VALIT ( Noval dan Dita)

VALIT ( Noval dan Dita)
Ngedate


__ADS_3

Pagi ini Dita yang biasanya tidak bersemangat datang kesekolah, kini ia datang dengan hati yang ringan dan penuh semangat tak lupa senyum dibibirnya selalu mengembang dari dia bangun tidur hingga sekarang sampai disekolah melewati koridor utama dan menuju kelasnya.


Setelah kemarin semua mimpinya jadi kenyataan dan penantian panjangnya berbuah hasil membuat pagi ini seperti pagi-pagi yang indah baginya.


Belum lagi tadi chat masuk dari calon masa depannya yang membuat pagi ini begitu bahagia untuk Dita.


Mas Noval Alkatiri๐Ÿ’•


Semangat sekolahnya jangan lupa sarapanโฃ๏ธ


Mungkin kalau menurut orang diluar sana yang membacanya itu pesan atau chat yang biasa saja, tapi berbeda dengan Dita, ia membacanya pakai hati sehingga walaupun hanya terdiri dari beberapa kalimat yang biasa saja tapi mampu membuat bunga-bunga dan love-love berterbangan di sekelilingnya.


Berulang kalipun ia membaca pesan itu tak menghentikan senyum dibibirnya, malah membacanya membuat Dita makin tersenyum lebar dan sesekali menjerit histeris penuh kebahagiaan.


"Kenapa lo senyum-senyum gitu?" Tanya Lala sinis melihat Dita baru masuk kekelas dengan senyuman yang aneh menurutnya.


"Maniskan senyum gue?" Ucapnya balik bertanya tak mempedulikan pertanyaan yang ditanya oleh sahabatnya tadi lalu duduk dikursinya yang ada didepan meja Lala.


"Dih gila, orang nanya malah balik nanya ni si peak" sewot Lala mendorong kursi Dita.


Dita menoleh sebentar kebelakang dengan tatapan gak senang yang membuat Lala mencibir melihatnya "La, gue lagi seneng ya. Please lo jangan ngerusak mood gue" ucap Dita memperingati gadis itu.


Lala berdecak kasar dengan tangan terlipat didadanya dan punggung yang bersandar disandaran kursi "oh hebat, dari tadi gue nanya kenapa-kenapa gak lo jawab. Ini yang lo bilang kita sahabat ha?" Sindir Lala dengan suara kerasnya yang mengakibatkan seisi kelas menatap mereka berdua dengan tatapan tak senang.


Dita segera membalikkan badannya penuh dan meraih tangan Lala lalu digenggamnya kuat yang membuat Lala menatap gadis itu dengan risih.


"Kemarin gue ketemu Masval" ucapnya dengan mata berbunga-bunga merasa getaran yang hebat di dadanya hanya menyebut dan menginggat wajah kalem dari cowok itu.


Lala mengangkat bibirnya sebelah mendengar kalimat yang sudah biasa didengarnya itu lalu melepaskan tangannya dari genggaman Dita.


"Bukannya beberapa hari ini lo sering jumpa sama Masval? Katanya mau biasa aja kalau jumpa. Kenapa sekarang kembali kayak cacing kepanasan gini?" Sindir Lala kembali.


"La, lo tau dari mana kalau cacing kepanasan? Dia kasih tau lo ya? Bukannya lo takut sama cacing?" Tanya Dita dengan polosnya diluar pembahasan yang sedang mereka bahas tadi.


Lala memaksakan senyumnya, ia tak ingin pagi hari yang indah ini rusak begitu saja hanya karena menanggepin kelakuan lemot sahabatnya itu.


"Iya Dit, tadi dia ngechat gue" balas Lala menungkupkan wajahnya diatas meja yang beralaskan ranselnya.


Dita tertawa mendengar lelucon itu membuat Lala mengangat kepalanya kembali dan melirik Dita dengan tak bersemangat.


"Ada-ada aja sih La, mana bisa cacing ngechat atau ngomong sama manusia" timpal Dita tertawa.


Lala benar-benar hilang akal menghadapi kelakuan lemot temannya itu dan kembali menundukkan kepalanya.


"Lo yang ngomong tadi, lo juga yang jawab kayak gitu. Dit, kalau gak ingat dosa atau nyokap bokap lo, udah gue kirim lo keneraka sekarang" gumam Lala menahan kekesalannya.


"Lah La, gue mau cerita jadi lupakan" teriak Dita kembali dengan menggeprak meja Lala yang membuat Lala kaget dengan gendang telinganya yang sakit.


"Woi onta firaun" berang Lala menepok kening Dita membuat gadis itu meringis "Lo kalau mau geprak meja lihat-lihat dong, sakit ni keping gue *****" lanjut Lala mulai mengeluarkan emosi keseluruhannya.


