
“Semua ini salah kamu! Kenapa saya harus berurusan dengan gadis gila seperti kamu? Dunia memang menyeramkan.”
Bianca merungut mendengar omelan Zyedan. Semua ini bukan sepenuhnya salahnya. Jika bukan karena Zyedan pakai acara berhenti segala, ini tidak akan terjadi.
“Jangan bawel! buruan kerjain kalau mau hukuman ini cepat selesai.” Bianca menyerahkan sikat ke hadapan Zyedan agar cowok itu membantunya.
“Enggak bisa! Kamu kerjakan saja sendiri. Seharusnya hukuman ini untuk kamu, bukan saya!”
“Apa lo bilang?! Gue kerjain semua ini sendiri? Oh tidak bisa! pak Sukri kan kasih titahnya ke kita berdua, bersihin buruan!” Bianca kesal, cewek itu mendekat ke arah Zyedan memaksa agar cowok itu bergerak.
Tapi eh tapi, lantai licin yang dipenuhi sabun membuat cewek itu kepeleset. untungnya Zyedan berbaik hati menangkap tubuh cewek itu.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Mereka terlarut dalam suasana aneh. Seperti ada yang menahan mereka untuk sadar dari adegan ini. Bagaikan sepasang merpati yang tidak mau lepas, mereka saling menatap mencari arti akan keadaan ini. Mata itu... tidak! Siapa pun tolong bangunkan Zyedan, bisa gila jika ia terus menikmati situasi ini.
“Apa-apaan kalian! Sempat-sempatnya pacaran!” Pak Sukri kembali muncul memastikan akan tugas yang di berikannya. Anak-anak sekarang memang tidak bisa di percaya.
Melihat kehadiran monster mengerikan tentu membuat mereka terkejut. Bahkan tanpa sadar Zyedan melepas pegangannya membuat Bianca terhempas ke lantai.
“Ini tidak seperti yang bapak lihat.” Zyedan berkata gugup. Mati! Citranya bisa rusak jika begini.
“Kalian ini apa? Ke sekolah buat pacaran? Anak Zaman sekarang memang tidak tahu diri! Orang tua kalian menyekolahkan untuk belajar! dan sekarang?”
Bianca tertunduk takut mendengar amukan pak Sukri. Seperti ada yang menampar pipinya. Rasanya sakit sekali. Kata-katanya itu loh, nusuk banget.
“Temui saya sepulang sekolah untuk mengambil surat panggilan orang tua.”
“Tapi pak... ”
Percuma protes, karena guru itu sudah berlalu pergi.
-000-000-
Kacau! Semenjak Zyedan kenal dengan cewek gila yang entah dari planet mana dia berasal, hidupnya terasa mengerikan. Dan yang jelas harinya selalu sial. Sekarang ia harus bagaimana ? Panggilan orang tua? Tidakkah guru itu tahu bahwa orang tuanya telah tiada? Haruskah Zyedan memberikan surat panggilan itu ke alam baka? Aigoo! Ini benar-benar melelahkan. Bagaimana ia harus menghadapi masalah rumit ini? Mungkinkah tantenya mau datang menemui pak Sukri? Tapi wanita itu pasti sibuk dengan perusahaannya di Amerika sana. Tidak mungkin manusia super sibuk itu punya waktu. Belum lagi perusahaan orang tua Zyedan yang dipegangnya. Aigoo! memikirkannya saja membuat kepala Zyedan pusing bukan main.
Errrhghh... Zyedan mengacak rambut prustasi. Berdiam diri di rumah membuat suasana hatinya bertambah buruk. Zyedan melangkah keluar mencari angin segar yang bisa menenangkan perasaannya. Namun baru selangkah cowok itu keluar dari gerbang, ia sudah bertemu kembali dengan Bianca. Dunia kadang memang mengerikan.
Zyedan menatap jijik saat Bianca mendekat.
__ADS_1
“Halo gebetan, jangan sensi gitu napa, nanti gantengnya luntur.”
Bianca sekarang lebih pantas dengan nama Biancabe karena tingkahnya yang mengenaskan seperti cabe-cabean.
“Jauh-jauh sana.” Zyedan melangkah lebar, menjauhi cewek laknat itu. Niatnya mencari udara malah bertemu makhluk mengerikan. Karena bagi Zyedan bertemu dengan Bianca lebih mengerikan dari zombie dan sejenis setan lainnya. Sekarang Zyedan malah tambah sesak.
“Zye mau kemana? tunggu woy! Gue punya ide tentang masalah kita sama Pak Sukrimin.”
Zyedan berhenti, haruskah ia percaya? karena setahunya apa pun yang berhubungan dengan cewek itu tidak akan ada yang benar. Namun secercah harapan tetap terbesit di jiwa cowok itu.
“Apa?”
“Sini dong!” Bianca melambai tangan seperti memanggil anak kecil, cewek itu senyum-senyum aneh.
Zyedan melangkah perlahan hingga kini jaraknya dengan Bianca telah dekat.
“Gue punya ide biar lo gak perlu pusing mikirin tentang panggilan orang tua itu. Berhubungan gue tau lo tinggal sendirian dan gue yakin keberadaan orang tua lo jauh dari sini, gue mau memberi penawaran.”
Zyedan menaikkan sebelah alis, meminta agar Bianca tidak bertele-tele.
“Jadi gini, gue bakal pinjemin Bi Ijah buat dateng ke sekolah besok. Tapi lo harus mau penuhi lima permintaan gue.”
