UNCOMPLICATED

UNCOMPLICATED
MENJALANKAN MISI


__ADS_3

Bianca tersenyum senang. Cewek itu menarik kursinya mendekat ke meja Zyedan. Murid-murid yang lain malah bergidik ngeri dengan tindakan sembrono Bianca, mereka yakin korban hari ini akan bertambah lagi. Cukup sudah, tak ada lagi yang berani mendekati cowok macan itu. Mental mereka sepertinya tertampar keras oleh sikap Zyedan. Hanya orang bodoh yang masih mengejar cowok itu.


“Zye, pulang sekolah entar bareng, ya?”


Cih! Siapa dia? Beraninya berkata seperti itu? Kenapa semakin hari sikapnya semakin menjijikkan. Zyedan bergeser memberi jarak antara dirinya dengan Bianca.


“Isshhhh, gak usah ngejauh gitu kali! Gue bukan kuman.” Bianca bergeser, mendekatkan diri lagi. Kejadian itu terjadi sampai posisi Zyedan menabrak tembok. Kini dirinya tak bisa lagi bergerak karena dinding yang menghalangi.


“Jangan bergerak! atau kamu akan mati!” Zyedan bangkit berdiri. Mendorong mejanya ke depan untuk membuat jalan agar dia bisa keluar dari posisi menyebalkan ini.


“Berhenti! Jangan melangkah atau gue nggak bakal bikinin lo sayur lobak lagi!”


Spontan para murid yang mendengar itu menatap tak percaya dengan apa yang baru saja Bianca katakan. Maksudnya apaan?


Zyedan berbalik badan dan menengok ke arah Bianca. Dengan susah payah cowok itu meneguk ludah. Oh tidak, Bianca mengingatkannya dengan makanan ajaib itu, bagaimanapun juga Zyedan menyukainya. Ia tak bisa berdusta bahwa ia menginginkannya lagi. Tapi haruskah Bianca mempermalukannya di dalam kelas? Damn! Dasar cewek menyebalkan. Buru-buru Zyedan menarik tangan Bianca membawa cewek itu keluar untuk berbicara empat mata. Melihat dirinya ditarik kayak gini, bikin jantung Bianca melonjak senang. Inilah yang ia suka, usaha memang tak pernah mengkhianati perjuangan. Ia selalu membuahkan hasil yang membuat penikmatnya tak bisa kabur.


Setelah membawa Bianca ke zona yang menurutnya aman, kini Zyedan menatap Bianca dengan tajam. Sudah dari kemarin ia menahan kekesalannya, “Mau kamu tuh apa sih?!” ucap Zyedan. Memberikan satu tatapan tajam pada Bianca.


“Gue mau kita pulang bareng. Janji deh, habis itu gue bakal masakin yang banyak buat elo sampe lo kekenyangan dan gak bisa bernapas.”


Jika bukan karena makanan langka dan asing bagi dirinya, Zyedan sangat jijik berurusan dengan manusia ini. Masalahnya kemarin juga dia keceplosan mengakui kehebatan Bianca dalam mengolah makanan.


“Gak perlu! Saya tidak menginginkannya lagi!” Zyedan jual mahal. Ia tak ingin kelihatan rendah di mata cewek itu.


“Terserah, yang jelas gue akan tetap pulang bareng lo,”


Aish! Apaan ini? Sebenernya Bianca tuh makhluk apa?


“Zye! Woy cogil! Tunggu gue.”


Zyedan sih mending pura-pura tuli aja ya, daripada harus peduliin teriakan Bianca yang memekakkan telinga.


Saat Bianca ingin melangkah lebar mengejar Zyedan, tiba-tiba seseorang mencekal tangannya. Bianca menoleh, ternyata Difa dan Lina.


“Kalian ngapain sih! Gue harus cepet, kalo gak si Zye kamvret bisa ninggalin gue.”


Difa dan Lina menatap bersalah karena membiarkan sahabatnya dalam keadaan kesusahan.


“Lo serius mau ngelanjutin misi ini?” ucap Difa.


“Iyalah!”


“Tapi gue sedih liat lo Bie! Kesannya lo dipermaluin karena ngejar-ngejar. Padahal kan biasanya lo yang dikejar.” Lina menatap Bianca prihatin.


