
.
Amazing! Ternyata kalau dikumpulin penduduk SMA Bina Negara padat sekali ya? Sampai bikin sesak. Sehabis melakukan embel-embel dengan wali kelas, mereka baris di depan mobil masing-masing. Ada tiga puluh mobil dan setiap mobilnya berisi empat puluh bangku. Bisa ke hitung kan berapa kira-kira komposisi sekolah ini? Sudahlah itu tidak penting. Ada berita yang lebih menarik, sepertinya semua orang bisa mendengar bunyi retakan itu, Fauzan lagi gandengan sama Dwi Sari Wangi di depan Bianca. Wah... Harus segera dimusnahkan nih sebelum jantung Bianca meledak beneran.
“Sabar Bianca! Anggap aja mereka itu cuma penampakan.” Bianca mengelus dada, menetralkan suasana hati yang menggelegar.
Bianca milih fokus ke Zyedan. Ia menghampiri Zyedan dan memperhatikan penampilan cowok itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Awesome! Zyedan kelihatan banget coolnya. Kayak ada keren-kerennya gitu. Kalau kalian pengin tahu penampilan Zyedan, stylenya mirip aktor Korea, kayak Sung Youl yang main drama di High School Love On. Rambutnya hitam dengan potongan model bead-head dengan poni yang condong ke kiri, ekspresi wajahnya cuek dan dingin. Seperti manusia yang tidak memiliki tujuan hidup. Tak lupa ciri khasnya yang selalu menggantungkan earphonenya di leher. Kedua tangannya ditenggelamkan ke dalam saku celana. Zyedan itu memiliki ukuran tubuh yang ideal, jadi apa pun yang ia kenakan selalu keliatan keren. Semakin diperhatikan semakin membuat orang-orang jatuh pada pesonanya.
Dasar ya cowok kasihan! Tau acaranya bakal ke kaki gunung tapi malah pakai baju musim panas, cuma pakai celana jeans hitam dan kaus putih polos. Bukannya bawa sebo! Gak tahu apa kalau di gunung itu dingin. Jangan-jangan dia mikir mentang-mentang ada larva jadi gunung itu panas. Fix! Beneran cowok bodoh! Dia itu dulunya berasal dari dunia mana sih?
Bianca membuka tas lalu mengambil syal cadangannya. Cewek itu meraih leher Zyedan dan memasangkan syal itu tiba-tiba, “Lo bakal butuh ini.” ada adegan tatap-menatap di sana. Zyedan merasakan aura hangat dan tulus dari tatapan tersebut. Dan Bianca pun tersenyum membuat Zyedan bergidik ngeri. Karena dia benci senyum wanita. Cowok itu langsung mendorong pelan Bianca yang masih menarik dirinya dengan pegangan syal. Lalu cowok itu bergeser memberi jarak.
Bianca mulai merasakan suasana berubah canggung. Cewek itu berjalan kikuk memasuki mobil bus pariwisata. Tapi itu hanya sekejap, beberapa detik setelah itu Bianca kembali kumat menjadi cewek petakilan. Dia maksa agar duduk dengan Zyedan. Ada banyak alasan, katanya kalau kelompok itu harus duduk barengan dan Zyedan menyangkal dengan memangnya teman kelompoknya hanya Bianca? Lalu, satu alasan ini yang akhirnya mutakhir, “Zye lo kan dipercaya ayah gue buat ngejagain putri tercintanya. Jadi lo harus tetap di samping gue.”
Dan pada akhirnya Zyedan menyerah membiarkan cewek itu duduk di sebelahnya. Ia tak ingin ribut soalnya bikin ribet.
Zyedan memberi satu syarat saat membiarkan Bianca duduk. Sepertinya semua orang tahu apa syarat itu. Apalagi kalau bukan ‘berisik'. Ya, Zyedan meminta Bianca agar tidak membuka suara saat sepanjang perjalanan. Baiklah, Bianca akan menuruti syarat tersebut.
-000-000-
Oh tidak! Setelah merasakan ada mual-mualnya gitu, Bianca sadar bahwa dirinya mabuk darat. Jangan sampai ia muntah di sini, karena itu akan sangat memalukan.
__ADS_1
“Ada yang punya obat mabuk kagak?” Bianca berteriak pada penghuni mobil. Tapi telat, jalanan aspal yang jelek membuat kendaraan berguncang-guncang, alhasil mualnya bertambah hebat. Dan, Bweeeekkk! Muntahan demi muntahan menyembur di sekelilingnya. Dan itu sudah pasti mengenai Zyedan.
Astaga! Ini sangat bau dan menjijikkan! Zyedan ingin marah. Tapi melihat kondisi menyedihkan Bianca, Zyedan mengurungkan omelannya. Malah sekarang cowok itu membantu membersihkan noda yang mengotori tempat duduk. Untung muntahnya berupa cairan jadi gak susah dibersihin. Apakah ini sebuah keajaiban? Melihat Zyedan seperti ini kok rasanya wow ya? Langkah pertama itu dengan memberi Bianca Antimo agar adegan muntah tidak lagi terjadi. Dan entah kenapa barang itu ada dalam tasnya Zyedan. Apakah sebuah feeling? Dengan tampang jaim cowok itu menyodorkan obat berwarna pink tersebut, “Minum ini! Jangan menyusahkan!” Zyedan itu kalau kenapa sering pakai penekanan. Lebih tepatnya seperti merintah bukan menawarkan.
