UNCOMPLICATED

UNCOMPLICATED
PERMINTAAN KE TIGA


__ADS_3

Jleb- Jleb-Jleb


Nasihat demi nasihat menghantam Bianca,  rasanya itu menusuk sendi-sendi perasaan cewek itu. Seperti di tusuk-tusuk oleh puluhan pisau. Sakit dan berdarah-darah. Pasalnya hari ini Bianca merasa jadi orang bodoh, tidak pandai itu memang memalukan! 


“Sudah berapa tahun kamu  belajar di sekolah ini? Kamu pintar segala hal Bianca. Kenapa harus saya yang menerima nasib buruk?! Letih raga ini mengajarkan orang-orang seperti kamu! Kenapa pula harus bertindak seakan pandai? Merepotkan saja! Untung tidak kenapa-napa. Saya tidak mau tau. Dalam dua minggu ini kamu harus bisa berinteraksi dengan kolam renang! Mengerti?!


 Dug!


Bianca kaget jiwa mendengarnya. Demi apa pun Bianca langsung frustasi. Tulang-tulangnya tiba-tiba lemas. Yang benar saja! Si bapak lagi taruhan apa? Pake di kasih batas waktu segala. Perlu di ketahui dua minggu itu bukan waktu yang lama. Buktinya saja sekarang anda baru isi kuota dengan limited waktu dua bulan belum apa-apa tanpa sadar batas waktunya sudah habis. Itu menandakan bahwa waktu itu berjalan cepat tanpa kita sadari.


Whatever dengan hal tersebut, yang jelas Bianca bingung tingkat jahanam. Jika waktunya sesingkat itu maka dibutuhkan pelatih yang benar-benar luar biasa. Lihat saja, sudah dua tahun Bianca belajar dengan Pak Dedi  namun seperti yang kita lihat Bianca belum juga jadi atlet, mimpi apa ia jadi atlet? Masuk kolam renang saja ia lupa bagaimana caranya. Sebenarnya masalahnya itu pada diri  Bianca yang  telah mengklaim bahwa dirinya itu tak memiliki bakat sehingga sang tubuh ikut menolak untuk menjadi pandai. Dan juga rasa takut yang dilebih-lebihkan tersebut membuat mata enggan melihat dunia.


Dengan langkah lunglai dan pikiran yang dipenuhi beban, Bianca mengoceh sendiri bagaimana caranya agar ia bisa berenang. Jika dilihat Bianca hampir terlihat seperti orang gila yang bermonolog sendiri.


“Dasar manusia bumi yang kejam. haruskah gue minta ajarin ke Cristian Ronaldo?”


Bianca tampaknya memang sedang depresi, Ronaldo memang atlet. Tapi renang bukanlah bidang yang ia pegang. Sekarang otak Bianca berpikir keras. Sepanjang jalan menuju kelas cewek itu mengeluh tak karuan. Sempat ia berpikir untuk menghancurkan sekolah ini agar hidup tak lagi rumit.


Bianca berdiri penuh makna. Dari depan sini cewek itu memandang temannya satu persatu. Bagaimana dengan sahabatnya? Difa dan Lina? Mereka juga kan masuk dalam kategori jago.


Tidak-tidak, minta tolong ke mereka itu sama kayak makan angin. Nihil gak ada hasil. ujungnya pasti bakal gak bener. Yang ada Bianca hanya kenyang menelan air kaporit karena ke tidak becusan Lina dan Difa. Lagi pula mereka berdua gak ada pantas-pantasnya jadi pelatih renang. Tampang seperti mereka lebih cocok jadi clining service. Itu pendapat Bianca. ya, begitulah sahabat memang terkadang dipandang sebekah mata dan selalu salah.


Bagas, Fakhrul, Anwar, Firra, Monic. Bianca mengabsen setiap wajah yang akan ia pertimbangkan menjadi guru olah raganya. Semuanya mengeluarkan radar merah pertanda belum ada yang pantas. Sampai satu hidayah muncullah seorang yang cowok baru saja izin keluar. Ia dengan ciri khas wajahnya yang datar seperti habis di setrika. Bianca mendapat sinar hijau pada cowok itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Zyedan!

__ADS_1


 


“Kenapa gak ke pikiran, Zyedan kan kebanggaan sekolah. Atlet semua bidang olah raga. Ikhlas bener dah kalo di ajarin Zye, biasanya sesuatu yang disenangi itu akan menjadi mudah. Gue yakin dua hari  aja gue bisa langsung jadi atlet internasional.” Bianca mulai berimajinasi. Maklum jomblo memang begitu, kadang khayalannya suka gak masuk akal.


Dengan muka yang di buat semanis mungkin Bianca mendekati Zyedan. Langkah pertama itu harus tebar pesona agar target mau membuka hati.