“Kejar mengejar apa sih! Lo kata kucing? Sampai kapan pun gue bakal nunjukkin siapa yang bakal malu, kalian jangan bawel. Udah ya gue buru-buru. Lo bikin target gue kabur.” Bianca berlari mengejar Zyedan. Ia harus cepat jika tidak ia akan gagal.


Damn! Dia terlambat. Wujud manusia gila itu sudah tidak terlihat lagi di parkiran. Sekarang apa? Mendadak Bianca kehabisan ide.

__ADS_1


-000-000-


Hufft... Bianca menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Rasanya lelah sekali. Ia bahkan tak yakin apakah badannya masih memiliki penopang agar tetap bergerak. Hatinya juga penat bukan main. Berurusan dengan Zyedan bukanlah hal yang mudah. Ia harus mengorbankan malu dan harga diri, bahkan Bianca tak pernah sekeras ini mendekati seorang cowok.


Bianca meraih handphonenya yang tergeletak sembarangan. Ia penasaran apakah Zyedan punya akun media sosial? Bianca mengacak-ngacak Instagram, Twitter, AskFm, Pet, bahkan Facebook. Hasilnya nihil! Ternyata Zyedan benar-benar manusia anti sosial. Aneh, kenapa di zaman sekarang ini masih ada makhluk seperti Zyedan? Semakin dipikir Semakin membuat Bianca penasaran. Terlalu berpikir keras membuatnya mengantuk, perlahan Bianca menutup mata menuju alam mimpi yang misterius.


-000-000-


Bianca menyandang sebelah tasnya, sebelum melangkah ia menengadah ke atas menatap langit mendung. Bianca menelentangkan tangan menangkap titik-titik gerimis yang mulai turun, sepagi ini cuaca sudah tidak bersahabat seperti suasana hatinya yang memburuk. Bianca bergegas memasuki mobil, suara klakson tak sabar sang ayah yang memintanya untuk buru-buru. Baru saja beberapa detik tiba-tiba mobil yang ia naiki tak mau berjalan dengan normal, seperti ada gangguan dan setelah itu mesin mobilnya pun tak mau menyala.


“Mobilnya kenapa, Yah?” Bianca menatap penuh tanda tanya. Namun pertanyaan itu tak ditanggapi karena sang ayah yang langsung ke luar mengecek keadaan mobil.


Bianca menghela napas lemas melihat ekspresi kusut dengan kerutan-kerutan di dahi ayahnya.


“Mobilnya mogok. Sepertinya ayah tidak bisa antar kamu ke sekolah. Bagaimana ini?”


Astaga... kenapa bisa kayak gini? di saat cuaca buruk seperti ini, keadaan malah bertambah rumit.


“Hei nak! Kamu penghuni baru satu sekolah sama Bianca, kan?” ucap Pak Sam memanggil Zyedan yang baru saja keluar dari rumahnya.


“Iya.” Zyedan mendekat dan menjawab sopan.


“Begini, mobil saya sedang sakit, saya ingin minta tolong?”


Orang tua ini mau ngelucu atau apa sih? Sejak kapan kendaraan punya kondisi tubuh?


Zyedan membuka helmnya dan mendengar kelanjutan orang tua di depannya.


Kontan Bianca dan Zyedan terkejut bukan main. Anterin Bianca ke sekolah?! Eomeoni! Sepagi ini Zyedan sudah tertimpa sial. Entah mimpi apa cowok itu semalam sampai-sampai ia harus mengantarkan Bianca. Babo! Bisa-bisanya ia menerima tawaran Pak Sam begitu saja. Mau tidak mau, suka tidak suka, Zyedan pun menyetujui permintaan Pak Sam karena yang memintanya adalah orang tua. Sedangkan Bianca? Tentu saja ia meloncat kesenangan.


Bianca naik ke atas motor Zyedan dan menyimpan tasnya di tengah membuat jarak antara dirinya dengan cowok itu.


