
Tibalah hari yang ditunggu-tunggu dan begitu bahagia untuk semua wanita di Dunia, termasuk dengan Dita Priastomo. Kekasih yang sangat dicintainya dalam beberapa tahun dan yang selalu mengisi hari-harinya untuk beberapa bulan ini, datang ke rumahnya bersama dengan keluarga besarnya.
Jujur, awalnya saat dia mendengar ajakan dari kekasihnya itu untuk menikah setelah lulus, dia cukup tak percaya. Pasalnya saat itu dia belum menjalin hubungan apa-apa sama sekali. Bahkan selama dia mencoba mendekati lelaki itu selama beberapa tahun, dia tidak pernah dilirik sekalipun. Tapi siapa sangka secara tiba-tiba lelaki itu malah mengajaknya untuk menikah setelah lulus. Dan tanpa berfikir panjang dan juga tanpa memikirkannya dua kali dia langsung menerima ajakan itu.
Entah apa yang dipikirkannya saat itu sampai dia langsung menerima ajakan itu, sementara dia tidak tahu bagaimana perasaan lelaki itu terhadapnya. Awalnya dia masih merasa ragu, tapi setelah dijalaninya beberapa bulan, dia yakin dan amat sangat yakin dengan keputusannya. Hingga sampailah dia di tahap ini, tahap lamaran. Dimana tahap yang menghubungkan dirinya dan lelaki itu untuk menuju jenjang yang lebih seriusnya lagi.
"Ditaaaaaaa" teriak Lala mendekap tubuh gadis yang bernama Dita itu dengan erat, "gila sih, akhirnya datang juga hari bahagia, lo. Selamat ya, senang sekaligus sedih gue, tau enggak" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Lebay, lo. Masih lamaran ini juga" balas Dita, tapi membalas pelukan Lala.
Lala melepas pelukannya, "lamaran itu salah satu jembatan untuk ke proses pernikahan. Kalau enggak ada lamaran mana bisa lo nikah. Jadi gue wakilin sekarang aja perasaan gue. Kalau nunggu nikah mah udah hal biasa" ucapnya.
"Terserah deh" balas Dita tak mau ambil pusing dengan celotehan temannya itu.
"Gue terharu loh, Dit. Memang ya, usaha enggak bakal mengkhianati hasil. Perjuangan lo terbayar, Dit. Sumpah gue jadi sedih, teman seperjuangan gue bakal sold out duluan."
"Dulu waktu gue denger lo di ajak pacaran sama Masval, gue senang. Sekarang lo mau lamaran gini kok gue sedih ya, sedih setelah itu lo jadi istri orang terus kita enggak bisa kemana-mana bebas lagi, enggak bisa gila-gilaan bareng Bagas juga. Gue sedih, Dit. Tapi gue senang juga lihat lo bahagia gini. Bahagia selalu ya, Dit" Ucapnya yang akhiri dengan menetesnya air mata yang di tahan-tahannya dari tadi.
"Sukses lo buat make-up gue luntur. Belum hilang rasa sedih gue karena ditinggal teman sekelas, sekarang lo lagi yang bakal ninggalin gue" Sambungnya menyeka air matanya.
"Apa sih, lo ngomong apa? Gue masih di sini lah" balas Dita ikut menyeka pipi Lala, "pokoknya apapun status gue sekarang, gue tetap temen lo. Jangan berubah sama gue ya, La" Sambung Dita yang merasa haru dengan ucapan Lala tadi, tapi dia berusaha menahan tangisnya, kalau tidak air matanya bisa turun dan mengakibatkan lunturnya make-upnya.
"Semogah nyusul ya, La" sambung Dita.
Lala mengangguk, "tapi harus sama Arka" timpalnya yang membuat Dita tertawa.
"Lo tenang aja, teman gue yang satu itu hidupnya punya tujuan. Pasti bakal sampai ke sanalah" ucap Dita yang membuat Lala ikut tersenyum.
"Bagaimana rasanya, Dit? Kelar acara ini, selangkah lagi lo bakal resmi jadi istri."
Dita tidak langsung menjawab, dia malah tersenyum tersipu malu, "gue enggak tau rasanya gimana, lamaran gini aja udah buat gue lemas tak berdaya, La. Yang gue pikirin sekarang, malam pertama gue ngapain, ya?"
Tampang serius Lala tiba-tiba berubah jadi tatapan datar tanpa ekspresi.