Dita mengerutkan keningnya "Dih yang gue geprak meja, kenapa malah telinga lo yang sakit? Telinga lo nempel dimeja? Coba sini gue lihat" balas Dita menarik kuping Lala, yang membuat Lala benar-benar habis kesabaran langsung menyingkirkan tangan gadis itu yang berada di telinganya.


"Masih nempel kok kuping lo, La" sambungnya lagi.


"Ya Allah" geram Lala mencak-mencak ingin mencakar Dita, tak kuasa menghadapi kelemotan itu.


Dita yang tak paham dengan sahabatnya itu tak ambil pusing, menurutnya Lala itu perempuan aneh yang suka marah secara tiba-tiba seperti sekarang ini.


"La gue mau bilang sesuatu" ucap Dita lagi yang membuat Lala malas menanggepinya, dari tadi gadis itu ingin ngomong sesuatu tapi sampai sekarang gak ngomong-ngomong.


"Heeem" gumam Lala menanggepin tanpa semangat.


"Masval ngajak gue nikah setelah lulus" ucap Dita malu-malu dengan bibir yang melengkung keatas tapi membuat Lala terbatuk-batuk mendengarnya dan tentu hal itu membuat Dita panik dan segera pindah duduk kesebelah meja Lala menepuk-nepuk punggung gadis itu.


"Lo gak kenapa-kenapa kan, La? Bikin khawatir aja" ucapnya panik.


Lala menggeleng tapi masih berusaha meredakan batuknya "Lo tu" timpal Lala mentoyor kepala Dita, membuat gadis itu merengut tak senang "bisa gak pagi-pagi gak usah buat orang serangan jantung. Becandaan lo gak lucu ****" lanjutnya.


"Gue serius, La. kemarin waktu jumpa Masval ngomong langsung kayak gitu sama gue".


Lala memajukan badannya lebih mendekat kearah Dita "ini beneran? Lo gak bohongin gue kan?" Tanyanya lagi, memastikan yang dijawab anggukan malu-malu dari Dita.


"Dit, beneran?" Tanya Lala lagi yang kali ini lebih bersemangat.


"Iya, bener. Tadi malam Masval nelfon gue juga ngulangi ucapannya itu" jawab Dita, membuat Lala langsung meraih tubuh gadis itu dan dipeluknya dengan erat.


"****, kok gue yang seneng ya, Dit. Akhirnya perjuangan lo gak sia-sia. Gak nyangka gue. Ah pokoknya seneng gue jadinya" ucapnya merasa haru mendengar kabar gembira itu dan melepas pelukannya.


Dita tak tau mau balas apa cuma hanya bisa senyam-senyum tidak jelas. Kalau ditanyapun dirinya juga gak pernah nyangka bakal berakhir seperti ini, setidaknya untuk saat ini ia sudah merasa begitu happy.


"Terus-terus lo jawab apa, Dit?" Tanya Lala bersemangat.


"Gue terimalah, gila aja gue tolak" jawabnya dengan tawa yang lebar.


Lala menatap Dita sinis merutuki kebodohannya karena telah bertanya yang pada dasarnya ia tau jawabannya.


"Lo pikir aja La, gue udah nunggu ini lama banget. Masa gue tolakkan" lanjutnya kembali dengan menaik-turunkan alisnya membuat Lala memutar bola matanya.


"Yayaya, terserah lo deh ya. Walaupun belum official, tapi gue ucapin selamat ya, Dit" ucap Lala masih merasa bangga dengan perjuangan dan kesabaran sahabatnya itu yang tidak pernah nyerah.


"Setidaknya lo selangkah lebih malu dari gue. Gue lulus sekolah baru diajak pacaran, lah lo diajak nikah, ****. Ah bakal ngerasain ena-ena duluan sahabat gue" sambung Lala menggoda Dita yang membuat pipi gadis itu langsung memerah.


"La, ena-ena" bisik Dita dengan wajah mupeng dengan cengirannya yang dibalas anggukan dari Lala dengan tampang yang gak jauh berbeda dengan Dita.


"Besok kalau lo udah ngerasain kasih tau gue ya" ucap Lala sedikit berbisik.


"Kasih tau apa?" Tanya seseorang dengan suara ngebasnya.


"Apa sih kepo" sewot Lala menendang tulang kering cowok itu yang tak lain adalah Bagas.


"Tau ni, sono lo. Ini tu urusan cewek ya. Lo gak usah nimbrung. Atau lo mau tuker kelamin biar bisa gabung sama kita?" Timpal Dita.


Merasa terzolimin seperti itu membuat Bagas mendengus kasar didepan wajah kedua teman ceweknya itu.