Ini sih namanya ada udang di balik bakwan. Benar kata pepatah di dunia ini sekarang tidak ada yang gratis.
“Nggak setuju ya udah, tapi jangan nyesel!”
“Penyesalan apa dengan ide bodoh seperti itu. Cih! mendingan disemprot lahar omelan pak Sukri daripada harus memenuhi lima permintaan wanita idiot itu. Buang-buang waktu saja.” Batin Zyedan.
Harusnya Zyedan gak jual mahal dengan Bianca, dasar yah cowok selalu begitu, lebih mentingin harga diri dari keselamatan hidupnya. Lihat sekarang, Zyedan udah kayak pengusaha kaya yang baru saja bangkrut, stres berat! Bolehkah ia menarik kata-katanya lagi?
Apa kata dunia jika Zyedan kembali ke hadapan cewek itu? God tolong! Zyedan bingung.
-000-000-
“Hoi penghuni baru.” Lagi-lagi Bianca berteriak memakai toa untuk memanggil Zyedan. Dari atas rooftop rumahnya Bianca berdiri cool.
Zyedan ngintipin dari balik jendela, ragu antara memilih untuk nongol atau tidak.
“Gak usah ngumpet! Keliatan idiot!”
****! Baiklah Zyedan keluar. Cowok itu berjalan ke arah balkon.
“Tawaran gue masih berlaku loh! Kalo lo berubah pikiran kuy sepakati tawaran ini.
__ADS_1
Zyedan pura-pura mikir padahal sebenarnya dia setuju banget.
“Oke gue anggap lo setuju. So, lo gak usah khawatir tentang besok. But, lo harus inget kesepakatannya. Lo harus kabulin lima permintaan gue.” dikira Jin Aladdin kali ya, pakai acara kabulin permintaan. Tapi dari dasarnya cewek songong, tanpa ada sepatah kata setuju pun dia udah main nyelonong masuk ke dalam rumah.
-000-000-
Wali murid dari Zyedan dan Bianca dari tadi cuma manggut-manggut doang. Padahal Pak Sukri sampai kelelahan mengomel. Yaiyalah gimana mau respon, orang yang hadir pembantu sama tukang kebunnya Bianca. Mereka cuma melaksanakan titah majikannya. Kalau apa pun yang di bilang Pak Sukri mereka harus mengangguk dan bilang saya paham.
“Jadi Mohon bantuan Bapak dan Ibu sebagai orang tua agar memperhatikan anaknya lebih baik.” Demikianlah akhir dari pidato Pak Sukri. Mpok inem dan Mang Ujang pamit undur diri.
Bianca membusungkan dada sambil melipat tangan di depan Zyedan, “See? Urusan Pak Sukri selesai.” ujar cewek itu sambil menunjuk ke arah dua orang yang baru saja keluar dari ruang guru, “Allright, sekarang gue bakal kasih tau permintaan pertama.”
Zyedan melirik lelah, pada akhirnya ia akan mendapatkan ujian yang lebih berat. Bersama Bianca adalah suatu kesialan.
“Pulang sekolah gue pengen lo ajak gue nonton.”
What? Apakah ini sejenis kencan? Dasar cewek modus.
“Gak bisa, saya gak ada waktu.”
Hah! Bianca tertawa hambar, mau ngelanggar janji? Jangan harap! Hal itu tak ada dalam kamus Bianca.
“No! Lo gak boleh nolak. Kalo gak gue bakal teriakin lo penghianat. Dan gue bakal bikin lo sengsara!”
Hal yang paling menyengsarakan adalah berhadapan dengan Bianca.
“Terserah.” Zyedan pergi begitu saja.
Dasar tempe basi gak tau terima kasih! Boleh gak Bianca menghajar sampai cowok itu kehilangan muka?
“Gue bakal aduin ini ke ayah biar lo diomelin, kalo bisa di bunuh sekalian karena udah bikin putrinya sedih. Mampus lo!”
Walau jarak mereka sudah jauh tetap saja teriakan suara cempreng itu mengiang.
Mendengar ancaman Bianca terpaksa cowok itu berbalik arah. Zyedan mendekat dan terus mendekat. Tatapannya lurus ke arah wajah Bianca. Dan Bianca tak bisa menafsirkan akan makna tatapan tersebut. Mau apa dia? Kenapa cowok itu semakin mendekat? Membuat Bianca mundur perlahan hingga punggung cewek itu menabrak dinding. Zyedan masih terus menatap, kini Bianca benar-benar tak bisa bergerak, kedua tangan cowok itu telah mengunci tubuhnya. Membuat Bianca memejamkan mata ketakutan.
“Kamu membuat saya benci hutang budi.” ujar cowok itu dengan santai. Dengan jarak sedekat ini, bahkan Bianca bisa merasakan napas Zyedan menerpa wajahnya. cewek itu membuka sebelah matanya. Zyedan melepaskan kedua tangan dan memutar arah, kini posisi Zyedan memunggungi Bianca.
“Terserah lo mau mikir apa! gue gak peduli! Yang jelas lo harus tepati kesepakatan. Gue bakal dateng ke rumah lo dan lo harus ikut! Tepati janji kalo lo beneran cowok!” Bianca memberi penekanan di setiap ucapan. Dan Zyedan, untuk saat ini ia akan mengalah. Mari kita lihat bagaimana cewek itu melakonkan permainan kuno.
“Setelah kesepakatan ini usai, berhenti berurusan dengan saya!”
Dan ucapan dari Zyedan menutupi permasalahan debat.
__ADS_1