"Main masak-masakan, Dit" balasnya malas.
Dita mengerutkan keningnya bingung, "kata Bagas main kuda-kudaan" timpalnya, kembali kumat lemotnya, tentu hal itu membuat Lala melebarkan matanya.
"Emang ******* si Bagas" makinya pada Bagas yang enggak ada di sana.
"Kenapa, La?"
"Enggak kenapa-kenapa. Lagian lo belum nikah juga, udah mikir gituan" sinis Lala.
"Bodo, otak-otak gue juga" balas Dita.
Lala berdecak tak membalas ucapan gadis itu, "oya, Dit, ntar lo turun lihat Masval jangan syok, ya" pesan Lala pada gadis itu.
Menjelang semua keluarga dari kedua pihak baik dari laki-laki maupun dari perempuan datang, Dita di haruskan menunggu di dalam kamarnya. Sampai nanti seseorang datang menyuruhnya untuk keluar kamar dan ikut bergabung ke dalam acara.
"Kenapa?" Dita bertanya.
Hari ini, di hari spesialnya Dita tampak begitu cantik. Dia menggunakan make-up yang begitu natural dan juga kebaya yang begitu ngepas di badannya, benar-benar berbeda dari Dita biasanya.
"Parah, Dit, parah" jawab Lala panik. Melihat itu membuat Dita mengerutkan keningnya pelan. Tak ingin make-upnya hancur.
"Kenapa, sih? Lo buat gue penasaran, ****" balas Dita yang mulai kesal dan tak sabaran.
"Masval ganteng banget, Dit. Gue baru tahu kalau cowok pakai batik itu bisa bikin presentasse kegantengan mereka naik seratus persen" jelas Lala menggebu-gebu.
Dita memutar bola matanya, malas "ya emang ganteng. Selama ini lo ke mana aja, hah?"
Lala mendengus kasar, "lo enggak dengar, gue bilang cowok pakai baju batik bisa bikin presentasse kagantengan mereka naik seratus persen. Itu artinya Masval dulu biasa aja, tapi karena pakai baju batik jadi cakep" jelas Lala dengan pelan agar temannya yang terkenal lemot itu bisa mengerti dengan sekali penjelasan.
Mendengar perkataan Lala seperti itu membuat Dita berdiri dari duduknya, mendekati Lala lalu dijambaknya pelan rambut cewek itu, "Ngomong apa lo barusan?" Tanyanya sok galak.
"Gue bilang Masval aslinya biasa aja" jawab Lala yang tidak merasa takut dengan Dita.
Dita melepas jambakannya dan merubah raut muka galaknya tadi menjadi cemberut seperti ingin menangis. Tentu hal itu membuat Lala tertawa terpingkal-pingkal.
"Bohong, Dita. Astaga, lo gampang banget percayanya. Lagian Nenek rabun juga tahu kalau Masval itu cakep banget. Bening begitu juga" timpal Lala puas dengan tawanya.
Dita melirik sinis ke arah temannya itu, "bohong! Lo ngomong gitu buat ngehibur gue, kan?" Rengeknya, "lo jujurkan bilang kalau Masval itu biasa aja. Padahal menurut gue, Masval itu cowok paling cakep yang pernah gue temui, La. Asal jangan disandingkan aja dengan abang, kalau itu jelas Masval gue kalah" sahutnya lagi.
Lala bingung, sebenarnya niat sahabatnya ngomong kayak gitu ingin membela atau malah ingin menjatuhkan. Lala jadi miris mendengarnya.
"Hadeuuuh, Dit-Dit, baperan banget jadi orang. Udah mau jadi istri juga, masih aja baper" sahut Lala menggelengkan kepalanya, "gue bohong sama omongan gue sebelumnya—"
"Yang mana?" Potong Dita cepat.
"Yang bilang kalau Masval biasa aja. Aslinya Masval emang cakeplah. Dari awal jumpa dulu, guekan udah pernah bilang kalau Masval itu cakep.
Bukannya senang mendengar kalimat seperti itu, Dita malah mencibir.
"Halah lo bohong. Kayo aja juga lo bilang cakep waktu itu" ucap Dita mengingat kejadian saat pertama kali Lala ketemu dengan semua keluarga Arka.
Mendengar perkataan seperti itu tiba-tiba Lala menendang kaki gadis yang ada di depannya, "eh, bohong apaan?! Memang Kayo cakep kok. Lo rabun atau bagaimana?" Giliran Lala menatap sinis ke Dita.
