
Ternyata tinggal di tepi rimba menyusahkan sekali, fasilitas kehidupannya masih sangat minim. Dan sekarang seseorang sedang merasakan efeknya. Sumpah demi apa pun Bianca gegana, gelisah galau merana. Lagi asyik-asyiknya beraktivitas si Miss M datang tanpa izin. Dan parahnya lagi Bianca tidak membawa selembar pun pembalut. bayangkan bagaimana rumitnya situasi ini? Sekarang Bianca masih mondar-mandir di belakang tenda, cari ide buat mengatasi permasalahan ini.
“Astaga gue buntu, darahnya makin banyak lagi, udah sampai pada lapisan akhir, shit! gue tembus.” Bianca gigit jari, minta tolong ke Dwi? Amit-amit! Bianca sih nggak akan pernah mau ngemis minta tolong sama tokek budug kayak Dwi. Sialnya tenda Bianca dan Dwi berada paling ujung dan terpelosok, jadi butuh perjuangan panjang untuk sampai di tenda Difa dan Lina.
Bianca menarik keras-keras bajunya, agar noda di celananya tertutupi. Setelah itu ia mengambil ancang-ancang untuk berlari. Cewek itu membuang muka pada pandangan orang-orang, namun what the ****! Ia tak bisa menutupi bahwa ia sangat malu ketika Fauzan memandangnya aneh. Bianca mempercepat jalannya namun Bruk! Kenapa akhir-akhir ini menabrak seseorang adalah suatu keseringan bagi Bianca. Bianca mendongak dengan mata dipicingkan, karena saking malunya ia tak ingin melihat siapa pun itu, sumpah demi apa pun Bianca malu. Tanpa minta maaf dan buru-buru Bianca melanjutkan langkahnya, tapi seperti ada yang menahannya. Shit! Sekarang apa? Orang itu ingin menghajarnya habis-habisan?
Bianca menoleh perlahan-lahan, sedikit kaget sih karena orang yang ia tabrak adalah Zyedan.
“Please maafin gue, gue harus pergi nih.”
Pandangan Zyedan beralih pada area yang di sembunyikan Bianca.
“Mesum! Kenapa ngeliatin pantat gue sih?!” ujar Bianca dengan muka yang semakin merah.
Zyedan membuka jaketnya. Cowok itu meraih pinggang Bianca dan mengikatkan dua lengan jaket itu.
Ya Tuhan Bianca baper. Dengan jarak sedekat ini hampir sama namanya dengan pelukan. Cewek itu memandang speechless. Kok ada rasa dag-dig-dug gitu ya?
“Makasih.” Bianca tertunduk malu, dasar bodoh! Kali ini ia berhutang budi dengan Zyedan, jika cowok itu tidak membantunya mungkin ia akan mempermalukan diri di depan Banyak orang. Sekarang Bianca melanjutkan tujuannya ke tenda Bianca dengan kaki jenjangnya.
-000-000-
Kalau lagi datang bulan semua itu berubah memburuk, kemarin Bianca melaksanakan kegiatan acara dengan perasaan yang gelisah yang hebat. Apalagi jika datang bulan begini Bianca selalu merasakan sakit di sebelah kiri perut. Itu memang hal yang wajar, namun berbeda dengan Bianca. Bagi cewek itu datang bulan rasanya seperti mau mati saja. Sakit diperutnya terasa dahsyat dan sangat tidak wajar. Karena alasan itu jugalah akhirnya Bianca memutuskan izin untuk pulang duluan dari acara kemarin. Masa bodo dengan rencananya terhadap Zyedan. Yang terpenting bagi cewek itu ia harus segera pulang dan kembali ke tempat persinggahan ternyaman. Yaitu rumah!
Sesampainya di kamar cewek itu langsung menghempaskan tubuh di tempat yang selalu membuatnya nyaman. Cewek itu menahan nyeri sampai ia tertidur pulas dan sakit itu tak lagi terasa.
