
Bianca seneng banget karena perjuangan dia akhirnya nggak berujung sia-sia. Walaupun memang kelihatannya Zyedan merasa terpaksa harus ngajarin Bianca renang, tapi Bianca tahu, cowok itu nggak bakalan tega melihat Bianca harus dipermalukan setiap kali pelajaran olahraga air tersebut. Bianca bodo amat, yang penting Zyedan mau ngajarin dia renang sore ini.
Bianca loncat kanan, loncat kiri, buat lingkaran, jalan di tempat. Oke itu keliatan bodoh, tapi ya begitulah cara cewek itu mendeskripsikan kebahagiaannya.
Brumm... Brumm..
“Here we go.” Senyum Bianca mengembang begitu mendengar suara deruman motor. Antusias juga ternyata cowok itu, buktinya dia sampai datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Bianca melihat ke cermin sekali lagi, menata rambutnya agar lebih rapi, lalu tersenyum. Aneh memang, mereka itu mau belajar renang, bukan kencan!
“Setidaknya tampil cantik setiap saat itu harus.” cewek itu bermonolog dalam hati.
Bianca berlari-lari kecil, turun ke bawah untuk menemui pangeran Zyedan. Diotaknya sudah berkelabat bayangan adegan-adegan romantis saat latihan renang nanti, bahkan ia menginginkan moment nantinya lebih sweet dari drama Korea yang sering ia tonton, senyum cewek itu semakin merekah.
Trak! Bianca menarik gagang Pintu, ia memasang wajah semenyenangkan mungkin.
“Halo Zye, Gue kelamaan ya?”
Cowok yang sedang menunggu Bianca itu membalikkan badan, senyumnya tak kalah merekah, namun kini gantian, Bianca lah yang perlahan terlihat suram.
“Loh Fauzan, ka... kamu ngapain kesini?” ujar Bianca terbata-bata dengan ekspresi kaget, cewek itu gak nyangka aja gitu bakal ada makhluk bernama mantan ini, berdiri di depannya.
Fauzan tidak menjawab pertanyaan Bianca. Ia terlalu sibuk melancarkan aksinya, tiba-tiba Fauzan menarik lembut tangan Bianca, mengajak cewek itu untuk menaiki motornya. Bianca bingung bin sangat, antara ikut atau diam bertahan? dan sialnya ia tidak bisa menolak ataupun memberontak.
“Kita mau kemana?”
“As you want, belajar renang.”
What the mean? Kenapa pelatihnya berubah jadi Fauzan?! Damn! Sebenernya tragedi apa ini? Bianca lebih di kagetkan dengan sosok Zyedan yang sedang duduk di motornya menunggu Bianca. Namun sadisnya cewek itu keluar dengan sesuatu yang tidak ia bayangkan.
Bianca menampakkan wajah kecewanya pada Zyedan, seolah paham dengan ekspresi itu, seakan-akan mengerti dengan kekecewaan tersebut, Bianca hendak mencekal bahu Fauzan memintanya menghentikan ini, tapi jangan harap, tiba-tiba cowok itu menarik kencang gasnya, namun sebelum itu ia menatap wajah Zyedan dengan remeh seakan-akan mengatakan.
__ADS_1
“Lo kalah start man!”
-000-000-
Bianca benaran nggak habis pikir dengan makhluk bernama mantan ini, setelah ia tiba-tiba datang ke rumahnya, membawanya kabur ke tempat ini dengan segala fasilitas lengkap. Mulai dari balon bebek sampai pelampung penyelamatan semua barang bernama perlengkapan renang itu berkumpul di sini.
Fauzan masih seperti itu. Tersenyum dengan wajah teduh dan tatapan lembut. Sikapnya bahkan lebih halus dari sesuatu yang berbau modus. Cowok itu mengajarkan Bianca dengan penuh kasih sayang, bahkan lebih dari itu, ia menggunakan cinta! Aish benar-benar sinetron!
“Kamu gak usah takut, stay calm”
Bianca risi diperlakukan seperti ini, hatinya tidak disini, mana bisa ia serius belajar. Nggak! Bianca gak boleh kayak ini, ia sudah terlalu jahat untuk Zyedan. Perasaannya benar-benar gak enak.
Cewek itu tiba-tiba terdiam dan menatap Fauzan tegas. “Sorry, kayaknya gue gak bisa latihan hari ini.” wajah Bianca terlihat sedih. Bukan karena menolak kebaikan Fauzan, tapi ini tentang kesalahannya yang udah bikin Zyedan kecewa.
Spontan Fauzan mengambil tangan kanan Bianca lalu meletakannya di depan dada bidang cowok itu. Pandangan mata cowok itu penuh kontradiktif, Bianca jadi nggak ngerti apa maksud cowok itu bersikap lembut seperti ini.
“Aku masih sayang banget sama kamu Bi, andaikan semua kesalahan aku itu, bisa aku tebus, aku akan menebusnya sampai kamu mau memaafkan aku dan menerima aku kembali.” ucap Fauzan. Hampir kata-kata itu seperti bisikan. Karena saking halusnya.
“Sorry, aku harus pulang sekarang.” jawab Bianca. Meninggalkan Fauzan tanpa makna dan menyisakan kekecewaan pada cowok itu.
---000---000---
Pernah nggak sih berada di titik rasa paling bersalah? Bianca sih biasanya gak pernah, tapi untuk kali ini rasanya benar-benar bikin isi dalam otak muter-muter keras.