Dita cengengesan menggaruk alisnya, "ya memang cakep, sih, cuma gue enggak ikhlas aja mujinya. Soalnya Kayo nyebelin parah" balas Dita.
"Terkadang yang nyebelin gitu ngangenin" timpal Lala yang dianggkuin Dita.
Dita berjalan mendekat dan duduk di atas kasur di samping Lala, "dulu waktu Kayo pergi ke America, kita ngerasa sepi banget. Kangen sama celotehan enggak pentingnya itu, tapi yang ngerasa banget itu Masval, dia banyak diam, lo kan tau yang buat Masval ngomong itu siapa" jelasnya, Lala mengangguk.
"Kalau lihat Kayo, gue ngerasa ada Bagas tau enggak."
Dita melirik sinis ke samping, "masih mending Kayo kemana-manalah" protes Dita, "Kayo walaupun mulutnya pedas banget, tapi masih bisa direm, apa lagi kalau ada abang. Terus enggak ngerokok, selalu rapi dan wangi. Kalau bagas? Allah, ampun gue sama tu anak, mulut tajam parah, udah gitu perokok aktif, pusing gue kalau dekat sama dia" jelasnya kembali.
"Ya memang beda jauh, tapi secara tidak langsung sifat mereka sama. Sama-sama bikin suasana hidup" timpal Lala menoleh ke temannya itu.
Dita menatap dalam mata Lala, seperti ada yang aneh dengan cewek itu.
"Kenapa lo lihat gue gitu banget?" Tanya Lala.
"Lo suka sama Kayo, ya?" Tanya Dita dengan sedikit memicingkan matanya, dia curiga.
Mendengar pertanyaan itu membuat Lala melebarkan matanya dan segera melayangkan sentilan dikening Dita yang ada di sebelahnya hingga membuat Dita meringis kesakitan.
"Sakit monyet!" Protes Dita.
"Mulut lo tu kayak sampah tau, enggak. Sembarangan banget kalau ngomong" berang Lala.
"Mulut kayak sampah itu bagaimana?" Tanya Dita mulai kumat lemotnya.
"Kayak, elo! Pakai nanya lagi" balas Lala mentoyor kening Dita.
"Ini kalau sampai make-up gue hancur, habis lo ya, La, sama gue" berang Dita meraih cermin yang ada di atas tempat tidurnya lalu berkaca melihat make-up-nya.
"Lo pikir gue takut?" Tantang Lala menaikkan dagunya.
"Lo bawa tu anak manja, kalian berdua! Gue enggak takut" balas Dita melempar sembarangan cermin yang di pegangnya ke atas tempat tidur.
"Ehem"
Terdengar suara yang berasal dari ambang pintu yang membuat kedua gadis itu menoleh secara bersamaan dan diam membeku di tempatnya.
"Eh adek" ucap Dita dengan senyum sok imutnya. Sedangkan Lala sudah mencibir melihat tampang sok imut dari temannya itu.
"Dasar uler" gumamnya pelan.
"Ih idik" ejek Arka meniru kalimat Dita, "siapa yang lo bilang anak manja tadi?" Tanyanya langsung.
"Hm mamam tu" balas Lala mengejek.
"Enggak, enggak ada ngomong kayak gitu, kok" jawab Dita pura-pura tidak tahu.
Lala berdiri dari duduknya lalu jalan mendekag ke arah Arka yang berdiri di ambang pintu, "itu Dita tadi ngatain lo manja, Ar. Dia bilang 'lo bawa tu anak manja, kalian berdua gue enggak takut' gitu, Ar" adu Lala.
"Enggak, gue enggak ngomong gitu. Dih, si kambing ngadu domba ni" balas Dita masih tidak mau jujur.
"Kambing atau domba? Yang bener dong" timpal Lala.
"Kambing sama domba beda, ya?" Tanya Dita polos.
__ADS_1
"Ya beda lah, namanya aja beda" jawab Lala.
"Lah, kirain mereka masih satu family" balas Dita kembali.
"Ini kenapa jadi bahas kambing sama domba, sih?" Timpal Arka yang masih terlihat waras diantara kedua orang itu.
"Lo di panggil ke bawah. Yang lain udah pada ngumpul" sambung Arka yang membuat dada Dita melega, setidaknya dia aman untuk tidak dapat amukan dari mulut pedas Arka.