"Hebat ya sekarang omongannya udah vulgar gitu, siapa yang ngajarin, ha?" Tanyanya dengan meletakkan kedua tangannya di masing-masing kepala Dita dan Lala.


"Ih lepas, Gas. Sakit monyet!" Berang Dita berusaha menyingkirkan tangan besar itu yang berada diatas kepalanya begitupun dengan Lala.


Bagas menjawab hanya dengan gelengan kepalanya "Lo kasih tau dulu lo berdua tadi ngebahas apa? Gue denger kata ena-ena".


Dita dan Lala kompak menatap sinis kearah cowok itu.


"Lepas gak, Gas beracun. Atau lo gak bakal dapet contekan lagi dari gue" ancam Lala, membuat Bagas dengan cepat melepas tangannya dari kepala kedua orang itu.


"Bangke, lo" balas Dita menonjok perut cowok itu yang membuat Bagas meringis menahan sakit.


"Sakit ****!" Galak Bagas


"Makanya gak usah macem-macem" balas Dita tak kalah galaknya.


Sementara Lala sibuk merapikan rambutnya yang sempat berantakan karena ulah Bagas tak melanjuti kembali keributan itu.


Bagas meraih kursi yang berada didekat Dita lalu diputarnya menghadap kedua gadis itu hingga sandarannya dijadiinnya buat menompang tangan dan dagunya.


"So, apa maksud dari kata ena-ena tadi?" Sambung Bagas kembali bertanya dengan santainya.


Dita yang ingin berbicara dengan mata yang berbinar-binar segera dicegah oleh Lala dengan menutup mulut gadis itu dengan telapak tangannya.


Bagas yang melihat itu menyerngitkan keningnya.


"Dit, kantin yuk bentar, mumpung masih ada waktu. Gue laper" ajak Lala menarik tangan Dita mengalihkan pembicaraan mereka sementara Dita pasrah ditarik seperti itu dan ia pun akhirnya lupa dengan ucapan yang ingin diucapkannya tadi.


"Gak ikut, Gas?" Tanya Lala kembali pada cowok yang masih menatap aneh pada mereka berdua.


"Yuk lah, pengen nyebat juga gue" jawab Bagas ikut berjalan beriringan dengan kedua gadis itu.


"Siap nyebat jangan lupa semprot perfume ke baju lo, sakit pala gue cium bau rokok. Jangan lupa makan permen mint juga, biar aroma rokoknya hilang" ucap Lala memperingati dan memberi beberapa bungkus permen karet yang rasa mint.


"Cuma Lala yang ngertiin gue, gak kayak lo" timpal Bagas mentoyor kening Dita yang ada di sebelah Lala membuat gadis itu mendorong bahu bagas hingga membentur tiang koridor.


"Sakit *****" sewot Bagas mengusap bahunya yang terasa nyeri.


"B o d o a m a t" balas Dita tak peduli lalu menarik tangan Lala dan berjalan lebih dulu mendahului Bagas yang masih tercengang di tempatnya.


"Ditampol nyahok lo" sewot Bagas keras yang didengar oleh keduanya.


"Diem lo Gas beracun" kompak keduanya meneriaki julukan Bagas dan membuat kedua gadis itu tertawa ngakak.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Noval yang masih berkutat dengan pekerjaan kantornya menoleh sebentar pada jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sekarang jam menunjukkan pukul jam dua yang artinya sebentar lagi adalah jam pulangnya anak sekolah.


Ia meraih ponselnya dan mengetik beberapa pesan kepada seseorang, belum sampai beberap detik ponselnya langsung berdering tanda panggilan masuk.


"Kok bisa nelfon? Gak belajar? Atau kamu bolos ya?" Tebaknya membuat gadis diseberang sana tertawa.


"Dih ya nggak lah Masval, lagi jam kosong karena guru pada rapat" balas gadis diseberang sana.


Noval mengangguk dengan menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.

__ADS_1


"Pulang sama siapa ntar?"


"Dijemput sama supir mama"


"Saya jemput mau?" Tawar Noval.


"Beneran? Masval gak bohong? Ih mau banget" teriak gadis itu heboh sendiri diseberang sana.


"Woi Dit, kalem dong" teriak gadis satunya lagi memperingati kelakuan gadisnya itu.


"Tau ni, jadi cewek gak ada kalem-kalemnya lo" timpal seseorang lagi, yang kali ini bersuara laki-laki.


"Dih bawel lo berdua. Ganggu orang aja" sewot Dita memarahi kedua orang itu yang membuat Noval tertawa pelan mendengar keributan itu, ia yakini yang cewek adalah Lala dan yang cowok pasti bagas seperti yang diceritakan adek waktu itu.


"Maaf ya Masval, Lala sama si Bagas suka rese" ucapnya membela diri.