-000-000-
Hari ini Bianca tidak datang ke sekolah, alasannya sudah tentu karena masalah kewanitaan itu. Di tengah penderitaan Bianca ternyata ada yang merasa tenang. Jadi hidup tentram itu rasanya seperti ini? Tiada Bianca memang suatu kedamaian. Zyedan tidak lagi merasakan sakit pada gendang telinganya karena suara cempreng dari Bianca. Daebak! betapa Zyedan menikmati hari ini? Namun hal itu hanya berlangsung hingga bel pulang sekolah.
Saat di parkiran Zyedan merasakan sesuatu yang janggal. Kenapa tiba-tiba perasaannya gelisah begini? Apakah ia mengkhawatirkan cewek itu? “Jangan Gila! Buat apa mempedulikan gadis mengesalkan seperti dia.” Zyedan berargumen sendiri. Cowok itu memutar kunci motornya dan melaju pulang.
-000-000-
__ADS_1
Zyedan tidak tahu hal apa yang membuatnya ingin berhenti di sini. Cowok itu memandangi pagar rumah Bianca, pikirannya melayang, ingatan terakhirnya adalah saat menatap wajah pucat gadis itu. Arrrgh ini menjengkelkan! kenapa sekarang ia memikirkan Bianca?
Zyedan kurang beruntung! Dirinya kepergok oleh Samuel sang ayah Bianca. Tentu saja hal itu membuat perhatian. Samuel mendekati Zyedan dan langsung menyapanya.
“Halo anak muda, kenapa kamu berdiri saja di situ? Ayo masuk! Saya tau tujuan kamu kesini.” Pak Sam menarik Zyedan menuju rumahnya.
“Maaf Om, tapi maksud saya bukan... ”
“Sudahlah, saya senang kamu mencemaskan Bianca. Gadis itu terlihat kelelahan sampai saya pun tak tega menatapnya. Ini kamarnya, kamu masuk saja. Saya mau ambilkan dulu makan siang untuk Bianca.”
Zyedan belum melangkah, ia yakin ini adalah tindakan yang salah, apa kata dunia seorang Zyedan mendatangi Bianca? Aigoo, Bahkan sekarang suara nyaring Bianca seperti mengiang-ngiang di telinganya. Bayangannya penuh dengan hal tengil yang akan di lakukan Bianca.
Krek, dengan kekuatan penuh Zyedan membuka knop Pintu. Cewek itu tampak sedang tertidur pulas. Zyedan bingung. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan di dalam kamar perempuan. Aigoo, ini benar-benar membingungkan.
“Sayang ini buburnya, kamu makan ya biar cepet sembuh. Liat temen kamu khawatir banget.” Ucap Pak Sam sebari membangunkan putrinya.
Masih dengan mata setengah terpejam Bianca bangun. Ia menguap dengan sempurna dan mengacak rambut khas orang bangun tidur. Pak Sam datang bukan saat yang tepat. Bianca masih butuh istirahat untuk memulihkan badannya yang tidak sehat.
“Bianca gak mau makan ayah, Bianca cuma butuh istirahat.” cewek itu kembali membaringkan badan. Ia mengerjap -ngerjap, orang di sekelilingnya terlihat tidak jelas karena mata yang masih mengantuk.
“Kenapa lo ada disini?” tanya Bianca setengah berteriak. Zyedan sendiri bingung kenapa dirinya berada di tempat ini. Sekakmat Cowok itu mati gaya. Ia tak tahu harus menjawab apa.
“Ini kan kamar cewek! Cowok dilarang masuk ke sini kecuali ayah gue.” Bianca asal bicara karena saking menutupi rasa malunya. Hanya ayahnya yang boleh tau aib ini. ******! Sekarang ia harus membuang muka kemana?
“Saya tidak masuk sembarangan. Ayah kamu yang mengajak saya kesini.”
Oh god! Betapa menyesalnya Bianca mempunyai ayah seperti Samuel. Sekarang Bianca menatap ayahnya penuh murka, tapi Samuel malah menyengir lebar seperti orang tak bersalah.