Zyedan acuh dan melajukan kendaraannya membelah jalanan. Ia tidak mau ambil pusing dengan apa yang ia lakukan sekarang. Yang terpenting ia harus segera sampai ke sekolah dan berhenti berurusan dengan makhluk yang bernama Bianca!


Motor Zyedan berhenti mendadak ketika pegangan Bianca beralih ke bahunya. Membuat penumpang di belakangnya terdorong ke depan dan spontan membuat tangan Bianca melingkar di pinggang cowok itu. Entah kenapa Bianca merasa dag-dig-dug. Normal kan? Dengan jarak sedekat ini jantungnya berulah?


Damn! Kenapa ia harus mengalami lagi hal seperti ini?! ****! Batin Zyedan mengerang kesal. Kenangan dua tahun yang lalu mendadak datang lagi ke dalam ingatannya. Untuk beberapa detik Zyedan terdiam memandangi lengan Bianca yang memeluknya. Cowok itu kembali melemah saat bayangan-bayangan Shasa hadir dalam kejadian yang sama. Ketika Shasa memeluknya dari belakang. Zyedan menghela napas panjang dan membuangnya perlahan. Di saat Zyedan ingin menyalakan mesin, rintikkan hujan bertambah lebat. Bagaimana ini? Mereka bisa basah kuyup jika melanjutkan perjalanan


Bianca menarik tangan Zyedan untuk menepi. Karena spontan, tentu tidak susah membawa cowok itu, diselimuti udara dingin dan rintikkan hujan mereka berdiam.


Dari samping Bianca memandangi Zyedan tanpa puas. Kenapa sekarang ia malah semakin ingin mengenal cowok itu?


“Hujannya lama ya?” Bianca membuka topik, berdiri dalam kebisuan membuatnya canggung. Tapi tau Zyedan kan? Dia tidak akan peduli apa pun yang di katakan cewek itu. Bahkan sekarang ia sepertinya menikmati keheningan. Zyedan memasang earphone di kedua telinganya. Hal itu adalah salah satu cara menghindari kebisingan Bianca.


“Zye gue laper.” Bianca melihat tukang bubur ayam di sampingnya.


Bianca membasahi lidahnya. Pertanda ia menginginkan bubur ayam itu. Namun percuma dia curcol, Zyedan sama sekali tidak mendengarnya. Merasa kesal, alhasil Bianca meraih Earphone di telinga cowok itu, niatnya sih pengen ngelepas tapi perlawanan Zyedan membuatnya kepleset dan hampir saja Bianca terjatuh. Jika tidak di tahan Zyedan mungkin pinggulnya akan kembali menabrak lantai. Adegan sekarang itu kayak di film-film, ada jeda saat mereka saling tatap-menatap. Tangan Zyedan yang menahan tubuh Bianca juga posisi mereka saat ini, ada so sweet so sweetnya gitu.

__ADS_1


Sampai beberapa detik Zyedan tersadar dari keanehan ini. Kenapa setiap kali menatap Bianca, selalu mengingatkannya dengan Sasha. Mata itu, benar-benar mirip. Bahkan Zyedan seperti tersihir untuk memandangnya lebih lama.


Suasana kembali canggung. Bianca kaku untuk berkata-kata. Menghilangkan itu akhirnya Zyedan memilih berjalan mendekati tukang bubur ayam. Dan hal itu membuat Bianca sadar akan kenyataan bahwa dirinya lapar.


-000-000-


Brum-Brum-Ngenggg.


Motor ninja Zyedan mengaung di jalanan. Masa bodoh dengan basah kuyup, yang Zyedan inginkan hanyalah lepas dari ikatan iblis di belakangnya. Zyedan tak ingin berlama-lama berurusan dengan makhluk bernama Bianca. Segini saja ia sudah sangat kerepotan.


Zyedan menambah kecepatan lagi dan lagi. Sebagai label anak pindahan ia tak boleh terlambat.


“WOYY LO GILA APA? KITA BISA MATI KALO KAYAK GINI.” Bianca berteriak di tengah reributan kendaraan juga cuaca.