Dengan cepat Dita berjalan ke arah pintu, baru minjakkan kakinya selangkah di luar kamar, tiba-tiba tangannya diraih oleh Arka, "jangan senang dulu, Dit. Kelar acara, lo dapat kata-kata manis dari gue" ucap Arka mengusap pelan kepala Dita yang di tata dengan sanggul. Mendengar perkataan Arka itu membuat bahu Dita jatuh lemas.
"Bangke" ucapnya pelan tanpa semangat.
Sementara Lala yang berada di sana dan melihat langsung kejadian itu sudah tertawa dan bertos ria bersama Arka.
"Pacar gue ni" sahut Lala membanggakan dengan songongnya di depan Dita.
"Baru masih pacar, La. Gue yang punya calon suami aja, biasa aja tu" balas Dita tak kalah sombongnya lalu berjalan meninggalkan sepasang kekasih itu.
Arka dan Lala saling lirik satu sama lain.
"Apa?" Tanya Arka membalas tatapan gadis itu.
"Nikah, yuk" ajak Lala tiba-tiba.
Satu ketukan dari jari tengah Arka mendarat dikening Lala, "boleh, tapi kalau gue kasih makan batu makan angin, jangan marah, ya?" Balasnya lalu berjalan meninggal gadis itu yang masih terbengong.
"Enggak masalah, makan janji manis lo gue juga mau, Ar" sahut Lala mengejar langkah Arka di belakang.
"Untung sayang" gumam Arka pelan dengan tersenyum dan mengusul Dita.
🍂🍂🍂🍂
Acara lamaran Noval ini hanya di datangi oleh keluarga inti saja yang terdiri dari Mama, Papa, Mas, adiknya, serta beberapa om yang berasal dari keluarga Papanya. Dan karena keluarga Hadi sudah menjadi bagian dari keluarganya juga, tidak lupa semua anggota keluarga itu ikut tanpa terkecuali satupun, termasuk dengan Gio di dalamnya.
Dari pagi mereka semua sudah mempersiapkan satu bingkisan berupa hantaran yang akan diberikannya untuk calon mempelai wanitanya. Dan seperti pesan Noval waktu itu, Gio benaran datang dengan membawa se-bucket bunga mawar putih yang begitu indah dan di berikannya kepada Noval.
"Ni, tugas gue" ucapnya memberikan bunga tersebut dengan satu tangannya, sementara tangan satunya lagi digunakan untuk menggendong Afka.
"Thanks, Gi" balas Noval menerima bunga tersebut lalu duduk di kursi yang telah di sediakan.
Gio yang tengah memangku Afka di pangkuannya, menoleh pada Dita yang baru saja turun dari tangga beriringan dengan Arka dan disusul oleh Lala di belakangnya. Begitupun dengan Noval yang ikut menoleh ke arah pandang Gio.
"Val, Dita cantik banget" puji Gio ketika melihat gadis itu turun dari tangga dengan menggunakan baju kebaya dengan bawahan yang senada dengan Noval dan juga make-up yang begitu natural di wajahnya.
Noval mengangguk, "tapi gue masih ngefavoritin Dita tanpa make-up, Gi" timpalnya.
"Karena polosnya lebih terlihat lucu?" Tebak Raka yang ada di sebelah Gio.
Noval menoleh ke Raka, lalu mengangguk kembali, "imut" sambungnya yang membuat Gio mencibir mendengarnya, tetapi Raka malah tertawa.
"Kanebo kering kalau lagi jatuh cinta ya begini ni, bucin" timpal Gio sinis.
"Bodo" balas Noval cuek.
Tak lama setelah Dita keluar, sang MC yang membawa acara lamaran itupun membuka acara lamaran itu membacakan susunan acaranya. Pertama dimulai dengan penyerahan se-bucket bunga yang di bawa tadi kepada Dita.
"Mas enggak tau Tata suka bunga apa, tapi kalau lihat mawar putih ini Mas jadi ingat kamu, polos dan tulus. Seperti filosofi dari mawar putih itu sendiri. Lebih dari itu, mawar ini cantik seperti kamu. Walaupun berduri tapi masih bisa memikat hati seseorang. Begitupun dengan kamu, dengan sifat ajaib yang Tata punya mampu membuat Mas tertarik" ucapnya lancar tanpa hambatan, Dita sudah tersipu malu berdiri di depan Noval, terihat dari pipinya yang sudah memerah seperti itu.