"Iya gak masalah" ucapnya tersenyum walau ia sadar senyumnya tak bakal terlihat oleh orang yang diseberang sana.


"Pulang jam tigakan?" Tanyanya kembali.


"Iya jam tiga udah bubar kok Masval"


"Ok" ucap Noval kemudian.


"Aku tunggu ya Masval. B--" balas gadis itu ingin menutup telfon tapi langsung terhenti mendengar namanya disebut kembali.


"Dita" panggilnya ragu-ragu.


"Iya Masval, kenapa?"


"Nanti pulang, mau jalan sama saya dulu gak?" Tanya cowok itu berhati-hati.


"Emang Masval gak cape jalan? Ada kendaraan kenapa mesti jalan? Tapi kalau berdua sama Masval sih aku gak keberatan" Balas gadis itu yang membuat Noval mengerutkan keningnya.


Lalu beberapa menit kemudian ia tertawa hingga perutnya merasa kram.


Sementara Dita yang berada diujung sambungan telfon tak bersuara lagi, ia diam menimati tawa yang didengarnya dari cinta pertamanya itu.


"Maaf-maaf" ucap Noval menghentikan tawanya, "maksud saya jalan itu ya jalan-jalan kemana gitu, kemall atau ketaman kota jajan-jajanan traditional" jelas Noval kembali.


Mengucapkan kata taman kota membuat pipi Noval memerah, tempat pertama kali mereka ketemu dengan moment yang tidak pas.


Begitupun dengan Dita diseberang sana, pipinya langsung bersumu memerah mengingat disanalah tempat ia pertama kali jatuh cinta dengan cowok itu.


"Yaudah ntar aja kita bahas ya. Saya jalan dulu" lanjutnya.


"Hati-hati masval" ucapnya yang Noval yakin pasti gadis itu mengucapkannya dengan tersenyum.


"Oke" balas Noval kemudian dan mematikan sambungan telfonnya.


Sementara di depan ruangan itu, tepatnya dalam ruangan Raka empat pasang mata sedang memperhatikan gelagat Noval ketika telfonan.


"Baru kali ini gue lihat Noval ketawa gitu lagi telfonan" timpal Gio menatap lurus keruangan Noval.


Raka yang juga ikutan melihat kejadian itupun mengangguk.


"Gue pikir dia gak bisa ketawa tanpa kita" sambung Gio kembali.


"Adik tetangga gue emang hebat" ucap Raka merasa takjub dengan Dita.


"Iya, hebat dengan kalakuan yang bikin orang-orang kesal" sindir Gio membuat Raka tertawa.


"Woi mau kemana lo?" Teriak Gio ketika melihat Noval keluar dari ruangannya yang membuat Noval menghentikan langkahnya dan berjalan menuju ruangan Raka.


"Keluar, kerjaan gue udah kelar" jawab yang berdiri diambang pintu itu.


"Lo rajin banget keruangan Raka, gak ada kerjaan lo?" Sindir Noval dengan sinisnya.


Gio mendengus "lo lihat yang gue pegang apa?" Balas Gio tak kalah sinisnya mengangkat kertas yang berisi gambar bangungan.


Noval mengangguk paham tapi bibirnya mencibir "ok, ntar kalau ayah nanya bilang gue balik duluan" ucap Noval lalu kembali melanjutkan jalannya meninggalkan kedua pemuda itu.


"Sekarang yang anaknya papa itu gue atau Noval sih" Tanya Raka heran menatap kepergian Noval yang seenaknya begitu saja dan dianggkuin oleh Gio.


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


Baru beberapa menit menunggu didalam mobil yang terparkir didepan sekolah, Noval mendengar bel begitu nyaringnya berbunyi yang membuat anak-anak sekolahan itu berhamburan keluar kelas lalu Noval memilih keluar dari mobil dan menunggunya dengan menyenderkan tubuhnya di bagian mobil.


"Loh Masval" sapa seseorang dari atas motor gedenya.


Noval yang merasa di sapa langsung membalikkan tubuhnya kesumber suara "Adek, mau jemput Lala?" Tanya Noval pada orang yang menyapanya dan berjalan mendekati orang tersebut yang tak lain adalah Arka, adiknya Raka.


Noval mengangguk dengan mengusap kepala anak itu.


"Masval mau jemput Dita ya?" Lanjut Arka bertanya.


"Iya, Masval pulang cepat jadi sekalian aja" jawab Noval dengan santainya.


Arka menganguk lagi "Masval kalau deket Dita hati-hati ya, kadang tu anak suka aneh tingkahnya" timpal Arka memperingari.


Noval mendengar itu membuat ia mengerutkan keningnya "maksudnya?" Tanyanya tak paham.