Aisssshhh, cukup sudah. Bianca bisa jatuh jika tidak berpegangan. Bodo amat sama murka Zyedan, yang penting nyawanya selamat. Bianca mengeratkan cekalan ke pinggang Zyedan. Sepertinya tak ada protes. Bagus! kesempatan dalam kesempitan seperti ini ternyata membantu aksi modusnya. Boleh jujur, kenapa Bianca tiba-tiba panas dekat dengan Zyedan seperti ini? Cuaca hujan bahkan salju sekalipun sepertinya tak ada efek merubah keadaan gerah nan bergejolak. Sial! Kenapa jantungnya berulah lagi. Bianca memejamkan mata berharap jantung tersebut tidak meloncat keluar.


Zyedan melirik sekilas ke arah lengan yang melingkari tubuhnya. Jika karena bukan keadaan darurat Zyedan tak akan pernah membiarkan ini. Sudahlah, harus ia menyingkirkan rasa keberatan ini, terpenting sekarang Zyedan harus cepat sampai.


-000-000-


Ahhhhh... Resiko naik kendaraan roda dua. Lihat keadaan mereka sekarang, nyamankah belajar dengan keadaan baju basah kuyup seperti itu?


Parkiran sekolah sudah sepi, murid-murid yang berkeliaran tak lagi nampak. Mungkinkah jam pelajaran sudah di mulai? ****! Zyedan berjalan kencang menyusuri koridor. Tak ingin di tinggalkan Bianca pun mengekor di belakang cowok itu.


Langkah Zyedan terhenti saat tepat di depan pintu. Kontan cowok itu terdiam.


“Kenapa berhenti?” Bianca keheranan namun setelah itu, mampus! Pak Sukri! Guru horor seantero jagat. Bagaimana ini? Mereka harus bagaimana?


Dengan tangan gemetar dan kaki goyang-goyang takut, Bianca mengetuk pintu. Apa pun yang akan terjadi harus di lalui! Ya, jangan ragu melangkah!


“Permisi pak!” kini Bianca udah kayak Miss Indonesia. Semua mata tertuju padanya.


“Kenapa kalian terlambat?” guru itu menurunkan kacamatanya melihat ke arah dua murid yang sudah melanggar peraturan.


“Maaf pak, cuaca hujan bikin kita terlambat. Padahal udah kebut-kebutan loh tadi.” Bianca memberi alasan dan setelah itu melirik ke arah Zyedan, namun cowok itu cuma bisa mengangguk pasrah.


“Kalian berdua berangkat bareng?”


Mereka mengangguk lagi. Dan pak Sukri sekarang manggut-manggut sinis.


“Saya mengerti sekarang. BERSIHKAN SELURUH WC SEKOLAH SAMPAI KINCLONG! SETELAH ITU KALIAN CUCI MOBIL PAJERO SAYA KARENA TADI HUJAN JADI KOTOR.” teriakan guru itu menggelegar seperti sambaran petir.


“Gak bisa gitu dong pak, jadi guru pengertian dong. Bie sudah bilang kita terlambat karena hujan deres.”


Pak Sukri menggeleng, “Kalian mau membodohi saya? Kalian pikir saya bodoh? Memangnya hujan cuma di daerah kalian saja? Lalu kenapa murid lain tidak ada yang terlambat? Setahu saya hujan baru saja muncul sekitar sepuluh menit yang lalu. Jika kalian berangkat tepat waktu kalian tidak mungkin terlambat. Kalian pasti pacaran sebelum berangkat sekolah. Saya tidak terima. Dan kamu Bianca, karena kamu berani tadi membantah saya, hukuman kalian saya tambah dengan bersihkan gudang olahraga. SEKARANG!”


Omo! itu guru atau majikan? Kenapa Bianca dan Zyedan dijadiin pembantu? Otokke! Bianca berharap guru kolot satu itu, bisa cepat-cepat pensiun agar dia tak berjumpa wujud mengerikan itu lagi.

__ADS_1


“Tunggu apalagi? SANA PERGI!” Bianca terkejut batin dengan gertakkan pak Sukri.


Dengan rasa dongkol anak itu berjalan dengan menghentakkan kaki. Kadang bikin kita heran, anak brutal seperti Bianca kenapa bisa jadi primadona sekolah? Kenapa bisa cewek itu selalu jadi juara kelas? Entahlah...


__ADS_2