"Masval manis banget, ngomong-ngomong Dita ngerti enggak sih yang dibilang Masval?" Bisik Lala bertanya pada Arka yang di samping Yuki.
Arka menoleh dan sedikit menunduk, "kayaknya enggak deh, Masval banyak banget menggunakan peumpama, Dita mana ngerti" jawab cowok itu.
"Pasti ngertilah, itu lihat pipinya Dita merah gitu" sahut Yuki yang berada di antara kedua orang itu.
Arka dan Lala saling lirik lalu bersamaan menoleh ke arah Lala, "bukannya Dita kalau dekat Masval memang begitu ya, Kaki?" Tanya Lala dengan polosnya yang di anggukin oleh Arka.
Yuki langsung menoleh ke Lala, "lah, iya. Benar juga ya, La" ucapnya menyetujui membuat Arka memutar bola matanya.
Sewaktu Noval menyerahkan bunga tersebut dia berbisik di telinga Dita "Mas tau Tata bingung sama ucapan Mas yang panjang dan lebar tadi. Intinya Mas cuma mau bilang, Mas sayang kamu" bisik Noval pelan yang hanya didengar oleh Dita dan membuat pipi gadis itu makin bersemu dan terasa panas dipipinya.
Kalau sebelumnya tadi pipi Dita sudah memerah, itu karena dia grogi dengan semua mata yang tertuju padanya, bukan karena ucapan panjang kali lebar yang diucapkan Noval. Tapi mendengar bisikan Noval barusan itu benar-benar membuat Dita paham dan mengerti akan ucapan pemuda itu sebelumnya.
"Terima kasih Mas" lirihnya tersipu malu yang di jawab dengan elusan lembut dikepala Dita sebelum Noval kembali kekursinya semula.
"Kok abang enggak semanis itu sih dulu" ucap Yuki yang ada di belakang Raka.
Raka memundurkan sedikit kepalanya agar lebih dekat dengan yuki di belakangnya "abangkan memang enggak bisa manis, Car. Tapi yang jelas saat itu abang keren" balas Raka dengan membanggakan dirinya waktu itu.
Mendengar ucapan pemuda itu membuat Yuki mendengus "Iyain aja biar senang" timpal Yuki tak bersemangat yang membuat Raka tertawa dan memutar kepalanya ke belakang.
"Sayang pacar banyak-banyak" ucap Raka pelan mengacak rambut Yuki.
"Oke, adek enggak lihat bang" sahut Arka yang ada di dekat orang itu dan melihat langsung kejadian saat itu.
"Yang kayak gini ni, yang ngebuat kaum cuek dan tidak peka jadi serba salah" batin Arka yang melirik abang dan kakak iparnya itu.
"Lala juga enggak lihat" sambung Lala menatap lurus, padahal ujung matanya dari tadi jelas melirik ke arah sepasang suami istri itu.
"So sweet banget sih, bang" teriak Lala histeris dalam hatinya.
Dan hal itu membuat Raka dan Yuki tertawa lucu melihat kedua orang itu.
Setelah acara pertama itu di buka dengan pemberian se-bucket bunga dari Noval, acara selanjutnya adalah penyerahan seserahan yang disiapkan keluarga Noval, yang akan diberikan untuk mempelai wanitanya yaitu Dita. Dan dilanjuti dengan acara selanjutnya, yaitu mengutarakan maksud dan tujuan keluarga Noval untuk datang menemui keluarga Dita.
Dan di sinilah yang membuat perasaan tenang Noval tadi berubah seratus delapan puluh derajat menjadi tidak karuan. Dia takut kalau lamarannya ini tidak berjalan sesuai dengan harapannya.
"Saya di sini sebagai Papa dari Noval Alkatiri, beramai-ramai datang bersama keluarga lainnya, ingin kenyampaikan niat baik anak kami yaitu ingin meminta Nak Dita untuk menjadi bagian dari keluarga kecil kami ini, yaitu sebagai istri dan juga anak menantu. Saya sudah dengar semua ceritanya dari Noval baik kurang dan lebihnya Nak Dita, saya dan sekeluarga berharap dengan sangat Bapak dan Ibu mau menerima lamaran kami ini dan memberi restu untuk anak kami" ucap Papanya Noval menyampaikan langsung tujuannya.
Kedua orang tuanya Dita tidak langsung menjawab, mereka saling lirik lalu melebarkan senyum mereka.