Arka menggaruk tengkuknya bingung mau bilang apa, abangnya yang satu ini typical cowok kalem, jadi ngomong sama dia harus hati-hati tidak seperti Kayo nya yang bisa blak-blakkan.


"Ya gitu, suka liar mendadak orangnya" jelas Arka hati-hati dibarengin dengan senyum kikuknya.


"Oh itu, Masval tau kok" ucap Noval dengan senyum lembutnya sekali lagi mengusap pucuk kepala Arka.


Arka membelalakkan matanya terkejut "tau? Masval udah pernah di macam-macamin sama Dita?" Tanya Arka penasaran.


Noval mejawab dengan gelengan kepala "mestinya yang adek khawatirkan itu Ditanya, bukan Masval"


Arka cemberut mengerucutkan bibirnya "Adek tau gimana sifat dan fikiran liarnya Dita. Kalau Masval, adek tau Masval gak bakal macam-macam orangnya. Papa kan sering memperingati kita semua" jelas Arka yang dianggukin oleh Noval.


"Katanya sahabat dekat itu sifatnya gak jauh beda dari kita, atau jangan-jangan Lala juga kayak gitu?" Tebak Noval dengan tenang, tapi langsung membuat pipi Arka memerah.


"Kalau itu adek gak tau" ucap Arka memilih mengalihkan tatapannya, tak ingin raut wajahnya terbaca oleh abangnya itu.


Noval menyentuh bahu Arka yang membuat cowok itu kembali menoleh pada Noval walau masih dengan pipi memerah "Masval percaya sama adek dan Lala gak bakal ngelakun hal yang lebih, jadi adek juga harus percaya sama Masval dan Dita. Ok?" Ucap Noval begitu lembutnya, seperti sedang berbicara dengan adiknya sendiri.


"Iya Masval, maaf ya. Adek cuma gak mau sahabat dan Abang adek kenapa-kenapa" gumam Arka menunduk.


"Santai, Masval gak kenapa-kenapa kok, wajar sih menurut Masval kalau kita punya sifat ingin lindungi orang yang kita sayang" jelas Noval yang membuat Arka tersenyum kikuk.


"Adek, Gak latihan renang? Bukannya beberapa bulan lagi ada tournament ya?" Tanya Noval mengalihkan obrolan mereka.


"Adek gak ikut Masval, mama gak bolehin. Mama bilang adek harus fokus sama ujian sekolah, padahalkan tournamentnya masih lama, kelar ujian juga masih sempet latihan" jelasnya dengan tampang cemberut.


"Sekali-sekali gak ikut gak masalahkan? Hitung-hitung istirahat, emang gak cape latihan mulu. Dulu Masval waktu masih ikut academy, waktu denger mau ujian tu seneng banget, karena bisa libur latihan" ucapnya tertawa pelan mengingat moment waktu ia masih remaja dulu.


"Beda sama Kayo ya Masval" timpal Arka yang membuat keduanya saling tertawa. Yang diucapkan Arka itu benar, Gio paling semangat kalau disuruh latihan tapi giliran kesekolah semangatnya tidak ada sama sekali.


"Masvaaaaaal" Teriak seseorang yang membuat tawa Noval dan Arka terhenti.


Setelah mereka mencari sumber suara ternyata yang manggil adalah Dita, ia sedikit berlari menuju kearah Noval dan Arka. Sementara Lala yang berada dibelakang gadis itu memilih berjalan santai dengan tangan memegang tali ranselnya.


"Lama gak tunggu akunya?" Tanya Dita yang langsung bergelenjotan di lengan Noval, "Lah ngapain lo?" Tanya Dita kembali pada Arka yang berada disebelah Noval.


"Mau jemput calon gue lah" jawab Arka sombong, "bisa kali itu tangan gak usah mepet-mepet gitu, gak bakal hilang juga Masval nya" sindir Arka kembali membuat Dita kesal.


"Bodo, iri bilang" balas Dita.


"Dih najis, ngapain gue ngiri sama lo. Gih Masval ajak jauh-jauh ni orang" suruh Arka pada Noval.


Noval tertawa saja melihat kelakuan kedua orang itu yang selalu ribut, kadang Noval merasa kenapa hidupnya selalu dikelilingi orang-orang yang berisik. Dulu ada Gio dan Yuki, sekarang ada Arka dan orang yang disukanya, Dita. Tapi bagaimanapun juga Noval menikmati setiap momennya, setidaknya dikedat orang-orang ini lah ia bisa merasa ramai seperti ini jika dilihat hidupnya yang selalu menoton dan membosankan.


"Berantem mulu sih, yuk Ar. Katanya mau ngajak kerumah lihat kucingnya Zeka" ajak Lala yang sudah berada disebelah cowok itu.


