rasanya. Cowok itu tak ada habisnya membuat Bianca tertekan batin. Sekarang Apa? Bukankah berpisah adalah pilihan Fauzan? Lantas apa guna sekarang ia mencari-cari? Ingatlah, kembalinya sesuatu yang telah hilang itu rumit! Percayalah! Perjuangan pun akan lebih keras dari mendapatkan cinta Selena Gomez. Hati yang tersakiti, juga cinta yang disia-siakan adalah alasan kamu harus menerima sebuah penyesalan. Karma memang tak semanis kurma.
Bianca terduduk lemas di kursi belajarnya. Cewek itu mengedarkan pandangannya ke seisi kelas, dilihatnya Zyedan yang lagi asik baca buku Biologi. Cowok itu, apakah dia spesies makhluk primata? Bukannya menghibur Bianca malah asik masuk ke dunia binatang purba. Cowok memang susah peka!
“Bie, gua capek ya! Tiap hari di datengin Fauzan cuma buat nanyain elo. Gue kan juga punya hati, sekali-kali nanyain gue kek. Kan rese tuh cowok!” Spontan suara Difa yang cempreng itu memecahkan kelas. Nyaris seperti toa dengan volume maximal membuat Bianca menjauhkan wajahnya sambil meringis.
Difa mulai kesal dengan keberadaannya sebagai tempat perantara Fauzan ketika butuh. Cewek itu mengambil alih pulpen yang Bianca pegang, menghentikan aktivitas menulis Bianca dan berharap cewek itu dapat fokus pada keluhannya.
“Apa bedanya sama gue sih, Fa? Nyesek jiwa tau gak? Lebih enak nangkis bola pingpong dari daripada nangkis cinta Fauzan” jawab Bianca. Ia diambang ke frustasian.
Kalau boleh memilih sekarang ia ingin keluar dari bumi yang keji ini, dan memulai kehidupan baru dalam surga nan indah. Namun Bisakah?
-000-000-
Trak! Bunyi dentingan mangkok yang di taruh sembarangan di atas meja itu mengejutkan orang lain yang sedang makan. Untung ya yang duduk itu Zyedan, bukan Gorila. Kalau di isyaratkan bahasa hewan, Bianca telah membangunkan Macan tidur. Masa lagi enak- enak makan, di datengin cewek aneh yang entah dari dunia belahan mana. Membuat nafsu makan Zyedan mendadak ilang. Di tambah dengan tampang Bianca yang terlihat berantakan itu bikin pengen nonjok.
Slurpp... Slurrppp...Slurpp.. Bianca menyeruput Mie ayamnya dengan rakus. Bahkan satu mangkok mie itu bisa ia habiskan dalam sekali lahap. Zyedan mulai membuat kesimpulan bahwa Bianca begitu bukannya lapar, namun sudah kodrat.
Dilihatin sinis seperti itu bukannya sadar, malah membuat Bianca semakin bodoamat. Pikirnya, hal itu bagus. Tandanya Zyedan peduli dengan kehadiran dirinya.
Tiba-tiba saja Zyedan mendekati Bianca. What? mau apa dia?
“Diam!”
Uhg, Bianca sudah diam daritadi, bahkan ia sampai nahan napas dengan jarak sedekat begini.
Deg-Deg-Deg..
Pernah dengar bunyi seperti itu di adegan-adegan sinetron? Begitulah kondisi Bianca kini, bahkan lebih kritis dari adegan seorang pemain yang sedang koma.
Tiba-tiba saja Zyedan membersihkan mulut Bianca yang belepotan dengan tissue. Gawat pemirsa! Bianca baper. Ia kira dengan pandangan Zyedan yang tajam itu membuat dirinya terusir dari tempat duduk. Nyatanya eh nyatanya Zyedan malah ngaduk-ngaduk jiwa Bianca.
Meskipun Zyedan bertingkah sweet masih dengan ciri khas cueknya. Itu tak bisa menolak Bianca untuk merasa di istimewakan.
Dulu Bianca sangka, adegan lama tatap-tatapan di film-film itu hanya rekayasa. Tapi setelah dialami langsung, hal itu bukan di buat-buat. Seperti ada dorongan untuk terus menggali sesuatu yang berhasil membuat seluruh jiwa itu bergetar. Ada keengganan untuk melepas sesuatu yang mulai terikat.
Tapi di lain tempat ada sorot pahit dari satu pandangan itu. entah sejak kapan Fauzan duduk di situ. Yang jelas ia ikut menangkap sweet momennya Bianca. Tidak-tidak, bagi Fauzan ini lebih menghancurkan dari meletusnya gunung Krakatau. Uhh, betapa inginnya Fauzan berada dalam posisi Zyedan. tapi jangankan didekati, bertemu pun Bianca selalu menolak.