"Saya berterima kasih untuk niat baik Bapak sekeluarga datang kemari. Sebelum menjawab dan memberi restu, saya ingin menanyakan beberapa hal dulu kepada Nak Noval" balas Papanya Dita.
Mendengar ucapan Papanya Dita membuat tubuh Noval menegang.
"Nak Noval siap?" Tanya Papanya Dita kembali.
Noval tersenyum, senyum yang di paksaknya terlihat tenang, "insah Allah siap, om" jawab Noval. Walau sudah beberapa kali bertemu dan ngobrol bersama, tetap saja menghadapi orang tua Dita membuat Noval grogi, apa lagi di acara yang sepenting ini.
Papa Dita tersenyum, "kenal Dita sudah berapa lama?"
Noval melirik ke Dita yang tengah menatapnya dengan senyum manisnya, "kurang lebih lima tahun, om" jawab Noval yang dianggukin oleh Papanya Dita.
"Kenapa dekatnya baru beberapa bulan ini?" Tanyanya kembali.
"Jawab aja yang jujur, Val" bisik Gio di sebelah Noval, "Percaya sama gue yang sudah berpengalaman" sambung pemuda itu kembali.
"Intinya jangan sampai grogi, kayak giniankan lo udah lihat dari kita-kita" timpal Raka ikutan.
Noval mengangguk menyetujui ucapan kedua temannya itu, "iya om, kenalnya sudah beberapa tahun dan baru bisa mengutarakan hati saya beberapa bulan ini. Saya ingin memantapkan hati saya terlebih dahulu untuk Dita, dan juga selama kenal Dita saya sudah berniat ingin menikahi dia, dengan menunggunya setelah lulus. Tapi sebelum lulus, saya keburu kalah sama ego saya sendiri, saya lebih dulu memintanya menjadi pacar saya" jawab Noval dengan mantapnya.
"Apa yang membuat Noval yakin sama Dita? Sampai bisa mengajaknya untuk kejenjang yang lebih serius? Noval taukan kekurangan anak om seperti apa? Lemot, kekanakan, bahkan baru lulus sekolah dan belum mau melanjutkan pendidikan selanjutnya. Apa Noval nerima dengan semua kekurangan tersebut?"
Sebelum menjawab pertanyaan selanjutnya dari Papanya Dita, Noval menyempatkan menoleh sebentar ke arah Mama dan Papanya. Mereka tersenyum begitupun dengan Noval membalas senyuman mereka.
"Yang membuat saya yakin sama Dita, pertama, Dita bisa memyembuhkan saya dari masa lalu saya. Kedua, Dita selalu sabar mendekati saya, walau saya selalu tidak pernah merespon sekalipun. Ketiga, Dita si gadis polos yang bisa bikin saya tertawa hingga saya lupa dengan masalah saya.
"Dari ketiga point itu tidak ada hal lain yang membuat saya tidak yakin sama Dita, om. Dan untuk kekurangan Dita yang om sebutkan tadi, saya tau begitupun dengan keluarga saya. Saya sudah menceritakan segalanya, dan mereka sangat menyambut hangat kedatangan Dita di keluarga kami. Apapun kekurangan Dita saat ini, saya anggap itu sebagai kelebihannya, sebab karena kekurangannya itu membuat saya dan Dita saling melengkapi" jelas Noval kembali.
Di sebelah Mama dan Papanya, Dita mendengar dengan jelas ucapan cowok itu yang secara pelan tenang di ucapkannya, dan hal itu membuat perasaan Dita tersentuh, kalau dia tidak ingat sekarang lagi ramai mungkin dia sudah nangis bombay saat ini dan berlari memeluk Noval. Dia benar-benar terharu, dia tidak pernah menyangka dalam hidupnya akan ada laki-laki yang mau menerima kekurangannya itu.
"Kayaknya pertanyaan om, om sudahi. Kalau om bertanya lebih lanjut dan Noval menjawab dengan seperti tadi. Om yakin, mungkin besok adek bakal minta Mama Papanya buat ngelamar Lala" timpal Papanya Dita menggodai Arka yang tampak tercengang mendengar jawaban Noval tadi. Tentu itu membuat seisi ruangan tertawa melihat Arka yang sedang salah tingkah.
"Kebalik, om, yang ada Lala yang maksa adek buat nikahin dia" sahut Arka melirik Lala.
"Dih kok gue?" Balas Lala tak terima.
"Tadi yang ngajak nikah siapa?" Tanya Arka mengingatkan akan ucapan Lala sebelumnya.