"Masval mau sekalian jalan sama Ditakan?" Tanya Lala yang dianggukin oleh Noval dan tak lupa senyum manisnya.


"Kita duluan ya, Masval. Have fun" timpal Lala sekali lagi lalu menepuk bahu Arka agar cowok itu memberikan helmnya dan memasangkannya pada Lala lalu gadis itu memegang bahu Arka untuk baik kemotor gedenya.


"Masval, adek duluan ya. Dit, gue cabut" pamit Akra yang dianggukin oleh sepasang kekasih itu, sementara Lala lebih memilih melambaikan tangannya pada kedua orang itu.


"Yuk" ajak Noval menggenggam tangan Dita dan dituntunnya masuk kedalam mobil.


Mendapati perlakuan yang begitu manisnya untuk pertama kalinya disepanjang hidupnya tak hayal membuat pipi Dita memerah.


Ini merupakan kencan pertama baginya di usianya sekarang ini, dan tentu hal ini membuat dadanya berdetak tak karuan dari disekolah tadi hingga sekarang. Selama menunggu jam pulang pikiran Dita tak tenang memikirkan hal apa yang harus ia lalukan untuk kencan pertamanya ini. Dan untuk menjawab itu ia terpaksa bertanya sama Lala, dan setidaknya jawaban sahabatnya itu membuat rasa cemasnya sedikit berkurang.


"Lo harus jadi diri sendiri, Dit, seperti lo bersikap sama Masval selama ini. Jangan karena status kalian sekarang udah beda lo jadi berubah. Ingat cowok suka apa adanya ketimbang kepura-puraan. Jangan pula karena pengen buat Masval merasa kagum sama lo, lo berubah jadi Albert Einstein. Lo lucu, imut dengan sifat asli lo, walau rada ngeselin sih emang".


Begitu lah kira-kira jawaban yang disampaiin oleh Lala yang mampu diserap oleh otak yang tak seberapa Dita.


"Sebelum jalan, mampir ke apartment saya dulu boleh? Saya mau ganti baju, baju cadangan dimobil udah habis" Tanya Noval yang masih fokus dengan jalanan.


Dita menoleh "Masval jangan panggil saya-saya dong. Kesannya kayak ngomong sama orang lain aja tau" protes gadis itu dengan bibir cemberut.


Noval memecahkan fokusnya dari jalanan ke gadis itu "Kan dari awal juga udah gini panggilannya" bela Noval, kembali menoleh ke jalanan.

__ADS_1


"Ya kan itu karena Masval belum notice aku" cicit Dita pelan menunduk memainkan jari-jarinya.


Tanpa menoleh Noval mengusap kepala Dita lalu tariknya mendekat kearahnya dan diciumnya kening gadis itu dengan sayang.


Tentu hal itu membuat Dita diam membeku tak bergerak sedikit pun dengan pipi yang benar-benar memerah. Ciuman pertama baginya dari laki-laki selain papanya.


"Yaudah panggil Masval aja ya biar samaan kayak adek dan lainnya" ucap Noval tak merasa bersalah telah membuat serangan jantung mendadak bagi Dita.


Dita tak menjawab ia menyentuh keningnya yang masih terasa lembutnya bibir Noval tadi.


"Dit" panggil Noval dengan penyentuh tangan Dita yang berada dipahanya, tentu hal itu membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Eh sorry Masval, Masval ngomong apa tadi?" Tanya Dita mengalihkan tatapan malunya.


"Panggil Masval aja ya" ulangnya kembali.


"Tapi kalau sama aku Mas aja boleh? Gak pakai embel-embel nama Masval" usul Dita melirik Noval.


Noval mengerutkan keningnya lalu menoleh pada gadis itu "Mas?" Ulang cowok itu, "boleh deh udah lama pengen dipanggil dengan sebutan kayak gitu" lanjutnya dengan santai dan tak merasa keberatan.


"Jadi mulai detik ini aku panggil Mas ya?" Ucap Dita yang dianggukin oleh Noval, "yes" Lanjut gadis itu langsung memeluk Noval yang tengah fokus dengan jalanan.


Noval sendiri tersenyum tipis kok bisa ia tertarik dengan anak kecil yang seharusnya menjadi adiknya ini.


"Yuk turun" ajak Noval setelah berhenti disalah satu gedung apartment elite.


Baru melepaskan seatbeltnya ia ingat ada sesuatu yang ingin dikasihnya pada gadis itu.


"Oya lupa" sambung Noval membalikkan badannya kursi belakang dan menyerahkan satu kantong plastik salah satu toko perbelanjaan pada Dita, "buat kamu" ucapnya.