Bianca benar-benar tidak tahu harus melakukan apa, berlutut mohon maaf pada Zyedan? Please itu terlalu klasik.
“Zye, aku kecewa nggak jadi belajar berenang sama kamu. Pastinya kamu lebih kecewa ya Zye gak jadi ngajarin aku, terus liat aku sama Fauzan lagi.” Bianca bermonolog dengan dirinya sendiri di depan kaca.
__ADS_1
Tapi jujur kali ini Bianca sangat cemas, raut wajahnya terlihat jelas penuh kekacauan. Pengin banget Bianca meluk Zyedan dan rayu cowok itu dengan ice cream biar nggak marah lagi. Logika tolong Bianca, Zyedan bukan balita yang lagi ngambek karena nggak jadi ke kebun binatang. Galau bikin pikiran Bianca jadi sesingkat itu.
“Ini sungguh buang-buang waktu. Gak seharusnya gue berdiam diri lama-lama di kamar kek gini. Mikirin kudu ngapain. Bianca kan bukan tipe begitu ya? Aduh kenapa gue jadi lupa dengan jati diri gue sendiri sih? Apakah ini efek samping dari otak gue yang bengkok karena gak bisa renang ya? Entahlah, hanya Tuhan yang tau.”
Malas banyak argumen Bianca pun langsung melipir keluar rumah. Jalan beberapa langkah dan sampailah di depan gerbang rumah Zyedan.
Seharusnya Bianca tidak perlu sekhawatir ini, kalau memang Zyedan sangat peduli dengannya harusnya Zyedan ngejar dia, menyusul Fauzan dan bawa Bianca pergi. Nyatanya sampai sekarang tak ada kabar tentang sosok Zyedan.
“Gue kudu minta maaf, soalnya gue salah. Harusnya tadi itu gue loncat aja dari motor. Ah dasar penyesalan selalu aja datengnya belakangan.”
Seperti biasa rumah berdominan putih itu tak pernah terkunci. Maklum saja yang menghuni atlet taekwondo, mau ada penjahat pun ya siapa takut. Begitulah isi pemikiran Bianca setiap masuk ke rumah Zyedan. Isi kepala Bianca dipenuhi rasa takut yang menjadi-jadi. Takut Zyedan marah dan tidak mau berinteraksi lagi dengannya. Sebab menaklukkan Zyedan untuk mau membantu Bianca adalah perkara rumit yang tak berkesudahan. Lantas sudah dapat lampu terang Bianca malah bikin kecewa. Kan itu namanya apes! Menyebalkan memang Fauzan dari dulu tidak ada hentinya membuat perasaan Bianca rusak. Dasar Fauzan, move on saja sana agar Bianca tenang di dunia. Sudah hilang juga dari alam rasa Bianca, masih saja memaksa untuk masuk.
Bianca membuka gagang pintu dengan lemas, tidak ada tenaga. Energi sudah terlanjur habis dengan banyak memikirkan apa yang akan terjadi jika bertemu Zyedan.
Kosong, pemandangan pertama yang Bianca lihat saat masuk rumah itu. Sepertinya Zyedan sedang ada diatas. Baiklah, Bianca akan tetap menemui Zyedan sebagai bentuk keberaniannya dalam mengakui kesalahan. Bianca mau hubungannya dengan Zyedan kembali indah. Jangan hanya karena Fauzan kedekatannya dengan cowok kutub utara itu jadi merekah. Tidak, itu tidak boleh terjadi.
Bianca menaiki anak tangga satu persatu. Samar-samar Bianca mendengar ada suara lembut seorang wanita. Sedang dengan siapa Zyedan? Tidak biasanya rumah ini kedatangan tamu selain Bianca. Penasaran Bianca pun mendekat. Dari tepi dinding Bianca melihat ke arah balkon. Dan betapa terkejutnya Bianca melihat Zyedan sedang bersama seseorang.
Ada rasa yang tiba-tiba mencekik di sekujur aliran darah. Membuat sesak area jantung dan sekitarnya. Tubuh yang tadinya lemah bertambah lemas begitu melihat interaksi Zyedan yang tidak pernah Bianca lihat sebelumnya.
“Aku minta maaf.” perempuan di seberang sana berkata dengan sangat memelas. Nadanya dibuat semenyesal mungkin dan tubuhnya menghambur dengan leluasa di pelukan Zyedan. Bahkan Zyedan menerimanya dengan ikhlas tanpa ada kata keberatan. Biasanya dengan Bianca disentuh dikit aja langsung dijitak. Istilahnya senggol bacok. Gemuruh hujan kali ini terlihat kalah tanding dengan gemuruh rasa patah Bianca. Pelupuk matanya basah. Entah kenapa cairan bernama air mata itu tiba-tiba saja keluar. Menambah pilu suasana hati Bianca.
“Sejujurnya aku rindu.” ucap Zyedan
Hancur! Tiga kata dari Zyedan meluluh lantakkan jiwa raga Bianca. Rasanya tak akan ada lagi pelangi yang bisa singgah.
Bianca sesak, ritme nafasnya tak beraturan. Udara di sekitar sini seakan benar-benar tipis. Hanya ada kabut kecewa mengelilingi.
“Kayaknya gue gak perlu minta maaf.” parau, dengan langkah kakinya yang lemas. Ia menjauh, melenyapkan keberadaannya dari dua orang yang sedang dibelenggu nostalgia.
__ADS_1
Antara kamu dan senja aku rasa sama saja. Bahagianya hanya sementara