Lala memasang tampang memelasnya lalu menoleh ke arah Hadi, Papanya Arka.
"Lala becanda, Pa" timpalnya membuat Arka mencibir.
Hadi tertawa kecil, "kita bahas di rumah aja, ya. Kasihan Dita sudah enggak sabar pengen tukaran cincin" ucap Hadi melerai keributan dari kedua orang itu.
__ADS_1
"Cuma om yang pengertian sama, Dita. Terima kasih ya, om" sahut Dita, yang membuat semuanya tertawa.
"Sekarang om serahkan semua sama Dita, Noval bisa meminta langsung. Om sama Tante cuma bisa kasih restu sama kalian" ucap lelaki yang sudah berumur itu.
Noval menarik dalam nafasnya sebelum dia menyuarakan isi hatinya, dan di tatapnya mata Dita dengan penuh minat membuat Dita terhipnotis dan membalas tatapan pemuda itu.
"Kebanyakan orang berkata bahwa obat jatuh cinta adalah menikah. Dan sekarang Mas sedang jatuh cinta, sama seorang wanita yang mampu membuat Mas menjadi diri Mas sendiri, yang mampu meluluhkan hati Mas dari masa lalu Mas yang tidak begitu menarik. Mas mau bilang, Dita Priastomo maukah kamu menjadi obat jatuh cinta Mas ini? Maukah kamu menjadi ujung dari perjalanan cinta Mas? Mas, ingin menjalani hari-hari dengan melihat senyum kamu. Izinkan Mas untuk menjaga kamu, izinkan Mas menjadikan kamu sebagai perhiasan paling berharga untuk, Mas."
"Jadilah sebaik-baik perhiasan di Dunia, yang selalu menyejukkan mata, yang selalu nyediain segelas teh di pagi hari di genggaman kamu untuk Mas, dan selalu melangkah menuju, Mas. Terima lah lamaran Mas" ucap Noval dengan seriusnya, tidak ada keraguan dimata pemuda itu.
Dengan cepat Dita mengangguk, "Dita mau, Mas" jawabnya dengan meneteskan air matanya.
"Alhamdulillah" ucap para tamu yang ada di ruangan itu mengucap puji sukur.
Setelah jawaban terima yang diucapkan Dita, selanjutnya sepasang kekasih itu melakukan penukaran cincin sebagai simbol tali kasih, dengan dilakukan oleh Mama Noval untuk Dita, dan Mama Dita untuk Noval. Dengan demikian lamaran mereka sudah resmi dilakukan.
🍂🍂🍂🍂
"Gue enggak nyangka Noval bisa se-gentle itu tadi" ucap Gio sama Raka dengan masih menggendong Afka digendongannya.
"Iya, cuma lo doang yang cemen waktu itu" timpal Yuki mengungkit kejadian lamaran Gio waktu itu.
"Dih, itu gue lagi khilaf makanya grogi" alasan Gio.
"Bacot" balas Yuki yang langsung dapat teguran dari Raka.
"Bahasanya, ada Afa loh, car" timpal Raka yang membuat Gio melirik Yuki dengan senyum senangnya.
Yuki cemberut "Maaf" lirihnya menangkupkan kedua tangannya.
"Lain kali enggak boleh, ok?" Ucap Raka kembali dengan mengusap pelan pucuk kepala Yuki. Yuki mengangguk cepat.
"Val, kata Yuki lo cemen" teriak Gio memanggil Noval yang tengah bicara dengan orang tua Dita.
Noval menoleh menatap pemuda itu dengan tatapan menusuknya lalu berjalan mendekati segerumuman orang itu.
"Ngomong apa lo tadi?" Tanyanya.
"Gue enggak ngomong apa-apa, gue cuma manggil lo doang" balas Gio.
"Bohong, kak. Tadi Gio bilang kakak cemen" sahut Yuki yang langsung dapat plototan dari Gio.
"Bocor banget emang ni wanita uler" sinis Gio yang di balas dengan memeletkan lidah oleh Yuki.
"Yandah, yuk eli eis" ajak Afka menyelamatkan Gio dari amukan Noval.
(Yandah, yuk beli ice)
"Yuk, Afa mau beli apa? Semua yandah beliin untuk Afa"
"Eli ua ya? Uncuk Kaze catu" balas Afka dengan belepotan.