Dita menerima dengan kening berkerut lalu membuka isinya "susu kotak strawberry? Aku lagi gak badmood Mas, biasanya aku minum ini kalau lagi badmood aja" ucapnya bingung mengangkat satu kotak susu tersebut.


Noval tersenyum tipis, gadis itu lupa pikirnya "Buat stok, kali aja setelah berhubungan dengan mas jadi sering badmood" balas Noval ngasal.


"Mas ngingat moment pertama kita jumpa ya?" Goda Dita, ternyata pikiran Noval salah. Gadis itu masih mengingat kejadian beberapa waktu lalu, "tadi juga ditelfon bahas taman kota, disana kan tempat kita pertama kali jumpa. Terus susu ini aku kasih waktu itu juga karena lihat Mas lagi badmood" jelas Dita dengan nyengir yang membuat Noval tercengang.


"Kirain gak ingat"


Dita cemberut "ingatlah, disana aku pertama kali jumpa sama pangeran" ucap Dita hiperbola yang membuat Noval menyerngitkan keningnya.


"Mas ganteng banget waktu itu" Lanjutnya lagi, kini tangannya udah menggenggam tangan Noval "kenapa Mas potong rambut?" Tanyanya.


"Kamu sadar Mas potong rambut?".


Dita mengangguk "Padahal aku suka sama model rambut Mas yang kemarin, bisa di kuncir. Lucu, gemeshin" jelas Dita.


Noval diam, ini semua karena Arka. Coba sana ia gak kemakan sama omongan bocah itu pasti ia gak akan potong rambut seperti ini, seperti cowok yang bersama Dita waktu itu.


"Jadi kayak gini gak suka?" Goda Noval.


Dita menggeleng dengan kencang "Suka, aku suka apapun yang ada sama mas" ucapnya cepat yang membuat Noval sempat terkejut.


"Terima kasih" ucap Noval tulus mengacak rambut gadis itu, "Yuk turun" ajak Noval kembali.


Dita tak bergerak, ia masih diam ditempat.


"Gak turun?" Tanya Noval kembali.


"Mas gak mau cium aku lagi gitu?" Tanya Dita dengan tenang.


"Ha?"


"Kayak tadi cium disini" jelasnya menyentuh keningnya yang tadi dicium oleh Noval.


Noval mengerutkan keningnya, ia sekarang paham dengan yang diucapkan Arka tadi.


"Disini boleh?" Tanya Noval dengan santainya menyentuh bibir gadis itu dengan ibu jarinya yang diusapnya pelan.


Dita langsung mengangguk cepat dengan mata yang berbunga-bunga.


Noval mendekatkan wajahnya tak lupa dengan senyum manisnya "Cepat lulus makanya" timpal Noval kemudian, lalu turun dari mobilnya. Hal itu membuat Dita merasa kesal dengan mengerucutkan bibirnya.


"Gak usah kesel, ntar juga bakal ngerasain" ucap Noval membukakan pintu untuk Dita dan meraih tangan gadis itu untuk jalan bersamaan menuju apartment cowok itu.


"Mas tinggal disini? Arka bilang Mas masih tinggal sama mama papa" ucap Dita.


Mereka sekarang sudah berada didalam apartment yang memiliki dua kamar tidur didalamnya. Cukup besar untuk ditempati seorang diri.


"Kadang-kadang aja tidur disini kalau lagi males pulang. Dirumah sepi, udah gak ada orang lagi" jawab Noval berjalan menuju kamarnya.


Dita mengangguk mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan tersebut. Terbilang rapi untuk ukuran cowok yang tinggal sendiri dan ruangan ini tercium sekali bau perfume pemiliknya.


"Mau langsung jalan atau istirahat bentar?" Tanya Noval setelah keluar dari kamarnya dan berganti pakaian menjadi lebih santai dari tadi. Dan dari mukanya juga lebih segar, Dita yakini pasti cowok itu baru saja menyuci wajahnya.


"Beneran jalan mas? Aku cape. Disini aja gak boleh?" Jawab gadis itu sedikit merengek.


Noval berjalan mendekat menarik pipi Dita "Udah dibilang jalan maksud Mas itu main kemana gitu, kan tadi Mas udah janji" timpal Noval lalu duduk disamping gadis itu.


"Disini aja ya?" Usul Dita kembali dengan memasang wajah imutnya.


Noval menarik nafasnya dalam lalu dihembusnya "oke" jawabnya pasrah


"Terima kasih" ucapnya kegirangan spontan memeluk cowok itu.


"Mas wangi banget" ucap Dita mengedus-endus baju Noval "wanginya manis, cowok kalau udah dewasa gitu emang baunya seperti ini ya? Jadi pengen gigit" Tanya Dita dengan tampang polosnya.


Mendengar kalimat seperti itu membuat kepala Noval pusing.