__ADS_1
Kini retakan-retakan itu mulai terlihat jelas. angan yang mulai berubah jadi angin pudar. Hanya satu sang membuat Fauzan tetap bertahan, ya semua itu karena cinta.
-000-000-
Dedi Suwarto?! Aigoo itu adalah guru terhotnya Bianca. Saking gerahnya dengan guru itu, Bianca selalu ingin menghindar. Masalahnya Pak Dedi selalu menjinjing sesuatu yang berhubungan dengan perlengkapan berenang. Bianca kan jadi tertekan batin di buatnya. Sesuatu yang tak disuka memang dihindari bagi semua orang. Bahkan Sekarang juga Bianca ingin cabut diri dari kelas. Habis sudah Bianca tiga jam pelajaran ini, mampusnya materi hari ini pas berhubungan dengan praktek renang. Siap-siap buang muka untuk Bianca.
“Sesuai pemberitahuan kemarin, hari ini kita praktek berenang, jadi saya tidak menerima alasan bagi siswa yang tidak membawa baju ganti dan alasan lainnya untuk tidak mengikuti jam saya.
“Iyaaa Pak!” semua menjawab dengan nada semangat. Mungkin hanya Bianca yang tidak ikut mengeluarkan suara. Cewek itu berjalan dengan langkah berat ke ruang ganti pakaian.
-000-000-
Byurrr. Semuanya telah menenggelamkan diri dalam air. Shit! Hari ini ada praktek gabungan dengan kelas XI IPA 1. Itu bukankah kelasnya Fauzan dan Dwi? Bianca ingin mengacuhkan mereka. Tapi nenek biadap itu terlihat nafsu sekali ingin mempermalukan Bianca.
“Uuhhg... Si ratu perfect kenapa engkau diam saja di situ?”
Dwi bertanya dengan nada menjatuhkan. Kampretnya itu dia ngomong pake suara tinggi, tentu semua orang bisa mendengar teriakan nyaringnya.
“Ngendaliin air aja gak bisa, apalagi ngendaliin hasrat cabe cabean dalam dirinya. Hahaha dunia oh dunia, kenapa manusia seperti itu masih kau biarkan di sini.” Lagi! Cewek itu terus menusukkan kata sindiran.
“Bulshit!” Bianca gerah, cewek itu memulai pemanasan. Sepertinya ia ingin menyatukan diri dalam kolam tersebut.
What the ****! Lina sebenarnya sahabat bukan sih? Teganya cewek itu berkata demikian, parahnya Zyedan di dekat mereka dan mendengar omongan itu. Refleks saja Bianca menginjak kaki Lina berharap ia tutup mulut. Dan dengan muka bengisnya Bianca menatap penuh ancaman.
-000-000
“Gue bisa berenang.” Batin Bianca memberontak. Cewek itu bertahan dengan harga dirinya. Di remehkan? Itu hal yang harus jauh dari kehidupan Bianca.
Prriitt... Bunyi peluit itu layaknya Sang sangkala. Semua manusia menghentikan aktivitas dan membuat barisan di pinggir kolam. Ada dua kelas yang berkumpul di sana.
“Baik, kali ini saya akan menguji sejauh mana kalian mendalami materi yang selama ini sampaikan. Akan diadakan pertandingan antar kelas. Satu ronde masing-masing lima peserta. Dan semua akan mendapat giliran untuk mengikuti.”
Mulailah anak-anak bergerombol heboh, bertarung itu menyenangkan, begitulah argumentasi bagi mereka yang pandai. Saat nama-nama disebutkan di situ mereka mulai diam. Namun ketika perlombaan di mulai, disitulah para Kera di Taman Safari keluar. Mereka berteriak, memanggil nama jagoan mereka. Suporter memang selalu memalukan.
Setelah di tunggu-tunggu, dengan perasaan yang menegangkan, Bianca mendapat giliran terakhir. Shit! Orang terakhir tinggal satu orang. Itu artinya Bianca akan satu lawan satu. Dan siapa orangnya? Dwi Sari wangi. ******! Cewek itu berharap mati sekarang juga.
Ada tatapan dan suara mendukung, ada juga yang menghancurkan. Tatapan sinis itu membuat Bianca terpaksa untuk stay cool.
__ADS_1
Dengan dada yang sedikit dibusungkan cewek itu berdiri di tepi kolam. Ia tersenyum tipis, dalam hati ia mencaci maki dirinya. Sejak kapan ia segila ini? Ternyata omonganmu memang membunuhmu. Sekakmat sudah! Menggerakkan kaki saja keras sekali perjuangannya. “Selamatkan Bianca ya Tuhan.” cewek itu bermonolog dalam hati.