Langkah kedua yaitu menyemprotkan area yang terkena muntah dengan parfum sebanyak-banyaknya. Agar aroma bau yang menyengat itu tidak mengundang muntah yang selanjutnya. Memang sih suasana masih tetap kurang nyaman karena bekas muntah yang tidak sepenuhnya hilang. Tapi setidaknya langkah-langkah itu mengurangi sedikit masalah.
Tapi tetap saja, bagi Bianca adegan muntah di depan Zyedan itu adalah hal yang sangat memalukan!
-000-000-
Akhirnya yang di tunggu tiba. Rasanya ingin mati saja seharian di dalam mobil. Saking tidak enaknya Bianca cuma bisa tiduran di saat anak lain menikmati dengan candaan dan kebersamaan. Kalau bagi Zyedan keheningan itu adalah anugerah, kapan lagi coba anak itu bungkam? Saat mobil benar-benar berhenti Bianca langsung berlari ke pintu dan menghambur keluar! Bebas! Akhirnya ia bisa kembali bernapas. Bianca langsung membentangkan tangan, memejamkan mata dan meresapi udara segar pegunungan. Sangat menyejukkan! Namun itu hanya sementara sampai nenek lampir kampret mengundang emosi macan betina.
“Dasar cewek nyusahin ya! Untung kamu udah lepas dari dia Beib!” Dwi Sari bermonolog sendiri karena kenyataannya pacarnya tidak menghiraukan ucapannya. Fauzan justru malah sibuk dengan ponselnya.
“Hah lucu! Sama hasil curian aja bangga! Dasar cewek cabe.” Bianca panas, dia seperti mendapat kekuatan super secara mendadak. Padahal tadi dia lesu sekali. Tapi nenek lampir itu membangunkannya.
“Salah sendiri jadi cewek kok ****!”
“Gue yang **** atau hati lo aja yang busuk. Kok masih ada ya cabe licik di dunia ini, harusnya sih segera diberantas.”
Dwi terdiam, ia kehabisan kata. Omongan Bianca memang menyesakkan dada, tapi ia tak ingin imagenya rusak di depan Fauzan dengan menghajar cewek itu.
__ADS_1
Baru dateng aja udah ribut kayak begini bagaimana nanti dalam kelompok, pastinya mereka berdua tak akan bisa kerja sama.
“Yuk ah Zye, bangke di sini baunya merusak hidung.” Bianca menarik tangan Zyedan sambil sekilas melirik ke arah Dwi dan Fauzan.
Jujur aja sih, sebenarnya Fauzan nggak cinta sama Dwi. Dari awal dia mulai mengerti akan arti cinta sampai sekarang semuanya masih utuh buat Bianca. Tapi Bianca yang keras kepala dan terlanjur mengatakan brengsek akhirnya Fauzan jadi brengsek beneran dengan nerima perasaan cewek di sebelahnya. Cinta itu memang rumit yah?
-000-000-
Sekarang apa? Bianca ingin menjadikan Zyedan sebagai pelarian? Zyedan sangat tidak terima, namun melihat Bianca menjadi murung sejak bertemu cowok berwajah Cina itu, rasa iba tiba-tiba muncul. Zyedan tak pandai menghibur, namun sepertinya keberadaannya di sini sedikit menenangkan, makanya Zyedan masih tetap berdiri dan belum beranjak dari posisinya di samping Bianca.
“Gue bener-bener rese ya. Sorry.” Bianca berkata sambil tertunduk. Ia malu, kenapa juga harus meladeni omongan sampah Dwi. Jika begini maka dirinya dan cewek itu tak jauh beda.
Shit! Bianca beneran kesal, tapi cuma sebentar. Kenapa juga harus mikirin hal gak penting! Ia tak boleh menyiakan moment. Lagian disini Ada Zyedan yang harus ia pecahkan. Waktu semakin singkat, ia harus segera membayar omongannya dengan menaklukkan Zyedan.
Bianca melirik Zyedan, ternyata punya rasa empati juga ya manusia es itu. Ini kesempatan bagus.
“Kenapa jadi lo yang kusem gitu? Orang gue yang broken heart.”
Zyedan Diam. Namun Bianca tak kehabisan ide. Cewek itu mendekatkan mulutnya ke arah telinga Zyedan dan berbisik.
“Makasih lo udah mau nemenin.” Senyum Bianca melebar dan seketika itu Zyedan bergidik ngeri. Cewek mesum! Zyedan harus menjauh.
__ADS_1
“Zye itu pipi kenapa merah? Padahal gue gak gigit loh.” Bianca mulai menjijikkan. Cewek itu tersenyum puas mengerjai cowok sok polos bernama Zyedan.