Samuel menangkup pipi Bianca, mengelus rambut dan kemudian merapikannya, karena ini benar-benar terlihat berantakan.
“Sekarang kamu makan ya. Nak Zyedan bisa tolong bantu saya suapin Bianca? Anak ini memang punya tubuh besar. Tapi jiwanya masih sangat ke kanak-kanakkan. Mohon bantuannya ya, karena saya ada beberapa urusan penting yang harus di selesaikan.” Samuel tersenyum lebar dan mengedipkan mata pada putrinya.
Zyedan tersenyum kaku, ia menatap Bianca speechless, rasanya itu kayak ada getar-getarnya. Dilihati seperti itu kan Bianca jadi gugup. Lah sekarang kenapa Zyedan yang keringat dingin? Seperti sedang berpidato di depan Presiden saja.
__ADS_1
Dengan kikuk tapi kalem dan tentram Zyedan memberi satu sendok suapan pertama. Kok Bianca ngerasa dag-dig-dug gitu ya? Parah! kencang banget ya Tuhan. Bianca sampai khawatir Zyedan bisa mendengarnya.
“Gue gak nyangka cowok cuek kayak lo bisa peduli sama cewek antah berantah kayak gue.”
Zyedan kembali menatap saat Bianca membuka pembicaraan, kali ini tatapan Zyedan lebih dalam, dan sangat ajaib cowok itu mengacak rambut Bianca. ******! ya Tuhan jantung Bianca bisa meledak seketika.
“Gadis bodoh.” balas Zyedan dengan kembali pada wajah datarnya. Sangat datar.
Ini cowok kenapa sih? Tindakannya yang tiba-tiba itu bikin ngerusak pertahanan. Terkadang ia bersikap tak terduga yang membuat diri serasa dalam mimpi. Namun ia juga bisa menampar keras-keras Bianca agar tak terlarut dalam bayangan dan angan. Ahhh... tidak, Zyedan sangat membingungkan.
“Sepertinya kamu sudah membaik.” Zyedan meletakkan mangkuk bubur yang telah habis sebagian dan pergi tanpa pamit.
Di depan pintu kamar ia sempat bertemu dua nyai ronggengnya Bianca. Sepertinya mereka terkejut dengan keberadaan Zyedan. Hal itu bisa dilihat jelas dari tatapan tersebut. Tapi dari dasarnya Zyedan adalah manusia whatever. So dia masa bodoh dengan gosip apa yang akan di sebarkan dua manusia itu. Zyedan berjalan tanpa menghentikan langkah sedikitpun.
-000-000-
“Bie, tadi itu bukan penampakan kan?” jerit Difa sepeninggalan Zyedan.
“Amazing! Misi lo berhasil juga Bie!” Lina tak kalah parah heboh. Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah dipercaya.
Difa dan Lina langsung merapat ke kasur Bianca dan menembakkan banyak pertanyanya melebihi arjunalis.
Bianca yang mendengarnya mengurut pelipis pusing, “Kalian kesini mau jenguk atau mau nambahin sakit kepala gue?”
Difa dan Lina serentak menyengir kuda. Habis mereka terlalu penasaran sampai lupa keadaan Bianca.
“Sorry ya Bie. Gimana nih kabar cabenya gue? Gue yakin sih lo langsung sembuh setelah di jenguk pangeran Zyedan.” ujar Lina. Difa ikut mengangguk setuju.
“Bianca keren banget, udah bikin Zyedan di genggamannya. Oiya gue punya ide, biar Zyedan tambah nempel sama lo.”
Bianca terdiam menunggu Difa melanjutkan ucapannya.
“Gimana kalau elo ajak Zyedan jalan ke tempat yang romantis. Yang sepi dan indah. Nah di situlah kalian akan semakin merasa menyatu hingga bisa saling terbuka satu sama lain.”
__ADS_1
Bianca mengatup bibir sambil memandang ke atas mencerna ide Difa. “Boleh juga, not bad!” Bianca menyeringai.