Satu... Dua... Tiga...
Ini mungkin hari terakhirnya, Bianca memejamkan mata pasrah.
Bentangan air itu seakan menolak dirinya. Cewek itu tak bisa menyeimbangkan diri. Sesak! Penglihatan kaburnya perlahan menjadi hitam gelap. Dan orang-orang pun mulai panik dan heboh. Spontan melihat itu Zyedan langsung berlari dan ikut menenggelamkan diri. Cowok itu menangkap tubuh Bianca. Napasnya terdengar cepat. Antara kaget dan cemas. Dalam pikirannya gadis dipelukannya ini benar-benar bodoh! Tak pernah Zyedan melihat manusia sebodoh ini!
Saat Bianca telah di tepian, kehebohan memuncak. Bagaimana menyadarkannya? Ada yang teriak cium! Itu gila! Ini sekolahan bukan drama Korea. Karena kebijakan sang guru, Bianca pun di gotong ke UKS. Pengambilan nilai berakhir tragis!
-000-000-
Bianca masih terbaring, penanganan ibu UKS tidak menghasilkan. Cewek itu masih enggan untuk sadar. Benarkah ia meninggal?
“Lebay! Akting itu akting! Dasar caper!” Dwi berbicara sengit. Panas sekali melihat begitu banyak orang yang peduli dengan Bianca. Dwi semakin panas ketika Fauzan ikut-ikutan dalam golongan itu.
“Bie bangun.” Lina menampar-nampar pipi sahabatnya. Mata merahnya kini dibarengi air mata. Sementara Lina meratapi, Difa malah meremas-remas tangan Bianca. ke khawatiran mereka sangat tergambar jelas.
“Kalian tenang ya, Bianca hanya Pingsan. Ia sepertinya kram. Ketidakmahirannya dalam berenang membuat tubuhnya kaget saat memasuki kolam renang.”
Di bilang begitu, bukanya lega malah semakin histeris. Masalahnya ini sahabat tercintanya nggak jauh beda sama orang mati. Mana bisa tenang sih bu!
Suasana tak lagi ramai. Murid-murid sudah disuruh untuk kembali ke kelas. Hanya orang-orang yang benar-benar peduli dengan Bianca yang masa bodo dengan perintah itu. Ada Zyedan yang duduk diam. Ia terlihat biasa saja. tak ada yang tau isi hati dan pemikiran cowok itu. Sedangkan Fauzan? Perhatiannya benar-benar tumpah! cowok itu duduk di samping Bianca sambil mengusap rambut gadis pucat yang sedang terbaring tersebut.
Ini kenapa? Kok suasananya kayak orang yang lagi tahlilan. Melow sekali. Mata Bianca perlahan mengerjap. Pandangannya yang blur tadi kini terlihat jelas. Ada dua sahabatnya yang sedang histeris. Memangnya Bianca mati suri? Kenapa reaksi mereka separah itu?! Menyebalkan sekali.
“Bie lo bikin jantung gue gak tenang tau gak?” omel Difa.
“Berbii akhirnya lo bangun.” Lina langsung merangkul tubuh Bianca.
Bianca masih bengong kebingungan. Ia membiarkan dirinya dinistakan. Mukanya habis diciumi Difa dan Lina. Begitulah dua sahabat yang sedang mengekspresikan kebahagiaan.
Bianca tersenyum pada Zyedan. Seneng aja ngeliat cowok itu ada di sini. Itu saja Bianca bahagia apalagi tau siapa yang menyelamatkannya. Mungkin selama dua hari Bianca tak butuh makan dan minum.
“Ukhhmmm.. Apaan itu tatapan. Banyak banget keluar bunga-bunga. Kok rasanya indah bener ya itu senyuman.” Lina peka dengan rangsangan. Ia mencubit pipi Bianca.
“Kalo lo liat gimana awesomenya Zyedan nyebur nyelametin lo ya Bi. Mungkin lo berharap kelelep tiap hari. Uhhg sweet.” Difa menimpali.
__ADS_1
Fauzan kok panas ya dengernya? Tiba-tiba Zyedan mendekat dengan tampang kalemnya. “Lain kali, kalau mau mati jangan di khalayak ramai.” Hanya itu saja, beberapa kata yang mematahkan jiwa. Zyedan pergi, cowok itu kembali ke kelas. Ia telah memastikan Bianca baik-baik saja. Setidaknya Zyedan sudah tenang.