“Ada apa?” Zyedan menatap ngeri pada tampang menggelikan Bianca.


Cewek itu masih belum menyampaikan maksud, sampai Zyedan telah benar-benar duduk di bangkunya. Gini kan enak, kalau ngobrol pun jadi santai.


“Zye gue mau minta...” ucapan Bianca terhenti oleh kedatangan Bu Peppy, oh tidak kenapa waktu istirahat berjalan begitu cepat? Sial! Bianca harus menahan obrolannya dengan Zyedan, karena di jam pelajaran ini semua murid harus tertib dan duduk manis jika ingin belajar tenang tanpa omelan.


-000-000-


Teett- Teett-Teeett.  Indahnya hidup itu ya begini, pas lagi pusing-pusingnya mikirin latihan Matematika, lalu bel pulang sekolah berbunyi, maka nikmat Tuhan mana lagikah yang engkau dustakan?  Penghuni Kelas 11 IPA2 langsung mengucapkan syukur secara berjamaah. Mereka yang membenci  langsung mencampakkan buku mengerikan itu ke dalam tas. Tidak terkecuali pada Bianca. Jika ada yang berpandangan bahwa Cewek itu salah masuk jurusan gara-gara Bianca sangat membenci Matematika, itu sangat Big False. Karena selama ini angka yang mengisi raportnya tidak pernah dihiasi oleh warna merah. Asal kalian tahu saja  nilai Fisika dan Biologi Bianca selalu mendapatkan angka sempurna. Namun sayang seribu Sayang, the queen of SMA Tunas Bangsa ini tidak pandai berenang. Membuat Bianca ingin mengutuk-ngutuk dirinya sendiri.


“Zyedan..” Bianca berlari-lari kecil sambil memanggil nama cowok itu. Keselnya itu ketika orang yang di panggil pura-pura tuli dan tidak mau menoleh. Sumpah Bianca pengen gaplok Zyedan pake sepatunya sekarang juga.


“Zyedan!” Bianca memukul-mukul lengan cowok di sebelahnya dengan buku yang ia pegang. Iya, Bianca memang selalu membawa buku cetak di pangkuannya ketika pulang sekolah. Biar kesannya di bilang rajin? Gak! Bianca cuma tidak ingin menyakiti pundaknya dengan menggendong beban berat.


Back to the point,  Zyedan akhirnya menoleh. Sebenarnya ia tidak terima kekerasan macam ini, untungnya Zyedan punya kesabaran yang lapang, hati yang bersih, dan kepribadian yang baik. Jadi Bianca masih di biarkan bergerak bebas.


“Zye, dengerin gue. Please ya sesama manusia jangan saling mengabaikan, gak baik buat kesehatan.” Bianca kesal astaga, itu Zyedan cuma ngelirik doang, terus mandangnya juga sinis, kayak ngeliat makhluk primata keluar dari Ragunan.

__ADS_1


Bianca menatap ke arah earphone yang mengganggu komunikasinya dengan Zyedan. Ya, benda laknat itu harus disingkirkan.


 


 


“Halo-halo Zyedan. Ibukota sudah Siang.” Bianca menarik-narik tali earphone yang menghubungkan suara dari handphone ke telinga. Bianca terus melakukan itu sampai akhirnya Zyedan bangkit dari ketenangannya. Cowok itu menangkap tangan Bianca yang sedang memainkan earphonenya. Ia menatap cewek itu lekat-lekat.


“Mau kamu apa?”


“Umm,” Bianca mendehem terlebih dahulu, mengatur pita suaranya yang sempat berantakan. “Gue mau lo jadi pelatih renang gue.”


“Gak!” Zyedan melepaskan cekalannya pada tangan Bianca.


“Tapi gue butuh banget bantuan lo Zye. Lo tega bidadari cantik ini dinistakan oleh orang-orang? Lo sanggup ngeliat gue kelelep tiap tahun?”


“What ever.” Zyedan melanjutkan langkah. Jiwa aliennya bangkit kembali, jiwa yang tidak peduli dengan urusan dunia.


Bianca nyerah? Tentu saja tidak. Cewek itu berlari mengejar Zyedan. Ia merentangkan tangannya menghalangi Zyedan. “Lo masih punya hutang ke gue!” ujar Bianca dengan wajah serius.


Apakah yang dimaksud dengan hutang? Zyedan nggak ngerti.


“Lo inget gue pernah ngasih  lo 5 permintaan? Dan sekarang adalah permintaan ketiga. Please jangan pura-pura lupa ataupun bego. Karena lo sendiri yang menyepakati perjanjian ini.”

__ADS_1


Zyedan menarik rambut depannya ke belakang lalu mengerang, “Argghhh... Bulshit!” Bianca menyeringai. Lagi-lagi keinginannya berhasil.


 


__ADS_2