(Beli dua ya? Untuk Kaze satu)
"Lah iya, Kaze mana? Yandah enggak lihat dari tadi"
"Lagi sama adek tadi, enggak tau pergi kemana" timpal Yuki.
"Ini kenapa Gio dipanggil Yandah, ya?" Tanya Noval bingung pada Yuki dan Raka.
Gio mengangguk bangga dengan senyum songongnya "sekarang Afa manggil gue, Yandah. Singkatan dari Ayahanda" ucapnya mengecup pipi gembul bocah kecil itu.
"Kok bisa?" Tanya Noval pada Raka.
"Ya bisalah" timpal Gio cepat.
Noval berdecak, "gue enggak ngomong sama, lo" sinisnya membuat Gio memajukan bibirnya cemberut.
"Kok bisa, Ka?" Tanya Noval yang terihat jealous.
"Gue juga enggak tau, dari kemarin dia udah manggil dirinya Yandah. Katanya biar nantik kalau Afa jadi mantunya, dia enggak perlu ubah panggilan lagi" jelas Raka.
"Kalau sama gio Afa manggil Yandah, terus sama gue panggil apa?" Tanyanya.
"Jealous lo kan?" Timpal Gio sinis.
"Udah, sama aja panggilannya, Kak. Biar ntar Afanya enggak bingung juga" ucap Yuki yang di anggukin oleh Raka.
"Enggak bisa gitu dong, itukan panggilan sayang Afa untuk gue, Ki" Protes Gio.
"Tapi guekan kesayangan Afa juga, enggak masalah dong gue di panggil dengan panggilan kayak gitu."
Gio berdecak, "ck ah, terserah deh" pasrahnya.
Mendengar itu membuat Noval tersenyum, "yes" sahutnya kesenangan dengan melayangkan kepalan tenjunya keudara.
"Kayo, ayo katanya mau temanin Bee" sahut Beyonce yang baru ikut bergabung dengan mereka.
"Yuk, sekalian ajak Afa beli ice" balas Gio menyerahkan anak kecil itu sama Beyonce.
"Ki, anak lo gue bawa dulu" pamitnya berjalan menarik tangan Beyonce.
"Eh bentar" cegat Noval, "Afa, cium Yandah dululah" ucapnya yang langsung di cium oleh Afka tepat di pipi Noval.
"Terima kasih, ganteng" balas Noval mengacak rambut anak kecil itu.
"Yuk" ajak Gio.
"Duluan ya bang, Kaki, Masval" ucap Beyonce berjalan beriringan dengan Gio.
"Titip Afa ya, Bee" sahut Yuki pada sepasang kekasih itu.
"Ka, gue ke sana dulu" ucap Noval menunjuk ke arah Dita yang sedang menyantap makanannya.
"Lahap banget makannya" timpal Noval mengusap kepala gadis itu.
Dita menoleh dengan melebarkan senyumnya, "laper, dari tadi pagi belum ada makan, Mas" balasnya.
"Mas juga belum ada makan" timpal Noval memilih duduk di samping gadis itu.
"Mau aku suapin?"
"Memangnya mau suapin, Mas?" Tanya Noval.
Dita mengangguk dan menyodorkan sesendok makanannya pada Noval.
"Terima kasih" timpal Noval mengusap kembali kepala gadis itu.
"Udah dua kali ya, Mas, hutangnya" sindir Dita, yang membuat Noval tertawa.
"Hitung aja, seminggu lagi Mas bayar lebih dari kecupan kening" bisik Noval.
"Apa?"
"Pokoknya enak, Tata belum pernah rasain" balasnya dengan senyum miring.
"Enak banget?" Tanya Dita yang sudah penasaran.
"Banget."
"Memang Mas sudah pernah coba?"
"Belum sih, makanya mau cobanya sama Tata."
"Kenapa sama aku?"
Noval mendekatkan wajahnya ketelinga Dita, "katanya, kalau sama-sama belum pernah coba lebih seru ngerabanya" jawab Noval menahan tawanya karena melihat tampang bengong dari Dita dengan pipi merahnya.
"Udah kemana-manakan pikirannya?" Tanya Noval yang dijawab anggukan dari Dita, "dasar enggak bisa di pancing dikit aja" sambungnya dengan tertawa dan menarik hidung gadis itu.
"Ena-ena sama Mas" ucap Dita dengan suara kerasnya yang membuat Noval nyemburin minum dari hidungnya.
Next🍂
__ADS_1
17-05-2020