"Mas ganti baju dulu kalau gitu" ucap Noval memilih cari aman. Belum sempat beranjak, tangannya lebih dulu diraih oleh Dita.


"Gak usah, aku suka wanginya. Wangi Mas banget" ucapnya nyengir. Tidak merasa kalau yang di ucapkannya sebelumnya itu sangat-sangat bermasalah untuk Noval.


Noval nurut saja dengan permintaan gadis itu untuk yang kedua kalinya.


Untuk beberapa menit mereka berdua saling diam. Noval yang gak tau harus melakukan apa, ia sudah lama tidak berkencan seperti ini, dan ia juga sudah lupa caranya pacaran ala anak ABG bagaimana.


Sementara Dita diam karena menikmati setiap momentnya apa lagi tangannya dari tadi dipegang oleh cowok itu, yang membuat dirinya merasa nyaman.


"Gimana sekolahnya?" Tanya Noval memecahkan keheningan.


Dita menoleh dengan cemberut lalu menghempaskan badannya kesandaran kursi.


"Sekolah itu cape Mas, pengen cepat lulus aja biar gak mikirin tugas" lirihnya tak bersemangat.


Melihat itu membuat Noval merasa iba dan menarik tubuh itu agar lebih dekat dengannya lalu dirangkulnya bahu gadis itu agar bersandar dengan dadanya sementara kedua kaki Dita diangkatnya dan diletakkannya diatas pahanya.


"Nimati aja prosesnya, ntar udah lulus bakal kangen sama suasana sekolah" ucapnya mengusap kening Dita.


Lala mendangak keatas menatap lurus kearah Noval.


"Kangennya sama Mas aja. Gak mau sama sekolah, disekolah banyak orang rese, terutama si Bagas tu" ucapnya dengan tampang kesalnya hingga bibir bawah yang lebih maju ke depan.


Noval mengalihkan pandangannya, kenapa lihat bibir seperti itu membuat ia pengen.


Payah. Batinnya menepuk jidadnya.


Dita mendekatkan wajahnya menyentuh bibir Noval.


"Mas, ini merahnya asli?" Tanyanya mentowel-towel bibir cowok itu.


Noval bengong, emang ajaib ini cewek. Bisa bersikap biasa seperti itu sementara ia sudah mati-matian buat menahan diri, pikirnya.


"Dikasih lipstick" jawab Noval asal dan kembali mengalihkan tatapannya aga tangan gadis itu beranjak dari sana.


Tapi dugaan Noval salah, Dita makin mendekatkan wajahnya hingga tinggal beberapa centi lagi dengannya.


"Masa pakai lipstick? Ini aku usap gak hilang loh" Lanjutnya lagi dengan wajah polosnya, kini bukan hanya mentowel, tapi diusapnya secara berlahan.


Ya Allah, cobaan apa ini. Rengek Noval membatin.


Nafas Dita yang terasa mengenai permukaan wajah Noval membuat cowok itu memejamkan matanya.


"Dit, maafkan Mas ya" ucap cowok itu cepat yang mebuat Dita menaikkan alisnya bingung dengan cowok itu, tapi detik kemudian bibir Noval yang hanya berjarak beberapa centi itu menempel tepat dibibir gadis itu yang awalnya hanya berupa kecupan sayang lama-lama berubah menjadi dorongan nafsu.


"Pertama?" Tanya Noval setelah berhasil melepas ciumannya yang menurutnya ini sangat luar biasa. Entah kerena ia sudah lama tidak merasakannya atau emang bibir itu bagaikan candu untuknya, begitu manis terasa.


Dita menunduk menarik-narik kaos yang digunakan Noval lalu mengangguk "iya, maaf ya Mas gak bisa ngimbangin" cicitnya pelan. Wajahnya kini sudah memerah, jantungnya sudah tidak karuan dirasanya semenjak bibirnya menyentuh bibir kenyal itu yang selama ini di bayang-bayanginya. Mengingat itu ia merasa pipinya makin memanas, kahyalan liar Dita.


Karena ini pertama bagi Dita ia tentu tidak bisa mengimbangi itu, sementara Noval sudah lebih dulu merasakan hal seperti ini.


"Sini Mas ajarin lagi" timpal Noval kembali menarik wajah Dita dan ditempelkannya kembali bibirnya ke bibir gadis itu yang kali ini lebih santai lebih lembut dari pada diawal tadi, Ditapun mulai bisa mengikuti permainan seperti itu.


Next๐Ÿ‚


5-04-2020


Pacaran sama orang dewasa mah beda ya


๐Ÿคค๐Ÿคค

__ADS_1


NOTE: HATI-HATI SAMA COWOK KALEM GUSY :))


__ADS_2